Key Takeaways
- Bawang putih tunggal memiliki kandungan Allicin yang lebih tinggi dan berpotensi lebih baik untuk kesehatan.
- Manfaatnya termasuk menjaga kesehatan jantung, meningkatkan imunitas, dan melindungi hati dari kerusakan.
- Untuk konsumsi, dapat dilakukan fermentasi dengan madu untuk mengurangi rasa getirnya.
- Tradisi di Minangkabau menggunakan bawang putih tunggal sebagai jimat untuk melindungi dari makhluk gaib.
- Mengetahui lebih banyak tentang bawang putih tunggal dapat membantu masyarakat dalam memilih herbal alternatif yang tepat.
Masih ingat artikel lama saya tentang si bulat putih yang ajaib ini? Dulu, tulisan itu ramai sekali dikunjungi teman-teman yang sedang berikhtiar mencari herbal alternatif. Nah, karena ilmu pengetahuan terus berkembang, rasanya tidak adil kalau saya membiarkan tulisan itu usang begitu saja.
Jadi, saya memutuskan untuk menulis ulang artikel ini. Bukan sekadar cerita pengalaman pribadi (“katanya orang tua dulu”), tapi kali ini saya “bedah” langsung dengan data dan riset terbaru.
Apa benar Bawang Putih Tunggal atau yang sering kita sebut Bawang Lanang ini punya kekuatan magis untuk kesehatan? Atau cuma sugesti? Mari kita kupas tuntas, lengkap dengan pendapat para ahli.
Apa Itu Bawang Putih Tunggal?
Bagi teman-teman di Sumatera Barat, mungkin lebih mengenalnya sebagai Dasun Tunggal. Di Jawa, ia populer dengan nama Bawang Lanang.
Berbeda dengan bawang putih biasa (garlic) yang bergerombol dalam satu bonggol (siung majemuk), Bawang Putih Tunggal ini hidup soliter. Ia hanya terdiri dari satu siung bulat utuh.
Secara alami, ini sebenarnya adalah “kelainan” pertumbuhannya. Karena faktor lingkungan penanaman yang tidak menentu, umbi bawang putih tidak membelah diri menjadi banyak siung. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Karena tidak membelah, seluruh sari pati nutrisi yang diserap dari tanah terkonsentrasi penuh pada satu umbi saja.
Mengapa “Dia” Lebih Spesial?
Ini bagian yang paling menarik. Saya sempat melakukan riset kecil-kecilan menelusuri berbagai jurnal ilmiah untuk menjawab pertanyaan: “Kenapa sih harganya lebih mahal dan dicari banyak orang?”
Ternyata, rahasianya ada pada senyawa bernama Allicin.
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Biosaintifika, kandungan senyawa aktif dalam Bawang Putih Tunggal tercatat 5-6 kali lebih banyak dibandingkan bawang putih biasa.
Apa artinya? Artinya, satu butir kecil Bawang Lanang ini punya potensi antioksidan yang jauh lebih “galak” dalam melawan radikal bebas. Riset lain dari Journal of Medula juga menyoroti bahwa tingginya kadar senyawa organosulfur (termasuk Allicin) inilah yang membuat aroma Dasun Tunggal lebih menyengat, tapi juga lebih efektif sebagai herbal alternatif untuk terapi kesehatan.
Baca juga:
Manfaat Bawang Putih Tunggal Berdasarkan Sains
Alih-alih sekadar bilang “berkhasiat menyembuhkan”—yang seringkali dilarang oleh Google karena klaim berlebihan—mari kita lihat apa kata sains mengenai potensi kesehatan dari bawang ini.
1. Menjaga Kesehatan Jantung dan Kolesterol
Ini adalah alasan nomor satu mengapa suami saya kadang ikut mengonsumsinya. Studi menunjukkan bahwa konsumsi rutin suplemen bawang putih (yang kaya Allicin) dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total dan LDL (kolesterol jahat). Mekanismenya sederhana: senyawa di dalamnya membantu merelaksasi pembuluh darah (endotelium), yang pada gilirannya membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
2. “Booster” Imunitas Alami
Di era pasca-pandemi seperti sekarang, sistem imun adalah aset termahal. Bawang Putih Tunggal memiliki sifat antimikroba yang kuat. Bahkan, sebuah tinjauan di NCBI (National Center for Biotechnology Information) menyebutkan bahwa ekstrak bawang putih punya potensi melawan berbagai bakteri dan virus, jauh lebih kuat daripada bawang dalam bentuk bubuk.
3. Perlindungan Hati (Liver)
Ada riset menarik dari PMC (PubMed Central) tahun 2024 yang membahas efek perlindungan bawang putih jenis Solo Garlic ini terhadap kerusakan hati akibat obat-obatan pereda nyeri. Kandungan antioksidannya membantu memitigasi stres oksidatif di dalam organ hati kita.
Cara Konsumsi: Jangan Asal Telan!
Meskipun Manfaat Bawang Putih Tunggal ini luar biasa, rasanya memang… aduhai. Pedas, getir, dan panas di perut jika Anda tidak terbiasa.
Agar lebih nikmat dan khasiatnya terserap maksimal, saya menyarankan metode Fermentasi Madu (Honey Garlic). Ini resep andalan saya di rumah:
- Siapkan toples kaca bersih dan kering.
- Kupas Bawang Lanang, cuci bersih, dan keringkan total (pastikan tidak ada air agar tidak busuk).
- Masukkan bawang ke dalam toples, lalu tuang madu murni sampai semua bawang terendam.
- Tutup rapat dan diamkan (fermentasi) selama 14-30 hari di suhu ruang. Buka tutup toples sesekali untuk membuang gas fermentasi.
Setelah difermentasi, rasa getirnya akan hilang, teksturnya menjadi seperti jelly, dan Anda mendapatkan manfaat ganda dari bawang dan madu sekaligus.
Efek Samping dan Peringatan
Teman-teman, walau ini herbal alternatif, kita tetap harus bijak.
- Masalah Lambung: Bagi penderita maag atau GERD, konsumsi dalam keadaan perut kosong bisa memicu rasa perih. Sebaiknya konsumsi setelah makan.
- Pengencer Darah: Bawang putih memiliki sifat pengencer darah alami. Jika Anda sedang mengonsumsi obat pengencer darah dari dokter atau akan menjalani operasi, wajib konsultasi dulu sebelum rutin mengonsumsi ini.
Bukan Sekadar Bumbu Dapur Tapi Anugerah Alam
Bawang Putih Tunggal bukan sekadar bumbu dapur yang gagal tumbuh, melainkan anugerah alam yang memadatkan nutrisi dalam satu umbi kecil. Jika Anda mencari cara alami untuk menjaga kebugaran, si bulat putih ini layak mendapat tempat di meja makan Anda.
Antara Mitos dan Tradisi: Penangkal Palasik di Minangkabau

Bicara soal Bawang Putih Tunggal di Indonesia rasanya kurang lengkap kalau hanya membahas sisi medisnya saja. Di balik deretan fakta ilmiah yang mentereng tadi, si Bawang Lanang ini ternyata menyimpan sisi lain yang tak kalah populer: cerita rakyat dan kepercayaan lokal.
Di kampung halaman saya, Minangkabau, Dasun Tunggal punya “tugas” yang jauh lebih berat daripada sekadar menurunkan kolesterol. Ia dipercaya sebagai tameng pelindung dari gangguan gaib.
Baca juga mitos tentang : Pohon Aren Dalam Tradisi Minangkabau
Mengenal Palasik: Sosok yang Ditakuti Ibu Hamil
Masyarakat Minang sangat akrab dengan cerita tentang Palasik (atau dalam Bahasa Indonesia disebut Pelesit). Berbeda dengan hantu pada umumnya, menurut kepercayaan setempat, Palasik bukanlah arwah gentayangan, melainkan manusia yang menuntut ilmu hitam tingkat tinggi.
Ilmu ini konon bersifat turun-temurun. Jika orang tuanya seorang Palasik, maka anaknya pun mewarisi kemampuan tersebut. Sosok ini sangat ditakuti, terutama oleh keluarga yang memiliki ibu hamil atau anak balita.
Mengapa? Karena konon, anak-anak dan bayi—baik yang masih dalam kandungan, baru lahir, atau bahkan yang sudah meninggal—adalah santapan bagi mereka demi menyempurnakan ilmunya. Ngeri memang, apalagi jika mendengar cerita bahwa mereka beraksi dengan cara melepaskan kepala dari badannya untuk melayang mencari mangsa.
Bawang Lanang Sebagai Jimat Pelindung
Nah, di sinilah peran Bawang Putih Tunggal.
Saya masih ingat betul pengalaman masa kecil saya bersama saudara-saudara. Kami biasa dipakaikan kalung yang berfungsi sebagai jimat penolak bala. Bukan kalung emas atau perak, melainkan sebuah kantong kain kecil berbentuk segi empat.
Isi kantong itu cukup unik: satu butir Bawang Putih Tunggal, sebuah peniti, dan kadang ada rempah lain yang saya sudah lupa jenisnya. Sebelum dijahit dan dikalungkan, benda-benda ini biasanya didoakan terlebih dahulu oleh seorang “orang pintar” atau dukun kampung. Harapannya sederhana: agar aroma dan aura dari jimat berisi Bawang Lanang ini membuat Palasik enggan mendekat.
Apakah Tradisi Ini Masih Ada?
Hingga saya dewasa, pemandangan Bawang Putih Tunggal sebagai jimat ternyata belum punah. Jika Teman-teman berkunjung ke kampung-kampung di Sumatera Barat, jangan heran jika bertemu ibu hamil yang menyematkan kantong kecil dengan peniti di baju bagian belakang atau dekat tali bra mereka. Isinya ya itu tadi, Dasun Tunggal.
Saat saya hamil anak-anak saya, jujur saja saya tidak lagi menggunakannya. Bukan karena tidak menghormati tradisi, tapi lebih karena keluarga besar kami sudah perlahan meninggalkan kebiasaan tersebut dan berserah diri sepenuhnya pada doa kepada Tuhan.
Namun, bagi sebagian teman dan kerabat di kampung, tradisi ini masih dijalankan sebagai bentuk ikhtiar menjaga si jabang bayi.
Bagaimana dengan teman-teman pembaca? Apakah di daerah kalian juga ada tradisi unik yang menggunakan bawang putih sebagai jimat? Ceritakan pengalaman kalian di kolom komentar, ya!
@eviindrawanto
