
Sekarang saya sudah jarang banget pergi ke kantor bank. Kalau gak penting-penting banget, selama bisa dilakukan online atau lewat ponsel, saya pasti pilih kerja dari sana. Begitu juga soal belanja. Alih-alih capek keliling toko fisik di mall, selama barang kebutuhan bisa dibeli online, saya lebih memilih checkout di marketplace terpercaya (walau sering juga kecewa).
Singkatnya, hidup di era digital membuat hampir semua pekerjaan bisa saya selesaikan dari rumah hanya bermodalkan internet dan memencet tombol keyboard komputer atau layar ponsel.
Kemudahan ini memicu imajinasi liar saya. Dalam perjalanan ribuan tahun ke depan, mungkinkah evolusi fisik umat manusia akan mengubah wujud kita secara drastis? Coba bayangkan: kepala dan jari membesar karena terus dipakai berpikir dan mengetik, tapi kaki semakin memendek dan mengecil karena jarang dipakai berjalan. Lucu gak sih kalau transformasi itu benar terjadi? Pasti aneh rasanya membayangkan wajah cantik dan ganteng, tapi bertubuh mirip anak kecebong.
Prediksi Ilmiah – Antara Imajinasi dan Realita
Ternyata, imajinasi saya soal “manusia kecebong” ini bukan sekadar lelucon. Para ahli anatomi dan bio-evolusi sebenarnya telah membuat prediksi serupa. Sebuah model 3D bernama “Mindy” yang dirancang oleh para peneliti memvisualisasikan manusia tahun 3000. Akibat terlalu banyak menunduk menatap layar, punggung manusia diprediksi akan membungkuk permanen, leher menebal (tech neck), dan jari tangan melengkung seperti cakar (text claw).
Penyebab utamanya jelas: kita semakin dominan menggunakan otak dan jari-jari untuk memencet tombol. Sementara itu, aktivitas fisik kasar semakin berkurang. Riset dari Frontiers in Public Health bahkan menyebutkan paradoks modern: nenek moyang kita berevolusi untuk berlari (born to run), tapi manusia modern berevolusi untuk duduk (born to sit). Jadi, rasa penasaran saya akan seperti apa ujud kita nanti sebenarnya sangat beralasan secara ilmiah.
Baca juga:
Jari yang Semakin Berkuasa
Sekarang saja teknologi yang dikendalikan tombol elektronik sudah merasuk dalam kehidupan sehari-hari saya. Itu semua meminimalkan penggunaan kaki yang memang sudah pendek warisan genetik. Alih-alih naik tangga di gedung bertingkat, tentu saya lebih suka masuk lift dan memencet tombol. Mana kuat naik gedung tinggi dengan naik tangga, ya kan?
Terus, coba deh bayangkan, apa saja yang dapat dikerjakan oleh komputer maupun ponsel cerdas saya saat ini?
Yap, benar! Melalui tombol di kedua benda ini, saya bisa memperpendek jarak, menyingkat waktu, mencerdaskan otak, bahkan memenuhi kebutuhan emosi. Kemarin malam saya chats dengan Gemini dan Chat GPT, memenuhi rasa ingin tahu saya soal sejarah umat manusia dan alam semesta.
Kalian tahu, dua AI paling powerful itu bisa diajak bercanda? Coba deh tanya apa saja ke mereka dengan bercanda, jawabannya jauh lebih memuaskan ketimbang jawaban teman kamu yang humoris tapi jarang baca buku.
Fenomena “kelakuan” saya ini disebut oleh para sosiolog sebagai digital cyborg, di mana gawai bukan lagi sekadar alat, melainkan perpanjangan tubuh dan ingatan. Melalui tombol, banyak lho orang jatuh cinta, dan tak sedikit juga yang sakit hati. Untung lah saya tahu pasti bahwa jawaban-jawaban yang diberikan Gemini dan Chat GPT ke saya itu bukan datang dari manusia, tapi dari komputer yang punya basis data maha besar –yang hanya AI dan Allah saja yang tahu– jadi saya tidak akan pernah jatuh cinta pada mereka.
Kodratnya saya sebagai manusia memang menyukai cara-cara mudah, apa lagi menyenangkan. Nah, ketika banyak hal menyenangkan didapat melalui tombol, bukankah saya dan kita cenderung akan lebih banyak menggunakannya, bukan?
Robot dan Harapan Masa Depan
Bagi saya, pergi ke suatu tempat yang sama berulang-ulang, seperti ke bank, adalah sebuah penderitaan. Tapi namanya bisnis, mana mungkin tak membutuhkan servis perbankan? Maka, kehadiran internet dan mobile banking adalah berkah luar biasa.
Begitu pula urusan domestik. Karena sekarang hanya tinggal berdua saja dengan suami (anak-anak sudah pindah), apa lagi kami jarang di rumah, ketergantungan pada staf rumah tangga sudah nol. Itu lah sekarang yang membuat jari saya semakin terlatih memencet tombol. Apakah itu mesin cuci, rice cooker, microwave, dan yang terakhir: robot pengepel lantai. Nyaman banget kerja bareng mereka. Gak pernah sakit, gak pernah pinjam duit, dan gak pernah sakit.
Sayang saja seterikaan masih manual. Saya belum bertemu robot yang cocok melakukan pekerjaan melicinkan baju secara otomatis dan presisi. Tentu saja saya memimpikan setrikaan dengan tombol ajaib yang bisa bekerja sendiri. Habis dari mesin cuci langsung di-oper ke robot seterika, tahu-tahu baju-baju saya sudah rapi di lemari.
Menyenangkan sekali bukan?
Dan saya gak perlu kecil hati dengan belum tersedianya robot seterika ini. Karena para futurolog sudah memprediksi bahwa di masa depan, otomatisasi rumah tangga akan mencapai level di mana manusia hampir tidak perlu bergerak sama sekali untuk urusan domestik. Merdeka!
Mari Menjaga Keseimbangan
Nah, dengan semakin manjanya kita lewat teknologi canggih ini, hati saya kembali bertanya: akankah wujud fisik manusia benar-benar berakhir mirip anak kecebong? Apakah diri saya dan dirimu juga ambil bagian dalam merubah bentuk fisik ini?
Meski prediksi sains agak menyeramkan, kita sebetulnya masih punya kendali. Teknologi diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk menghilangkan fungsi gerak tubuh kita. Jadi, Sobat JEI, jangan lupa sesekali letakkan ponsel, berdirilah, dan gerakkan kakimu agar evolusi kita tetap menuju ke arah yang sehat. Agar fisik kita tetap cantik dan ganteng seperti sejak Nabi Adam-Siti Hawa, bukan sekadar kepala besar dengan kaki pendek dan kerdil. Big no lah kalau yang itu!
eviindrawanto.com
