
Key Takeaways
- Traveling mengurangi stres harian dan meningkatkan kesehatan mental bagi lansia.
- Aktivitas ini juga melatih kreativitas otak, membantu mencegah pikun dan demensia.
- Melihat kehidupan orang lain saat traveling meningkatkan empati dan rasa syukur.
- Pengalaman traveling membuka wawasan dan memperkaya kebijaksanaan seiring bertambahnya usia.
- Manfaat traveling usia emas sangat berharga, mari rencanakan perjalanan untuk menciptakan kenangan baru.
Halo, Sobat JEI! Memasuki tahun 2026, saya resmi masuk kategori lansia. Mari kita sebut “usia emas” agar terdengar lebih lembut.
Di usia ini, banyak orang mulai mengalami penurunan fisik. Entah lutut yang mulai sakit, atau kondisi lain yang menghalangi perjalanan jauh. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi saya kesehatan untuk bepergian belasan hari atau sekadar trekking singkat di alam terbuka.
Kesehatan ini menguatkan tekad saya untuk terus merawat Jurnal Evi Indrawanto. Saya ingin merekam setiap langkah perjalanan. Siapa tahu tulisan ini bisa menginspirasi teman-teman seusia, atau Sobat JEI yang lebih muda, untuk rajin mengajak orang tua mereka piknik.
Aktivitas wisata di Indonesia kini berkembang pesat. Transportasi semakin murah, hotel budget menjamur, dan media sosial membuka akses informasi seluas-luasnya. Sebagai pengikut mood sejati, saya lebih memilih bahagia menulis di blog sebagai rekam sejarah daripada menulis buku yang terasa berat.
Harapan saya sederhana. Tulisan ini membekas untuk anak-cucu kelak dan memberi wawasan baru bagi pembaca. Mari kita bedah apa saja manfaat traveling untuk usia emas yang benar-benar saya rasakan.
4 Manfaat Traveling untuk Usia Emas Menurut Pengalaman Saya
1. Ampuh Mengurangi Stres Harian
Saya bekerja dari rumah. Ruang kerja saya kecil, penuh buku, dan tumpukan kertas administrasi perusahaan. Atasan saya adalah suami sendiri. Kami bertemu muka 24 jam penuh setiap hari. Kadang kami berdebat seru, lalu berbaikan lagi.
Di tengah kesibukan kantor, suami sering menuntut sarapan saat ia lapar. Saya harus menghentikan pekerjaan, membongkar kulkas, atau berlari ke dapur. Fokus pekerjaan kantor pun ambyar. Namun, besoknya pekerjaan itu tetap menuntut penyelesaian.
Pikiran sering bercabang ke urusan dapur. “Masa saya terus menyajikan makanan warung untuk suami dan anak? Ibu macam apa saya ini?”. Rasa bersalah seperti ini memicu stres luar biasa.
Kalau rutinitas ini berlanjut tanpa jeda, saya bisa gila. Jadi, saya wajib pergi jalan-jalan. Berwisata menjadi pelarian positif. Sebuah studi dari Global Coalition on Aging menemukan bahwa lansia yang rutin bepergian memiliki tingkat stres yang jauh lebih rendah dan risiko serangan jantung yang menurun drastis. Liburan melepaskan hormon endorfin yang membuat pikiran kembali jernih saat pulang ke rumah.
2. Melatih Otak Agar Tetap Kreatif
Sebagian orang lahir dengan kreativitas bawaan. Namun, kita yang berada di “kaki piramida” harus melatih otak kanan agar tetap juicy dan inovatif. Otak kanan yang aktif membantu kita melahirkan pikiran positif dan menemukan jalan keluar dari berbagai himpitan hidup.
Bagi saya, jalan-jalan adalah metode stimulasi otak paling efektif. Lingkungan baru, pemandangan asing, hingga rasa makanan lokal memaksa otak bekerja menyerap informasi segar.
Dr. Paul Nussbaum, ahli neuropsikologi dari University of Pittsburgh, menegaskan bahwa traveling memicu neuroplastisitas. Lingkungan baru merangsang otak membangun koneksi sel saraf (dendrit) baru. Proses ini sangat krusial untuk mencegah pikun atau demensia pada lansia. Coba perhatikan lensa mata kita saat berwisata. Mata kita pasti berbinar lebih cerah dibandingkan saat sedang pusing mengurus rumah!
Baca juga:
3. Sadar Bahwa Dunia Tak Seluas Daun Kelor
Pernah merasa jadi wanita paling malang karena terjebak rutinitas rumah? Atau sebal tingkat dewa saat suami terus mengomel dan bertanya, “Sudah pakai sunscreen belum?” melihat tauco di muka istrinya?
Saat sedang bepergian, coba perhatikan sekeliling. Lihat ibu-ibu penjaja makanan yang tak lelah membujuk wisatawan di bawah terik matahari atau guyuran hujan. Suatu hari, saya mengobrol dengan seorang ibu yang rahangnya sedikit miring. Ternyata, ia seorang janda yang berjuang keras membesarkan empat anak. Ada juga perempuan yang bersuami temperamental dan sering menjadikan istrinya samsak hidup.
Melihat kenyataan pahit mereka langsung menampar saya. Riset dari Journal of Personality and Social Psychology membuktikan bahwa melihat kehidupan orang lain secara langsung dapat meningkatkan empati dan rasa syukur secara drastis. Tiba-tiba, suami di rumah yang tadinya menyebalkan berubah menjadi sosok malaikat yang luar biasa baik.
4. Semakin Bijak Seiring Bertambah Usia

Saya tipe pembelajar visual. Saya suka membaca buku, tapi sering lupa isinya saat tamat. Namun, pengalaman melihat dan mendengar langsung saat traveling selalu menancap kuat di ingatan.
Hobi jalan-jalan membuka ruang kelas tanpa batas. Berbagai situasi tak terduga di perjalanan adalah guru terbaik saya. Kita terbukti semakin bijak seiring bertambah usia jika kita banyak meresapi perbedaan budaya. Penulis legendaris Mark Twain pernah berkata, “Traveling adalah musuh paling mematikan bagi prasangka dan pikiran sempit.”
Contohnya, saat ke China, saya kagum melihat cara pemerintah mengelola wisata. Jalanan sangat rapi dan alamnya terawat sempurna. Namun, saat masuk ke toilet umum mereka, saya langsung rindu Indonesia. Saya rindu mas-mas penjaga kotak kayu di depan toilet SPBU kita yang airnya selalu mengalir bersih.
Begitu juga saat berada di Hong Kong atau Singapura. Kalau tersesat, mending baca Lonely Planet daripada bertanya pada orang lokal yang sibuk, menjawab tergesa-gesa, lalu pergi berlalu. Situasi ini beda jauh dengan Indonesia. Di negeri sendiri, orang rela menghentikan langkah demi memberi petunjuk arah, bahkan ada yang bersedia mengantar kita sampai ke tujuan. Pengalaman komparatif inilah yang mengasah kearifan kita dalam memandang hidup.
Mari Terus Pelihara Semangat Traveling di Usia Emas
Pada akhirnya, rutinitas sehari-hari memang sering menguras energi kita. Namun, melangkah keluar rumah selalu sukses membawa energi baru. Saya sudah membuktikan sendiri berbagai manfaat traveling untuk usia emas ini. Tubuh kita mungkin tidak sekuat dulu saat mendaki atau berjalan jauh. Tapi, jiwa kita justru terus bertumbuh lebat. Pengalaman melihat kerasnya dunia luar dan beragamnya budaya benar-benar membuat kita semakin bijak seiring bertambah usia. Yuk, Sobat JEI, mulailah merencanakan perjalanan kecil akhir pekan ini. Ajak pasangan, anak, atau teman-teman untuk menciptakan kenangan baru yang manis. Kalian punya cerita seru atau pengalaman berkesan saat jalan-jalan? Silakan bagikan cerita kalian di kolom komentar, ya!
eviindrawanto.com
