Key Takeaways
- Candi Muaro Jambi adalah situs bersejarah dan pendidikan tertua di Indonesia, pernah menjadi ‘Universitas Nalanda’ di Nusantara.
- I-Tsing, biksu Tiongkok, belajar di sini dan menerjemahkan banyak teks Buddhis dari Sanskerta ke Mandarin.
- Candi ini didirikan dengan bata merah dan memiliki luas 3.981 hektar, menjadikannya sebagai kompleks percandian terbesar di Asia Tenggara.
- Museum Candi Muaro Jambi menyimpan koleksi peninggalan perdagangan internasional, memberikan gambaran kosmopolitan kawasan ini di masa lalu.
- Untuk berkunjung, tiket masuknya terjangkau dan bisa ditempuh dengan jalur darat atau sungai, dengan waktu terbaik berkunjung pada pagi atau sore hari.
Teman-teman, pernahkah kalian merasa merinding saat berdiri di sebuah tempat yang ratusan tahun lalu menjadi pusat peradaban dunia? Itulah yang saya rasakan saat menapakkan kaki di Candi Muaro Jambi. Menziarahi sejarah dan jejak I-Tsing di sini mungkin terdengar klise, tapi bagi saya, sensasinya selalu magis. Ada semacam kegalauan purba saat berdiri di atas “kota yang hilang”, di pertemuan masa lalu dan masa kini.
Sรธren Kierkegaard pernah berkata, “Hidup hanya bisa dipahami mundur; tetapi harus dijalani ke depan.” Di Kompleks Candi Muaro Jambi, kalimat itu terasa begitu nyata.
Mengendus Jejak I-Tsing di Tepi Sungai Batanghari
Dari area parkir, saya berjalan kaki memasuki kawasan wisata sejarah Jambi yang legendaris ini. Hamparan bata merah yang tersusun rapi menyambut, seolah membisikkan kejayaan masa lalu. Saya berdiri di tembok terluar, memandang ke arah Sungai Batanghari, dan mencoba membayangkan keramaian abad ke-7 di sini.
Membayangkan di sebelah mana I-Tsing, biksu sekaligus pengelana Tiongkok yang masyhur itu, duduk menyalin kitab-kitab suci agama Buddha. Ya, kompleks ini dulunya sangat ramai. Bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah kampus internasional.
Candi Muaro Jambi bukan sekadar tumpukan batu bata. Ini adalah saksi bisu di mana I-Tsing (atau Yijing) singgah pada tahun 671 Masehi untuk belajar bahasa Sanskerta selama enam bulan sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda, India. Ia bahkan kembali lagi ke sini dan menetap selama bertahun-tahun (antara 685-695 M) untuk menerjemahkan ratusan teks Buddhis dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin.
Di tepian sungai ini, ratusan tahun lalu, terjadi pertukaran intelektual tingkat dunia. Menyelam ke masa lalu di Situs Cagar Budaya Muaro Jambi terasa begitu syahdu, seolah kita bisa mendengar sayup-sayup mantra yang dilantunkan para bhiksu.
Sejarah Candi Muaro Jambi: Universitas Tertua di Indonesia
Banyak yang belum tahu bahwa Sejarah Candi Muaro Jambi jauh lebih tua dan lebih luas dari Borobudur. Kompleks ini mencakup area seluas 3.981 hektar, menjadikannya kompleks percandian terluas di Asia Tenggara.
Pusat Pendidikan Setara Nalanda
Berdasarkan catatan sejarah dan temuan arkeologis, tempat ini diyakini sebagai “Universitas Nalanda”-nya Sumatera. Jika Nalanda di India adalah pusat studi Buddhisme dunia kala itu, maka Muaro Jambi adalah cabangnya yang paling bergengsi di Nusantara. Ribuan mahasiswa internasional dan pendeta seperti I-Tsing datang ke sini untuk menimba ilmu.
Ini membuktikan bahwa jauh sebelum universitas modern berdiri di Eropa, nenek moyang kita di Kerajaan Sriwijaya dan Melayu Kuno sudah memiliki sistem pendidikan tinggi yang diakui dunia.
Keunikan Candi Bata Merah
Berbeda dengan candi di Jawa yang menggunakan batu andesit, Candi Muaro Jambi dibangun menggunakan bata merah. Struktur ini menunjukkan kearifan lokal dalam memanfaatkan material yang tersedia di lingkungan sungai. Beberapa candi utama yang wajib teman-teman kunjungi antara lain:
- Candi Gumpung: Salah satu candi induk yang menyimpan arca Prajnaparamita.
- Candi Tinggi: Bangunan yang menjulang dengan tangga unik.
- Candi Kedaton: Area yang sangat luas dengan pagar keliling yang kokoh.
- Candi Astano dan Candi Kembar Batu.
Koleksi Berharga di Museum Candi Muaro Jambi
Sebelum atau sesudah berkeliling candi, teman-teman wajib mampir ke Gedung Koleksi atau museum yang berada di dalam kawasan. Di sini tersimpan bukti nyata jejak perdagangan internasional.
Di dalam kotak kaca, saya melihat keramik asing, manik-manik, hingga lempengan emas. Benda-benda ini berasal dari Persia, Tiongkok, dan India, menandakan betapa kosmopolitannya Muaro Jambi di masa lalu. Kalau teman-teman mengerti epigrafi, melihat batu-batu bertulis di sini pasti akan menjadi petualangan intelektual yang luar biasa.
Penyebab Ditelantarkannya Kota Suci Ini
Mengapa kota semegah ini bisa hilang? Menurut cerita, banjir bandang besar abad ke-12 dan wabah penyakit membuat kawasan ini ditinggalkan. Alam kemudian mengambil alih tugasnya. Tanah dan dedaunan menimbun situs purbakala ini selama 500 tahun, melindunginya dalam tidur panjang.
Baru pada tahun 1823, seorang perwira Inggris, S.C. Crooke, menemukan kembali reruntuhan ini, dan kemudian diteliti lebih lanjut oleh sarjana Barat lainnya. Kini, Candi Muaro Jambi perlahan menyingkap wajah aslinya, meski banyak “manepo” (gundukan tanah berisi reruntuhan candi) yang masih misterius dan belum dipugar demi alasan konservasi.
Info Praktis: Lokasi, Rute, dan Tiket Masuk
Bagi teman-teman yang ingin berkunjung, berikut informasi terbaru (Update 2025/2026) untuk merencanakan perjalanan kalian.
Harga Tiket Masuk Candi Muaro Jambi
Kabar baiknya, wisata sejarah ini sangat terjangkau!
- Tiket Masuk Wisatawan Nusantara: Rp 10.000 – Rp 15.000 per orang (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
- Sewa Sepeda: Rp 10.000 – Rp 20.000 sepuasnya.
- Bentor (Becak Motor): Tersedia untuk keliling kompleks jika malas jalan kaki.
Cara Menuju Candi Muaro Jambi
Lokasinya berada di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.
- Jalur Darat: Dari pusat Kota Jambi, jaraknya sekitar 30-40 km. Bisa ditempuh dalam waktu 45 menit hingga 1 jam menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan lewat Jembatan Batanghari II. Jalannya sudah aspal mulus.
- Jalur Sungai (Lebih Eksotis): Teman-teman bisa menyewa perahu ketek atau speedboat dari kawasan Ancol (Tanggo Rajo) di Kota Jambi menyusuri Sungai Batanghari. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit sampai 1 jam, tapi pemandangannya juara!
Tips Berkunjung ke Candi Muaro Jambi
- Datang Pagi atau Sore: Cuaca Jambi bisa sangat terik di siang hari. Waktu terbaik adalah pagi hari (jam 08.00-10.00) atau sore (jam 15.00-17.00) untuk cahaya foto terbaik (golden hour).
- Sewa Sepeda: Karena kompleks ini sangat luas (ingat, 8 kali lebih luas dari Borobudur!), menyewa sepeda adalah pilihan bijak untuk menjelajahi dari Candi Gumpung sampai Candi Kedaton.
- Bawa Bekal Air Minum: Meski ada penjual makanan, membawa air minum sendiri (tumbler) lebih ramah lingkungan dan praktis saat berkeliling.
- Hormati Situs: Jangan memanjat dinding candi atau mencoret-coret bata kuno. Ini adalah warisan dunia yang harus kita jaga.
Menziarahi Jejak I-Tsing di sini bukan hanya soal liburan, tapi soal merawat ingatan. Bahwa bangsa kita pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia.
Sudah siap menjelajahi Universitas Tertua di Indonesia ini?










