
Pernahkah Sobat JEI membayangkan berdiri di sebuah puncak bukit, di mana semilir angin membawa cerita kejayaan masa lalu, sementara mata dimanjakan oleh hamparan Teluk Bima yang memukau? Jika sedang mencari destinasi yang menggabungkan healing dengan wisata sejarah yang mendalam, maka Komplek Pemakaman Kesultanan Bima Dana Traha adalah jawabannya.
Tempat ini bukan sekadar area pemakaman biasa. Bagi masyarakat Bima, Dana Traha adalah “akar” identitas. Di sinilah para pendiri dan penjaga Kesultanan Bima beristirahat dalam damai, mengawasi kota dari ketinggian. Mari kita telusuri lebih dalam kenapa situs ini menjadi hidden gem wisata sejarah di Nusa Tenggara Barat yang wajib Sobat JEI kunjungi.
Mengapa Disebut Dana Traha?
Secara etimologi, “Dana Traha” berasal dari bahasa Bima. Dana berarti tanah, dan Traha berarti istirahat. Jadi, secara harfiah tempat ini adalah “Tanah Peristirahatan”. Namun, karena letaknya yang berada di ketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan laut, banyak juga yang memaknainya sebagai “Tanah Tinggi”.
Sebelum menjadi komplek pemakaman para Sultan, bukit ini memiliki nilai historis yang sangat tua. Hasil riset menunjukkan bahwa sekitar abad ke-10 Masehi, lokasi ini digunakan oleh para Ncuhi (pemimpin suku/wilayah sebelum masa kerajaan) untuk bermusyawarah merintis kelahiran Kerajaan Bima. Jadi, tanah ini sudah sakral jauh sebelum masa kesultanan Islam dimulai.
Baca juga:
Menelusuri Jejak Para Sultan dan Tokoh Besar
Saat Sobat JEI melangkah masuk, kesan angker kuburan seketika sirna. Area ini tertata sangat rapi, bersih dari semak belukar, dan dikelilingi pagar besi putih yang kokoh. Di sini terdapat sekitar 25 makam, namun ada beberapa makam utama yang menjadi pusat perhatian dan menyimpan sejarah besar:
1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I)
Ini adalah makam tokoh paling pivotal dalam sejarah Bima. Sultan Abdul Kahir adalah Sultan Bima pertama sekaligus pembawa agama Islam pertama di tanah Bima. Beliau wafat pada 22 Desember 1640.
- Deep Insight: Sejarah mencatat masa muda beliau penuh pergolakan. Beliau pernah terusir dari istana akibat kudeta pamannya, Salisi, yang bekerja sama dengan Belanda. Beliau kemudian hijrah ke Makassar, memeluk Islam pada tahun 1621, dan menikah dengan adik ipar Sultan Alauddin Makassar. Aliansi inilah yang kelak membantunya merebut kembali tahta Bima.
2. Sultan Abdul Kahir Sirajuddin (Sultan Bima II)
Makam kedua yang menarik perhatian memiliki struktur berundak enam mirip candi dengan nisan bulat khas Bima. Beliau adalah putra Sultan Abdul Kahir yang memerintah selama 42 tahun (1640–1682). Sosok ini dikenal sangat gigih melawan kolonialisme Belanda di zamannya. Sayangnya, karena faktor usia dan cuaca, ukiran kaligrafi di nisannya kini mulai sulit terbaca.
3. Sultan H. Abdul Kahir II (Sultan Bima XV)
Berbeda dengan makam kuno lainnya, makam ini terlihat lebih modern dan mewah. Terletak di dalam cungkup kayu jati berpernis halus dengan lantai marmer yang berkilat. Beliau adalah Sultan Bima ke-15 yang wafat di Jakarta pada 4 Mei 2001. Keistimewaan makam ini menunjukkan penghormatan yang tinggi dari kerabat kerajaan di era modern.
4. Keunikan Makam “Igloo” Sang Perdana Menteri
Di sebelah kiri makam Sultan ke-15, Sobat JEI akan menemukan bangunan unik yang menyerupai rumah Igloo orang Eskimo atau gerbong kereta api setengah lingkaran. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir Abdul Samad Ompu Lamani, Perdana Menteri Kerajaan Bima yang wafat tahun 1701. Bentuk makam yang “tidak biasa” ini—seperti kotak sabun yang ditembok seluruhnya—menjadi daya tarik arsitektur tersendiri di komplek ini.
5. Karaeng Popo: Bukti Persaudaraan Bima-Makassar
Jangan lewatkan makam Karaeng Popo, panglima perang dari Makassar yang wafat tahun 1681. Keberadaan makam beliau di komplek elit kesultanan ini menjadi bukti nyata hubungan erat antara Gowa-Tallo dan Bima. Beliau lah yang membantu Sultan Abdul Kahir Sirajuddin melawan Belanda, sehingga dianugerahi kehormatan untuk dimakamkan bersanding dengan para raja.
Aktivitas Seru: Dari Ziarah hingga Berburu Sunset

Siapa bilang ke makam hanya untuk ziarah? Dana Traha telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif.
- Spot Sunset Terbaik: Karena posisinya di puncak bukit dan menghadap langsung ke Teluk Bima, tempat ini adalah spot golden hour favorit. Sobat JEI bisa melihat matahari tenggelam perlahan di ufuk barat, membiaskan cahaya jingga ke atap-atap rumah penduduk dan menara masjid di bawah sana.
- Wisata Olahraga: Jangan kaget jika pagi atau sore hari melihat warga lokal jogging atau senam di area parkir yang luas. Udaranya yang segar dan pemandangannya yang lepas membuat tempat ini asyik untuk berolahraga ringan.
- Wisata Edukasi: Bagi Sobat JEI yang membawa anak-anak, ini adalah lokasi tepat untuk mengajarkan sejarah lokal secara langsung, bukan hanya dari buku teks.
Makam Prabu Hariang Kancana | Goa Safarwadi – Pamijahan | Makam Sunan Kudus | Petilasan Nyi Roro Kidul
Lokasi dan Cara Menuju Dana Traha
Akses menuju situs sejarah ini sekarang sudah sangat mudah dan mulus (hotmix). Lokasinya berada di Kampung Dara, Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat.
Berikut panduan rute untuk Sobat JEI:
- Titik Awal Kantor Walikota Bima:
- Via Sadia (Jalur Pendek): Ambil rute melalui perempatan Kelurahan Sadia. Jarak tempuh hanya sekitar 3,1 km.
- Via Terminal Dara: Jarak tempuh sedikit lebih jauh, sekitar 4,1 km, namun jalannya lebih lebar.
- Transportasi: Sobat JEI bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Area parkir luas tersedia tepat di depan gerbang makam.
Jadi, jika Sobat JEI sedang jalan-jalan ke Bima, luangkan waktu sore hari untuk mampir ke sini. Selain merawat ingatan sejarah, kita juga bisa menikmati ketenangan yang jarang didapat di hiruk-pikuk kota.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya, Sobat JEI!
Salam, Evi
