Teman-teman, pernahkah kalian merasa waktu berhenti sejenak saat menatap laut? Itulah yang saya rasakan saat kembali menjejakkan kaki di Makassar. Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus berbenah, ada satu oase yang tak hanya menyejukkan mata, tapi juga menggetarkan hati: Masjid Terapung Pantai Losari.
Bagi saya, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah mesin waktu yang membangkitkan kenangan. Dulu, mungkin kita hanya melihatnya sebagai sebuah konstruksi baru di atas air. Namun kini, masjid ini telah menjadi ikon tak tergantikan, berdampingan dengan memori masa kecil yang mungkin—seperti foto-foto lama di harddisk yang rusak—tak bisa kembali, namun tetap hidup dalam ingatan.
Jika teman-teman berencana mengunjungi Kota Daeng ini, berikut adalah panduan lengkap, mulai dari sejarah, arsitektur, hingga tips perjalanan terbaru agar liburan kalian lebih bermakna.
Keajaiban Arsitektur di Atas Laut
Saat teman saya menunjuk ke arah barat dan berseru, “Itu dia Masjid Terapung Pantai Losari,” saya sempat tertegun. Bangunan yang secara resmi bernama Masjid Amirul Mukminin ini berdiri gagah di atas tumpukan beton yang kokoh.
Perpaduan Modern dan Tradisional
Berbeda dengan masjid pada umumnya, arsitektur masjid ini mengadopsi konsep rumah panggung tradisional khas Bugis-Makassar. Dengan dua kubah biru berdiameter 9 meter yang berkilau ditempa matahari, masjid ini ditopang oleh 164 tiang pancang yang tertanam kuat di dasar laut.
Saat air pasang, ilusi optik membuat masjid ini benar-benar terlihat mengapung. Bagi saya, memandangi air laut yang kehijauan di bawah celah lantainya mengingatkan pada kolam kecil di muka Surau Ambacang di kampung halaman—meski di sini, warna hijau itu adalah pantulan murni dari langit dan laut Selat Makassar.
Tetangga Baru: Masjid 99 Kubah
Jika dulu saya melihat crane dan proyek reklamasi yang sibuk di seberang, kini pemandangan itu telah berubah menjadi kawasan elit Center Point of Indonesia (CPI). Dari pelataran Masjid Amirul Mukminin, teman-teman kini bisa melihat kemegahan Masjid 99 Kubah yang ikonik dengan warna cerahnya. Dua masjid megah ini kini menjadi simbol wisata religi Makassar yang tak boleh dilewatkan.
Aktivitas Seru: Lebih dari Sekadar Berfoto
Mengunjungi Pantai Losari tidak lengkap jika hanya sekadar lewat. Ada “rasa” yang harus teman-teman nikmati di sini.
Berburu Sunset Terbaik di Makassar
Datanglah menjelang petang. Sunset terbaik di Makassar sering kali muncul tepat di belakang siluet masjid ini. Perpaduan warna langit jingga dengan azan Magrib yang bersahutan menciptakan suasana spiritual yang magis. Ini adalah momen terbaik untuk merenung, atau bagi kalian pencinta fotografi, saatnya membidik kamera.
Wisata Kuliner: Manisnya Pisang Epe
Setelah hati tenang usai shalat, saatnya memanjakan perut. Berjalanlah sedikit ke arah anjungan, dan teman-teman akan disambut aroma manis dari pembakaran pisang. Pisang Epe adalah kuliner wajib di sini. Pisang kepok yang dibakar pipih lalu disiram saus gula merah (bisa ditambah durian atau cokelat) ini harganya sangat terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi. Rasanya? Legit, seperti kenangan manis yang tak ingin dilupakan.
Baca juga:
Informasi Praktis: Harga Tiket, Jam Buka, dan Rute
Supaya rencana perjalanan teman-teman lancar, berikut adalah hasil deep research saya mengenai kondisi terbaru di lapangan.
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka
Kabar baiknya, untuk masuk dan beribadah di Masjid Amirul Mukminin, teman-teman tidak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis. Namun, sangat disarankan untuk mengisi kotak amal atau infaq seikhlasnya untuk kebersihan dan perawatan masjid.
- Jam Buka: Masjid ini buka 24 jam untuk ibadah. Namun, bagi wisatawan yang ingin berfoto di area dalam, waktu terbaik adalah pukul 05.00 – 21.00 WITA.
- Fasilitas: Tempat wudhu yang bersih, mukena (sebaiknya bawa sendiri untuk higienitas), dan area teras terbuka untuk menikmati angin laut.
Cara Menuju Pantai Losari
Akses ke lokasi ini sangat mudah karena berada tepat di jantung kota.
- Dari Bandara Sultan Hasanuddin: Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam (tergantung macet). Teman-teman bisa lewat Jalan Tol Ir. Sutami dan keluar di gerbang tol menuju arah kota/Pelabuhan.
- Transportasi:
- Taksi Online (Grab/Gojek): Tarif berkisar Rp100.000 – Rp150.000 dari bandara.
- Bus Damri: Tersedia dari bandara menuju pusat kota (Lapangan Karebosi) dengan tarif sekitar Rp30.000, lalu sambung dengan pete-pete (angkot) atau ojek online ke Losari.
Jika teman-teman membawa kendaraan pribadi, tersedia area parkir di sepanjang Jalan Penghibur, meskipun bisa sangat padat saat akhir pekan.
Selamat Menjelajahi Makassar, Teman-teman!
Perjalanan ke Masjid Terapung Pantai Losari bukan hanya tentang melihat bangunan indah di atas air. Ini tentang merasakan hembusan angin laut, mendengar debur ombak yang menabrak tiang penyangga, dan menyadari betapa kecilnya kita di hadapan ciptaan-Nya.
Dulu, saya menutup kunjungan malam saya di sini dengan perasaan campur aduk—bahagia karena keindahannya, namun sendu mengingat kenangan masa lalu yang hilang bersama harddisk lama. Tapi percayalah, kenangan baru yang akan teman-teman ukir di sini akan tersimpan aman, bukan di komputer, melainkan di hati.
Selamat menjelajahi Makassar, Teman-teman!
