
Key Takeaways
- Pasar Argosari Wonosari adalah pusat kehidupan kota yang menyimpan kekayaan kuliner dan sejarah lokal.
- Pasar ini pernah dikenal sebagai Pasar Seneng dan kini telah direvitalisasi untuk menarik lebih banyak pengunjung.
- Pengalaman shopping race dengan hanya Rp 10.000 menunjukkan betapa terjangkau dan beragamnya makanan di pasar ini.
- Kuliner yang wajib dicoba termasuk Sego Berkat, tiwul, dan belalang goreng yang terkenal di wilayah ini.
- Pasar Argosari buka hampir 24 jam, dengan tips untuk datang pagi dan membawa uang tunai kecil agar pengalaman belanja semakin menyenangkan.
Teman-teman, pernahkah terpikir bahwa jantung kehidupan sesungguhnya dari sebuah kota bukanlah di alun-alunnya yang megah, melainkan di pasar tradisionalnya?
Bagi saya, mengunjungi Pasar Argosari Wonosari adalah sebuah keharusan. Bukan hanya sekadar transaksi jual beli, pasar ini adalah museum hidup yang memamerkan kuliner Pasar Argosari Wonosari yang otentik, denyut nadi ekonomi warga Gunungkidul, hingga jejak sejarah yang panjang. Jika kalian berpikir ini hanya pasar becek biasa, think again. Siapkan perut kosong dan kamera, karena kita akan menjelajah pasar terbesar di Gunungkidul ini lebih dalam!
Jejak Sejarah: Dari Pasar Seneng hingga Argosari
Sebelum kita tersesat dalam aroma sedap jajanan pasar Wonosari, mari kita flashback sedikit—sesuatu yang baru saya pelajari lewat “deep research” kecil-kecilan.
Ternyata, Pasar Argosari ini punya sejarah panjang. Dulu dikenal sebagai Pasar Seneng atau cikal bakal Pasar Kawak. Ada tradisi unik bernama midhang, semacam upacara syukur atau nazar yang dilakukan warga di sekitar pasar ini. Sekarang, pasar ini telah bersolek. Revitalisasi terbaru membuat pasar ini lebih modern, termasuk adanya jembatan penghubung ke lantai 2 Pasar Argosari yang memudahkan akses ke zona pakaian dan kuliner. Kabar terbaru 2025, sistem sewa kios pun kini beralih ke retribusi harian yang lebih meringankan pedagang, membuat ekonomi di sini makin menggeliat.
Tantangan Jelajah Gizi: Rp 10.000 Dapat Apa?
Kembali ke cerita seru saya saat mengikuti Jelajah Gizi. Kami ditantang melakukan shopping race! Bayangkan, satu grup dibekali uang hanya Rp 10.000 dan harus membeli sekitar 20 jenis makanan dalam waktu 30 menit.
Awalnya saya pesimis. Hari gini sepuluh ribu dapat apa?
Tapi ternyata, harga sembako Pasar Argosari dan jajanannya sungguh bikin dompet tersenyum lebar. Saya menemukan nama-nama makanan yang super asing di telinga saya seperti tempe mblanding, manggleng, intip, dan jaddah. Ada juga kue seharga Rp 500 per butir! Di sini saya sadar, pasar ini adalah benteng pertahanan pangan lokal yang luar biasa.
Meskipun pada akhirnya saya tidak menemukan makanan yang benar-benar misterius (karena lemet ternyata mirip ketimus, dan urap rumput laut yang saya kira unik ternyata adalah varian sayuran lokal), pengalaman berinteraksi dengan pedagang yang ramah adalah highlight utamanya.
Wisata Kuliner: Apa yang Wajib Dicoba?
Nah, ini bagian yang paling teman-teman tunggu. Jika kalian mampir ke sini tanpa ikut shopping race, inilah kata kunci kuliner yang wajib kalian buru agar tidak menyesal:
1. Sego Berkat & Kuliner Legendaris
Jangan pulang sebelum mencoba Sego Berkat Pasar Argosari atau yang populer dengan Nasi Berkat Wonosari. Salah satu yang viral adalah Sego Berkat Mbah Pawiro Ranti (biasanya ada di sekitar area pasar/kuliner Wonosari). Nasi yang dibungkus daun jati ini punya aroma khas dengan lauk oseng-oseng pedas yang nendang.
Bagi pecinta bakso, Bakso Pak Kardi Pasar Argosari adalah legenda. Lokasinya yang strategis sering jadi incaran warga lokal maupun wisatawan yang lelah berbelanja.
2. Tiwul, Gatot, dan Jajanan Pasar
Ke Gunungkidul tanpa makan tiwul itu bagai sayur tanpa garam. Carilah Sego Tiwul Pasar Argosari yang hangat, biasanya disajikan dengan sambal bawang dan ikan asin. Untuk oleh-oleh, teman-teman bisa memborong Gatot Tiwul instan Pasar Argosari yang awet dibawa pulang.
3. Ekstrem tapi Lezat: Belalang Goreng
Bagi yang berani, carilah Belalang goreng Wonosari (walang goreng). Rasanya gurih mirip udang! Ini adalah oleh-oleh khas Gunungkidul di Wonosari yang paling ikonik dan kaya protein.
Info Praktis: Jam Buka & Parkir
Sering ada yang bertanya, “Pasar Argosari buka jam berapa?” Pasar induknya sendiri berdenyut hampir 24 jam.
- Pasar Pagi Wonosari: Mulai ramai sejak dini hari (pukul 02.00 – 06.00 WIB) di mana pedagang sayur grosir beroperasi.
- Kuliner Malam Pasar Argosari: Jika kalian lapar tengah malam, area sekitar pasar berubah menjadi surga angkringan dan bakmi jawa.
Untuk parkir Pasar Argosari, area ini cukup padat terutama di jam kerja pagi hari. Namun, sudah ada kantong-kantong parkir yang dikelola petugas untuk merapikan kendaraan roda dua maupun empat.
Tips Mengunjungi Pasar Argosari
Supaya kunjungan teman-teman makin asik, berikut tips dari saya:
- Datang Pagi Buta: Untuk mendapatkan suasana pasar yang paling “hidup” dan sayuran ter-segar, datanglah saat subuh.
- Bawa Uang Tunai Kecil: Pedagang di sini lebih suka uang pas. Pecahan Rp 2.000 – Rp 10.000 sangat berguna.
- Tawar dengan Hati: Ini pasar tradisional, tawar-menawar itu seni. Tapi ingat, harganya sudah sangat murah, jadi tawarlah dengan wajar ya.
- Eksplorasi Lantai 2: Jangan hanya di bawah, naiklah ke atas untuk melihat komoditas lain seperti pakaian dan kebutuhan rumah tangga.
Pasar Argosari Wonosari membuktikan bahwa modernisasi (lewat infrastruktur distribusi yang saya ceritakan di tulisan asli) tidak menghapus kearifan lokal. Apakah kalian siap berburu kuliner tradisional di sini?
Salam kenyang, Evi
Pasar Argosari WonosariJl. Brigjen Katamso, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
