Halo Sobat JEI, hari ini aku ingin berbagi sebuah kepingan kenangan tentang seseorang yang pernah melintas dan meninggalkan jejak kebaikan dalam perjalananku. Yah ini lah untuk mengenang Mbak Sri yang telah pergi.
Tautan Takdir di Komunitas TDA
Namanya Sri Kurniatun, dan ia berprofesi sebagai perencana keuangan syariah. Aku memanggilnya Mbak Sri, dan dengan santun ia selalu memanggilku Bu Evi. Tautan pertemanan kami dimulai di Komunitas Tangan Diatas (TDA), sebuah wadah di mana para pengusaha UKM berinteraksi, saling menyemangati, berbagi ilmu, hingga merajut hubungan bisnis.
Awalnya, kami hanya dua nama yang sering bertegur sapa di dunia maya lewat milis. Namun, berkat kegiatan TDA yang rutin mengadakan kopdar, interaksi digital itu perlahan menjelma menjadi pertemuan hangat tatap muka.
Keramahan yang Mengalir dari Kedalaman Jiwa
Mbak Sri adalah perwujudan sejati dari kelembutan. Ia bukan sekadar wanita yang ramah; senyumnya adalah pancaran cahaya yang mekar dan bernapas hingga ke sudut-sudut matanya.
Sinar Tulus di Balik Senyuman
Tawanya yang renyah adalah bahasa tanpa kata yang, menurutku, murni mengalir dari mata air jiwanya yang paling dalam. Itu bukanlah senyum mekanis atau keramahan kosmetik ala sales dan teller bank yang sering kita jumpai. Ada kejujuran yang menenangkan dalam setiap tarikan garis wajahnya.
Membumi dalam Balutan Karakter Jawa
Di balik kebersahajaannya, ia adalah sosok yang cemerlang—seorang dosen, pembicara yang disegani, sekaligus penulis buku. Namun, segala pencapaian itu tak pernah membuatnya terbang menjauh dari tanah. Ciri wanita Jawanya melekat erat bak selendang sutra yang membalut kepribadiannya.
Suaranya selalu mengalun pelan dan teduh, penuh kehati-hatian layaknya hembusan angin yang enggan mematahkan ranting rapuh. Setiap tutur katanya ditimbang dengan rasa, memastikan tak ada hati yang tersinggung, merangkul lawan bicaranya dalam pemahaman yang utuh dan hangat.
Jarak, Kesibukan, dan Sebuah Firasat
Seiring berjalannya waktu, kesibukanku terus meningkat dan aktivitasku di TDA pun perlahan surut. Meski begitu, tali silaturahim dengan Mbak Sri tetap terjalin lewat Facebook. Dari jejaring sosial itulah, aku mengikuti jejak langkah bisnis konsultan keuangannya yang terus bertumbuh. Terkadang, takdir masih mempertemukan kami secara tak sengaja, bersirobok pandang di ajang pameran dagang—perusahaanku sebagai peserta, dan ia datang sebagai pengunjung. Terakhir kali kami bertatap muka adalah di Smesco Center pada tahun 2010.
Kabar Mengejutkan di Penghujung Tahun
Pada suatu ketika di penghujung tahun 2011, aku membaca status Facebook-nya. Ia mengabarkan sedang diopname di rumah sakit karena sakit perut dan muntah-muntah. Waktu itu, aku hanya berpikir ringan, “Mungkin diare karena kecapekan. Dia kan pekerja keras.” Sebagai teman, aku tentu mendoakan kesembuhannya. Sebuah simpati basa-basi sotoy ala facebookers.
Namun, beberapa bulan kemudian, ia kembali menulis status yang menghentak. Ia berpamitan kepada seluruh teman di jaringannya, mengatakan bahwa ia akan pulang ke Kebumen, kampung halamannya, agar bisa lebih dekat dengan keluarga.
- Baca di sini tentang : Forum Pertanian Organik Untuk Belajar: Menjemput Solusi dan Merajut Sinergi di Solo
Di tengah derap kegiatannya yang padat dan bisnis yang sedang mekar-mekarnya, ia memilih pulang kampung? Batinku mulai mencium sesuatu yang tidak beres. Firasatku mengatakan ini pasti berhubungan dengan penyakit yang membuatnya harus bolak-balik check-up pasca opname. Lewat inbox, aku bertanya perlahan, menanyakan sakit apa yang sebenarnya ia derita. Namun, jawabannya penuh teka-teki; ia hanya meminta doa agar diberi ketabahan dan penyakitnya segera diangkat.
Berita Duka di Beranda Maya
Belakangan, aku mulai dijangkiti rasa jenuh bermain Facebook dan lebih asyik menyusuri Twitter serta menulis di blog. Sesekali aku membuka Facebook hanya untuk memeriksa pesan inbox, lalu segera menutupnya kembali.
Hingga kemarin, tanggal 22 Januari, aku iseng berselancar menengok dinding maya teman-teman lama. Salah satu persinggahanku adalah halaman Facebook Mbak Sri. Ya Allah… di sana telah bertaburan ucapan duka cita yang menyesakkan dada. Mbak Sri telah pergi untuk selama-lamanya. Rupanya, ia telah menghembuskan napas terakhir sejak 12 Januari 2012, begitulah kabar yang kutangkap dari tulisan kerabat di dinding Facebook-nya.
Refleksi: Jarak Kematian yang Ternyata Dekat
Kami memang bukanlah kawan yang sangat akrab. Pertalian kami di TDA lebih banyak diisi dengan saling mendoakan kesuksesan dari kejauhan. Namun, menyadari bahwa sosok tersenyum dalam foto kenangan itu kini telah tiada, ada sesuatu yang terasa tercerabut paksa dari dalam dadaku.
Tiba-tiba aku merasa terasing dari dunia sekeliling. Suasana menjadi hening, mencekam, dan detak jantungku berpacu lebih cepat. Ia masih teramat muda, belum berkeluarga, dan memiliki nyala semangat yang begitu terang untuk maju. “Benarkah engkau sudah pergi, Mbak?” tanyaku lirih dalam hati.
- Baca di sini tentang: Cara Menghilangkan Distraksi: Jurus Ampuh agar Kembali Fokus pada Tujuan Hidup Produktif
Misteri Takdir yang Tak Tertebak
Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Namun, jauh di sudut pikiran, aku sering merasa bahwa kematian itu berada di suatu tempat yang amat jauh—ribuan kilometer jaraknya dari tempatku berdiri saat ini. Ia memang akan datang, tapi seolah bukan dalam waktu dekat.
Namun, tragedi kecelakaan maut yang merenggut nyawa 9 orang oleh pengemudi Xenia mabuk tempo hari, ditambah kepergian Mbak Sri, benar-benar membuatku terduduk. Aku melongok ke dalam jiwaku sendiri dan bertanya: Apakah mereka yang berdiri di halte itu punya bayangan sedikit saja bahwa kisah hidup mereka akan berakhir di pagi yang nahas itu? Mereka bahkan belum naik angkutan, masih berdiri di halte—suatu tempat yang semestinya mustahil menjadi ladang maut.
Menunggu Giliran Waktu
Aku yakin tidak. Si Bapak yang saat itu masih menyodorkan botol susu kepada anaknya yang meregang nyawa, pasti tak pernah berpikir maut bisa datang menyergap secepat kilat. Begitu pula Mbak Sri; saat ia melangkahkan kaki mengadu nasib di ibu kota, ia pasti tak pernah menduga bahwa perjalanannya akan dihentikan di tengah jalan secepat ini.
Lalu, bagaimana denganku? Kapan waktuku akan tiba? Ya Allah, sungguh ngeri rasanya memikirkan hal itu…
Selamat jalan, Mbak Sri. Maafkan aku jika di masa-masa sakit dan kepergianmu, aku terkesan tak peduli karena ketidaktahuanku. Semoga rasa sakit yang sempat mendera menjadi penggugur segala dosamu. Amin.
eviindrawanto.com


