
Key Takeaways
- Sukses bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan yang terus berlanjut.
- Ambisi memotivasi kita untuk terus berkarya dan mencari puncak baru dalam hidup.
- Riset menunjukkan bahwa melihat sukses sebagai perjalanan membantu menjaga motivasi dan kebiasaan baik.
- Rayakan setiap progres kecil dan nikmati proses belajar untuk menghindari burnout.
- Sukses adalah perjalanan itu sendiri yang perlu dinikmati, bukan sekadar fokus pada hasil akhir.
Halo, Sobat JEI! Pernahkah kamu merasa kosong justru saat impianmu sudah tercapai?
Banyak dari kita terjebak dalam ilusi bahwa sukses adalah tujuan final—sebuah titik di peta tempat kita bisa berhenti, berkemah, dan merasa puas selamanya. Padahal, sukses adalah perjalanan yang terus bergerak. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada piala yang berdebu di lemari, melainkan pada keringat, air mata, dan proses panjang yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Mari kita bedah mengapa mindset ini krusial dan bagaimana sains membuktikannya.
Mengapa Kita Sering Salah Mengartikan Sukses?
Jika seseorang dijuluki orang kaya, otomatis mereka sering dianggap sukses. Kesan sekilas, julukan sukses datang dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Namun, fondasi sukses tidak dibangun dari sana.
Seperti kata Aa Gym, harta hanyalah “efek samping” dari sebuah kesuksesan, bukan sukses yang sebenarnya. Jika kita hanya berfokus pada tujuan akhir (harta, jabatan, ketenaran), kita berisiko kehilangan makna hidup. Sobat JEI, tugas manusia sebagai Khalifah di muka bumi adalah menjadi pemimpin dalam penjelajahan alam semesta, mengungkap misteri, dan menyentuh hidup orang lain—bukan sekadar menemukan satu titik nyaman lalu menunggu ajal.
Belajar dari Icarus dan Junghuhn: Ambisi Tanpa Henti

Ingat kisah Icarus? Ia terbang ke matahari dan rela terbakar demi rasa ingin tahunya. Atau kisah Franz Wilhelm Junghuhn, naturalis kelahiran Jerman yang jasanya membuat kita bisa menikmati Kawah Putih hari ini. Junghuhn tidak berhenti setelah menemukan satu tanaman; ia terus menyingkap mitos dan menjelajahi isi alam Pulau Jawa hingga akhir hayatnya.
Ini membuktikan bahwa dalam diri manusia, Tuhan telah menanamkan satu chips canggih bernama: AMBISI.
Baca juga:
Ambisi: Bahan Bakar Perjalanan
Ambisi inilah yang membuat sukses tidak bisa disebut sebagai tujuan semata. Sukses itu seperti nikotin; ia menyebabkan kecanduan dalam konteks positif. Setelah satu puncak terlampaui, manusia akan mencari puncak lain. Kaum pesimis mungkin menyebut ambisi sebagai sumur tanpa dasar, tetapi bagi orang yang memiliki Growth Mindset (pola pikir berkembang), ini adalah bahan bakar untuk terus berkarya.
Pendapat Ahli: Sains di Balik “Journey vs Destination”
Mengapa Sobat JEI harus mulai mencintai proses? Riset psikologi modern mendukung kebijaksanaan kuno ini.
- Arthur Ashe & Fokus pada Tindakan Legenda tenis Arthur Ashe pernah berkata, “Success is a journey, not a destination. The doing is often more important than the outcome.” (Sukses adalah perjalanan, bukan tujuan. Tindakannya seringkali lebih penting daripada hasilnya). Fokus pada “melakukan” (the doing) membuat kita memegang kendali, sementara hasil seringkali di luar kontrol kita.
- Riset Stanford: Jebakan “Tujuan Tercapai” Penelitian dari Stanford Graduate School of Business oleh Szu-chi Huang dan Jennifer Aaker menemukan bahwa memandang pencapaian sebagai “tujuan akhir” sering kali mematikan motivasi setelah tujuan itu tercapai (efek “What now?”). Sebaliknya, mereka yang memandang tujuan tersebut sebagai bagian dari perjalanan (journey mindset) cenderung terus tumbuh dan mempertahankan kebiasaan baik mereka.
- Carol Dweck & Growth Mindset Psikolog Carol Dweck menekankan bahwa orang dengan fixed mindset hanya peduli pada hasil (pintar/gagal), sementara pemilik growth mindset menikmati tantangan. Bagi mereka, kegagalan bukan akhir jalan, tapi sekadar polisi tidur dalam perjalanan sukses mereka.
3 Cara Menikmati Perjalanan Menuju Sukses
Agar Sobat JEI tidak terjebak dalam burnout mengejar hasil, berikut cara mengubah perspektif:
- Rayakan “Kemenangan Kecil” (Small Wins): Jangan menunggu sampai garis finis untuk bahagia. Rayakan setiap progres kecil hari ini.
- Ubah “Saya Harus” menjadi “Saya Bisa”: Nikmati kesempatan untuk belajar hal baru, bukan beban untuk membuktikan diri.
- Jadilah Penjelajah, Bukan Turis: Turis hanya ingin foto di destinasi. Penjelajah (seperti Junghuhn) menikmati setiap langkah, bahkan saat tersesat di hutan belantara.
Sobat JEI, bumi kecil ini saja masih menunggu dalam gigil untuk diungkap rahasianya. Jangan habiskan waktumu hanya berfokus pada garis finis. Hiduplah saat ini, nikmati prosesnya, karena sukses adalah perjalanan bukan tujuan itu sendiri.
Salam, Evi
