Pesona Kampung Jaro di kabupaten Tabalong

Pesona Kampung Jaro di kabupaten Tabalong
Jalan di Kampung Jaro

Kala membaca itineraries dari panitia Adaro Blog Camp bahwa salah satu kegiatan adalah berkunjung ke Kecamatan Jaro dan menginap di rumah penduduk, saya merasa antusias.  Lahir di kampung, menghabiskan masa kanak-kanak di rumah yang dikelilingi kolam ikan dan sawah, warna-warni di sekeliling tempat tinggal berubah mengikuti musim,  jadi dasar bentukan siapa saya sekarang. Bayang kan lah mengamati warna mengikuti musim: Kelabu berlumpur perlahan tapi pasti berubah hijau dan kemudian  menguning. Jiwamu tak memerlukan musik untuk menari dalam lingkungan seperti ini.

Begitu pun interaksi sosial dengan penduduk kampung akrab dan gayub karena semua terikat tali persaudaraan. Tak berlebihan jika saya sebut diri  sebagai anak kampung yang bahagia, kan?  Kalau kemudian menginap di Kampung Jaro yang berbatasan dengan Kalimantan Timur itu, walau cuma semalam, tak mengapa. Itu lebih dari cukup membangkitkan sel-sel bahagia dari masa kanak-kanak saya.

Ohya kunjungan ke Jaro ini dalam rangka melihat program CSR  dari PT. Adaro Indonesia untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.   lewat peternakan sapi terpadu. Artinya selain menggemukan sapi potong, Kelompok Ternak Sapi Lembu Sejati juga manfaatkan kotorannya untuk membuat pupuk organik serbuk, cair dan biogas.

Makan malam di Kampung Jaro
Disambut keluarga Pak Heriyanto

Jaro dan Jawa Separo

Di awal kedatangan nama Jaro sendiri sudah menggelitik. Mengundang senyum. Habis gimana lagi, di kepala saya Jaro yang merupakan singkatan dari Jawa SeparoSeparuh Jawa) untuk nama kampung atau kecamatan sarat  unsur humor. Padahal penamaannya sendiri berlatar belakang sejarah. Ketika orang jawa diangkut ke sini oleh Pemerintahan Hindia Belanda sebagai tenaga kerja untuk mengerjakan infrastruktur membuat jembatan, jalan raya irigas,  dan bendungan. Masyarakat jawa itu kini bersama keturunan dan kerabatnya tersebar  di kampung Jawa dan Penghijauan.

Kesan jawa itu sudah tertangkap sesaat turun dari mobil dan disambut oleh Pak Heryanto dan istri di rumah  mereka, penginapan kami malam itu. Lidah mereka medok seperti penutur bahasa jawa lainnya. Di dinding terpampang foto-foto pengantin adat Jawa. Saat makan malam pun kami disediakan makanan yang biasanya datang dari dapur Jawa. Ada urap, opor, jangan tempe dan lain-lain.

Suasana Jawa bertambah kental saat usai makan malam kami semua berkumpul di balai desa. Tak ada acara formal hanya ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak anggota Kelompok Lembu Sejati yang jadi binaan CSR PT. Adaro Indonesia. Mendengarkan cerita keseharian mereka dalam menekuni usaha peternakan sapi. Suka dan duka. Bagaimana menangani sapi-sapi yang sakit, membuat inseminasi buatan dan lain-lain. Ramah-tamah  sambil ditingkahi Kopi Tabalong yang manis berikut panganan kecil khas setempat.

Kandang milik Kelompok Lembu Sejati
Kandang milik Kelompok Lembu Sejati

Mengapa saya jadi kian mencintai hobi manjadi turis atau traveling? Salah satu alasannya  ya karena menemui banyak pesona seperti yang terjadi Kampung Jaro ini: Membuka banyak pandangan mengenai hal-hal baru. Bukan saja mengenai kehidupan  pedesaan di Jaro, juga jadi tahu beberapa karakter sapi. Seperti sapi yang sedang birahi akan bersikap galak dan tak segan-segan menyepak siapapun di dekatnya. Nah pemilik harus segera mencarikan pasangan kawinnya. Kalau tidak segera dikawinkan makin sensitif dan semakin galak sapi ini. Sedang sapi yang sedang birahi terlihat tanda-tandanya dari, misalnya, mereka selain gelisah akan memanjat temannya sendiri atau anak-anaknya atau sapi yang lebih kecil. Dan untuk berkembang biak sapi pun mengenal pembuahan buatan yang dilakukan oleh ahlinya.

Di Balai Desa Jaro
Di Balai Desa Jaro

Keesokan paginya kami dibawa melihat kondisi  kandang yang kelompok ternak Lembu Sejati. Sapi-sapi yang sehat dengan kandang  yang bersih. Kotoran dari kandang ini dioleh jadi pupuk organik dan biogas. Bahkan di tempat itu juga tersedia instalasi pembuatan pupuk organik cair yang didistribusikan ke sesama petani di Kampung Jaro.

Sapi-sapi yang sehat
Sapi-sapi yang sehat
Instalasi pupuk cair organik
Instalasi pupuk cair organik

Melongok ke Dalam Pasar Tradisional Jaro

Sudah menapa kaki di Kecamatan Jaro tentu tak lengkap jika tak meninggalkan jejak di pasar tradisionalnya. Dengan sepeda motor pinjaman dari Pak Heryanto saya diboncengi oleh Uni Raiyani (fotografer keren itu), sekitar 15 menit saja dari rumah.

Seperti yang pernah saya tulis  tentang Pesona Pasar Tradisional Bima dan Jelajah Pasar Los Batu Kandangan, bahwa pasar tradisional adalah cara terbaik untuk melihat aktivitas ekonomi warga lokal dan tentu saja jenis makanan yang mereka konsumsi sehari-hari. Di sini juga akan terlihat berbagai bentuk peralatan pertanian yang mereka gunakan mau pun peralatan rumah tangga lainnya. Pasar juga  cara terbaik untuk melihat bagaimana masyarakat berinteraksi, memperlihatkan seberapa ramah penduduknya sekaligus mata rantai yang akan membuka berbagai jaringan jika kita ingin mengetahui suatu daerah lebih dalam.

keranjang kalimantan selatan
Borooonggg…

Tapi  di Pasar Tradisional Jaro ang buka seminggu sekali yak Sabtu kami hanya melihat-lihat dan belanja sedikit.

Pagi itu Uni Rai kembali memanjakan hobi  uniknya yakni mengoleksi  caping dari tempat-tempat yang ia datangi.  Kebetulan begitu melewati gerbang pasar yang terlihat pertama kali adalah ibu penjual  peralatan rumah tangga dari anyaman. Selain bambu terdapat pula anyaman dari rumput Purun (Eleocharis dulcis), sejenis gulma yang tumbuh subur di rawa-rawa yang terdapat di Kalimantan Selatan. Sayang Uni Rai tak mendapat caping, hanya topi dari rumput purun.

Seperti saya sebut di atas, dari koleksi barang yang dijual di Pasar Jaro ini kita bisa mengintip sekilas ke dalam rumah tangga warga setempat.  Seperti keranjang yang pemakaiannya di sandang seperti ransel. Keranjang ransel multi guna itu yang selain dapat digunak belanja ke pasar, sering pula di bawa ke ladang atau ke sawah.   .

Aneka anyaman di Pasar Jaro
Aneka anyaman di Pasar Jaro

Puas melihat-lihat koleksi anyaman kami pun masuk lebih ke dalam.  Menjumpai aneka kue tradisional, sayuran, dan ikan. Mengenai ikan, teman-teman yang pernah ke Kalimantan Selatan mungkin sudah terbiasa melihat berbagai menu ikan panggang atau goreng yang bobotnya besar-besar. Nah di pasar Jaro yang mentahnya membuat saya lebih takjub. Soalnya di Tangerang jarang melihat ikan jumbo, kalau pun ada sudah dipotong-potong. Di sini ikan-ikan air tawar jumbo ini dijual dalam keadaan segar bugar.

Tukang ikan yang gembira
Tukang ikan yang gembira

Untuk pertama kali saya melihat sayuran mirip bunga teratai yang disebut Kembang Tanding di Kalimantan Selatan. Dengan warna merah muda yang lembut dia menyembul diantara tumpukan sayur hijau. Duh sayur kok cantik nian!

Bunga teratai?  Ini sayur Kembang Tanding
Bunga teratai? Ini sayur Kembang Tanding

Tak ketinggalan bermacam jenis sayuran siap santap tertata di atas meja yang melihat ragamnya langsung memikat selera . Dari sisi saya yang berdarah Minang,  kuliner di Jaro ini tergolong unik. Ada Sayur Karuh yang terdiri dari campuran jantung pisang, kangkung dan kembang tanding. Kembang tanding ini adalah sejenis sayuran yang mirip bunga teratai. Duh gimana rasanya? Agar tidak penasaran saya langsung beli sebungkus  untuk dinikmati nanti. Ada juga Tarong Pipit (terung kecil) yang ditambah sulur keladi. Terus Jamur Krikit Jagung Anom ( jamur tudung halus dan jagung muda).

Sayur siap santap
Sayur siap santap kas Pasar Jaro
Sayur Karuh
Sayur Karuh

Terus bagaimana rasa sayuran itu? Kosa kata saya terbatas untuk menggambarkan enaknya makanan. Jadi ya tak sebut enak dan enak saja ya.

Kami juga mencoba kue lupis dan apem. Sayang kue lupis warnanya agak mencurigakan. Hanya karena dinikmati dengan gula aren, maka saya colek juga sedikit. Pesona Kampung Jaro dari sisi kue-kue  yang mengisi memory card adalah Kararaben, Amparan Tatak (berwarna putih dan hijau pandan), dan Sari India.

Mari kita coba kue apemnya 🙂

53 thoughts on “Pesona Kampung Jaro di kabupaten Tabalong

    1. Iya saya juga surprise menemukan ada Kampung Jawa di Kalimantan Selatan seperti juga di Lampung. YouTube ASI dimulai saat Belanda memutuskan mengoptimalkan tanah jajahan mereka di nusantara yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Kebetulan di Jawa penduduknya padat dan kultur pekerja keras dimanfaatkan Belanda dengan maksimal

    1. Sekilas pandang saja sekarang Kampung ini sudah terlihat maju. Mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang mereka semakin berkembang ya Buk

    1. Iya kehidupan di desa jauh lebih sederhana. Selain alam, orang-orangnya juga akrab satu sama lain. Itu yang membedahkan ya Mas Sukmana

  1. Setiap singgah ke suatu Kota pasti akan ke Pasar Tradisional nya.. Ah Pasar nya sangat bersih dan enak dilihat Tante.. Wah itu kresek seperti itu sekarang sudah jarang ada dan disana masih ada..

    1. Iya Saya punya ketertarikan sendiri untuk singgah di pasar tradisional setiap tempat yang dikunjungi, Jrin. Gak tau kenapa betah saja melihatnya 🙂

  2. wah tas nya lucuuu. btw itu jualan sayurnya bikin kangen deh uni bude sayur di jakarta…
    hehehehe kog warna kue lupisnya mencurigakan uni?
    salam
    /kayka

  3. kampung adem ayem mbak ……. pasti disana suasananya masih tenang . oh ya mbak ayok ke bondowoso ada juga kampung yang seperti ini lokasinya ada di tengah hutan jalannya sudah enak disana sampean nbisa nikmati aneka kopi khas bondowoso dari luak sampek arabika …

    salam kenal mbak 🙂

  4. Waah baru tau ada kampung Jaro alias Jawa Separo di Kalimantan. Meskipun di Kalimantan tapi ngomongnya Jawa ya Mbak. Jadi ingat orang orang Jawa di Suriname.
    By the way sapinya sehat sehat juga ya. Senengnyaa Mbak Evi bisa jalan kemana-mana…

  5. Kirain Jaro itu apa, ternyata Jawa Separo, hehehe..
    Jarang-jarang lihat sayur yang fotogenik, baru kali ini.
    btw, asiknya jalan ke kampung-kampung itu kalau ketemu suasana guyub ya mbak Evi. Tuan rumah dan tamu cepat akrab.

    1. Iya nama Jaro itu menurut saya ada unsur humorisnya Mas Yo, kok bisa-bisanya Mereka memberi nama seperti itu hahaha…

      Dan tinggal di kampung memang tidak begitu Kompleks seperti halnya di kota. Disamping banyak pepohonan itulah rasanya Mengapa terasa lebih damai 🙂

    1. Iya sayurannya cantik cuman kalau dimasak hilang juga cantiknya, Mbak Dew. Nah kalau aku yang disuruh memasak pasti sayang memotong-motong nya

    1. Betul ada masvDhave juga…

      Sayur karuh ini dipajang dan juga sudah ditakar ko. Harga sebungkus 5 ribu. Jadi kalau ada pembeli yang berminat tinggal tutup plastiknya, angkat deh 🙂

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi….

    Kalau hidangan makan seperti dalam sambutan keluarga Pak Heriyanto itu, orang kampung kami menyebut hidangan makan seperah. Cara makan berhidang atas lantai begini memang tradisi orang kampung dahulu baik di rumah sendiri atau ketika majlis kenduri kahwin dan sebagainya. Benar-benar berbeza dengan cara makan moden atas meja. Nikmatnya lain dan terasa muhibbah apabila duduk bersila di lantai.

    Sudah pasti amat mengesan hati apabila mbak bisa mendengar luahan hati orang kampung tentang kehidupan harian mereka terutama dalam bidang penternakan sapi. Semoga ada solusi dalam setiap permasalahan mereka. Iya, sangat beruntung ya kalau hobinya suka melancung. Banyak hal baru kita temui dalam hidup ini. Saya setuju.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Mbak Fatimah.

      Makan Seperah, lah kok sama sebutannya oleh suku minangkabau ya mbak. Mungkin karena tradisi Melayu Malaysia dan Minangkabau sangat mirip. Kami juga menyebut makanan yang ditaruh di atas lantai dan dinikmati bersama-sama ini sebagai makan seprah…

      Senangnya menemukan tali merah Antara Malaysia dan Indonesia dalam penyebutan atau atau nama makanan 🙂

      1. Alhamdulillah, kita ternyata serumpun mbak. Pulau Borneo mempunyai sejarah masa lampau yang indah. Malah, sejarah keturunan keluarga saya sebelah Emak asalnya dari sana, sudah tentu banyak sebutan, bahasa juga makanannya sama atau hampir sama. 🙂

  7. Sayur kembang tanding wuih kebayang wangi sedapnya. Senang dengan program integrasi sapi selalu panjang rantai efek menguntungkannya. salam hangat

    1. Iya mbak prih, beternak atau berusaha dengan efek yang panjang, tentunya lebih menguntungkan yang baik untuk petani itu sendiri maupun lingkungannya 🙂

    1. Iya di kampung Jero sistem peternakan Sapinya sudah maju. Kotoran tidak dibuang tapi diolah untuk keperluan pupuk cair maupun pupuk serbuk. Mustinya sistem pertanian berkelanjutan seperti ini diterapkan di seluruh desa di pelosok nusantara ya

  8. awalnya aku pikir itu bunga kecombrang tapi mirip bunga teratai tapi juga mirip bunga lotus, menikmati masakan2 tradisional dengan bahan yang lain dari yang lain tentu menciptakan kekhasan serta penglaman menarik tersendiri

  9. Mba Ev, jalan-jalan terus. Ajak-ajak 😀
    itu tas anyaman warna-warni sering dipake bule. Ada temennya temenku yang ekspor tas anyaman itu ke luar negri dan pasarnya bagus mba. Ah ,.. Indonesiaku emang kece.

    1. Tas anyam anyaman ini memang unik, bisa digunakan sesuai fungsinya dan bisa pula untuk hiasan interior. Kesan alaminya mungkin itu yang membuat orang-orang di negara Eropa atau Amerika memberi perhatian khusus terhadap kreasi anyam-anyaman seperti ini 🙂

    1. Jengkol bagi yang suka jadi makanan favorit di mana-mana. Digoreng dengan sambal balado atau di bikin sumur atau rendang, semuanya enak, kalau makan bikin nambah 🙂

  10. Setuju. Buat saya, acara melancong pun jadi menyenangkan karena bisa mempelajari hal-hal baru, ketemu orang baru, mengenal karakter baru, dan belajar mencari solusi untuk setiap masalah baru.

  11. warga di perkampungan seperti kampung jaro ini pasti suasananya adem ayem ya mba dengan kekeluargaan yang tinggi, kalau maen ke situ pasti bisa melepas penat setelah lama-lama kerja di perkotaan.
    Jadi pengen nyoba maen kesana kapan-kapan

  12. Lihat duduk lesehan gitu jadi ingat pas di Tanggamus ya mbak 🙂 Tapi yakin yang kali ini mbak Evi makannya anteng, gak rebutan, karena gak ada aku atau Salman hahaha *celingukan, nanti diprotes Salman.

    Anyamannya indah. Ibuku biasanya pake itu juga kalau belanja ke Pasar. Mempermudah menyatukan belanjaan dan juga hemat kantung plastik. 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?