#KelilingLampung : Teluk Kiluan Tanggamus di Akhir Tahun

Teluk Kiluan Tanggamus cukup lama mememercik harap di hati bahwa suatu hari sampai ke tempat itu. Agak “ngenes” sebenarnya. Bagaimana tidak? Sudah banyak diperbincangkan, foto-foto indah pun tak kurang beredar di Instagram (blog, facebook dll), dan lokasi tak jauh pula dari Bandar Lampung, kota yang sering saya kunjungi. Namun seperti kata orang bijak, buah matang tepat waktunya, begitu pun segala sesuatu hanya indah di titik kesempurnaan momennya. Kesempatan menginjakan kaki di Teluk Kiluan  akhirnya tergenapkan pada libur akhir tahun 2016 kemarin.

batu candi teluk kilauan

Sebetulnya seminggu menjelang tutup tahun saya masih tidak punya tujuan akan berlibur ke mana. Orang rumah hatinya pun bolak-balik. Antara Bali atau Jawa Timur. Antara pergi dan tidak. Sementara saya yang  baru pulang dari Myanmar, tidak banyak  membangkit antusias. Sementara anak-anak jelas punya acara sendiri. Jadi pergi syukur tidak juga tak apa. Nah di titik kebimbangan itu Fajrin Heris, travel blogger Lampung,  mengatakan bahwa  Lemas Traveler – grup traveling anak-anak muda hits Lampung– akan membuat acara di Teluk Kiluan. “ Gabung saja, Tante” Katanya…

Pucuk dicinta ulam tiba. Tawaran itu langsung diterima. Gampang soalnya. Saya tak repot lagi cari penginapan atau mau ngapaian selama liburan. Mari bawa badan saja ke Teluk Kiluan dan bergabung dengan anak-anak muda Lemas Traveler. Karena tak ada signal telepon haha-hihi saja sepanjang menyambut momen tahun baru!

Pantai Klara - Salah satu yang bisa disinggahi
Pantai Klara – Perjalanan k eTeluk Kiluan

Perjalanan ke Teluk Kilauan

Sudah banyak diakui bahwa Teluk Kiluan dan lumba-lumba liarnya menjadikan tempat ini layak diimpikan. Tapi kaki pelancong tetap berat datang karena soal akses jalannya.  Menurut mereka, perjalanan ke Teluk Kiluan sulit, berliku dan badan jalan rusak parah. Hei..hei.. itu pemikiran yang seharusnya melintas beberapa tahun lalu. Yang benar sejak tahun 2016 jalan ke Teluk Kiluan sudah bagus. Memang ada beberapa ruas yang masih belum diaspal dan memerlukan keahlian mengemudi. Tapi itu hanya sebagian kecil saja. So, jangan takut datang lah ke Kiluan.

Bandar Lampung – Teluk Kiluan berjarak sekitar 72 KM, waktu tempuh sekitar tiga jam (kalau tidak macet). Agar tak bosan lengkapi kendaraan dengan musik-musik kesukaan. Lagi pula kita akan menyusuri tepian teluk berhiaskan Pantai Mutun, Ringgung,  dan Klara. Pesisir berpasir putih, lembut, ekstra air jernih berkilau! Takan bosan menurut saya yang menyempatkan mampir di pantai Klara, mengambil beberapa gambar untuk menambah stok. Selain kita pun berjumpa hamparan sawah, mengintip aktivitas perkampungan yang dilewati, atau menerka-nerka seberapa banyak Lampung menghasilkan buah cacao sebab hampir di tiap halaman terlihat pohon bahan baku permen kesayangan Hari Valentine itu.

Penginapan di Teluk Kilauan
Penginapan di Teluk Kiluan

Penginapan di Teluk Kilauan

Jika teman-teman bermaksud mencari resort mewah, sependek pengetahuan saya, di sepanjang tepi pantai Kiluan tak ada. Di Pekon (desa) Kiluan Negeri  kebanyakan adalah cottages sederhana yang dikelola penduduk. Terbuat dari kayu, berkamar dua, langsung menghadap laut. Jangan kuatir soal kebersihan. Para pengelola sudah dapat banyak pelatihan Dinas Pariwisata Tanggamus. Jadi mereka sudah mengenal standar operasi penginapan dalam kepariwisataan. Tempat mereka bersih. Hal ini ini tentu akan mengakomodasi Sahabat JEI yang akan datang bersama keluarga atau berlibur bareng teman-teman. Sambil menikmati makanan kecil, mendengarkan musik, duduk di dermaga, melihat penduduk, nelayan, atau pelancong melintas dengan perahu ketinting. Heavenly!

Perahu Ketinting
Perahu Ketinting parkir di atas dermaga bambu

Perahu Ketinting dan Tur Lumba-Lumba (Dolphin)

Salah satu highlight di Teluk Kiluan adalah melihat lumba-lumba liar berenang di habitatnya. Terdapat dua jenis lumba-lumba di sini yaitu lumba-lumba hidung botol (Tursiops Truncatus) yang berbadan lebih besar, berwarna abu-abu, tapi pemalu. Yang satunya lagi adalah lumba-lumba paruh panjang (Stenella Longirostris) dengan tubuh lebih kecil tapi suka melompat.

Maka berbekal pengetahuan ini,  pagi-pagi kami sudah turun menuju perahu ketinting yang terparkir di depan penginapan. Perahu bercat hijau kombinasi merah, dilabuhkan di atas dermaga dari bambu. Menimbulkan pertanyaan saya:  Mengapa harus diletakan di tempat seperti itu, bukan dibiarkan mengambang di pantai seperti kebanyakan perahu?

Sesaat fajar merekah
Sesaat fajar merekah

Menurut Pak Solihin, pemilik cottages,  itu dilakukan mencegah perahu tak terlalu cepat berjamur. Selain parkir di air lebih banyak menghisap air yang membuat bobot perahu tambah berat. Sebentar saja saya sudah berada di atas   kendaraan air tradisional, masuk jenis jukung,  bagian kekayaan warisan Nusantara ini. Dengan kapasitas 4 penumpang, ia  terlalu langsing. Tak heran langsung bergoyang-goyang saat berajalan di atasnya. Dengan panjang 11 meter,  lebar 60 centimeter, perahu memang terasa ringan. Diberi dua bilah bambu di kiri-kanan sebagai penyeimbang. Badan ketinting  terbuat  dari bongkahan kayu tabuh (tabo) utuh, di dilubangi dan  diserut di bagian tengah sebagai lambung. Di tengah ditempel motor. Kayu tabuh sendiri tumbuh secara alami di Pulau Kiluan.

Matahari masih malu-malu berlindung di balik langit kelabu. Perlahan tapi pasti ketinting menapaki gelombang satu persatu, keluar dari teluk menuju Selat Sunda, meninggalkan air hijau toska bergradasi menuju laut biru pekat. Di kejauhan barisan ketinting lain menuju ke arah yang sama. Seperti di atas panggung wayang golek, siluet mereka bergerak perlahan berlatar belakang cahaya kekuningan dari sang fajar.

Lumba-lumba di habitat aslinya
Lumba-lumba di habitat aslinya

Mungkin terlalu banyak pengunjung atau sang lumba-lumba terlalu malas menampakan diri. Cukup lama perahu berputar-putar. Dengan kamera standy di tangan dan seperti pemburu semua mata nanap menatap air. Memandangi para pelancong di kejauhan saya membatin: “Ini lah kami yang ingin tahu sedikit rahasiamu ya Allah, rela bangun pagi-pagi, berdesakan di laut lepas, dan yang dicari lebih suka bersembunyi”. Entah Yang Di Atas mendengar gejolak perasaan atau memang setiap kesabaran pantas diganjar, tak lama keluarga dolphin menampakan diri. Entah berasal dari keluarga berbeda atau satu kelompok, yang jelas tak kurang dari sepuluh kali menampakan diri. Hanya saja gerakan mereka mengalahkan kecepatan tangan saya menekan shutter. Jadilah semua foto hanya bayang-bayang dari sirip dan punggung saja. Akhirnya saya pun menyerah, menikmati atraksi saja ketimbang membuang waktu sibuk memotret.

Gugusan Batu Candi
Gugusan Batu Candi

Gugusan Batu Candi

Yang menarik lainnya  adalah pemandangan ke arah gugusan batu karang yang melingkup sepanjang pantai Teluk Kiluan. Penduduk menamainya Batu Candi. Bentuk batu besar dan pendek saling melekat itu sekilas memang seperti bangunan candi. Kadang ditumbuhi pepohonan dan sebagian besar telanjang. Tubuh mereka menampakan lukisan alam berasal guratan-guratan akibat dikikis ombak. Panorama semakin istimewa  tatkala ombak pecah ditebing terjalnya. Seperti kelambu putih yang dinaikan secara cepat lalu diturunkan secara perlahan. Bagi para pecinta fotografi gugusan batu candi ini pasti sangat menarik.

Aksi dengan Fajrin – Lemas Traveler

Pulau Kiluan

Teluk Kilauan mempunyai sebuah pulau kecil. Pulau pribadi sebetulnya. Tapi wisatawan tak dilarang mampir dan menikmati pantainya yang berpasir putih, lembut dengan latar depan gugusan batu candi. Tidak ada penginapan di pulau ini. Jadi yang ingin bermalam di sana harus menyiapkan segalanya. Mulai dari tenda, penerangan, dan makanan. Tapi tentu  harus minta izin terlebih dahulu pada sebuah keluarga yang bertugas menjaga pulau ini. Selebihnya nikmati lah panorama memesona, pantai landai dengan sesekali ombak putih menjilati bibirnya. Kalau malam hanya berteman bintang, suara ombak dan kunang-kunang.

Libur akhir tahun seperti di Teluk Kiluan ini membuat saya belajar. Selain menghargai alam, menjaganya agar tetap lestari, bahwa berada di tempat seperti ini membuat saya kian bersyukur untuk banyak hal yang sudah diterima dalam hidup. Setelah ini mungkin saya akan pergi ke destinasi lain, ke tempat yang belum pernah dipijak sebelumnya, namun kenangan di sini tentu tetap tinggal bertahun-tahun kemudian.

Ayuk main ke Kiluan

104 thoughts on “#KelilingLampung : Teluk Kiluan Tanggamus di Akhir Tahun

  1. Jalannya sudah bagus ya? Pengen kesono tapi dari cerita org2 jalannya jelek. Tempat nginepnya sederhana Tapi lumayan kayaknya. Kalau perihal makanan gimana By? Aku suka khawatir soal ituh

    1. Ah lupa membahas tentang makanannya, Kang… nanti saya tambahkan. Ada beberapa warung yang menjual nasi. Tapi kita juga boleh memesan di penginapan dengan harga 20.000 sampai Rp25.000 per orang Per makan. Menunya ikan segar dan sayur-sayuran serta sambel. Rasanya lumayan lah

  2. Duh ada aku mampang berdua dengan tante idola

    Tante LemesTraveler.. *dprotes sama sesepunya

    Makasih y tante dah mau ikutan trip Kiluan di akhir tahun 2016…

    1. Insya Allah cepat terlaksana niatnya ke Teluk Kiluan, Mas. Saya tidak menyangka bahwa melihat makhluk seperti lumba-lumba di habitat aslinya itu mendatangkan rasa suka yang sulit saya Gambarkan melalui kalimat 🙂

  3. dulu tu nggak pernah kebayang kalo banyak yg cantik2 di Lampung. setelah banyak baca postingan tentang Lmapung jd mupeng pengen kesana, terutama ke Kiluan ini. liat lumba2 langsung di habitatnya, pasti nadia seneng banget 🙂

    1. Iya Lampung juga baru akhir-akhir ini membuka diri terutama dengan kehadiran sosial media dan anak-anak yang suka berbagi cerita. Aku yakin Nadia Paksi senang saat melihat lumba-lumba melompat dari dalam air yang berwarna biru pekat itu, Mbak Muna

  4. Aku Kok Kesel se-Kesel-Kesel-nya dengan Hasil Photo Drone yang super kece itu yaaaa…aduuuh padahal kalo gak ada acara mandu acara aku mau lah ikutan gabung hehehehe…Teluk Kiluan emang selalu menyennangkan – gsak pernah bosen kesana, meski udah puluhan kali …. semoga nanti kita ke Pulau Pisang jadi yaaa mbaaa..rameaaaannnnn….. seseruuuaannn sama mamak Kameha-Meha Kesayangan aku ini….

    1. Hahaha suka kalau bisa membuat Bang Indra jadi kesal…
      Yep tak sabar menunggu bulan Mei, saat langit musim panas Lampung sedang biru biru nya. Foto-foto di pulau Pisang pasti tambah kece

  5. Wah sungguh tetirah dalam artian yang sebenarnya. Menyatu dengan alam dan lupa hiruk-pikuk ibukota. Menang memandangi ciptaan Tuhan yang indah sudah membuat kebahagiaan yang cukup untuk menjalani hari-hari setelah ini ya Mbak, hehe. Syukurlah kalau akses ke sana sudah semakin baik, jadi pariwisata bisa semakin berkembang. Asal kebersihan dan kelestarian alamnya tetap terjaga, saya yakin tempat wisata jni akan memberi kesan lebih bagi semua, hehe.

    1. Insya Allah begitu Gara. Energi cantik yang berpendar di sekitar sana mampu dibawa pulang oleh wisatawan untuk mengisi hari-hari mereka. Hidup dalam berkat ya 🙂

  6. Huaaa seru! itu gunungnya sekilas kayak bukit jempol yang ada di Lahat, Sumsel. Jadi kangen Tanggamus, dulu main ke daerah gunungnya aja, pantainya belom #kode

    Eh, foto dari atas cakep. Pake drone ya mbak?

    1. Lain kali kita minta dibawa ke pantai dan laut Yan…
      Iya di rumah ada yang sedang belajar merakit Drone sendiri, kebetulan mau dimanfaatkan oleh emaknya untuk memotret model ala-ala hahaha

  7. Tahun 2014 pernah ke kiluan, jalan masih rusak dan sempit. Tapi semua terbayarkan dengan pantainya yang masih asli. Berburu lumba-lumba sembari menikmati sunrise, ajiibbb. 😀

    (Rencana mau ke sana lagi sih hehe)

    1. Iya tahun 2014 jalanannya masih rusak dan waktu itu belum seramai sekarang pastinya ya, Sahabat Horas. Nengok lumba-lumba nya juga puas 🙂

  8. Sama, aku juga lebih milih “buah matang pada waktunya” kalau mau berkunjung ke suatu tempat. Ga diburu-buru meski dalam hati sedikit ngenes “aku harus ke sana” 🙂

    Pak Solihin itu punya banyak cerita tentang Kiluan bu Evi. Banyak tau tempat2 tersembunyi yang belum ramai dikunjungi di sekitar Teluk Kiluan. Pertama hijrah dari Banten ke Kiluan beliau pakai perahu karena belum ada jalan masuk lewat darat.

    1. Mas Yo, waktu di sana Pak Solihin juga mengantar kita menyusuri Jalan Setapak menuju pantai pasir putih untuk melihat Sunset. Dia juga cerita tentang pengalamannya datang pertama kali ke tempat ini 🙂

    1. Jalan ke sana sudah bisa diakses oleh mobil, Boru. Nanti aku WA ya nomor kontak yang bisa ditanya-tanya mengenai sewa mobil dan penginapan 🙂

      1. siap tan, ditunggu yah. Soalnya kami mau ke Gigi Hiu sebenarnya, cuma kesulitan bawa tenda utk camping dr jakarta. Jd mau cari penginapan di Kulian aja tp nnt sekalian jln ke Gigi Hiu, soalnya aku lihat lokasi berdekatan. 🙂

    1. Jalan yang menanjak dari dan ke Pekon kilauan itu sekarang sudah bagus tapi tetap tinggi, Kak Cum. Kemarin juga ada mobil yang mundur nggak sanggup naik, buah tegang deh lihatnya

    1. Terima kasih, Mbak Adelina..

      Iya jalan ke Teluk Kiluan sekarang sudah bagus, hanya sedikit saja yang masih rusak dan harus hati-hati mengemudi nya. Paling-paling 2 kilo lah…

  9. kenapa lah wisata Lampung ini kebanyakan naik perahu sih uniiii…?
    nunggu ada perahu yang gedean dikit deh… ha.. ha…
    masih ingat dihempas2 ombak naik ketinting di Mutun

    1. Habis Lampung kan memang berada di ujung pulau Sumatera, MM. Pinggir-pinggirnya langsung berhadapan dengan laut. Jadi ya sebagian besar wisata alamnya adalah pantai dan pulau-pulau kecil di tengah-tengah teluk. Jadi ya gitu deh wisata di sana membutuhkan banyak Perahu hahaha…

  10. belum pernah ke Kiluan meski provinsi sebelah, ntar ah join juga sama Lemas Traveler, entah kenapa setiap baca nama ini jadi pengen tertawa mungkin sehabis traveling sama mereka benar2 lemas tenaga ya mbak evie karena seru dan capeknya hahaha

  11. Foto-fotonya kece-kece Un, Airnya bening, langitnya biru, yang jadi model cantik, ditambah cerita perjalanan yang lengkap. Bisa jadi panduan saat mau berkunjung ke teluk kilauan.

  12. Kilau Kiluan bertebaran di media yo Uni Evi. Lumba-lumba sedang membujuk Uni untuk datang lagi makanya nggak mau muncul seluruhnya rame-rame. Indahnya alam Nusantara..

    1. Iya mudah-mudahan rejekinya dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Mbak Prih. Bisa keliling Indonesia dan mampir lagi ke Teluk Kiluan 🙂

  13. Penginapannya membawa suasana benar-benar desa nelayan. Saya suka penginapan yang asli tradisional begitu.

    Perairan sekitar batu candi itu sarangnya ikan bobara alias giant trevally. Asik tuh mancing disana.

    1. Terima kasih atas tambahan informasinya Pak Alris. Baru tahu bahwa gugusan batu Candi itu sarangnya ikan Bobara. Kalau melihat arus ombak nya rada besar berarti ikan tersebut senang di perairan yang bergelombang tinggi ya, Pak?

    1. Hampir semua pantai di Indonesia cantik-cantik. Namun tradisi yang berlangsung disana berbeda-beda. Bentuk perahu dan cara merawatnya juga berbeda. Itulah mengapa wisata pantai tidak hanya sekedar melihat tepi laut yang indah dengan pasir yang putih, Kak Tarjiem 🙂

  14. Asik dong kalau aksesnya udah bagus. Beberapa kali sempat ngobrol pengen ke Kiluan. Tapi jadinya males karena aksesnya. Coba ah ngobrol lagi ma suami 🙂

    1. Sekarang sudah tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa akses ke kilauan susah, Mbak Myr. Tadinya aku berpikir juga seperti itu. Tapi setelah melihat sendiri ternyata tidak tuh 🙂

    1. Namanya mereka hidup di habitat dan dalam kategori liar gitu, Ms, kenampakan nya tidak bisa diprediksi. Ada juga kok wisatawan yang cerita mereka tidak menemukan lumba-lumba saat ke sana. Terus wisatawan lain melihat kehadiran mereka yang jumlahnya mungkin ratusan, berenang-renang Ria di dekat Perahu. Bertemu dengan lumba-lumba liar di habitatnya adalah satu keberuntungan bagi kita yang ingin melihat mereka 🙂

    1. Kalau mau melihat atraksi lumba-lumba mestinya memang ke laut yang dalam seperti di Teluk Kiluan ini ya Mas. Artinya agak jauh sedikit dari pantai 🙂

    1. Iya Kak, kalau sedang beruntung lumba-lumba nya dekat sekali dari perahu. Tapi gerakan mereka cepat sekali. Saya waktu itu kehilangan momen terus 🙂

  15. TELUK KILUAN! LUMBA-LUMBA! AAH!

    Mbak, aku nanya serius deh, boleh gak kita nyebur dan berenang bersama lumba-lumba?
    Aku pengen banget! Gara-gara jaman SMP liat video GnR yang Extranged, Axl Rose berenang sama lumba-lumba. Ngiler akuuuuh.

    1. Tempat hidup lumba-lumba merupakan samudra yang dalam dan kadang dengan ombak yang cukup kuat. Kalau memang berani dan punya safetynya mustinya tidak ada yang melarang, Mas Dolly. Tapi sebaiknya berkonsultasi dulu dengan pemilik Perahu. Waktu pagi-pagi kami disini ombaknya cukup tinggi

  16. kelihatannya keren ya mbak. aku ada rencana ke sana libur lebaran nanti. senang rasanya bisa melihat lumba-lumba di habitat aslinya. Dulu pernah bertemu lumba-lumba di selat Lombok, ada puluhan ekor, dan dengar-dengar di kepulauan seribu sekitar pulau tidung, sekarang sudah sering terlihat penampakan lumba2…

    1. Iya seru aja melihat lumba-lumba berenang dan melompat-lompat di tempat tinggalnya sendiri, Mas. Karena halaman bermainnya luas kita kemungkinan bisa melihatnya di mana-mana di laut yang dalamnya

  17. Nah benar soal akses itu mbak.. tiap kali ngajakin temen ke Kiluan, selalu aja alesannya akses jalan yg kurang mendukung. Mending Pahawang aja, kata mereka. Dan alhasil, saya sudah ke Pahawang tapi blom ke Kiluan

    1. Jalan jelek menuju Kiluan ini memang melekat erat dalam pikiran orang. Semoga dengan informasi seperti dalam blog saya ini akhirnya orang tahu bahwa jalan ke Kiluan sekarang sudah bagus, ya Mbak Astin

    1. Insya Allah tak lama lagi kita sampai di Gigi Hiu ya Mbak Rahma. Semoga kita bisa jalan bareng ke sana. Tulus kita foto-fotoan cantik deh 🙂

    1. Asik kali ya nenda di Gigi Hiu. Melihat bintang bertaburan di atas langit sambil mendengarkan ombak berdebur di Pantai. Terus juga mendengarkan suara-suara malam. Duh jadi pengen banget Mas Yo 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?