Restoran Rebung Chef Dato Ismail – Tentang Siapa Kita

Restoran Rebung Chef Dato Ismail
I kiss better than I cook 🙂

Melayu sebagai sebuah identitas budaya pernah berjaya di suatu masa.  Berdirinya sebuah kerajaan yang berpusat di Pagaruyung (Sumatera Barat sekarang) dianggap salah satu tenggaranya. Setelah kerajaan ini tumbang, Sriwijaya yang berpusat di Palembang melanjutkan tradisi agung Ma-La-YU yang bahkan wilayah kekuasaan politiknya menjalar sampai ke seluruh Asia Tenggara.  Walau kekuasaan politik itu pun akhirnya punah dengan masuknya kolonialisme dan berlanjut dengan terbentuknya negara-negara baru, melayu sebagai identitas budaya tetap lah lekat hingga sekarang. Cukup mudah mengidentifikasi para penyandang budaya ini yang sekarang hidup negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, Singapura, Burma, Brunei, atau Thailand. Melayu lintas negara ini memang tidak persis sama, terjadi perbedaan minor mengikuti geospasi  yang ditempati. Tapi melayu tetap lah melayu, kelompok etnis keturunan orang-orang Austronesia dengan ciri menonjol kulit sawo matang.

Bisa jadi itu salah satu alasan mengapa kalau jalan-jalan di sekitar kawasan ASEAN rasanya tidak terlalu jauh meninggalkan rumah. Kedekatan kita dengan Malaysia, misalnya, bukan hanya soal geografis tapi juga soal cara hidup. Dan jika ingin mencari kesamaan dalam tradisi kemelayuan secara umum sekalipun terpisah oleh waktu dan garis politik, cari lah ke dalam masakan atau ragam kuliner. Makanan adalah identitas.

Makanan adalah identitas
Makanan adalah identitas

Lalu apa yang terjadi jika dua tokoh di Malaysia, chef celebrity Dato Ismail Ahmad dan astronot pertama Malaysia Dr Sheik Muszaphar berkolaborasi? Restoran Rebung Dato Ismail, Kak! Tempat semua orang diundang  mengeksplorasi keagungan masa lalu dan kini Melayu melalui lidah!

Kita, tak masalah berapa dekat atau jauh berjalan, selalu membawa referensi dari sebuah tempat yang kita sebut rumah. Maka saat berjalan memasuki Restoran Rebung Cheft Dato Ismail, refrensi saya adalah rumah-rumah yang pernah saya lihat dan tinggali di Bukittinggi dulu.  Dominasi warna kuning pada cat tembok  membangkitkan  aura kebangsawanan seperti yang   terlihat  di Rumah Gadang Minangkabau. Ditingkahi sedikit warna hijau daun dan merah sebagai simbol kemakmuran dan kebahagiaan. Menenggelamkan diri dalam atmosfirnya  juga memungkinkan saya menyadari bahwa masa silam tak selalu harus terkubur. Bawa lah ke masa kini  dan manfaatkan untuk merangkul kesempatan.  Apa lagi bila ditambahi misi agar  kita  merasa mempunya akar. Di Resto Rebung Chef  Dato Ismail rasa berakar itu juga hadir  lewat lemari kayu  tua berisi barang pecah belah dan peralatan memasak.  Dilengkapi  piring dan mangkuk keramik atau porselen bermotif klasik. Muk-muk kaleng yang tergantung di rak persis seperti gaya dapur-dapur kampung,  berimprovisasi membentuk keharmonisan bersama dengan  penataan meja dan makanan. Suasana walimahan melayu  terasa pekat.

Ohya…Saya berada di Restoran Rebung Chef Dato Ismail ini untuk makan siang, dalam rangka Launching Citrawarna 2016,  suatu program promosi pariwisata oleh Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia. Program yang menghantar  kepada khalayak untuk menyaksikan berbagai keunikan tentang  alam, kesenian dan warisan budaya. Di kemas secara cantik dalam tata panggung,  lampu, musik, tarian dan pertunjukan kembang api. Di pos lain saya akan bercerita secara khusus tentang Citrawarna 2016. Tunggu ya..

Tentang Makanan Tradisional Malaysia

Cheft Dato Ismail berasal dari Negeri Sembilan. Pakem masakan melayu yang tersaji di Rebung memiliki sentuhan dari sana. Terus  penduduk Negeri Sembilan itu banyak sangat keturunan Minangkabau. Terus apa hubungannya? Hahahaha..Secara khusus tak ada! Hanya saat mata merambah meja hidang, menukik satu persatu pada masakan, rasanya tidak seperti berada di restoran tapi seperti sedang menghadiri kenduri  keluarga. Bagaimana tidak? Seluruh  hidangan  yang tersaji secara  prasmanan  itu  punya rekam jejak di ranah syaraf perasa saya. Tak berlebih jika disebut mereka lah mengawal perkembangan sel-sel tubuh saya. Ada nasi hujan panas yang bak pelangi cantiknya. Nasi  lemak berbungkus daun pisang yang padanannya ditemukan pada nasi uduk. Ada terung balado, dendeng daging sapi, gulai kepala ikan, terancam (urap), gulai pakis dan daun singkong, rendang, laksa, dan masih banyak lagi. Bertambah seronok  dengan dessert berupa rujak, es kacang merah, kue-kue tradisional seperti pukis, apem, bahkan dodol yang di sini disebut Sago Gula Melaka. Kalau sudah begini benaran deh kamu tidak merasa seperti di Kuala Lumpur tapi di kenduri kerabatmu yang sedang merayakan syukuran di Bukittinggi 🙂

Popiah Basah - Sampai sekarang masih terbayang enaknya
Popiah Basah – Sampai sekarang masih terbayang enaknya

Siput Sedut Masak Lemak – Ingatan Kepada Nenek

Sesaat mengelilingi meja saji  Restoran Rebung Chef Ismail,  tabir ingatan  lagi-lagi membuka ke masa lalu. Ke seorang perempuan tua berbaju kurung dengan selendang selalu terlampir di kepala. Nenek saya  yang tiap pagi dan sore selalu duduk di bangku dingklik yang sama di muka tungku dengan  api menyala. Singgasananya. Sebab baginya kebahagiaan  sejati seorang wanita adalah ketika mempunyai dapur  yang berasap pagi dan petang. Tangannya  yang keriput tapi berotot sigap memegang tangkai bambu dari  centong pipih  dari tempurung kelapa. Seperti tangan lentik penari Serampang Dua Belas, bergerak memutar atau turun-naik, mengacau  kuah dalam belanga. Bau kayu terbakar  berbaur dengan aroma gurih dari santan yang menggelegak,  berkali-kali berpendar menyerang penciuman, membuat saya juga berkali-kali bertanya kapan gulai siputnya  masak?  Ya hari itu, entah untuk keberapa kalinya ia memasak gulai siput yang dipanen dari sawah kami. Hewan yang sebetulnya hama bagi bagi padi, di  tangan nenek berubah jadi lauk keluarga yang lezat dan bergizi.

Nah siang itu saya melongo di depan sekuali Siput Sedut Masak Lemak racikan Chef Dato Ismail. Jangan kan menikmati, sudah berpuluh tahun masakan seperti ini luput dari pandangan mata. Tak heran kan yang tersaji dalam kuali di Restoran Rebung  itu membuat saya kangen nenek?  Ia seolah melompat begitu dari area tak bertuan dari gudang memori saya. Tapi saya tidak segera mengambil untuk mencoba. Terselip ragu. Tidak yakin cara menikmatinya masih sama seperti yang kami lakukan dulu: Menghisap keras-keras sampai daging siputnya tanggal dan meluncur ke dalam mulut.

Dan sesaat membawanya ke meja makan, ternyata cangkang siput masih keras seperti dulu (ngakak). Saya bingung  cara terbaik menikmatinya. Astari Ratnadya yang duduk di sebelah   ternyata  juga tidak tahu  cara lebih elegan  selain cara yang diajarkan nenek saya. Sementara minta nasihat pada yang lain juga tak mungkin, di piring mereka tak terlihat siput-siput imut itu. Akhirnya saya mengalah ….Siput Sedut Masak Lemak itu hanya saya kemut-kemut sejenak bersama cangkangnya  untuk kemudian ditepikan. Lumayan terasa aliran gurih mengalir dari dalam. Siapa juga yang tega di tengah keramaian seperti itu membuat bunyi-bunyian dari mulut, ya kan?

resto-rebung-chef-dato-ismail-9
Siput Sedut Masak Lemak – Membuka pintu kenangan terhadap nenek

Pesan Kenduri Ala Restoran Rebung

Di atas sudah disinggung  bahwa menikmati hidangan Melayu Negeri Sembilan di sini suasananya mirip kenduri. Tersaji secara prasmanan. Hidangan tak hanya diletakan di meja utama tapi juga tersebar juga di teras resto lengkap dengan pondok-pondokan.

 Saya dan Astari yang sudah kekenyangan menikmati hidagan utama tak melewatkan kesempatan berkeliling guna mencari tahu lebih banyak. Menambah kenyang perut sekaligus  memanjakan mata.  Menyenangkan karen tinggal nyomot atau minta dibuatkan sesuatu kepada petugasnya. Di sini menanti aneka soto, es campur, es krim, siomay, dan aneka kue-kue.

Ohya kebanyakan pengunjung di Restoran Rebung adalah rombongan turis. Jadi untuk all you can eat, makanan dibeli secara paket. Sementara untuk kamu yang datang tidak dengan rombongan, welcome juga kok. Tapi sebaiknya reservasi terlebih dahulu takutnya resto penuh.

Reservasi terlebih dahulu agar kebagian tempat
Reservasi terlebih dahulu agar kebagian tempat

Chef Dato Ismail Ahmad

Sejujurnya, sebelumnya, saya tidak tahu bahwa Chef Dato Ismail Ahmad adalah persona ngetop di Malaysia. Sekalipun aura dan gerak-gerik orang terkenal terbaca lewat  bahasa tubuh, awalnya saya pikir itu  hanya sebatas bahwa dia adalah bos di Restoran Rebung ini. Seledik punya selidik, membaca booklet yang disediakan panitia, riset kecil lewat Uncle Google,  akhirnya membuat saya melek. Oh dia chef celebity ternyata, bergaul di kalangan atas, dan sudah menyabet berbagai penghargaan untuk keahlian memasak.

Yang menyenangkan bahwa Dato Ismail Ahmad bukan lah selebriti kadut, yang perlu menjaga jarak agar terlihat mentereng. Sebaliknya sebelum menikmati santap siang  ia merasa perlu  menghampiri meja blogger Indonesia. Dengan wajah penuh senyum, mengucapkan terima kasih sudah datang ke Kuala Lumpur, menyalami, dan menyediakan diri untuk diinterview.

Dato Ismail membawa kami menghampiri meja prasmanan  untuk diterangkan satu persatu mengenai hidangan yang akan dinikmati. Seperti riwayat semua benda di dunia, ada cerita dibalik semua hidangan. Dan pikiran saya berkelana ke tempat-tempat jauh, ke sawah dan kebun, ke petani yang memelihara ternak dan sayur, ke sistem pengiriman ke pasar, ke dapur dan akhirnya sampai di atas meja seperti yang akan kami nikmati. Betapa makanan tidak lah sesederhana menyantapnya. Di samping tak hanya memiliki sistem mata rantai yang panjang, makanan telah membentuk kita, makanan adalah testamen telak tentang siapa kita.

Dato Ismail Ahmad mengucapkan selamat datang
Dato Ismail Ahmad mengucapkan selamat datang
Dato Imail Ahmad saat menerangkan tentang makanan melayu
Dato Imail Ahmad saat menerangkan tentang makanan melayu

49 thoughts on “Restoran Rebung Chef Dato Ismail – Tentang Siapa Kita

  1. Membacanya jadi lapar..hihi..yang siput tadi ga bisakah kalau diambil pakai tusuk gigi?tapi ya tetep sih..tangan jadi kotor ga cantik lagi..:) tadi baca judulnya kirain restoran yang menunya aneka olahan rebung aka bambu muda..ternyata bukan ya…:) rebung di sini artinya apa ya?

    1. Hahaha waktu itu malah saya tidak kepikiran untuk minta bantuan tusuk gigi. Heran saya kok tidak kepikiran ya…

      Mestinya Waktu itu saya tanya ya Apa alasan di belakang pemberian nama rebung. Nantilah mudah-mudahan ada kesempatan lain akan saya tanyakan. Terima kasih sudah mampir Mbak sapti Nurul Hidayati 🙂

  2. Lho kok aku gak lihat popiah basahnya? huhuhuhuhu. Kudu kesana lagi ya kita mbak artinya? hehehe.

    Sayang pemilik yang satunya lagi gak ada ya. Next semoga bisa jumpa 🙂

    1. Popiah basah siomay dan soto mie ada di sebelah beranda, Yan. Kita Tadinya juga fokus di dalam saja sampai Sham memberi tahu bahwa di luar juga banyak makanan 🙂

  3. Bundoooo, aaaaah aku masuk di video youtube *terharuuu*
    favorit akuu makanan yang ada kuah duriannya itu loh *lupa namanya*.
    eh ia dato ismail ini ruamaaaah bangeeet yeeeey.

    1. Nama siput padi itu muncul karena mereka hidup di sawah kali ya Mbak. Saya bisa membayangkan enaknya siput ini kalau di gulai dengan rebung 🙂

    1. Iya Mbak Liswanti. Makanan melekat pada diri seseorang lewat sosialisasi budaya.

      Wah masak tutut, Nanti kalau sudah matang undang aku makan ya Hahahaha

  4. Hahaha,,, saya tertawa mbak pas baca mbak Evi nggak bisa makan cangkang siput… Bisanya yang diajarkan oleh nenek ya mbak ya? Tuh kalau aku disitu juga paling-paling sama dengan mbak Evi cara makannya, langsung saja disedut,,,, atau nggk hanya dikulum saja, habis itu baru dibuang cangkangnya,,,, Hehehe

  5. Kalau banyak pilihan gitu di depan mata biasanya saya jadi bingung. Semua pengen dicicipi hahaha. Yang siput itu sama dengan keong sawah bukan, Mbak? Kalau di Jawa Barat namanya Tutut. Saya suka banget itu. Tapi cangkangnya kelihatannya agak berbeda. 😀

    1. Sama aku juga seperti itu Mbak Myr, bingung kalau terlalu banyak pilihan. Sepertinya siput di sini beda dengan Tutut deh. Kalau Tutut kulit cangkangnya agak gelap bukan? Mereka hidup di kali. Kalau siput sawah ini kulit cangkangnya lebih terang

    1. Sama Kak Cuma aku juga doyan. Cuman waktu makan di resto ini aku harus jaga imej, coba Makanya kalau di rumah habis dah tuh 3 mangkok hahaha

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?