Tujuh Belasan dan Kampoeng Tempoe Doloe di Grand Zuri BSD

Tujuh puluh satu tahun untuk manusia sudah disebut tua. Perjalanan hidupnya pasti sudah penuh oleh asam dan garam, gelak tawa dan derita. Uban di kepala mungkin juga sebagai  simbol  bijak yang telah ia kumpulkan. Tapi bagi suatu negara seperti Indonesia, tujuh puluh satu tahun mungkin masih masa-masa penjajakan. Penjajakan untuk memasuki era  sejahtera, era di mana sebagian besar anggota masyarakatnya dapat memenuhi kebutuhan dasar. Namun sampai di mana pun lah kedewasaannya di tahun ke 71 merdeka, semua pasti sepakat bahwa kita semua mencintai negeri ini. Cinta yang kita ujudkan menurut pemahaman masing-masing.

Tujuh Belasan bersama Hotel Grand Zuri BSD
Tujuh Belasan bersama Hotel Grand Zuri BSD

Sementara itu untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia  yang ke 71, Hotel Grand Zuri BSD City, turut meramaikan bersama karyawan, in-house guest, dan media. Harapannya adalah terjalin hubungan akrab dan sinergi postif antara ketiga institusi ini. Saya bersama lima orang teman lainnya hadir mewakili Indonesia Corners.

Acara sendiri berlangsung tanggal 16 Agustus. Saat kami tiba Hotel yang jadi bagian dari Zuri Hospitality Manajemen sudah berbenah. Lobby, Resto, dan halaman sudah penuh dengan pernaik-pernik merah putih dan suasana pedesaan Indonesia. Bendera, balon, dan khiasan khas Indonesia seperti bambu, anyaman, dan tikar anyaman terlihat semarak. Sementara di Parkiran Utama Outdoor karyawan dan tamu hotel sudah berbaur dengan kegembiraan penuh.

_MG_5323

Apa saja yang dipertandingkan dalam kegembiraan 71 Indonesia merdeka ini?  Seperti permainan tujuh belasan yang berlangsung dimanapun, tidak bertujuan kompetisi, hanya lucu-lucuan, maka karyawan Grand Zuri sudah menyiapkan aneka game berbau-bau silly. Futsal Gadis Bercorong, Beauty or The Beast, Water Estafet, Kerupuk Kuat, Slowly Bikers, dan Balon Terhimpit. Semua yang hadir ikut ambil bagian, tak ketinggalan Indonesia Corners.

Beauty or the beast? Aduh mbak Dhini itu diapain anak orang?
Beauty or the beast? Aduh mbak Dhini itu diapain anak orang?

Iya mencintai Indonesia bisa dilakukan dengan banyak cara. Perayaan tujuh belas Agustus setiap tahun salah satunya. Sekalipun ini adalah ungkapan cinta paling dangkal tapi terselenggara paling meriah dan paling banyak melibatkan partisipasi masyarakat. Mulai dari individu sampai ke institusi. Perayaan tujuh belasan juga merupakan hari  raya ketiga terbesar setelah Idul Fitri dan Hari Natal. Sebagaimana semua entitas bisnis yang memanfaatkan momen hari besar  dalam strategi marketing ,   Hotel Grand Zuri BSD juga tidak mau ketinggalan. Selain membuat berbagai acara interen  bersama para karyawan, mereka juga menjamu tamu melalui festival Kampoeng Tempoe Doeloe,  dijelmakan oleh 71 jenis kue dan masakan tradisional Indonesia.

Mpok tukang gado-gado di kampoeng Tempoe Doeloe
Mpok tukang gado-gado di kampoeng Tempoe Doeloe

71 Jenis Kue Tradisional Indonesia

Grand Zuri yang terletak di kawasan pusat bisnis Serpong menjadi yang terdepan dalam me-service tamu-tamu mereka  dengan hidangan tradisional Indonesia. Setidaknya demikian  ujaran Chef Yan Hari  saat menyambut kami dengan penuh canda. Gelak tawa di Cerenti Restaurant yang sudah disulap penampilannya menjadi Kampoeng Tempo Doeloe membuat suasana semakin akrab hangat dan akrab .  Dalam rangka perayaan tujuh belasan ini,  Chef asal Manado ini melengkapi suguhan dengan 71 jenis kue  tradisional. Apa tujuh puluh satu?  Iya tidak tangung-tanggung ya? Tujuh puluh satu jenis jajanan pasar  tersusun rapi di atas piring lidi. Sajian ini  tak pelak mengundang decak kami para blogger dan awak media yang  ikut memeriahkan peringatan hari kemerdekaan di sini. Dan sebagai penggemar kue basah  dimaklumi dong jika mata saya terus saja jelalatan memandang mereka.

71 Jenis kue mewakili tahun Indonesia merdeka
71 Jenis kue mewakili tahun Indonesia merdeka

Sekalipun akrab ternyata tidak semua nama kue tradisional ini dikenali oleh teman-teman dan juga saya. Kalau kue cucur, dadar, wajik, dan beberapa lainnya bisa disebutkan dengan lancar. Nah salah satu kue yang tak saya kenal namanya tapi langsung memancing tawa saat disebutkan adalah Kue Clorot. Sudah namanya aneh bentuk kue ini unik pula. Terbuat dari tepung sagu dicampur tepung beras dan diberi pemanis gula aren. Yang membuat tampilannya beda, dibungkus daun kelapa dengan cara dililitkan dari atas sampai ke bawah. Dan tentu saja perhatian lebih saya berikan kepada kue-kue yang menggunakan gula merah atau gula aren seperi wajik, utri, kue cincin atau ali agrem, dadar hijau, dan masih banyak lagi. Melihat mereka masih eksis dan bahkan masuk hotel berbintang seperti Grand Zuri BSD, pengembangan terhadap bisnis gula merah masih sangat menjanjikan (lah doi jadi curcol)

Nasi Tutug Oncom Nan Aduhai

Grand Zuri BSD mengganti hidangan setiap hari. Kalau kamu berniat hanya untuk makan  di sana, tidak menginap, tetap bisa menikmati kok. Dijamin hidangannya tidak akan mengecewakan. Jadi hidangan merah putih untuk kami nikmati malam 16 Agustus kemarin  adalah  Nasi Tutug Oncom. Masakan asli Tasikmalaya ini sesuai namanya dimasak  bersama oncom yang sudah digerus. Di temani oleh ikan asin kipas, oseng daging sapi, oseng tempe kacang panjang, ayam goreng,  telur balado, sayur labu jagung manis, dan oseng toge. Sebetulnya nama-namanya sih keren tapi karena saya lupa mencatat ya tak beri nama sesuai masakan rumahan sehari-hari saja. Duh lupa untuk menemani Nasi Tutug Oncom ada juga sambel terasi yang bikin air liur segera meleleh lho.

Menurut Chef Yan, nasi tutugnya tidak murni mengikuti khas Tasikmalaya. Pengolahannya disesuaikan dengan lidah para tamu Grand Zuri BSD. Berkat penyesuaian itu lah mungkin yang membuat saya makan banyak malam itu. ( itu sih rakus…ada yang melanjutkan kalimatnya..)

Nasi Tutug dan Kelengkapannya

Nasi Goreng Merah Putih

Kalau nasi goreng sudah biasa ya? Dimana-mana mudah kita temukan karena  Indonesia tak bisa hidup tanpa nasi goreng. Tapi bagaima dengan nasi goreng yang tingkat kepedasannya tak terjelaskan hingga cuma Nasi Goreng Ugal-Ugalan yang tepat untuk menyebutnya?

Memang begitu lah. Nasi Goreng Merah Putih Persembahan Hotel Grand Zuri BSD  datang dengan lima tingkat kepedasan. Urutan-urutan 1-5 dimulai dari Mangstaph (mantap), Enak Gila, Nampar, Nampol, dan terakhir Ugal-Ugalan. Yang nomor satu adalah nasi goreng untuk semua orang, jejak pedasnya samar-samar, segar, dan akrab di lidah. Enak Gila, bagi yang lidahnya terbiasa dihajar cabe sejak kecil (orang Minang)  ya biasa saja. Tapi begitu masuk ke Nampar dan Nampol, siapkan syaraf-syaraf lidah dan tisu. Ini untuk menjaga selera makan teman di sebelah tetap terjaga karena syaraf yang terkejut itu akan melindungi diri dengan cairan lendir dari hidung dan air mata. Nah sampai ke Ugal-Ugalan, kalau saya mah, melambaikan tangan ke camera saja. Yang masak sendiri (Chef Yan) sudah mengakui kalau Nasi Goreng Ugal-Ugalan  itu bukan makan nasi dicocol sambal tapi makan sambal di cocol nasi. Tahu tidak berapa cabe rawit yang dibutuhkan untuk sepiring ugal-ugalan? 8 sendok makan! Iya delapan sendok makan cabe rawit yang sudah diblender lho, bukan cabe utuh.

Tapi yang namanya selera memang sebanyak jenis ikan di lautan. Chef Yan awalnya ragu adakah  pelanggan yang sanggup menghabiskan sepiring ugal-ugalan karena ia sendiri tidak? Eh ternyata ada saudara-saudara. Saking kagumnya sampai si Chef mau mengratiskan makanan dengan harga Rp.45.000 perporsi itu. Dan pelanggannya tidak mau karena baginya Ugal-Ugalan tingkat kepedasannya biasa-biasa saja kok. Saya sampai ngikik-ngikik mendengar cerita si Chef sambil meringis-ringis karena tetap memberanikan diri untuk mencoba walau cuma setengah sendok.

Nasi Goreng Ugal-Ugalan
Mau pilih yang mana? Nomor 5? Nasi Goreng Ugal-Ugalan

Buntut Balado Asyooi..

Selama ini saya tahunya buntut sapi itu hanya dibuat sop. Entah sop goreng atau rebus pokoknya namanya sop buntut.  Kalau pun ada tambahan  ada buntut bakar juga. Nah kalau buntut balado baru ketemu di Hotel Grand Zuri BSD. Termasuk menu andalan dan dipuja-puja oleh Chef Yan..Eh enggak ding, dipuja-puja oleh kita-kita yang hadir. Bayangkan lah serat buntut dan dagingnya yang kenyal berbaur dengan bumbu-bumbu khas Indonesia. Gurih dan lembut. Saat dibawa keluar oleh Chef Yan, bentutnya saja sudah mengundang selera memotret. Tampaknya pedas. Tapi jangan kuatir merahnya saja yang sedikit menipu, sebenarnya sangat bersahabat dengan lidah.

Buntut Balado yang asyoiii..
Buntut Balado yang asyoiii..

 

56 thoughts on “Tujuh Belasan dan Kampoeng Tempoe Doloe di Grand Zuri BSD

  1. 71 jenis kue itu kayaknya pilihan semua, enak poool. Nasi gorengnya juga yahud (liat dari foto).
    Uni alah jadi langganan grand zuri bsd kalau ado event tertentu. Keren, mantanp surantap, 🙂

  2. Aww ini ceritanya saya lihat di instagram. Saya makan kue clorot pas di jogja enak, tapi itu segala makanan nasi dan lauk pauknya beneran pengen apalagi nasi tutug oncom

    1. Yah pokoknya makanan tradisional kalau sudah masuk hotel akan mengalami peningkatan rasa lah ya Mbak Ru. Secara yang masak memang sudah sekolah untuk pandai memasak 🙂

  3. mbaaa.mbaaa… kalo ada kumpulan di jakarta yang sekiranya aku bisa ikutan, mohon kabari aku dari jauh hari dong…biar aku banyak kenal dengan orang orang hits temen temen mba evi yang kece bana bana itu hehehehhe….

  4. Nasi Tutuq Oncomnya menggoda. Belum sempet nyobain yang di Grand Zuri. Udah nyobain di Sol Marina hehehe. Bunda klo icip2 di mari ajak2 dong. Bisa via tante Katerina kok hehehe

    #kodekeras

    1. Sebenarnya jenis kue tradisional Indonesia itu lebih dari 71 jenis Mbak Susi. Di Grand Zuri kemarin saja ada 100 sepertinya. Cuma diganti-ganti untuk menu pagi, siang dan sore. Memang kaya banget Khasanah kuliner Indonesia 🙂

    1. Iya nasi tutug berasal dari Cirebon Mbak Vika. Tapi kalau yang disajikan di Grand Zuri BSD ini nasi sudah dimodifikasi, mengikuti selera umum. Jadi bumbunya ada yang dikurangi dan ada pula yang ditambahi 🙂

  5. Waah kalo saya hadir, saya sepertinya akan betah di bagian 71 kue tradisional, secara .. saya suka sekali makan kue, Kak hehehe.

    Oya, film Uang Panai’ yang di blog saya mengangkat budaya suku Bugis dan Makassar, Kak. Uang panai’ biasanya jadi salah satu syarat pernikahan dari orang tua perempuan.

    1. Sepertinya kita satu selera Niar. Aku juga senang banget pada jajanan pasar. Apalagi kalau yang ada santan dan gula nya.

      Terima kasih ya atas informasinya tentang uang panai. Bagus ya kalau setiap tradisi atau budaya dari Indonesia diangkat dalam film. Jadinya masyarakat Indonesia semakin mengenai budaya etnis lain

  6. Di kota Malang juga ada semacam festival tempoe doloe, namanya Malang Tempoe Doloe (MTD). Selain festival kuliner tempo dulu juga nampilin bermacam kerajinan juga kesenian sama pakaian adat tempo dulu. Bedanya kalo di Malang diselenggarainnya bukan pas HUT RI tapi waktu hari jadi kota. Dulu tiap tahun selalu ada, namun beberapa tahun terakhir cuma diadain 2 tahun sekali.

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?