Candi Gedong Songo Semarang

Candi Gedong Sengo Peninggalan kerajaan Mataram
Candi Gedong Sengo Peninggalan kerajaan Mataram

Para penikmat sejarah tidak akan pernah mati gaya bila jalan-jalan di Jawa Tengah . Kebudayaan Hindu yang pernah mencapai zaman keemasan di sana meninggalkan begitu banyak jejak  yang masih terawat sampai saat ini. Jika   boleh Jateng disebut sebagai negeri seribu candi, salah satunya  terletak di Kabupaten Semarang. Candi Gedong Songo namanya. Kompleks bangunan bekas tempat peribadatan agama Hindu ini terletak di Desa Candi,  Kecamatan Bandungan.  Berdiri dan tersebar  di lereng gunung Ungaran. Nama Gedong Songo sendiri berasal dari bahasa Jawa. Gedong artinya bangunan atau rumah dan Songo berarti sembilan. Jadi Gedong Songo berarti 9 buah gedung atau bangunan. Agak sayang sedikit bahwa wujud kesembilan candi tersebut sudah tidak utuh. Yang utuh  hanya Candi Gedong 1 – 5. Sementara yang lain sudah tidak jelas bentuknya, hanya berupa tumpukan batu.

Sebetulnya setiap ke Semarang saya sudah merencanakan akan mengunjungi tempat bersejarah yang dibangun pada abad ke-9 masehi ini. Namun ada saja halangan untuk segera menjejakan kaki di sana. Padahal sudah bolak-balik ke Ambarawa dan bahkan sudah dua kali ke Rawa Pening. Artinya lokasi tidak terlalu jauh jika pun harus sekalian singga. Tapi relasi saya dan candi ini  seperti pertalian jodoh,  datang pada momentum yang tepat, dan indah pada waktunya. Nah momentum itu akhirnya tiba juga usai lebur lebaran kemarin.

Memulai lintasan di atas punggung kuda
Memulai lintasan di atas punggung kuda

Trekking dengan Naik Kuda

Cara terbaik menelisik kawasan candi di lereng gunung nan permai ini adalah berjalan kaki. Namun anak saya yang sudah berwisata ke sana terlebih dahulu memperingatkan bahwa jalur trekking cukup menguras tenaga. Sekalipun tersedia beberapa Gazebo untuk beristirahat, ia tahu perangai mamanya. Melihat bentangan luas seperti itu pasti tak terhindarkan untuk mengeluh. Jadi ketimbang merusak mood orang sepanjang perjalanan ia menyarankan naik kuda saja. Memang agar dapat melihat candi satu persatu dengan jarak cukup lumayan, disamping jalur yang turun naik dan berkelok-kelok, turis manja perlu lah meminta bantuan transportasi. Ingat  kita sedang menyisir punggung Gunung Ungaran lho. Tak semua orang punya cadangan tenaga berlebih. Apa lagi yang sudah berumur :).  Alhamdulillah  itu pulalah yang terpikir oleh pengelola candi  yang pernah dilupakan selama beberapa abad ini dengan keputusannya menyediakan transportasi kuda di sana.

Panorama di salah satu lintasan
Panorama di salah satu lintasan

Tarif  Masuk Candi Gedong Songo dan Angkutan Kuda

Tiket masuk untuk ke Candi Gedong Songo ini ternyata cukup terjangkau. Rp 6.000 saat week day dan 7500 weekend. Untuk turis mancanegara lebih mahal 3 kalinya. Parkir mobil pun sekitar 5 ribu dan bila hendak berendam air hangat tarifnya cukup. 5000.

Harga untuk naik kuda tergantung panjang trek yang akan kita ikuti.  Terdiri Kalau hanya menyisir sekitar Desa Rp. 30.000. Merapat ke semua Candi tanpa ke air panas Rp60.000 per orang. Tapi karena sudah di sana kan sayang kalau tidak melihat semua dari dekat. Maka kami memutuskan mengambil paket lengkap biaya Rp80.000 per orang. Tapi itu untuk kuda kecil dengan berat penumpang di bawah 70 kg. Melewati 70 kg sampai 100 kg tersedia kuda lebih besar dengan biaya Rp100.000 per orang. Fair juga kan? Jangan sampai yang berat badan berlebih naik kuda kecil, akan membuat sengsara kudanya.

Sekalipun tidak merasa ahli naik kuda jangan kuatir. Kuda-kuda tersebut akan dituntun oleh petugas khusus. Yang perlu disingkirkan hanya rasa kuatir atau  takut jatuh. Sebab rasa seperti itu akan mempengaruhi mood perjalanan. Seperti suami saya yang pada awalnya merasa takut apalagi saat kudanya turun atau naik, saya yang berada dibelakang jadi ikutan ketar-ketir. Tapi setelah beberapa saat, setelah tubuh membiasakan diri mengikuti irama langkah kudah, keseimbangan jadi milik kita. Nah dengan duduk anteng di atas punggung kuda saya pun akhirnya mengendalikan kuda sendirian. Tidak kuatir karena kudanya sudah terlatih ditambah lagi pamongnya tetap mengikuti dari belakang.

Kudanya jinak karena sudah terlatih
Kudanya jinak karena sudah terlatih

Menikmati panorama Komplek Candi Gedong Songo

Komplek Candi Gedong Songo sudah terkelola sangat baik. Yang kita dapat bukan hanya atmosfir sejarah tapi juga panoramanya. Sepanjang trek yang membawa  dari satu Candi ke Candi berikutnya kita akan melewati kebun-kebun bunga mawar dan sayur. Dikelompokan secara apik. Dari bapak yang menuntun kuda saya dapat banyak cerita. Ia mengatakan bahwa kawasan candi  Gedong Songo merupakan daerah penghasil sayuran yang diedarkan ke kota Semarang dan sekitarnya. Begitupun bunga-bunga yang tertanam di sini memasok kebutuhan bunga Pasar Kembang Bandungan. Bermodalkan fakta ini bagi mereka yang senang foto-foto cantik atau menggunakannya untuk kebutuhan khusus seperti pre wedding tempat ini cocok lah  bertema wisata alam.

Sambil menyisir hutan pinus, saya membayangkan kehidupan abad lalu yang pernah berlangsung di sini. Melihat lokasi candi yang tersebar dan dibayangi oleh pegunungan di kejauhan, mustinya  dulu juga berfungsi sebagai perkampungan kuno. Bahwa mereka memilih ketinggian dalam membangun tempat ibadah tentu berhubungan dengan kepercayaan Hindu. Semakin tinggi suatu tempat  semakin suci. Karena disanalah para Dewa dan Dewi bersemayam. Tapi kalau pun memang ada kehidupan tersebut tidak banyak informasi yang tersedia. Paling-paling hanya mengenai fakta sejarahnya setelah Belanda masuk Nusantara. Bahwa Gedong Songo ini ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804. Peninggalan kerajaan Hindu zaman Wangsa Sailendra abad ke-9 atau  927 Masehi. Dibangun oleh Putra Sanjaya seorang raja Mataram kuno pada sekitar abad 7 masehi. Klaim peninggalan kebudayaan Hindu berdasar pada beberapa patung dewa yang terdapat di dalam candi. Ada Dewa  Siwa Mahaguru, Siwa Maha Kala,  Siwa Mahadewa, Durga mahesasuramardhini dan Ganesha.

Lereng Gunung Ungararan memang cocok untuk mendukung kehidupan. Tempatnya subur sampai sekarang. Selain perkebunan sayur dan bunga banyak jenis tanaman liar hidup secara harmonis guna memperindah area. Saat saya berkuda,  di udara melintas bayang-bayang beberapa  ekor burung di latar belakang langit biru dan awan putih.

Wisata Kompleks Candi Gedong Songo: Diantara kebun bunga dan kebun sayur
Wisata Kompleks Candi Gedong Songo: Diantara kebun bunga dan kebun sayur

6317382625075170882

Menapak ke Candi Gedong V

Destinasi pertama saya dari jelajah Candi Gedong Songo adalah Candi Gedong lima. Merupakan candi utama. Mirip candi Arjuna di Dieng. Dikelilingi  beberapa runtuhan candi di sekitarnya. Diperkirakan candi yang sudah berupa tumpukan batu tersebut sebagai Candi Perwara. Pada dinding terdapat relung yang berisi Arca Ganesha dengan posisi duduk bersila. Setelahnya baru Candi Gedong 4 dan 3. Bentuk bangunan candi hampir sama semua.

Candi Gedong V
Candi Gedong V

candi gedong 5Candi Gedong V dan selfie…

Candi Gedong V dan narsisme...
Candi Gedong V dan narsisme…

Sumber Panas Bumi

Di antara lokasi Candi Gedong 3 dan Candi Gedong 4 terdapat sebuah pemandian air panas. Tapi saya tidak datang ke sana karena hari sudah petang. Tapi mungkin juga saya mulai lelah karena sudah berangkat dari Serpong sejak subuh. Sementara  kepunden yang terdengar meraung-raung dari kejauhan memang tidak bisa diabaikan. Apa lagi lubangnya menyemburkan asap dan bau belerang berhamburan di udara. Jadi ingat perjalanan ke Ulu Belu Lampung, trekking ke sumber air panas juga.

Walau sejujurnya sedikit ragu mendekati lubang tempat keluarnya panas bumi tersebut. Terletak di ceruk perbukitan. Bunyinya mendengus-dengur seperti ada seekor naga yang sedang pilik di dalam. Tapi rupanya di sini pula spot foto ciamik yang digunakan oleh wisatawan. Dengan bebatuan lebih kuno dari candinya sendiri dan diserta kabut pula sebagai latar belakang, siapa juga yang akan melewatkan ya?  Maka saya pun beringsut mendekat. Dengusnya semakin keras menimbulkan perasaan ngeri. Sekalipun tidak ada peringatan tertulis teman-teman jangan pernah mencoba melongok ke permukaan nya ya. Karena tubuh akan langsung dihantam oleh uap yang sangat panas. Saya prihatin melihat seorang bocah iseng yang mencoba mengintip ke dalam dan langsung terpekik. Untung lah ia tidak cidera.

Kepunden Candi Gedong Songo
Kepunden Candi Gedong Songo

Oh ya menurut yang saya baca sumber panas bumi yang terdapat di Kompleks Candi Gedong Songo ini akan dimanfaatkan sebagai sumber energi panas bumi. Tapi rupanya ada beberapa kendala untuk mewujudkan proyek tersebut. Kalau teman-teman tertarik mengetahui permasalahanya silahkan di Googling dengan kata kunci sumber panas Candi Gedong Songo.

77 thoughts on “Candi Gedong Songo Semarang

  1. Saya juga maret kemarin habis dari sana mbak evi. Tapi milih trekking untuk mengelilingi kompleks candinya. Asik juga lho, jalan kaki sekalian olahraga 😀
    pemandangannya… wuaouuuuu… bikin lelahnya nggak kerasa ^^

    1. Iya kalau nanti datang lagi saya akan pilih jalan kaki Mbak Yuni. Mungkin kalau datang lebih pagi tidak terlalu panas dan jalannya bisa pelan-pelan ya 🙂

    1. View dari jalan kaki dan naik kuda pastinya berbeda ya. Walau tak banyak foto-foto yang diambil lewat jalan kaki mestinya Lebih Detail, Mas Nasirullah 🙂

    1. Pulau Jawa memang tidak akan habis-habisnya dieksplorasi Mbak Pink. Di sekitar Kabupaten Semarang saja tidak terhitung destinasi wisata nya. Candi Gedong Songo dan sekitar Bandungan itu banyak banget tempat yang bagus-bagus 🙂

  2. Di Jawa Tengah candi nya memang banyak. Ini candi di Semarang kabarnya yg pertama di jawa org kita buat candi. Klo aku sepertinya tertarik buat trekking-nya TanEv, mau nikmatin pemandangan juga..

    1. Iya Mbak Dyah, kalau Kaki masih kuat dan kesehatan masih bilang memang lebih baik jalan kaki tracking menyusuri Kompleks Candi Songo ini. Banyak banget yang bisa dilihat dan dinikmati ber lama di sepanjang tracknya 🙂

  3. Prok…prok…Uni Evi, menuju puncak sambil berkuda. Serasa terwakili niat muncak, karena saya hanya berani jalan kaki sedikit di atas candi terbawah. Salam

    1. Iya kalau tidak naik kuda tidak bakalan nya saya sampai keatas mbak Prih. Nanti sampai di rumah Saya ngedumel sendiri Kenapa kok tidak di Telusur semuanya. Ya sudah daripada nyesel belakangan dinekatin saja naik kuda 🙂

  4. Saya pernah ke Candi Gedong Songo pagi-pagi benar dan menjadi orang pertama yang datang. Saat itu ngejar momen biar bisa lihat candi yang nggak tertutup kabut dan cuaca cerah. Naik kuda dan lihat landscape-nya dari candi tertinggi cihuy banget. Abis itu makan mie goreng sama telur ceplok di warung depan candi. Mienya dilengkapi lalapan kubis, tomat, dan timun yang masih segar abis di petik dari kebun. Rasanya nikmat banget mbak hehe. Duh jadi pengen kesana lagi.

    1. Nah ya kalau pagi-pagi sekali kesana suasananya pasti beda, adem dengan pemandangan hijau yang disertai embun di rumput rumputnya. Duh saya juga jadi pengen lagi ke sana Mbak Elisabeth 🙂

  5. udah jago deh uni naik kudanya, udah berani sendiri ya…
    dua kali ke Semarang masih belumrejeki datang ke Gedong Songo…
    semenatra menikmati tulisan uni yang yahud

    1. Kalau memang begitu, MM, mengunjungi suatu destinasi jodoh-jodohan. Apalagi kalau kunjungan ke suatu tempat waktunya singkat jadi musti ada prioritas mana yang mesti didatangi. Semoga pas ke Semarang lagi bisa ke Candi Gedong Songo ya, MM. Amin

  6. mbaaaaak,…
    dirimu sungguh terlihat anggun sekaligus perkasa ketika lagi naik kuda mbaaaak…
    Udah cucok banget lah kalo ama si Geun Suk mah hahaha…*PLAK*

    Wah, berarti kalo nanti ke Semarang harus mampir2 kesono yah mbaaak…

    1. Duh membayangkan lomba pacu kuda dengan Jang Geun Suk hahahaha…

      Iya kalau ke Semarang jangan lupa mampir, Bi. Bagus banget untuk foto-foto soalnya 🙂

    1. Saya tidak punya informasi Kalau naik kendaraan umum dari Stasiun Poncol sampai ke Gedong Songo, Mas. Mestinya sih tidak sulit karena jalan ke tempat ini dilewati Jalan Raya. Paling-paling kalau sudah mendekati kawasan saja agak agak masuk kedalam jalan sempit. Tapi tidak takut nyasar juga karena ada petunjuk di setiap belokan

  7. Woww, aku kagum sama kekuasaan raja-raja terdahulu mbaa.. Seperti Candi ini sbg bukti kalo kerajaan Mataram pernah ada di bumi Semarang entah sbg apanya tpi ya udahlahhh kagum aja heheh

    1. Ya setiap jamuan mempunyai cerita dan keadaan sosialnya sendiri. Jika bisa bertahan lama dan cerita itu sampai ke kita yang jelas cara hidupnya sangat berbeda dengan mereka, mau tak mau tentu saja menimbulkan kagum dalam hati kita, Mbak 🙂

  8. Dari dulu mau niat kesini, nggak jadi – jadi Kak. Tapi kalau candi di dieng sudah pernah mengunjunginya. Kalau Candi gedong songo ini mirip dengan candi yang ada di Dieng, ya begitulah ya Kak ya candinya. Enaknya jelajah candi pakai kuda, lengkap sudah semuanya Kak, 🙂

  9. Beberapa kali naik ke Gedong Songo nggak pernah bosan, apalagi view Rawa pening yang keren itu hehehe. Tapi masih ingin balik ke sana lagi untuk cobain mandi di bilik khusus yang ada air panas belerangnya. ^^

  10. Assalaamu’alaikum wr.wb. mbak Evi…

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
    Laailaaha illahu wa Allahu Akbar
    Allahu Akbar walillaahil hamd.

    Selamat Menyambut Aidil Adha 1437 Hijriyyah. Semoga takbir yang bergema membawa seribu keberkatan bersama-sama erti pengorbanan sebenar.

    Salam Aidil Adha, maaf zahir dan bathin dari Sarikei, Sarawak.

  11. Kalau naik kuda, saya tidak bisa mbak walau kudanya sudah dijinakkan. Saya takut sekali dengan ketinggiannya. Mungkin saya memilih berjalan kaki sahaja. Tempatnya jauh namun memiliki keindahan yang mengasyikkan.

    1. Iya atau bisa mengendalikan udah nya akan membawa kita lari-lari kecil, Taro. Karena kudanya jinak terus aja gitu. Semoga suatu saat bisa jalan bareng dengan taruh di Semarang ya atau dimanapun tempat kece di Indonesia 🙂

  12. Menurut saya view dari Gedong Songo ini paling keren. Apalagi yg Candi nomor 5, rasanya gak mau turun cepat2. Bukit yg di depannya buat nyaman, apalagi lagi hijau kayak bulan lalu.

    Wah mba Evi naik kuda jg “Luruskan kaki, bungkukkan badan” hehe tapi seru sekali jalur kudanya.

    1. Iya Kak Richo, kalo tracking di area Candi Gedong Songo Saya mah sudah nyerah duluan saja. Dengan metode sebetulnya banyak yang dilewati dan kurang bisa mengamati lebih dekat keadaan sekitar. Tapi apa boleh buat lah ya daripada tidak mengelilinginya mending naik kuda saja. Dan benar karena kudanya sudah jinak gampang banget dikendalikan sendiri

  13. pernah ke gedong songo, tapi baru beberapa meter jalan mengikuti jalur menanjak, eh hujan deras, akhirya berteduh di warung, makan mie rebus, setelah hujan reda, turun lagi… gak jadi naik… heuheuheu

    1. Sayang banget sudah sampai ke sana akhirnya balik lagi pulang, Mas. Cuman kalo habis hujan mungkin kurang nyaman untuk eksplorasi Candi Gedong Songo ya 🙂

  14. Saya dulu cuma sempat di candi bawah saja karena sudah sore. Padahal kabut-kabut tipis di bagian lereng yang lebih tinggi menggoda saya untuk trekking ke sana ke candi-candi yang lebih tinggi posisinya. Tapi, naik kuda kayak yang Bu Evi lakukan ini seru juga kayaknya, mungkin perlu membawa aksesoris panah hahaha 😀

    Panoramanya menyejukkan ya Bu, dari foto saja sudah kelihatan seger 🙂

    1. Hahaha naik kuda sambil bawa panah seperti Brama Kumbara dan Mantili ya Mas Rifqy. Jadi belum sempat sampai ke atas ya Mas. Itu artinya disuruh datang kembali.

      Dan benar saya tidak menyangka sebelumnya bahwa panorama di Candi Gedong Songo ini begitu indah. Saya pikir selama ini wisata ke Candi Gedong Songo hanya melihat candi-candi peninggalan kebudayaan purba. Eh tak tahunya ada bonus pemandangan indah

        1. Saya belum pernah ke Ijen sih Mbak Jadi kurang tahu membandingkannya. Tapi saya kira belerang di Candi izin lebih banyak kali ya. Kalau di sini lubangnya kecil saja sih 🙂

  15. Halo Mbak Evi, salam kenal 🙂
    Ini candinya bagus yah…sederhana tapi cantik. Boleh juga nih jadi destinasi pas jalan-jalan ke Semarang. Wah trekking naik kuda bikin deg-degan nggak tuh pas di atas kudanya MBak? Aku naik kuda di jalan datar aja masih ngeri hehehe.

    1. Terima kasih Salam kembali Mbak Anisa.

      Iya Candi Gedong Songo secara bangunan memang sederhana tapi dia punya daya tarik sendiri untuk di foto. Lingkungannya juga mungkin mendukung 🙂

  16. candi gedongsongo memang syahdu.. tahun lalu kesana, bahkan untuk sampe sana pun butuh perjuangan karena tanjakan terjal sampe pembonceng harus turun.. memang butuh fisik cukup untuk menjelajahi gedong songo, tapi dibayar dengan pengalaman yang menyenangkan.. 😀

    1. Iya jalan ke arah Candi Gedong Songo memang relatif terjal. Maklum kita kan menyusuri punggung gunung Ungaran. Dan kalau sudah sampai di tempat segala Kelan itu akan dibayar oleh panorama yang indah 🙂

  17. Dulu pernah pas ujian kenaikan tingkat bermalam di Gedung Songo, dinginya minta ampun,
    Pagi harinya, menguasai kolam renang air hangatnya…ahaha

    Salah satu hal yang seru adalah ketika cuaca sedang cerah, Gunug Lawu, Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing bisa terlihat dengan jelas dari beberapa titik di lokasi tersebut.

    1. Iya pas aku ke sini cuaca sangat cerah, Mas. Langit biru dan awan nya bikin mata nanar memandang… tahu aja orang jaman dulu memilih tempat indah untuk mendirikan tempat ibadah ya 🙂

      1. Aku belum pernah ke Candi Gedong Songo mbk, lain kali kalau ada teman bisa ke sana mbk, aku pernah ke Candi Cetho Karanganyar hehehe. Tiket masuknya murah juga ya mbk.

        Bisa jadi tujuan wisata nih.

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?