Wisata Religi ke Makam Sunan Muria di Gunung Muria

Saya punya ketertarikan khusus pada wisata religi. Sudah mengunjungi beberapa makam dan Masjid bernilai sejarah tapi baru sempat menuliskannya beberapa saja. Seperti ke Makam Prabu Hariang Kancana atau Sunan Panjalu,  ke Goa Pamijahan, Kompleks Makan Kesultanan Bima, Petilasan Nyiroro Kidul, dan Makam Sunan Kudus.  Begitu pun setelah mengunjungi Makam Sunan Kudus  saya  punya nazar berziarah pada kesembilan makam Wali Songo.  Pada kunjungan berikut ke Kota Jenang, saya mendapat kesempatan menambah satu lagi, kali ini ke makam Sunan Muria yang terletak di lereng gunung Muria atau di Puncak Colo. Beliau adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh dan bernama  asli Raden Umar Said.

makam sunan muria di gunung muria
Para Peziarah

Jalan ke Makam Sunan Muria di Gunung Muria

Memang tidak sulit mencapai lokasi pemakaman yang berada di sekitar kawasan destinasi Wisata Colo itu. Dari kota Kudus lurus saja jalannya menyisir punggung Muria. Untuk yang akan naik kendaraan umum bisa naik dari Terminal Kudus.  Jalannya lebar dan beraspal mulus. Sepertinya pemerintah daerah Jawa Tengah serius menggarap lokasi makam ini sebagai destinasi wisata  ziarah Jawa Tengah.  Sekalipun jalannya berkontur, barisan rumah penduduk , diselingi oleh kebun dan sawah yang hijau, membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Kadang juga terlihat aktivitas penduduk di sawah atau di kebun. Pohon lengkeng dan petai sedang berbuah.

Jarak makam Sunan Muria di Gunung Muria ini dengan ke kota Kudus hanya sekitar 19 KM dengan waktu tempuh 2 jam berkendaraan roda empat. Di ujung perjalanan kita akan bertemu dengan gerbang retribusi. Harga  tiket masuk Rp2.000 per orang dan kendaraan roda empat 10. 000. Sungguh sangat terjangkau. Tersedia lahan parkir cukup luas. Lokasi makam sesungguhnya masih berjarak sekitar 2 kilometer dari pintu masuk. Untuk mencapai tempat peristirahatan terakhir dari Putra  Sunan Kalijaga bersama  Dewi Saroh binti Maulana Ishak ini, tersedia dua pilihan: Berjalan kaki dengan manjat tangga atau naik ojek dengan ongkos Rp. 10. 000 perorang. Turis manja tentu memilih naik ojek.

Jalanan menyusurui punggung Muria
Jalanan menyusurui punggung Muria

Naik Ojek Menuju Lokasi

Bagusnya transportasi ojek sudah dikelola secara baik dan bahkan pengendaranya memakai seragam khusus  warna ungu.  Tapi ingat lah bahwa naik ojek menuju Makam Kangjeng Sunan Muria perlu sedikit keberanian. Disamping motornya memang berjenis sport, maklum Honda Megapro,   jalan ke arah puncak sedikit menantang. Mengecil, terjal, berkelok-kelok dengan jurang curam di sebelah kiri. Belum lagi abang ojeknya yang merasa  akrab dengan medan dan menganggap ia seperti di arena  balap. Sekalipun saya menghibur diri dengan memandang langit  biru di atas dan pepohonan  hijau di samping, tak urung beberapa kali saya menepuk bahunya  agar memanfaatkan rem. Bahkan suami saya sempat memperingatkan dari belakang agar saya berpegangan lebih kencang.

Sementara jantung berdebar-debar  saya masih sempat  memikirkan apa yang berada dalam pikiran Raden Umar Said atau yang dikenal sebagai Sunan Muria saat memutuskan mendirikan pesanggrahan di tempat ini. Kemudian  menjadikannya basis penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Jangankan di masa lalu  yang pastinya tempat ini masih hutan belantara lebat, sat ini pun lokasinya relatif terpencil.

Atau mungkin kah  seperti yang diceritakan dalam sejarah bahwa Raden Umar Said lebih suka hidup di tempat terpencil dibanding tempat ramai? Di tempat seperti ini ia lebih leluasa mendalami ilmu agama,  mengajarkan kepada penduduk, bahkan juga mencontohkan bagaimana cara bercocok tanam yang baik. Mengingat kondisi sekitaran Gunung Muria yang subur mestinya sejak dulu penduduknya hidup makmur.

Selang 10 menit kemudia saya kembali bernapas lega. Di Pangkalan Ojek Muria 2 ini sudah banyak peziarah. Sebagian mereka duduk-duduk  menunggu rekan  yang belum naik. Sebagian lagi antri menunggu ojek pulang. Dan saya  juga tak mau ketinggalan duduk di atas bangku-bangku bambu yang disediakan.  Melepas pandang  ke bawah, mengikuti alur indah dari jalanan beraspal tempat kedatangan saya tadi.

Dari view point ini kita perlu berjalan kaki sedikit lagi. Untung  jalannya sudah rata. Seorang  wanita yang sepertinya berusia lebih muda dari saya berjalan sambil di papah suaminya. Tampak wajahnya menahan sakit saat melangkah. Mungkin lututnya bermasalah.  Sementara yang lain dengan wajah-wajah tekun dan kusuk, meniti tapak dengan hening. Membuat udara yang sudah sejuk lebih dingin untuk saya.

Setelah melewati warung-warung dan tempat peristirahatan sederhana yang disediakan penduduk bagi pengunjung,  kita akan tiba di sebuah anak tangga yang berfungsi sebagai jalan. Di kiri kanannya terdapat toko dan warung yang lebih tertata. Menjual aneka pernik souvenir, baju, dan makanan.  Temboknya dicat hijau dan kuning yang menimbulkan kesan ceria.

Dari bawah tangga ini belok ke kanan. Ada tulisan dan panah menuju ke arah makam. Di sini sendal pengunjung harus dilepas, dimasukkan ke dalam kantong dan dibawa masuk ke dalam. Jika lupa membawa kantong plastik, tak perlu kuatir,  ada yang menjual kok .Disini juga para peziarah mengambil wudhu terlebih dahulu. Sebelum mengikuti yang lain di jalur antri saya berhenti sejenak untuk membaca pengumuman di dinding. Papan putih itu berisi tata tertib ziarah di makam Kanjeng Sunan Muria.

Naik ojek menuju Puncak Colo
Naik ojek menuju Puncak Colo

Tata tertib ziarah di makam Raden Umar Said Kanjeng Sunan Muria

1. Para tamu dimohon agar berperilaku dan berbusana sopan.
2. Melepas dan membungkus sandal atau sepatu demi kerapihan dan kebersihan serta keamanan.
3. Ketua rombongan atau Panitia mendaftar kepada petugas pendaftar.
4. Penyampaian amanat kepada petugas penerima amanat.

Para tamu dilarang:

1. Makan, minum, merokok di sepanjang jalur antri masuk lokasi makam.
2. Duduk-duduk atau tiduran di sepanjang jalur antri masuk.
3. Menggunakan pengeras suara di lokasi makam.
4. Membawa benda benda berbahaya atau mudah terbakar

Para tamu dibolehkan :

  • 1. Berziarah masuk ke dalam cungkup makam Sunan Muria hanya pada hari: Kamis Wage dan Kamis Legi buka pada jam 06.00 pagi sampai dengan pukul 24.00 malam. Jumat Kliwon dan Jumat Pahing buka jam 06.00 sampai jam 04.00 sore. Selain hari-hari tersebut sejarah dilakukan diluar makam inti.
    2. Minta bantuan pengurus makam untuk memimpin tahlil atau berdoa dan lain-lain.
    3. Membantu perawatan atau pengelola makam Sunan Muria dengan memasukkan amal atau sumbangan ke dalam kotak amal yang tersedia. Untuk sumbangan atau hal-hal khusus agar menghubungi petugas amanat.
    4. Bermalam maksimal dua hari atau malam dengan menyerahkan kartu identitas ke kantor atau petugas keamanan.
    5. Minta informasi di sekretariat Yayasan masjid dan makam Sunan Muria untuk hal-hal yang belum tercantum diatas.
Jalur antri dengan taman di kanan-kiri
Jalur antri dengan taman di kanan-kiri

Jalur antri ini beratap dengan taman asri di kiri dan kanannya.

Sampai di persinggahan pertama kita akan bersuara dengan cungkup berukiran Jawa. Tidak begitu jelas peruntukan cungkup ini. Mungkin untuk tahlilan sebab ada pengeras suara di dinding. Setelah cukup ini kita akan bersua dengan pintu yang akan membawa ke makam inti. Di dinding terdapat tulisan dengan huruf besar: Berdoa atau memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari pelataran cungkup sebelum masuk makam inti kita menuruni beberapa buah anak tangga. Gerbang bergaya candi seperti di Masjid Kudus. Tapi tidak berwarna merah melainkan abu-abu seperti warna semen biasa. Saya langsung berkecil hati membaca pengumuman pada sepotong papan bahwa dilarang mengambil foto dan membuat video. Tapi tidak putus asa dan sering melihat foto Makam Sunan Muria  di internet,  saya menghampiri seorang Bapak Penjaga dan meminta izin  akan mengambil foto. Mungkin melihat wajah saya yang memelas Bapak itu  mengangguk: ” Boleh asal jangan berlebihan. Jangan pula mengganggu yang sedang beribadah”.  Tentu saja saya langsung mengangguk dengan rasa terima kasih.

makam sunan muria di gunung muria 8
Jalur antri yang panjang
makam sunan muria di gunung muria 9
Sesaat sebelum masuk ke makam inti

Suasana di dalam membuat saya terpesona. Dibawah cungkup berukiran Jawa, ditengahnya terletak makam Sunan Muria berkelambu putih. Para peziarah duduk bersim[uh mengelilingi. Lantunan doa membuat saya kehilangan minat mengambil foto pada akhirnya. Tapi sebagai bukti bahwa saya sudah sampai ke sana,  ke titik pertemuan terdekat dengan Sunan Muria,  terpaksa mengangkat kamera juga. Menjepret beberapa kali lalu memasukannya ke dalam ransel. Yang membuat sungkan juga adalah bunyi shutter camera. Setelah itu  ikut hanyut menikmati suasana bersama para peziarah lainnya.

makam sunan muria di gunung muria 11
Jemaah yang khusuk

Jalan Keluar

Hampir 1 jam mengikuti kekhusukan para berziarah, akhirnya saya pamit pada Kanjeng Sunan untuk kembali ke Kudus. Seolah beliau menjawab salam saya, ada perasaan haru saat beranjak meninggalkan tempat itu. Saya kembali menyusuri loron. Rupanya lorong ini memutar dan saya kembali ke teras pintu masuk  tadi. Namun ini di sebelah bawah. Tak jauh terdapat beberapa pundan batu yang di atasnya berserakan keping-keping  uang logam. Mungkin itu adalah sedekah para peziarah. Ada pula gentong peninggalan Sunan sebagai sumber air yang dipercaya berkhasiat. Mampu mengobati berbagai penyakit. Disediakan gelas- gelas plastik bagi mereka yang ingin meminumnya.

Dari sini kita kembali bersua dengan toko oleh-oleh. Ke sebelah kirinya merupakan  masuk ke Masjid Sunan Muria.

Biasanya kawasan  ziarah dipenuhi para pengemis.  Alhamdulillah di kompleks Makam Sunan Muria di Gunung Muria ini tidak ada yang seperti itu. Disini serba teratur. Kalau ingin bersedekah sudah ada tempatnya. Begitu pula dengan lokasi tempat jualan sudah teratur dan di tembok rapi.Tidak perlu ada pedagang asongan yang menyodorkan dagangan ke sana- ke mari.

makam sunan muria di gunung muria 13
Pintu masuk ke makam inti yang terihat dari jalan menuju pintu keluar
makam sunan muria di gunung muria 14
Pundan batu bertabur uang

Buah Parjito dan Mitos di belakangnya

Yang menarik dan bisa  dijadikan oleh-oleh dari tempat ini adalah buah Parjito. Semacam buni berwarna merah muda dam cenderung ungu  mengikuti tingkat kematangan. Buahnya bergerombol di tangkai-tangkai Merah Jambu. Saya membeli setangkai dengan harga Rp.5000 hanya demi mencicipi rasanya. Ternyata sedikit manis, asam dan cenderung sepat. Begitu menempel di lidah memory rasa langsung membongkar pengalaman masa kecil, ke kebun belakang rumah teman bermain, suatu sore di tepi sawah . Ternyata hebat nian tabungan kenangan yang disimpan oleh syaraf pengecap saya.  Iya di masa kecil  sering mengudap buah ini saat bermain dengan teman-teman, sampai-sampai meninggalkan warna ungu di mulut selama beberapa hari.

Dan kehadiran buah Parjito  di Gunung Muria dilengkapi mitos. Ibu hamil yang mengkonsumsi buah parjito akan melahirkan anak-anak  berwajah cantik  dan ganteng dengan kulit halus dan mulus. Yang belum mempunyai bila mengkonsumsi buah parjito dipercaya akan segera mendapat momongan.

Legenda kesaktian buah parjito  berawal  bahwa tiap hamil  istri Sunan Muria mengidam buah ini. Dengan suka rela Kanjeng Sunan mencari buah tersebut. Ternyata anak-anak  yang lahir kemudian berwajah cantik dan ganteng. Karena itulah masyarakat meyakini saat hamil bila mengkonsumsi parjito anak mereka  pun akan ganteng dan cantik seperti anak-anak Sunan Muria.

makam sunan muria di gunung muria buah parjito
Buah Parjito masak yang berwarna merah muda keunguan
makam sunan muria di gunung muria 18
Buah Delima, Pisang Rebus, Gadung Rebus, dan buah parjito muda sebagai oleh-oleh dari Makam Sunan Muria

Saya tertawa ketika ibu pedagang buah parjito menawarkan diskon kalau saya membeli lebih banyak. Bonus lain, ia mendoakan anak-anak saya “akan” cantik dan ganteng seperti anak-anak Sunan Muria. Ah kadang pedagang memang absurd! Apakah porsi umur saya masih layak melahirkan?

 

66 thoughts on “Wisata Religi ke Makam Sunan Muria di Gunung Muria

  1. Alhamdulillah saya baru kemarn dari makam para wali di antaranya sunan gunung jati cirebon raden pattah demak sunan kali jaga demak sunan kudus sama sunan muria semua punya ceritanya masing masing

    1. Yah makam-makam para sunan tersebut sangat menarik untuk dieksplorasi. Bukan hanya dari sisi sejarah tapi juga dari religinya. Beruntunglah Mbak Cici sudah menjalani semua makam-makam Agung tersebut

  2. Pingin tau retribusi masuk muria per org brp? Trs parkir bus brp? Laporan rombongan ada biaya tidak? Soalnya km mau rombongan ke sana

  3. Aku pernah berkunjung juga ke Makam Sunan Muria. Tapi sudah lama banget, saat SMP, ziarah Wali Songo. *Dan sedihnya gak ada dokumentasinya :(.
    Lumayan yaaa… Naik tangganyaa…
    Tapi aku baru tahu tentang legenda buah parijoto itu, hehe.
    Kalau ada kesempatan, pengen lagi ziarah Wali Songo.

    1. Kompleks makam Sunan Muria sekarang sudah sangat rapi, Mbak Euis. View ke bawah lereng gunung dan ada juga air terjunnya. Pokoknya gak nyesel deh kalo datang kesini 🙂

    1. Terima kasih Mbak Ria. Legenda yang melekat pada buah parijoto ini memang unik. Ini juga cara penduduk lokal dalam memanfaatkan tumbuhan lokal sebaik-baiknya, mungkin ya mbak 🙂

    1. Belajar sejarah dengan melihat langsung peninggalannya membuat cerita yang pernah terjadi di masa lalu tersebut jadi lebih hidup ya Mbak Zata

  4. Wah, saya belum pernah wisata religi..padahal banyak orang-orang dari Kalimantan tour ke jawa khusus untuk mengunjungi makam wali songo..

  5. kayaknya klo yudi ada rezeki ke makam sunan muria itu, lebih baik yudi ketemu sama pedagang buahnya deh Mbak.. biar di doain yang baek2. lebih afdhol hahaha

  6. Haloo mba Evii, aku penasaraan sama buah Parjito itu, baru liat buah kayak gitu dari blog mba.. dan pundan batu itu emang semacam celengan apa gimaana kah mba heheh

    1. Saya juga kurang begitu memahami fungsi Punndan aslinya apa di sini Mbak. Waktu Kesini saya tidak bertanya. Lagi pula tidak terlihat orang yang bisa ditanyain 🙂

  7. Duuuh, aku jarang banget ikutan wisata religi kayak kamu mbak :’ hihih

    Tapi aku tertarik justru sama mitosnya mbak 😀 hihihi makan buah Parjito bisa bikin anaknya cantik dan ganteng gitu ya hihi 😀 bisaaaa ajaa awkwkw 😀

  8. aku belum pernah ke sana bundaa… tapi udah sering dengar ceritanya dari orang tua yg sdh beberapa kali ke sana.. duuh.. jadi mupeng

  9. Ceritanya seru sekali.. Semoga segera bisa terwujud ya Mbak ziarah ke semua makam Wali Songo.. Naik ojeknya kok agak seru gimana gitu ya 😀

  10. Wah, mbak Evi ini seiya-sekata dengan emakku, suka sekali berwisata religi. Ceritanya seru sekali kalau habis ke wali songo atau wali pitu atau umroh dan lain-lain bersama grup pengajiannya… sayangnya aku selalu gagal paham kalau melakukan wisata religi, hatiku belum bisa menyentuh keagungannya, yang bisa aku rasakan cuma keindahan suasananya, mungkin harus umroh dulu yaaaa…..

    1. Hahaha… kesukaan itu berdasarkan gender dan usia juga sih Mas Haris. Entah konstruksi sosial antara memang dari gen. Atau mungkin keduanya 🙂

  11. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Ternyata mbak Evi turis yang manja ya kerana naik ojek… heheh. Sangat rame pengunjung yang menziarahi makam Sunan Muria itu, Begitulah Allah memuliakan manusia jika banyak memberi manfaat kepada manusia semasa hayatnya. Tempatnya jauh juga ya mbak dan apa yang mbak fikir itu juga difikir oleh saya. kalau orang dahulu sukanya bersendirian dalam beribadah agar lebih tenang.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Wa’alaikum salam Mbak Fatimah,

      Iya orang yang berjasa selama hidupnya meninggalkan kesan yang dalam dalam sanubari ya Mbak 🙂

  12. parjito rasanay gimana tuh mbaa…klo di jawa barat atau jakarta namanya apa ya? kayaknya pernah liat di jalan seputar bogor yang jualan buah ini, buha huni bukan ya?

    1. Nah aku juga tidak tahu nama Indonesianya atau di Jakarta umumnya disebut apa, Mbak Ophi. Nama parijoto ini saya dapat dari ibu penjualnya 🙂

  13. Pengelolaannya bagus banget ya Uni Evi, puncak Colo yg teduh mendukung ziarah. Saya belum pernah ke sini, hanya ikutan tanam parijoto di pot. Salam hangat

    1. Alhamdulillah Mbak Prih. Wisata ziarah atau wisata religi di Gunung Muria ini cukup nyaman. Pengelolanya sudah bekerja dengan baik 🙂

  14. Puasa-puasa memang cocoknya wisata religi ya Bu Evi. saya malah belum pernah ke Gunung Muria. he he.
    Waduh buah buni mengingatkan saya juga pas waktu kecil, panjat-panjat pohon buah ini di tepi sungai saat main-main sama teman-teman dulu. Sekarang di wilayah saya mungkin jrang sekali ditemukan pohon buah buni.

    1. Kurang lebih masa kecil kita sama ya Mbak Dieng. Main dekat sungai atau ke kebun untuk mencari buah-buah liar. Waktu kecil saya juga menikmati buah salam 🙂

  15. Ibu bisa baca banyak versi buku sejarah mengenai tingkatan dewan Walisongo, dan kiprah perjuangan dakwahnya. Sebenarnya banyak Walisongo selain 9 yang dikenal, karena Walisongo (walisana) adalah semacam dewan ulama yang memiliki periode-periode tersendiri. Setiap wali/sunan/susuhunan memiliki karomah dan latar sejarah tersendiri mengapa mereka mendiami dan berdakwah pada tempat tertentu. Buku Babad Tanah Jawi pada beberapa bab juga sekilas menceritakan perjuangan para wali.

    Termasuk Sunan Muria, yang terkenal sakti mandraguna karena dapat mencapai padepokan pondoknya di puncak Colo kala itu hanya sekejap mata dari kaki gunung. Di jalan menuju puncak Colo tersebut Sunan Muria pernah bertarung dengan sejumlah santrinya yang membangkang karena kepincut sama istri sang Sunan.

    Dulu saya ziarah ke sini pas masih Madrasah, naik ojek RX king yang ngeri-ngeri sedap hehe.

    Terkait soal pengemis maupun pedagang asongan yg mungkin setengah memaksa, (saya sempat baca catatannya Mas Halim soal kompleks makam Sunan Gunungjati), bagi saya hal demikian sesungguhnya ujian bagi peziarah. Di kompleks Sunan Drajat, Lamongan, para peminta-minta luar biasa banyak, sekali orang dikasih, yang lain pada ngikut. Itu mereka menganggap kita “semestinya” memberikan sedekah seperti Sunan Drajad dulu yang terkenal sangat dermawan. Yang penting khusnuzon saja, soal niat/cara mereka baik atau tidak, itu hak prerogatif Allah yang menentukan 🙂

    Kalau ke Sunan Ampel, Surabaya, kabar-kabar loh Bu, siapa tahu bisa berziarah bersama 🙂

    1. Iya pernah membaca Mas Rifqy. Bawa Walisongo sebenarnya adalah suatu lembaga atau komite. Cuma yang terkenal sepertinya Wali yang selama ini disebut 9 itu ya.

      Na Pengen deh suatu saat ke Surabaya dan menjambangi makam Sunan Ampel. Asik nanti anterin ya Mas 🙂

    1. Iya kalau membandingkan makam Sunan Muria dengan makam Sunan Gunung Jati jauh banget Bedanya apa Alris. Semoga pengelola makam Sunan Gunung Jati meniru dari pengelola makam Sunan Muria ini 🙂

  16. Parjito mengingatkan saya pada satu pohon di mitologi Hindu: Parijata. Mungkin ada berkas-berkas masa klasik juga ya di sana. Hmm…
    Dan penasaran juga sama lumpang-lumpang batu bertabur uang: asalnya dari mana dan bagaimana bisa ada di sana? Nuansa religiusnya sangat terasa di sana namun untuk pengunjung nonmuslim sepertinya agak susah untuk berkunjung ke sana ya.

    1. Sebelum Islam masuk agama nenek moyang di Jawa adalah Hindu. Jangan-jangan buah parjito ini ada kaitanya dengan buah parijata, Gara…

      Mengenai non muslim Saya kurang mengerti. Memang sih umumnya yang datang kesini adalah mereka yang ingin berziarah dan berdoa di dekat makam yang pastinya dilakukan oleh kaum muslim 🙂

  17. Sepertinya pengelolaan makan Sunan Muria ini sudah profesional ya. Paling sebel kalo di tempat wisata religi begini suka banyak pengemis, tapi syukurlah disini Uni cerita nggak ada, semuanya serba rapi.

    Semoga uni juga dikasih kesempatan buat menyusuri makam para Walisongo lainnya ya 🙂

    1. Amin. Terima kasih atas doanya, Dee. Berarti ada 6 makam wali lagi yang musti di jambangi. Sultan Gunung Jati sudah waktu ke Cirebon kemarin 🙂

  18. Jadi penasaran dengan rasa dan bentuk buah Parjito. Namanya juga sepintas seperti nama orang hehehe. Lebih kusyuk yah yang beribadah, seperti komplek makam Gus Dur dan keluarganya di Jombang juga seperti makam orang penting pada umumnya, pencari sedekahnya tidak berlebihan. 🙂

    1. Rasanya Ya gitu deh, Lim. Manisnya cuma samar agak asam dan terakhir sepat di lidah. Ya mestinya makam-makam para wali atau orang penting yang sering didatangi berziarah diurus dengan seksama. Kalau kesannya rapi seperti ini orang kan juga nyaman datang berkunjung dan kalau perlu berkali-kali karena tempatnya untuk ziarah

  19. Aku agak kaget baca dan lihat makam Sunan Muria di artikel uni ini, karena kok kesannya ramai banget. Soalnya duluuuu waktu ikut ziarah ke Makam Sunan Muria (kelas 4 SD, kalau gak salah) makamnya sepi banget, dan terasa kontras dengan makam Sunan Kudus yang kebetulan berada di desa asal kakek. Mungkin karena sekarang transportasi ke makam Sunan Muria sudah lebih mudah sih ya, kalau dulu seingatku belum ada ojek, jadi harus trekking kecil dari parkiran sampai ke makamnya.

    1. Iya jalan kesana sekarang sudah bagus, Bart. Sudah begitu tempat ziarah nya juga dikelola dengan baik. Saya pikir itu penyebab mengapa banyak peziarah mendatangi tempat ini.

  20. 2006 pertama kali aku ke sini naik motor matik. Jalannya ngeri-ngeri sedab heehehhee. Selalu banyak yang berziarah ke sini, biasanya setelah dari Sunan Kudus – Sunan Muria – lanjut ke Sunan Kaligaja.

    1. Waktu ke Demak Sebetulnya saya juga ingin ke makam Sunan Kalijaga. Cuman sayang berhalangan waktu itu jadi tidak berani masuk 🙂

    1. Nah Nanti kalau aku ke Gresik aku juga mau ah ke sana. Untuk melengkapi ziarah makam Walisongo nya ya mesti ke Sunan Giri juga ya Kak Cum

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?