Festival Ogoh-Ogoh 2016 Bale Banjar Semawang

Sepuluh anak usia kelas 1 sampai 4 SD mengusung rangka bambu persegi panjang yang diatasnya terdapat patung raksasa berwajah seram. Sambil melantunkan yel-yel berbahasa Bali mereka berjalan ke tengah arena sambil menggoyang-goyangkan bambu seperti gerakan ombak. Ke kiri dan kekanan sambil terus maju.  Tapi tiba-tiba gdubraakkk… patung raksasa tersungkur dan jatuh. Mungkin karena kurang kuat ikatannya atau anak-anak ini yang terlalu bersemangat, yang jelas penonton tertawa heboh. Selamat datang di Festival Ogoh-Ogoh  2016 Banjar Semawang – Sanur Bali.

festival ogoh-ogoh 2016
Calon Arang

Menarik Minat Wisatawan

Jantung ekonomi Bali adalah industri pariwisata. Keindahan alam,  keunikan budaya,  dan karakter penduduknya yang khusus telah menempatkan Bali sebagai pintu masuk  utama wisatawan manca negara ke Indonesia. Tak heran Bali sudah beberapa kali kali mendapat penghargaan dari berbagai lembaga dan asosiasi dunia sebagai destinasi pariwisata terbaik di dunia. Tapi tentu saja mahkota pariwisata Indonesia ini tidak boleh berdiam diri. Sebab rancangan industri pariwisata Indonesia sekarang tidak hanya fokus ke Bali. Daerah  tujuan wisata lain terus bermekaran baik tingkat Propinsi, Kabupaten,  bahkan kecamatan. Indonesia sedang berbenah untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu penunjang perkembangan ekonomi. Mau tak mau masyarakat Bali terus meningkatkan layanan agar kue mereka tidak tergerus begitu saja. Salah satunya adalah membuat berbagai event tahunan yang salah satunya adalah festival  ogoh-ogoh. Apa lagi menjelang Hari Raya Nyepi bisanya Bali agak sepi. Dengan Festival Ogoh-Ogoh diharapkan kunjungan wisatawan tetap bertahan.

Dan bagi Bali tidak sulit mengemas budaya mereka yang sesuai untuk kebutuhan industri pariwisata. Bahkan yang menyangkut keagamaan tanpa merendahkan kepercayaan yang suci. Seperti teman ketahui  banyak ritual penyucian diri yang dilakukan masyarakat Hindu Bali menjelang hari raya Nyepi. 2 sampai 4 hari sebelum hari H mereka menyucikan  perangkat peribadahan lewat upacara Melasti. Lalu 1 hari  beriktunya ritual Bhuta Yadnya yaitu suatu rangkaian upacara yang termasuk di dalamnya Meprani dan Pawai Ogoh-Ogoh. Nah dari sana saja sudah menumbuhkan minat wisatawan.

Gadis-Gadis Bali moderen yang berakar kuat pada tradisi
Gadis-Gadis Bali moderen yang berakar kuat pada tradisi
festival ogoh-ogoh 2016 6
Moderen tapi merangkul tradisi
festival ogoh-ogoh 2016 8
Keterampilan gadis Bali bermain api
festival ogoh-ogoh 2016 14
Salah satu fragmen yang menceritakan Diah Ratna Manggalih

Tahun ini saya beruntung sekali. Seperti cerita dalam pos Melihat Bali Dari Dalam, pada hari pengerupukan  ikut menonton festival ogoh-ogoh  2016 bersama masyarakat Mel Sanur di Bale Banjar Semawang. Melihat dari dekat, mulai dari persiapan sampai pawai membuat saya sedikit memahami  arti upacara ini bagi masyarakat Bali.

Ogoh-ogoh sendiri adalah karya seni patung yang mewakili kepribadian Bhuta Kala, simbol dari  kekuatan alam semesta dan waktu. Wujudnya raksasa dengan tubuh dan wajah menyeramkan. Ogoh-ogoh awal  rangkanya terbuat dari  bambu kemudian dibalut jerami dan di kenakan pakaian putih. Makin kesini bahannya bervariasi mulai dari styrofoam sampai bubur kertas. Karena styrofoam yang tidak ramah lingkungan  sekarang bahan tersebut mulai ditinggalkan dan menggantinya dengan bubur kertas yang dikeraskan. Begitupun pakaiannya semakin berwarna-warni mengikuti kreativitas kelompok penggagas.

Saat menepi pertama kali di Banjar Semawang saya belum punya ide lebih dalam tentang ogoh-ogoh ini. Kalau melihat dari Youtube hanya arak-arakan patung raksasa berwajah tak menyenangkan. Apa misi dan mengapa diadakan sesaat menjelang Hari Raya Nyepi tak terpikir sama sekali. Nah saat  terlihat spanduk yang mengabarkan bahwa  pawai ogoh-ogoh mengambil tema Calon Arang, di depan Banjar Semawang saya membuka ponsel dan mencari tentang cerita rakyat ini. Menurut Tozan Mimba yang mengundang saya ke tempat ini, tema berganti setiap tahun. Bila festival ogoh-ogoh 2016 ini tentang Calon Arang, tahun berikutnya panitia akan mengganti dengan cerita rakyat laiinya.

Kesibukan para fotografer
Kesibukan para fotografer

Nah apa dan siapa Calon Arang itu? Mari kita kembali ke Cerita Rakyat Bali

Pada zaman pemerintahan Raja Airlangga di Kerajaan Kediri pada abad ke-14 tersebut lah  seorang ibu  yang dipanggil Calon Arang. Ibu ini sakti mandra guna. Ia ditakuti karena  menguasai ilmu pengeleakan atau ilmu hitam. Ibu ini juga seorang penulis dengan melahirkan  4 buku Lontar tentang pengeleakan. Bernama asli Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir yang termasuk dalam wilayah Kerajaan Kediri.

Calonarang berstatus janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah.  Rangda artinya janda, nateng artinya penguasa. Jadi Rangda Nateng girah artinya Janda Penguasa Desa Girah.

Calon Arang mempunyai seorang anak bernama Diah Ratna Manggali yang berwajah rupawan. Sayangnya tak seorangpun pemuda yang mau melamar  untuk dijadikan istri. Selidik punya selidik ternyata Manggali  dicurigai mewarisi ilmu leak dari ibunya dan bisa pula ngeleak. Jadi Siapa pula yang berani meminang kan? Pasti takut lah. Bagaimana kalau Manggali sedang bad mood bisa-bisa sang suami jadi monyet hutan nanti.

Tapi itu semua  fitnah belaka.  Diah Ratna Manggali tak ubahnya seperti gadis baik-baik biasa. Keistimewaannya hanya cantik dengan ibu yang ditakuti warga desa.

Mendengar fitnah yang tidak berdasar ini tentu saja membuat Calonarang mendidih darahnya. Sesakti-saktinya ia, hatinya tetap lah seorang ibu. Ingin anaknya menikah, mempunyai keluarga dan bahagia. Ibu mana yang tahan membayangkan putrinya yang  jelita ini akan hidup seorang diri seumur hidupnya. Itu lah yang jadi alasannya membalas dendam kepada rakyat Kediri. Emang dasar ya Calon Arang berhati jahat, bersama murid-muridnya ia mulai menebar kutuk  kepada seluruh rakyat Kediri berupa penyakit yang berujung pada  kematian.

Kabar keganasan Calon Arang akhirnya sampai  ke telinga Raja Airlangga. Ia  memerintahkan seorang pandai Sakti bernama Ki Patih Madri untuk membinasakan Calon Arang. Sayangnya Ki Patih kalah dalam misinya. Akhirnya dikirim lah Mpu Bharadah  sebagai senjata pamungkas. Ia menggunakan ilmu sakti paling kuno sejagad, setua umur manusia itu sendiri, yakni tipu muslihat. Ia kawini Ratna  Manggalih kemudian  begitu dapat kesempatan ia curi rahasia kesaktian Calon Arang…

Calon Arang
Calon Arang

Festival Ogoh-Ogoh 2016 Mel Sanur di Banjar Semawang

Jadi begitulah pada Sandi Kawon  ( sore menjelang malam sebelum Nyepi) masyarakat  Hindu Bali melakukan ritual  Mage Gobok yaitu mengelilingi pekarangan rumah sambil membawa  obor, memperdengarkan bunyi-bunyian, dan memercikan tirta suci untuk  menetralisir kekuatan negatif  atau kejahatan. Setelah itu bersama dengan  ogoh-ogoh mereka bergerak keluar halaman. Lalu  secara bersama-sama dengan penduduk banjar  lainnya mengaraknya di jalan raya dan menuju ke suatu tempat. Pada akhir acara, sekitar pukul 12 malam, i semua ogoh-ogoh akan dibakar. Semua lampu dimatikan dan Nyepi pun di mulai.

Festival Ogoh-Ogoh 2016  ini diselenggarakan oleh lima Banjar yang tergabung dalam Mel Sanur.  Mereka adalah Banjar Batujimbar, Banjar Tanjung, Banjar Blanjong, Banjar Betngandang, dan Banjar Semawang. Diadakan setiap tahun dengan bergiliran setiap banjar. Tahun ini yang jadi tuan rumah adalah Banjar Semawang.

Sejak awal saya perhatikan bahwa pawai  ogoh-ogoh 2016   hampir seluruhnya dikerjakan oleh kaum muda. Kalaupun melibatkan kaum tua hanya lah sebagai penasehat atau koordinator. Menurut saya ini sebuah transformasi tradisi  yang sangat mulus. Kelak anak-anak dari generasi muda ini pun akan meneruskan pekerjaan ayah atau ibu mereka.  Tidak perlu belajar atau diperkenalkan karena sosialisasinya telah berlangsung  sejak kecil dan setiap hari.  Ah soal melestarikan adat istiadat, Bali memang patut dipujikan.

Sesaat sebelum pawai ogoh-ogoh 2016 dimulai
Sesaat sebelum pawai ogoh-ogoh 2016 dimulai
festival ogoh-ogoh 2016 3
Mengusung raksasa untuk menggusur kekuatan negatif yang melingkupi alam semesta
festival ogoh-ogoh 2016 4
Ogoh-ogoh di arak dengan diayun-ayunkan seperti gelombang
festival ogoh-ogoh 2016 9
Sang Bhuta Kala menatap kematian di depannya

Sesuai temanya, Calon Arang,  maka para peserta pawai ogoh-ogoh dari  5 lima banjar  mengikuti fragmen-fragmen yang terdapat  dalam cerita. Dengan sabar Mereka berkumpul di sebelah timur panggung. Setiap banjar membawa ogoh-ogoh utama dengan beberapa ogoh-ogoh pendamping.  Berikut urut-urutan penampilan dengan judul masing-masing :

A. Banjar  Batujimbar  : Geseng Waringin. 

Ogoh-ogoh pendamping :

  1.   Walunateng Dirah
  2. Celuluk Sisya Sang Murka
  3. Jatna Ngalaran Ajian Ugig
  4.  Sanghyang Sandikala
Banjar Batujimbar
Banjar Batujimbar

B. Banjar Tanjung : Jaya Dijaya Ki Balian Batur

Ogoh-ogoh pendamping:

  1. Celurang
  2. Sang Kalika Maya
  3. Ratna Manggali
Banjar Tanjung
Banjar Tanjung

C. Banjar Blanjong : Ngelekas Penestian Legu Gondong

Ogoh-ogoh pendamping:

  1. Tawur Kesanga
  2. Lenda-Lendi
  3. Celuluk Duka
  4. Bererong Alas
  5. Dadong Cincin
  6. Panugarahan Sang Hyang Durga
banjar blanjong
Banjar Blanjong

D. Banjar Betngandang: Kalika Maya

Ogoh-ogoh pendamping:

  1. Rangda Duta
  2. Celuluk Poleng
  3. Durga Kali
  4. Pemangku Katundung Nating Dirah
  5. Ke Utus Rarung
Banjar Betngandang
Banjar Betngandang

E. Banjar Semawang: Niscaya Lingga Nircaya Lingga

Ogoh-ogoh pendamping:

  1. Rarung
  2. Dadong Sudamala Memunyah
  3. Kalika Maya
  4. Sang Dewi Datu
Banjar Semawang
Banjar Semawang

Sekitar pukul setengah dua belas malam akhirnya seluruh peserta pawai menuntaskan pekerjaan mereka. Terbersit rasa  puas dan bahagia  pada wajah mereka. Kebahagiaan jadi  meningkat bagi kontingen yang memperoleh juara pertama. Begitu pun yang mendapat door prize berupa voucher hotel dan restoran yang bertaburan sepanjang acara berlangsung.

Satu persatu mengundurkan diri. Berhubung cuaca tidak mengijinkan, angin bertiup agak kencang sementara cottages di sepanjang pantai Sanur terbuat dari kayu, pembakaran ogoh-ogoh Mel Sanur tahun ini ditiadakan. Saya beringsut kembali menuju Sukun Bali Cottages, tempat menginap, sebelum lampu-lampu jalanan dimatikan.

Yang muda yang meneruskan tradisi
Yang muda yang meneruskan tradisi
festival ogoh-ogoh 2016 20
Selamat bertemu dengan Festival Ogoh-ogoh 2017

 

58 thoughts on “Festival Ogoh-Ogoh 2016 Bale Banjar Semawang

    1. Iya Mbak Rita, ramai banget. Walau acara ini diadakan di tingkat Banjar ternyata dapat perhatian luas dari wisatawan maupun penduduk Banjar sekitar sendiri.

  1. Bali ini memang kaya warna dan budaya ya bu Evi, kemanapun mereka pergi budayanya selalu dibawa. Benar-benar mengakar turun temurun. Tiap tahun di kota Bandar Lampung ada festival ogoh-ogoh diadakan di pusat kota. Tapi belum maksimal pemasarannya menurutku..

    1. Mas Yo, itu mungkin Salah satu alasan mengapa wisatawan berduyun-duyun datang ke sana. Budaya atau cara hidup mereka relatif tidak berubah sejak beratus tahun yang lalu. Adat istiadat yang bersatu dengan agama atau kepercayaan sangat kental dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

      Iya di Lampung banyak penduduk Bali nya. Mereka juga membawa pindah semua tradisi yang mereka praktekkan di Tanah Leluhur. Jika kurang Maria festival ogoh-ogoh nya mungkin hanya karena penduduknya tidak sebanyak yang di Bali 🙂

  2. semarak parade ogoh-ogoh..
    cerita Calon Arang masa kecil dulu bikin agak merinding he..he..

    Bali yang masih kental dengan tradisi juga mau memasukkan unsur modern ya..
    gadis-gadisnya jadi makin cantik

    1. Bali sudah moderen sangat, MM. Dan yang mengagumkan itu adalah ketika masyarakatnya masih menjalani keseharian mengikuti nilai-nilai tradisionla 🙂

  3. Keren ya festival Ogoh-Ogoh di Bali, penontonnya juga banyak orang bule artinya mereka tertarik dengan budaya Indonesia, orang Indonesia harus bisa melestarikan Budaya 🙂

    1. Festival ogoh-ogoh di sana Ini kemarin memang banyak mendapat perhatian dari wisatawan asing. Memang tidak salah jika dibuat setahun sekali untuk menarik wisatawan agar lebih banyak datang ke Sanur 🙂

  4. Cerita rakyat yg dikemas apik dalam ogoh2. Inilah yg menjadikan Bali istimewa. Budaya turun temurun tetap di pertahankan sebagai identitasnya dan tidak hanya mengandalkan wisata alamnya saja. Mmm…salut dengan pemuda2 Bali ya bu.

    1. Betul banget Mas Inggit. Sehari-hari mereka hidup dalam tradisi dan melestarikan tradisi nenek moyang. Jadinya dilihat dari sudut pandang mana saja keunikan mereka susah ditandingi 🙂

  5. Seru banget ya acaranya mbak tp kayanya agak2 serem gitu ga sih? Keinget jaman SMA liat barongan tu di Bali jg banyak yg kesurupan jd rada2 gmn kalo mo nonton acara kaya gini tp seneng liat kostumnya yg meriah

    1. Saya kemarin tidak mengambil video Mbak Muna. Kalau ada video kan bisa pamer juga bagaimana acara berlangsung saat itu. Penuh kegembiraan, penuh suara-suara musik, dan antusiasme disekeliling. Jadi tidak ada seram-seram nya sama sekali 🙂

    1. Betul Firsty. Calonarang tetap seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ini juga Sisi kelemahannya yang dimanfaatkan oleh mpu Bhadarah untuk mengalahkannya 🙂

  6. Bali dan masyarakatnya, memang selalu menjaga tradisi yang juga bagian dari keyakinan mereka,, Membuat ogah2 dan pernak pernik lain utk upacara kan perlu ketelitian, yang muda ternyata sudah menerima semunya dr kecil yaa.

    1. Tradisi yang terus dipakai akan Lestari secara otomatis ya Uni Salma. Yang seperti ini perlu dicontoh oleh seluruh suku suku etnis yang ada di Indonesia 🙂

  7. Ternyata Festival Ogoh itu tematik to Mbak. Karena wujudnya sering mirip butho gitu, kupikir ajeg. Tahun 2017 nanti temanya apa ya? Layak ditunggu nih

    1. Buthonya tetap tapi temanya berganti-ganti setiap tahun Mbak Susi. Mungkin karena dari segala aspek kehidupan kita mempunyai sisi butho yang perlu dibersihkan 🙂

  8. Makasih banyak Mbak Evi. Lengkap banget postnya Mbak. Jadi kayak jalan-jalan ke sana dan lihat sendiri. Memang benar Mbak, dibutuhkan event tahunan untuk jadi penyuplai darah industri pariwisata di Bali dan mengagumkan memang bagaimana Bali tetap memertahankan budaya dan tradisinya dengan menyesuaikan kebutuhan pariwisata di sana.

    1. Betul Mas Dani. Event tahunan membantu suatu destinasi wisata tetap uptodate dalam informasi. Kalau hanya mengandalkan alamnya saja orang tidak punya alasan untuk datang berulang-ulang.

  9. di bali ritual keagamaan jadi obyek wisata kayanya masih oke
    ga kaya di borobudur waktu waisyak
    yg cuma nonton aja rasanya pengen nyambit tripod ke pengunjung..

    1. Nah ya yang upacara Waisak di Borobudur wisatawannya brutal. Entah ke salahannya di mana. Tapi tahun ini kelihatnnya lebih baik Kang Rwins. Setidaknya tidak ada komentar negatif di sosial media 🙂

    1. Iya Bali berhasil mempertahankan tradisinya sekalipun mereka hidup di dunia modern, Om. Dan gadis-gadis cantik ini adalah pewaris tradisi tersebut

  10. Dulu tuh aku takut kalo lihat muka si Calon Arang, terlihat banget ia menjiwai karakternya. Itu dulu, hihiii. Aku belum pernah lihat festival ogoh-ogoh. Kalo melihat proses pembuatannya sih pernah. Tapi saat pawainya, pas aku balik ke Semarang. Pengen banget bisa kesana saat ada festival gini.

    1. Iya Calon Arang di berbagai event digambarkan dengan wajah menyeramkan ya Mbak Hidayah. Tipikal penggambaran tokoh tokoh di masa lalu. Padahal kalau di film-film sekarang tokoh tokoh jahat sekalipun berwajah rupawan 🙂

  11. Tahun depan saya dan beberapa teman memang berencana datang ke bali untuk motret di festiv ogoh2 ini. Tulisan yang menarik, salam kenal mbak Evi

    1. Festival ogoh-ogoh salah satu objek yang sangat menarik untuk dipotret Mbak turis cantik. Selain menontonnya menambah wawasan untuk kita. Saya juga kepengen lagi melihat festival ogoh-ogoh Bila Ada Kesempatan.

      Terima kasih sudah mampir dan salam kembali 🙂

  12. udah lama g kunjung k blognya Mba Evi nih. hehe. jadi rindu tulisannya.
    Menarik Mba Ogoh2. Kalau menjelang Nyepi, aku cukup jalan dari rumah untuk melihat ogoh2. Tempat pembakaran juga dekat rumah. Seru2 gimana gitu. paling suka kalau liat ogoh2 besar. haha. btw, kalau ke Bali. mampirlah rumahku di Buleleng

    1. Jadi keluarga Mas Hanif tinggal di Bali ya? Siap kalau ke Bali lagi dan Mas Hanif kebetulan ada di sana, Insya Allah aku mampir. Makasih ya Mas 🙂

  13. bali memang terkenal dengan upacara budaya nya yang sakral sekaligus memberikan suasana yang gabisa dicari di tempat lain ya, yang berpartisipas di upacara ini ternyata ramai juga ya. semoga warisan ini terus jdi budaya indonesia yang unik ya. visit diskusiaja.blogspot.com ya referensi wisata alam yogyakarta 🙂

    1. Belum tamat alias menggantung ya? Dan seperti moral of the story semua cerita, Kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan. Calon Arang meninggal ditangan Mpu yang melawan nya

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?