Wisata Pendidikan di Kawasan Batu Hijau

wisata pendidikan di kawasan batu hijau
Beraksi bersama blogger femes

Kabupaten Sumbawa Barat | Ketika Sahabat JEI  memikirkan tentang piknik, apa yang terlintas di kepala? Petualangan, udara segar, makanan enak, mengenal budaya baru, atau bersama keluarga atau teman-teman menikmati bentang  alam yang indah?  Apapun definisi piknik yang tersimpan di kepala biasanya  laut dan gunung jadi refrensi utama tatkala  kita merencanakan liburan. Minimal untuk saya pribadi itu yang sering terjadi. Jadi tak heran bila cukup banyak post di blog ini yang bercerita tentang piknik alam. Dan kali ini saya akan bercerita tentang piknik alam yang lain dari biasanya, jalan-jalan ke  Open Pit Mining Batu Hijau, mengunjungi area reklamasi,dan melihat ruang simulasi kendaraan berat. Sekalipun lokasinya tidak seterbuka jika kita pesiar ke Tangkuban Perahu  yang kapan saja boleh datang, ke kegiatan wisata pendidikan di Kawasan Batu Hijau harus mengikuti peraturan tertentu. Dan lebih penting lagi pihak PT Newmont Nusa Tenggara bersedia menerima kita sebagai tamu mereka.

Terus bagaimana rasanya pergi piknik ke area pertambangan? Pasti unik lah.  Apa lagi ini  bukan  tambang yang sudah tak terpakai lalu beralih jadi tempat wisata. Batu Hijau merupakan  tambang yang masih beroperasi, lengkap dengan berbagai kesibukan di dalamnya.

Open Pit Mining Batu Hijau
Open Pit Mining Batu Hijau

Tentang Open Pit Mining

Sebenarnya  apa sih yang disebut Open Pit Mining itu? Open pit mining didefinisikan sebagai tambang terbuka melalui  proses penggalian atau pemotongan permukaan tanah dengan memindahkan sejumlah besar batu  ke tempat lain. Bertujuan mengambil bijih (ore) yang mengandung mineral berharga yang terkandung di dalamnya. Lubang penggalian tersebut  tetap di biarkan terbuka sampai semua cadangan mineral habis atau berakhirnya satu kontrak karya.

Kawasan di muka Pit Batu Hijau
Kawasan di muka Pit Batu Hijau

 Kawasan Batu Hijau Secara Umum

Kawasan Batu Hijau adalah Open Pit Mining yang kontrak karyanya dimiliki oleh PT. NNT. Dan saya menyebut bahwa jalan-jalan di sekitar kawasan  Batu Hijau ini lebih tepat disebut  sebagai wisata pendidikan. Seperti kita tahu wisata pendidikan adalah kegiatan perjalanan dengan  tujuan utama pembelajaran atau memperoleh pengetahuan tentang subjek tertentu. Dengan kata lain wisata pendidikan tidak menekankan tentang  pengalaman bepergian itu sendiri melainkan pengetahuan yang di dapat setelahnya.

 Pagi pertama keberadaan saya di Batu Hijau akan diawali tour ke Open Pit Batu Hijau, yang kalau dilihat dari atas bentuk galiannya bulat dengan lingkaran-lingkaran dinding seperti obat nyamuk bakar jaman dahulu. Tapi sebelumnya kami dibawa ke Mining Site terlebih dahulu untuk menerima beberapa informasi mengenai gambaran umum tentang Batu Hijau. Kami diterima oleh Pak Budianto seorang Senior Specialist Mining Compliance, penanggung jawab standarisasi infrastruktur Batu Hijau.

Tiba stasiun ini untuk menerima briefing tentang Batu Hijau
Tiba stasiun ini untuk menerima briefing tentang Batu Hijau
Presentasi oleh Senior Specialist Mining Compliance -  Budianto
Presentasi oleh Senior Specialist Mining Compliance – Budianto. Foto NNT
Foto Keluarga Newmont Bootcamp Batch 5
Foto Keluarga Newmont Bootcamp Batch 5 – Foto NNT

Sejarah Pit Batu Hijau

Sebelumnya saya tidak mengenal istilah Pit, apa lagi cara membuat dan kegunaannya. Mendengarkan Pak Budianto menyajikan presentasi tentang Batu Hijau saya seperti dibawa menjelajahi lorong sejarah bagaimana pertambangan dibuat. Dimulai dari eksplorasi, menebang kayu, mengupas permukaan tanah yang subur untuk disimpan di stock soil. Tanah ini nanti akan digunakan kembali saat proses reklamasi.  Kemudian pada tahun 1990 mulai membuat  1 titik pengeboran pertama. Tahun 1994 sudah terlihat beberapa titik pengeboran guna meninjau deposit mineral. Tahun 1997 wajah Batu Hijau semakin terpapar dengan dimulainya pengelupasan awal dan tahap konstruksi.  Selanjutnya saya dibawa memasuki tahap pengerjaan Pit pada  tahun 2002. Dari sana Pit dilebarkan sedikit demi sedikit sampai ke bentuk terakhirnya nanti dengan diameter  2.8 Km – 3 Km . Saat ini  elevasi   sudah sampai di minus 240 meter (di bawah permukaan laut) dan nanti akan mencapai minus 435 meter. Wow lebar dan dalam! Karena dianggap hanya punya satu lokasi ekonomis maka Batu Hijau hanya memiliki satu Pit (Lubang) ini saja.

Saya pikir selama ini menambang itu adalah pekerjaan mudah. Gali bukit atau pegunungan, tebas batu, hancurkan, jadi deh kalung atau cincin emas yang saya kenakan. Siapa sangka ternyata proses penambangan  ruwet dan berliku seperti hatimu yang sedang kusut. Terutama industri tambang legal yang harus taat pada semua undang-undang dan peraturan. Mereka tidak serta merta boleh membuka tanah lalu menggali dan membuat Pit. Terdapat puluhan bahkan ratusan proses awal yang membuat saya pun jadi mengerti mengapa penambangan jadi industri mahal. Setelah beres semua urusan dengan pemerintah, operasi tambang itu sendiri diawali oleh perencanaan tambang yang disebut dengan pemodelan geologi. Ini untuk mengetahui lokasi mineral berharga dan seperti apa pula distribusinya. Pak Budianto memperlihat  gambar contoh distribusi batu dengan kadar tembaga 5 persen. Artinya terdapat 5 kilogram tembaga dari tiap ton batuan. Semakin dekat dengan permukaan tanah kadar logamnya semakin kecil.

Infrastruktur tambang Batu Hijau
Infrastruktur tambang Batu Hijau
Fase-fase keluasan dan kedalaman pit
Fase-fase keluasan dan kedalaman pit

Open Pit Batu Hijau

Penjelasan dari Pak Budianto membuka beberapa selubung di otak saya. Namun tetap saja  butuh waktu lama untuk mencerna. Dengan pengetahuan samar-samar itu saya  mengikuti teman-teman kembali bus untuk  mengunjungi Sang Primadona, Open Pit Batu Hijau.

Menyusur lahan luas, jalan bertabur kerikikil halus, di kiri atau kanan terlihat tebing-tebing yang sudah terkelupas. Ada juga tumpukan-tumpukan batu menyerupai bukit yang dianggap sebagai waste karena tidak mengandung ore. Semua tertata rapi. Sekitar 15 menit kemudian sampai lah di satu cerukan maha besar. Kalau teman-teman melihatnya lewat peta satelit Google bentuknya seperti obat nyamuk yang saya sebutkan tadi.  “Selamat datang di Open Pit Batu Hijau” Bisik saya pada diri sendiri. Untuk mengamati di sediakan satu menara pandang yang di sebut Look Out Pondok.

Open Pit Batu Hijau dari dekat bentuknya persis seperti mangkuk. Dindingnya miring dengan teras-teras (bench) yang masing-masing dengan ketinggian 15 meter, kemiringan 65-70 derajat,  tampak seperti spiral-spiral yang mengelilingi lingkar mangkuk. Di dasar mangkuk terlihat genangan air berwarna kebiruan. Walau dari jauh kemiringan terlihat merata, aslinya tak demikian. Kemiringan dibuat berbeda mengikuti jenis batuan yang beragam dan struktur geologi yang berbeda di Batu Hijau. Karena itu lah lubang ini dibagi beberapa domain. Contohnya domain utara (domain satu)  yang didominasi batuan Zeolit dimana kondisinya terlapukan yang membuat warnanya lebih coklat dari yang lain. Jadi kemiringan disini harus dibuat lebih landai dibanding sisi lain yang batuannya lebih kuat.

Kemudian saya lebih memahami lagi mengapa tembaga dan emas itu jadi inceran para pencuri. Iya harganya mahal, bok! Nah untuk menghadirkannya siap dipakai biaya operasi penggalian ternyata tidak sedikit. Contohnya untuk pit ini saja tak cukup hanya menggunakan model data geologi dan geoteknik yang melibatkan ilmuwan  juga harus menggunakan data harga logam yang sedang berlaku.

Suhu Sumbawa memang cenderung panas. Di tambah lagi kami berada di tempat terbuka, matahari rasanya langsung menyorot ke atas kepala. Untungnya langit Sumbawa begitu cantik. Biru dengan gurat putih membuat saya melupakan panas yang membakar kulit.  Saya terus menerus mengintip ke bawah menggunakan lensa camera yang terbatas kemampuannya. Tapi senang setidaknya  bisa melihat sedikit aktivitas di bawah. Di area loading point tampak shovel sedang memuat batuan ke atas haul truck. Tiap 3 bucket memuat isi 240 ton batu. Lalu beberapa haul truck sedang menyisir jalaur angkut menuju lokasi crusher (penghancuran batu menjadi butiran kecil).  Dari crudher melalyi belt conveyor batu hancuran baru ditranfer ke processing plant. Di tepi jalur pengangkut juga terlihat instalasi pipa dan beberapa peralatan.

Jalan menuju pit
Jalan menuju pit
Tak ada lampu merah namun yang melintas di simpangan tahu siapa yang harus maju terlebih dahulu. Kendaraan besar tentu saja
Tak ada lampu merah namun yang melintas di simpangan sudah tahu siapa yang harus maju terlebih dahulu. Kendaraan besar tentu saja…
Shovel yang sedang asyik bekerja. Dasar pit berair biru terang dengan kandungan asam tinggi
Shovel yang sedang asyik bekerja. Dan dasar pit berair biru terang dengan kandungan asam tinggi
Dua buah haul truck bermuatan 240 ton batuan sedang menyisir jalan curam di sepanjang  dinding pit menuju crusher
Dua buah haul truck bermuatan 240 ton batuan sedang menyisir jalan curam di sepanjang dinding pit menuju crusher
Benches. Beda zone beda derajat kemiringan dindingnya
Benches. Beda zone beda derajat kemiringan dindingnya

Itot  dan Lepasnya Stigma Gender

Untuk mengangkut batuan dari dalam pit menuju crushesr dibutuhkan kendaraan super besar  haul truck. Dengan tinggi 6 meter, lebar 7,5 meter,  panjang 13 meter,  berkapasitas 240 ton sekali angkut, wajarkan bila kesan yang ditimbulkannya macho sekali. Bannya saja mungkin tiga kali dari tinggi tubuh saya. Dan PT NNT mempunyai 111 alat semacam ini.

Yang menarik   adalah PT Newmont Nusa Tenggara telah melepas stigma gender dalam hal penempatan karyawan. Wanita tidak melulu ditemukan di kantor tapi juga di lapangan bersama rekan-rekan pria mereka.  Kehadiran wanita muda bernama Ritawati atau dengan panggilan akrab Itot salah satu contoh. Bersama 7 orang rekan wanita lain Itot  membuat area tambang dapat sentuhan feminim. Hebatnya sekalipun tubuh Itot kekar tidak itu tidak membuat dia berpenampilan seperti kelaki-lakian. Setiap hari bolak-balik naik turun pit yang membutuhkan waktu 40 menit sekali jalan, duduk di belakang ke kemudi kendaraan raksasa itu tetap membuat Itot sebagai wanita . Ia berjilbab, tertawa, menampilkan sosok perempuan cantik dengan bedak dan gincunya.

Tak heran kan begitu mengetahui kehadiran Ritawati diantara kami, teman-temanpun segera menyerbu dengan berbagai pertanyaan. Kok  ya bisa-bisanya ia melamar pekerjaan “penuh kekerasan” seperti itu dan telah berlangsung  selama tiga tahun pula?  Apa tidak takut? Apa keluarganya mengijinkan?

Bukannya Itot tidak tidak takut. Apa lagi saat hujan deras dan jalanan menjadi licin, tantangan pekerjaan pun kian meningkat. Tapi memang begitu lah, untuk profesi yang ia cintai rasa takutnya berubah menjadi kehati-hatian mengikuti standar keselamatan yang sudah ditetapkan NNT. Sedang dari keluarga tidak ada larangan walau sempat membuat ibunya shock saat tahu pertama kali.

Itot dan Gerald - Foto NNT
Itot dan Gerald – Foto NNT
Itot, Pelangi, dan Bunda Intan Rosmadewi - Foto NNT
Itot, Pelangi, dan Bunda Intan Rosmadewi – Foto NNT
Happy ramai-ramai di depan haul truk
Happy ramai-ramai di depan haul truk
Ibu presiden dadah-dadah turun dari haul truck
Ibu presiden dadah-dadah turun dari haul truck

Mengupas, Menggali, dan Menghijaukan Kembali

Isu utama dalam setiap penambangan adalah dampaknya terhadap lingkungan. Bagaimanapun penebangan pohon-pohon dan mengelupas permukaan tanah untuk menyimpan puing-puing harus dilakukan. Belum lagi kegiatan menggali  yang menimbulkan  perlukaan terhadap wajah bumi. Kemudian ada bahaya yang mengintai seperti erosi,  dampak buruk dari lubang-lubang pembuangan limbah , hilangnya keanekaragaman hayati,  kontaminasi  terhadap tanah, air, dan sungai  oleh bahan kimia yang digunakan dalam proses pertambangan. Potensi kerusakan lingkungan berikutnya adalah pencemaran akibat kebocoran bahan kimia yang akan berakibat buruk  terhadap  kesehatan penduduk lingkar tambang.   Di tambah  lagi punahnya beberapa jenis hewan yang mendiami kawasan tersebut.

Tapi tentu saja mengambil kandungan mineral berharga yang terdapat di dalam kawasan tersebut juga tidak salah.  Peradaban kita tidak akan seperti sekarang tanpa hasil penambangan ke dalam perut bumi. Logam, minyak, dan batu bara telah membuka gerbang terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menghantar kita ke pintu seperti sekarang.

Untuk meminimalisir dampak buruk terhadap lingkungan negara terlibat terlibat dalam berbagai aspek. Melahirkan undang-undang lingkungan dan mengawasi penerapannya. Undang-undang mewajibkan tiap perusahaan pertambangan mengikuti kode etik tata lingkungan, rehabilitasi, sekaligus memastikan daerah bekas ditambang dikembalikan dan ditutup seperti ke keadaan semula.

Di kesempatan lain saya akan menulis bagaimana Newmont menangani air dan menempatkan tailing sebagai limbah tambang ke dalam lautan. Sementara ini akan saya ceritakan tentang reklamasi terlebih dulu.

Iya   tanpa harus menunggu semua operasi selesai, PT. Newmont Nusa Tenggara langsung mereklamasi lahan-lahan yang sudah tidak digunakan. Mereka menyebutnya sebagai program penataan ulang. Salah satu area reklamasi itu adalah East Dam Tongoloka yang terletak Kecamatan Sekongkang. Ke sana lah destinasi kedua kami dalam  wisata pendidikan Batu Hijau yang kedua hari itu.

Di dalam presentasi sebelumnya pak Buadianto sudah menjabarkan bahwa saat pembukaan lahan mereka menyimpan tanah kerukan di soil stock pile. Tujuannya  untuk reklamasi. Hari itu kami dibawa memasuki East Dam Tongoloka yang menggunakan tanah dari soil stock pile tersebut. Digunakan untuk menimbun  waste stock pile- batu-batu sisa pertambangan yang tak mengandung logam berharga- yang telah ditata membentuk bukit-bukit dengan kemiringan tertentu.

 East Dam Tongoloka Ini adalah satu bagian dari 770 Ha yang telah direklamasi oleh PT NNT. Kegiatannya sendiri sudah dimulai tahun 2005  dengan menanam kembali ratusan jenis pohon asli kawasan ini. Pemandangannya sungguh permai.Di sebelah kanan terlihat tumpukan batu dengan cerukan dalam ke bawah. Sementara di sebelah kiri hutan hijau dengan latar belakang langit biru bersih. Beberapa ekor elang bondol terbang beriringan, hilang timbul diantara tajuk pepohonan. Terdapat sekitar 178 jenis burung di kawasan Batu Hijau

Begitu lah. Menghijaukan kembali  alam  melalui reklamasi, telah  membuat beberapa satwa kembali menemukan habitatnya. Selain burung elang  bondol yang saya lihat terbang di atas, terdapat beberapa satwa lain dalam lahan hutan reklamasi ini. Antara lain monyet, ayam hutan, babi hutan dan beragam burung seperti  blekok sawah, elang alap-alap coklat dan kakaktua jambul kuning. Yang terakhir dikenal sebagai satwa endemik di hutan kawasan Sumbawa Barat.

Melihat penampilannya saya tidak mengira bahwa hutan di sebelah kiri itu adalah  hutan reklamasi. Vegatasinya padat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Mengembalikan hutan seperti sedia kala ternyata tidak murah. Sekali reklamasi yang meliputi sekitar 30 hektare  lahan butuh biaya sekitar USD 7 juta. Digunakan untuk menata ulang kontur tanah,  membeli  pupuk, bibit tanaman, dan ongkos tenaga kerja.

Kawasan reklamasi Tongoloka
Kawasan reklamasi Tongoloka
3 ekor elang tengah menari di udara
3 ekor elang tengah menari di udara
Kami pantas bergembira di kawasan yang sudah hijau kembali
Kami pantas bergembira di kawasan yang sudah hijau kembali 
Welcome to Mining Batu Hijau Sumbawa
Welcome to Mining Batu Hijau Sumbawa

Proses Reklamasi di Batu Hijau

Proses reklamasi itu berlangsung seperti ini: Di tahap awal  membentuk kontur lahan dengan kemiringan 21 derajat. Setelah itu ditimbun dengan sub-soil, dipadatkan hingga dapat ketebalan  tanah  2.25 meter di bagian lereng dan 2 meter di bagian flat area. Sebagai media tumbuh tanaman, di atas permukaan sub-soil ditambahkan top soil dengan ketebalan setengah meter. Untuk mencegah longsor saat hujan top soil di tutup jaring coconet yang terbuat dari sabuk kelapa. Setelah itu baru di semprotkan bibit tanaman cepat tumbuh seperti padi. Setelah top soil semakin subur baru ditanam pokok tanaman keras seperti pohon Ipil (Merbau) atau tanaman lain penghuni habitat asli Hutan Sumbawa. Sebelas tahun tahun kemudian saya menyaksikan sendiri hutan reklamasi itu sudah kembali hijau royo-royo.

Menanam pohon di area reklamasi
Menanam pohon di area reklamasi

Simulasi Haul Truck

Selama mengikuti kegiatan Newmont Bootcamp Batch 5, hari-hari memang padat oleh wisata pendidikan kawasan Batu Hijau. Di hari pertama tanggal 15 Februari saja 3 destinasi yang kami sambangi. Open Pit, Area Reklamasi, dan sekarang tiba saatnya mengunjungi gedung Simulasi, tempat mbak Itot berlatih menggunakan simulator  selama satu bulan. Setelah dinyatakan lulus dan mendapat SIM khusus baru diijinkan mengendarai haul truck yang sebenarnya di lapangan.

Saya sendiri tidak ikut mencoba simulasi tapi mengamati saat teman-teman melakukannya.  Dari hal yang serius tiba-tiba ruang simulasi berubah jadi semacam ruang game yang heboh. Saya mengamati satu persatu aksi mereka yang mencoba simulator. Ada yang sangat berhati-hati membawa kendaraannya, seolah benaran sedang “melamar” jadi pengemudi ke Newmont.  Apa lagi saat hujan yang membuat jalan terjal itu  jadi licin, terpeleset sedikit saja akan membuat kendaraan berharga milyaran itu terperosok ke tebing bersama seluruh muatan dan pengemudinya. Entah bagaimana jadinya bila kendaraan bermuatan batu 240 ton itu benaran terguling sampai terguling atau membentur dinding Pit yang terjal. Tapi yah namanya “anak-anak” yang sedang bermain, ada juga yang dengan sengaja  menabrakannya ke tebing. “sok atuh ini kan cuma simulasi” Katanya. Dan melihat hasilnya siapapun takan mengiinginkan itu terjadi di lapangan.

Di ruang simulasi
Di ruang simulasi – Foto NNT

Begitu lah sekelumit pengalaman hari pertama mengikuti Newmont Bootcamp 5. Sampai ketemu dengan cerita pengalaman saya berikutnya Sahabat JEI

90 thoughts on “Wisata Pendidikan di Kawasan Batu Hijau

  1. Asyik ya mbak, wisata sambil mendapatkan sesuatu ilmu yang baru,,,, Yang penting dapat izin untuk memasukinya, kita udah bisa ke Kawasan Batu Hijau ini ya? pengalamannya bener – bener unik 🙂

    1. Wisata tambang memang bakal dapat pengetahuan banyak Mas Anis. Iya yang penting itu, kita dapat ijin masuk oleh perusahaan untuk mengetahui aktivitas mereka 🙂

    1. Ah iya baru ingat sekarang..Waktu pertama lihat ke sini kok ya aku akrab ya dengan pemandangannya. Ternyata lewat sentuhan Spiderman 2 🙂

  2. Mantap nih uni, liputannya lengkap termasuk bagian “mempertanggungjawabkan kembali” pada lingkung melalui proyek reklamasi. Aku tunggu artikel selanjutnya tentang pengelolaan tailing nya yang dialirkan ke lautan.

    1. Terima kasih Bart. Idealnya setiap korporasi besar memang harus begini ya, setelah melukai terus membalut kembali lahan galian. Bentuk mungkin sudah berbeda. Tapi manfaatnya terhadap lingkungan tetap.

      Insya Allah nanti juga menulis tentang penempatan tailing, Bart. Tunggu ya 🙂

  3. Wah.. Kunjungan sehari yang menyenangkan ya, mbak. Saya dl suka heran, ada perempuan yg kerja di pertambangan bahkan mengendarai kendaraan besar. Tp melihat sdh tidak diberlakukannya gender di sana tetapi kemampuanlah yg dinilai, sy jd percaya bahwa wanita jg memiliki peran di sana 🙂

    1. Untuk sampai level tertentu wanita tidak bisa diragukan ketangguhannya ya Mbak Ria. Pertama kali tahu tentang Itot aku terkejut juga. Lah kok NNT berani juga membuka lowongan untuk wanita ya..Terbukti mereka baik-baik saja tuh 🙂

  4. serem ya liat open pit nya, kita truk sebesar itu aja keliatan kecillllll banget, berarti seberapa luas pitnya,

    semoga reklamasinya bisa lancar.. balik hijau semua

    1. Nanti dari utara ke selatan panjangnya bisa sampai 3 kilo Mas Puputs. Iya kita harapkan reklamasi tetap berjalan untuk lahan-lahan yang sudah tak terpakai. Begitu penambangan selesai, tempatnya jadi hutan kembali 🙂

  5. Wuihhhh wisata mining di Sumbawa Nusa Tenggara Barat ini menyimpan sejuta cerita dan pengalaman ya mb, apalagi baik wanita maupun pria sama2 bekerja di lapangan. Keren! Tfs mb

  6. bagus ya un ada program penghijauan kembalinya ya.
    jadi penasaran un ada gak un kegiatan sosial perusahaan untuk penduduk disana misal sekolah, kesehatan atau semacam pendidikan yang memberikan kesempatan untuk mereka bekerja di tambang.

    salam
    /kayka

    1. Betul sekali Pak Azzet..Kalau Bapak bisa melihat ke dalam kawasan, sukar juga sih bagi saya mengatakan bahwa mereka merusak alam. Bahkan puing-puing yang tak digunakan tertata rapi menuju pemerosesan berikutnya 🙂

    1. Habis nambang terus meninggalkan tanah dan segala kerusakan yang terjadi begitu saja..Perusahaan kayak gitu mah pantasnya kita suruh nyebur ke air asam saja ya Kak Cum 🙂

      1. Nah tambang yang seperti uni Evi sebutkan banyak terdapat di area tambang batubara di Kalimantan Selatan, Kaimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Habis ambil batubara ditinggal begitu saja. 🙁

        1. Duh memprihatinkan sekali ya Pak Alris. Perusahaan tidak bertanggung jawab namanya itu. Mestinya mereka melanggar undang-undang ya. Kalau melanggar undang-undang pasti ada hukum yang akan menanganinya. Semoga begitu 🙂

      2. Saya tak menyangka ukuran Open Pit begitu besar, sampai berkilometer.
        Betapa senang melihat perusahaan tanggungjawab setelah menghancurkan lalu menghijaukan kembali.

        1. Iya ukuran open pit nya berkilometer. Newmont bisa dijadikan contoh sebuah korporasi besar yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Mencari keuntungan juga disertai tanggung jawab 🙂

  7. Tulisan yang utuh, memberi gambaran yang bagus untuk orang yg tahunya tambang sekedar mengeruk kekayaan alam. Padahal tanggung jawab menghijaukan sangat penting sekali..

    Mantaap Bunda Evi..

    1. Aku baru tahu bahwa tanggung jawab menghijaukan ternyata biayanya mahal Mas Iqbal. Itu kayaknya mengapa perusahaan yang kurang bertanggung jawab itu, alias yang mau ambil untung doang, mencari dalih segala macam saat meninggalkan kerusakan mereka 🙂

    1. Konon hidup ini harus berimbang Mbak Prih. Ada saat mengupas dan menggali, ada saat pula menghijaukan kembali. Baru namanya harmonis 🙂

  8. aiiiiih, sumpah narasi sama foto2nya bener2 bikin mupeng 🙂
    btw, itu ban truknya jadi ingat waktu kerja di tambang batu bara di kalimantan…

    seneng banget baca artikel ini, jadi serasa nostalgia he he he

    1. Terima kasih Mas Choirul. Nah ban truk ini memang bikin teman-teman tambah rajin foto-foto di sana. Untuk pertama kali yang melihat, ukurannya menggetarkan.
      Selamat bernostalgia ya Mas

    1. Nah itu dia Jeng Lis, gak setiap saat kesempatan seperti ini datang. Apalagi diterangkan detail proses penambangan dan aktivitas kembali menghijaukan lingkungan. Membuka wawasan banget 🙂

  9. Reklamasi Dan elang menari-nari, penting baget dibikin hijau lagi apalagi banyak hutan Dah mulai gundul. coba ga pake helmet& vest kayak beneran lagi piknik 🙂

  10. Saya tak membayangkan betapa besar investasi di pertambangan seperti ini. Terlebih godaan peluang hasil melimpah bisa melenakan apabila serakah dan tidak taat aturan. Terlebih yang terberat tentu saja bagaimana tanggung jawab dan kepedulian memulihkan dan menjaga lingkungan sekitarnya 🙂

    1. Investasi besar, omset besar, dan tanggung jawab yang juga tak kalas besar Mas Rifqy. Itu lah mengapa industri tambang dikelola oleh korporasi besar 🙂

  11. satu saja komentarnya, envy. hiks. ‘wisata’ anti mainstream, sekilas mirip Wisata Green Industry nya PT Semen Indonesia, wisata plus jelajah pabrik, mirip si Unyil. hihi.

    salam jalanjalan bun evi 😉

        1. Pantau sosmed Newmont Indonesia Win. Mereka akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh penggiat sosial media dengan membuat lomba menulis terlebih dahulu. Kemarin saya diajak karena salah satu pemenang dari lomba tersebut 🙂

  12. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi….

    Satu travel pendidikan yang mengasyikkan ya mbak kerana bisa melihat kerja pertambangan secara dekat. Apabila melihat foto dan cara kerja mereka, ternyata kita harus bersyukur dengan pekerjaan kita yang tidak seberat mereka. Mudahan banyak pelajaran yang bisa mbak Evi dan teman2 perolehi sepanjang wisata tersebut.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Betul wisata tambang ini membuka Cakrawala sekali Mbak Fatimah. Jadi ngerti sedikit tentang pekerjaan mereka. Begitu pula kedisiplinan yang mereka terapkan di sana. Kalau kedisiplinan seperti ini diterapkan di negara Indonesia kami pasti lebih maju dari yang sekarang 😉

  13. Saya berharap nanti setelah diambil alih oleh Arifin Panigoro (Medco) tambang ini tetap sustainable, menjaga alamnya dan memberdayakan penduduk setempat.

    1. Tahun depan ikutan bootcamp mereka, kak. Akan ada kok pengumumannya lewat sosial media mereka. Pantengin aja sejak awal tahun 2017

  14. iya keren reviewnya. terutama saya jadi tau proses atau alur dari mining. iya bener kiraiin gampang ternyata makan waktu cukup lama dari pengupasan tanah sampai peninjauan.

    thanks bikin nambah wawasan

    1. Iya dengan wisata tambang di batu hijau ini memperluas wawasan saya, Fee. Semoga ada kesempatan berikut bagi teman-teman blogger lainnya ya. Amin

  15. Wah kalau berada do open pot, kita sebagai manusia berasa keciiil ya… sungguh bumi itu luas…semoga upaya menghijaukan kembali diikuti oleh perusahaan lain…

  16. Wah bagus program jalan2 nih mbak Evi, jarang2 saya lihat jalan2 ke tempat unik spt pertambangan begitu. Dapat ilmu sekaligus refreshing. Salut dg program penghijauannya, ga hanya mengambil hasil bumi namun memikirkan masa depan juga 🙂 .

    1. Betul Mbak Nella, pada saat mengambil dan ada pula saat mengembalikan ya. Begitu Sebaiknya praktek-praktek korporasi yang bertanggung jawab 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?