Menumbuhkan Sayap Masyarakat Lingkar Tambang

Menumbuhkan saya masyarakat lingkar tambang
Proses pembuatan coconet dari sabuk kelapa

Sumbawa Barat ~ Masyarakat Sumbawa khususnya Kabupaten Sumbawa Barat hidup di atas tanah yang diberkati. Mereka tak hanya punya pemandangan yang membelalakan mata, budaya yang agung, alam juga menyimpan kekayaan tak terhitung. Terutamanya kandungan mineral berharga seperti  tembaga, perak dan emas. Beratus tahun kekayaan tersebut terpendam begitu saja di perut bumi dan belum bisa dimanfaatkan demi kesejahteraan bersama. Sampai akhirnya PT Newmont Nusa Tenggara datang dengan Kontrak Karya Generasi IV pada tahun 1986 guna mengeksplorasi kawasan. Pada tahun 1990 mereka menemukan cebakan tembaga porfiri yang kemudian diberi nama Batu Hijau.   Setelah menyelesaikan ANDAL dan disahkan pemerintah tahun 1997 Proyek Batu Hijau pun dimulai dan beroperasi penuh tahun 2000.

Memasuki kawasan area operasi Batu Hijau
Memasuki kawasan area operasi Batu Hijau

Kehadiran korporasi besar seperti PT NNT  di suatu lingkungan tak pelak akan merubah struktur sosial lingkungan tersebut. Begitu pun yang dirasakan  masyakarakat Sumbawa Barat atau Kecamatan Maluk dan Sekongkong khususnya di mana NNT beroperasi. Sebelum kehadiran industri tambang, Sumbawa Barat relatif daerah terpencil dan dalam konteks perkembangan ekonomi masih banyak yang tertinggal. Untuk transportasi saja jangankan mobil, motor saja belum ada. Jarak tempuh antar kecamatan harus dilalui berjam-jam karena belum tersedianya jalan dan sarana transportasi umum. Kemana-mana masyarakat mengandalkan kuda sebagai alat transportasi. Saya tidak mengarang. Cerita ini bisa teman-teman dapatkan dari penduduk asli Sumbawa Barat. Cerita tersebut kembali terulang  kala saya berkesempat menginap di rumah penduduk di Desa Kemuning Kecamatan Sekongkang saat Sustainable Bootcamp Batch 5 berlangsung kemarin.

Bila membaca tentang industri pertambangan biasanya kita juga akan membaca beberapa konflik yang terjadi di sektor ini . Konflik antara penduduk lokal dan perusahaan tambang, masyarakat dengan pemimpin mereka, pemerintah dan masyarakat atau antara individu dalam masyarakat. Hal  itu bisa terjadi bila industri tidak menganggap masyarakat lokal sebagai mitra sejajar. Mereka tidak merancang sebuah program tanggung jawab sosial dimana masyarakat lokal juga mendapat manfaat ekonomi atas kehadiran mereka.

63 % dari 9000 karyawan PT NTT berasal dari masyarakat lokal NTB
63 % dari 9000 karyawan PT NNT berasal dari masyarakat lokal NTB

Selama berada di Kabupaten Sumbawa Barat saya tak mendengar ada konflik, baik yang mengarah pada kesejahteraan, persoalan ekonomi, maupun keadilan sosial. Kalau pun ada hanya beberapa individu yang  kebetulan merasa tak puas — kalau ditelusuri lebih dalam adalah mereka yang tidak mendapat pekerjaan padahal sudah berkali-kali mencoba melamar. Minimnya konflik bisa  jadi  karena NNT telah menjalankan tanggung jawab sosialnya dengan baik dan menganggap penduduk lokal sebagai mitra sejajar mereka. Kalau dicermati memang seperti itu yang terjadi. Coba saja dari 9000 karyawan, 63 % diantaranya adalah penduduk lokal NTB.

Menilik ke dalam program CSR NNT saya  bisa melihat gambaran lebih utuh. Sampai tahun 2012 saja  daftarnya sudah cukup  panjang. Berikut beberapa contoh program CSR yang telah dieksekusi :

  • Sudah menggolontorkan Rp.50 milyar/tahun untuk membangun infrastruktur dan peningkatan kemampuan masyarakat.
  • Sejak 2009 sudah memperkenalkan teknologi budidaya padi SRI (System of Rice Intensification) yang berhasil meningkatkan produksi petani lingkar tambang dari 4, 59 ton menjadi 6,44 ton per hektar.
  • Sudah menyelesaikan 249 proyek infrastruktur di 3 kecamatan sekitar tambang yang meliputi fasilitas ekonomi, sarana umum, kesehatan, dan pendidikan.
  • Menjadi mitra usaha dari 150 pemasok, 100 kontraktor lokal dengan total belanja barang dan jasa sekitar 296 juta dolar AS.
  • Melakukan operasi katarak dan celah bibir gratis.
  • Memberikan 9.654 beasiswa di seluruh NTB. Memberikan bantuan pendidikan siswa kurang mampu kepada 3.242 siswa di lingkar tambang.
siswa SMU Sekongkang
Sudah memberikan 9.654 beasiswa di seluruh NTB. Dan bantuan pendidikan siswa kurang mampu kepada 3.242 siswa di lingkar tambang

Melihat dari data-data di atas tidak aneh bukan bila NNT telah dipersepsikan bertindak sebagai mediasi berkat, menggali kekayaan alam lalu mengembalikan sebagian kepada masyarakat NTB? Selama 7 hari full saya mengikuti Sustainable Mining Bootcamp 5, dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana berbagai aksi yang sudah dilakukan telah  membentuk persepsi positif dalam masyarakat secara umum. Boleh dikatakan tak ada masyarakat lingkar tambang yang tak mencintai kehadiran NNT di lingkungan mereka. Bahkan saya rasa mereka sedikit kecanduan terhadap NNT.

Sekarang mau ke mana?
Sekarang mau ke mana?

Terus Sekarang Mau Ke Mana?

Pertanyaan besarnya memang seperti ini: Sekarang mau kemana? Okey ekonomi bertumbuh setelah kehadiran Newmont. Masyarakat jauh lebih sejahtera dibanding sebelum kehadiran perusahaan. Tapi NNT takan selamanya berada di KSB, bukan? Bagaimana jika NNT menutup operasinya karena penggalian sudah selesai? Harus kah masyarakat KSB atau mereka yang selama ini bergantung secara ekonomi pada perusahaan harus pula berhenti hajat hidupnya? Sebagai contoh, pernah karena undang-undang yang menyebabkan NNT tidak bisa ekspor konsentrat dan menghentikan kegiatan selama 3 bulan, ekonomi masyarakat lingkar tambang pun ikut lumpuh. Kamar kos-kosan kosong karena pekerja kembali ke rumahnya. Warung dan pasar sepi karena taka da pembeli. Selama rentang 3 bulan saja banyak pengusaha UKM gulung tikar.

Bibit tanaman di Community Development Center yang akan diberikan gratis pada masyarakat
Bibit tanaman di Community Development Center yang akan diberikan gratis pada masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat

Konsep pemberdayaan berangkat dari pemikiran  akan mengangkat standar hidup masyarakat ke arah lebih baik. Baik dalam masalah kesehatan maupun mengatasi kemiskinan. Korporasi besar yang bergiat dalam pemberdayaan ini berharap  masyarakat yang diberdayakan akan mampu mengatur dan memobilisasi diri sendiri. Apakah untuk  mencapai perubahan sosial atau ekonomi atau memperbaiki ketidakberdayaan dalam hal apapun.

Itu pula satu hal yang ingin diwujudkan NNT untuk masyarakat Nusa Tenggara Barat  khususnya. Mandiri dalam usaha sendiri. Setelah kontrak karya berakhir pada tahun 2038 masyarakat tak bertanya-tanya lagi akan kemana mereka atau apa yang harus mereka lakukan?  Maka sebagai wujud dari tanggung jawab sosial ini jauh-jauh hari NNT  menyiapkan berbagai  program pemberdayaan. Banyak sebetulnya yang mereka lakukan agar masyarakat bisa mandiri, tidak melulu menggantungkan kesejahteraan ekonomi kepada perusahaan.

Mearujut asa untuk masa depan yang mandiri

Berikut beberapa contoh yang kemarin sempat saya kunjungi :

  • Mendirikan Community Development Center dengan mengembangkan bibit tanaman lokal untuk ditanam di lahan penduduk. Melibatkan ahli-ahli pertanian guna memperbaiki cara bercocok tanam agar produksi lebih maksimal.
  • Di Kecamatan Jereweh terdapat potensi rumput laut dan pohon kelapa yang berlimpah. Peran NNT di sini memfasilitasi dengan memberikan berbagai peralatan, pendampingan untuk menunjang produksi. Selain diajarkan cara pembuatan VCO sekaligus membuka akses pasar.
  • Pemberdayaan masyarakat lewat pembubuatan coconet sabuk kelapa dan membeli langsung produksinya untuk menunjang proses reklamsi.
  • Menyokong pendirian Bank Sampah Lakmus dengan moto from trash to cash
  • Melalui Ikanura – Ikatan Keluarga Karyawan Newmont – mengembangkan ekonomi kreatif dengan menghidupkan kembali seni tenun tradisional di Desa Labuan Kertasri Kecamatan Taliwang.
Lewat Ikanura menghidupkan kembali seni tenun tradisional
Lewat Ikanura menghidupkan kembali seni tenun tradisional

Menumbuhkan sayap-saya masyarakat agar lebih mandiri tentunya bukan pekerjaan singkat, mudah, dan murah. Tapi itu bukan pekerjaan yang mustahil. Di dunia ini  banyak sekali contoh mengenai kesusksesan program pemberdayaan yang dilakukan perusahaan-perusahaan tambang.

Corak kain tenun yang dihasilkan ibu-ibu di Desa Labuan Kertasari
Corak kain tenun yang dihasilkan ibu-ibu di Desa Labuan Kertasari

Saya berharap NNT tetap bekerja sama dengan Pemerintah Daerah,  menempatkan diri sebagai pemimpin yang bukan memberi tahu semua orang apa yang harus dilakukan, tapi lebih kepada menunjukan potensi-potensi yang terdapat dalam  diri mereka apa yang bisa dikembangkan. Tidak  selalu bertindak sebagai pemberi materi tapi juga menyediakan sumber daya yang membangun motivasi.  Kalau masyarakat sudah mengetahui dengan baik bahwa suatu Saat NNT akan menyelesaikan operasinya, bila saatnya tiba mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.

74 thoughts on “Menumbuhkan Sayap Masyarakat Lingkar Tambang

  1. Pro dan kontra selalu ada dalam tiap pertambangan. Tapi NNT sudah bekerja dengan cukup baik menyelesaikan setiap kontra meskipun masih banyak masalah yg mesti di selesaikan

    1. Pro dan kontra memang tak terhindarkan ya Kak Cum. Kalau Newmont tak melakukan pekerjaannya rumahnya dengan baik, mungkin gak berani ngundang-ngundang kita..dan buka-bukaan dapur kepada kita 🙂

  2. Setuju. Kalau mau sustain memang harus melibatkan semua stakeholder.
    Secanggih2nya suatu program CSR, kalau tanpa melibatkan pemda biasanya tidak akan sustain.

    Setuju juga dengan kata2 “tidak selalu bertindak sebagai pemberi materi”. Lebih baik kita angkat kelebihan masyarakat itu sendiri, asset-based commdev. Jadi Sewaktu2 program berhenti, mereka bisa mandiri ya bu Evi 🙂

    1. Hahahaha..Ini serunya kalau yang komen aktivis LSM, langsung nyambung..
      Benar Mas Yo, keterlibatan semua pihak adalah kunci sukses CSR. Yang tahu tentang potensinya adalah masyarakat itu sendiri. Newmont dan Pemda bertindak sebagai pembuka jalan atau ngeguide, masyarakat itu maunya apa…

    1. Menambang alam akan ada ujungnya. Semoga kita science segera menemukan energi pengganti, jadi kita bisa menghentikan penggunaan bahan bakar fosil lagi 🙂

  3. Kain tenunnya cantik sekaliii 😀

    Kegiatan pertambangan yang mengeksplorasi bumi kayak gini (dengan keuntungan yang gede buanget pula) memang harus bisa tetap menjaga ekosistem dan mengembalikan sebagian keuntungannya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar ya mbak…

    1. Karena alam tropis Sumbawa memang kaya Mbak Desi..Kalau dicukil satu persatu dan kemudian dikembangkan, Newmont pergi juga gak masalah lah 🙂

  4. Program pemberdayaan masyarakat ini yang paling penting ya Mbak Evi, sehingga nanti setelah PTNNT tidak ada di sana lagi, masyarakat masih bisa memiliki keahlian ekonomis untuk bertahan. Programnya bagus dengan memberikan kail dan pancing.

  5. nah, tulisan ini memberi gambaran yang lengkap akan NNT 🙂 selama ini yang banyak dibaca orang stereotype nya saja 🙂

    1. Tambang itu memang banyak banget kontroversinya Mas Jar. Dan kita tak menutup mata memang banyak yang melakukan tindakan tak bersahabat dengan lingkungan. Tapi di Newmont Nusa Tenggara berbeda 🙂

  6. ada sisi lain yang banyak digali dari perjalanan ini mbak 🙂
    inspiratif euy…

    kebetulan, saya pernah bekerja di tambang (batubara) di sumatera sama kalimantan, jadi sedikitnya tahu seluk-beluk dunia tambang. terutama mengenai hubungannya dengan masyarakat sekitar yang saling membutuhkan.

    *btw foto yang kedua dari akhir itu momentumnya pas banget
    jadi inget nenun di kampung

    1. Saya banyak banget belajar dari perjalanan ini Mas Choirul. Pengalaman beberapa hari yg akan membekas seumur hidup. Beberapa insight yang memperkaya cara pandang dalam melihat kehidupan hanya ditemukan tatkala melihat melihat langsung 🙂

      Terima kasih ya Mas 🙂

  7. Sebagian tetes kemakmuran kiranya mampu mengangkat harkat masyarakat sekitar ya Uni Evi. Temali terbuat dari serabut nipah atau kelapa ya Uni. Ehm naksir banget dengan tenun Sumbawa. Salam

  8. bener2 travel blogger sejati, fotonya kece tulisannya sangat apik, saya senang di Sumbawa sudah ada SRI yang ramah lingkungan, teknologi pertanian sudah diadopsi di sana

  9. pro dan kontra suka ada aja terjadi. Tapi memang kalau hanya melihat dari media mainstream, suka jadi terkesan heboh drai keadaan yang sebenarnya. Saya lebih suka melihat atau mendengar langsung dari yang pernah ke sana. Seperti tulisan Mbak Evi ini.

    1. Iya ini wisata yang gak biasa Mbak Levina. Wisata pencerahan juga menurutku bahwa tidak semua korporasi besar itu melulu berorientasi keuntungan lalu mengabaikan lingkungannya 🙂

  10. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…. saya selalu senang apabila membaca tentang usaha pihak berwajib dalam membantu kesejahteraan kehidupan masyarakat kampung dengan mewujudkan pekerjaan buat mereka. Hal ini tentu membantu meningkatkan ekonomi dan kebahagiaan hidup mereka. Alhamdulillah, mudahan semua ini dimudah dan dimurahkan rejeki oleh Allah SWT. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam Mbak Fatimah. Iya semoga lebih banyak lagi korporasi yang peduli terhadap
      Ingkungan seperti Newmont ini. Kalau sdh begitu baru lah kita mencapai kehidupan yang berkeadilan 🙂

  11. Memang, membutuhkan kerja sama yg bagus antara masyarakat dan perusahaan untuk tetap memakmurkan rakyat. Tak hanya digali, tapi juga memberdayakan. Perusahaan rela memberikan pelatihan2 dan membuka jalan ekonomi, sedangkan masyarakat mau terbuka dengan jalan ekonomi baru yg ditawarkan oleh perusahaan 🙂

  12. saya lebih menilai ke dampak lingkungannya, semakin banyak perusahaan, tentu akan berdampak pada lingkungan sekitar, ini juga harus diperhatikan, karena sedikit perusahaan yang mengabaikan hal ini,

  13. Wah, artikel yg menarik, Mbak. Saya harap banyak perusahaan yg memperhatikan sustainabilitas lingkungan & ekonomi masyarakat sekitar seperti ini. Yang terbaik memang mereka dibekali untuk mandiri, bukan tergantung, sekedar menjadi buruh di perusahaan tsb.

    1. Memang idealnya begitu Mbak Euis, membantu adalah dengan menumbuhkan sayap-saya agar mereka bisa terbang sendiri. Semoga semua korporasi besar mengikuti langkah seperti yang dilakukan Newmont Nusa Tenggara ini ya 🙂

  14. Saya selama ini banyak mendengar ide dan gagasan semacam ini, tapi mungkin kalau saya pribadi dimulai dengan hal2 kecil. seperti saling berbagi pengalaman dengan masyarakt sekitar

    1. Iya berbagi pengalaman dan pengetahuan tentunya akan banyak membantu masyarakat lokal dalam memecahkan masalah eknomi mereka 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?