Membangkit Ekowisata Berbasis Masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat

membangkit ekowisata berbasis masyarakat
Sungai di Kecamatan Jereweh

Hampir dua pertiga (2/3) dari Kabupaten Sumbawa Barat(KSB)  berbatasan langsung dengan laut. Akibat proses pasang surut, gelombang laut dan perubahan cuaca yang  terjadi sejak ratusan tahun telah menyebabkan erosi dan mengendapkan sedimen di pertemuan lautan dengan daratan. Area yang melandai itu kemudian menjelma jadi pantai-pantai indah, berpasir lembut, putih, dengan air yang membiru jernih. Pantai-pantai ini   tak kalah dengan yang di di Bali dan Lombok. Sayangnya sektor pariwisatanya terlihat  masih tidur lelap.

Aktivitas Sustainable Mining Newmont Bootcamp Batch 5 yang saya ikuti tidak melulu soal melihat aktivitas tambang, penghijauan, dan pemberdayaan masyarakat seperti yang telah saya tulis seperti di bawah ini:

Kami juga dibawa mengeksplorasi tempat-tempat  wisata yang terdapat di sekitar kawasan lingkar tambang. Tujuannya untuk memperlihatkan kepada saya dan dunia bahwa  alam di tiga kecamatan (Sekongkang, Maluk, dan Kertasari), dimana PT NNT beroperasi,  selain indah juga  kaya oleh berbagai kearifan lokal. Karena kami pun dibawa hidup di tengah masyarakat, dan sekarang juga dibawa mengeksplorasi tempat wisata,  sepertinya Newmont Nusa Tenggara mengiyakan postulat yang saya percayai : Bahwa sumber daya dunia yang paling indah dengan  habitat langka umumnya berada dalam masyarakat yang relatif belum terekspos. Saya kira kepariwisataan KSB memenuhi kriteria ini. 

Mencuci tangan sepulang dari ladang
Mencuci tangan sepulang dari ladang

Kunjungan wisata seperti ini tentu saja ada muaranya. Dengan terbukanya berbagai akses infrastruktur dan informasi diharapkan KSB mampu membangkit ekowisata berbasis masyarakat. Aktivitas wisata seperti ini bisa dijadikan sumber pendapatan untuk menyokong pengembangan masyarakat lokal. Selain ekowisata berbasis masyarakat memungkinkan warga memiliki kontrol dan keterlibatan yang dalam atas pengembangan pariwisata di tempat mereka. Begitu pun ekowisata berbasis masyarakat tidak hanya mendorong tanggung jawab kolektif dalam pemanfaatan sumber daya yang ada, tetapi juga mencakup inisiatif dari para individu untuk memajukan kehidupan dalam berbagai aspek. Dengan bentuk ekowisata diharapkan warga setempat mampu berbagi lingkungan dan cara hidup mereka kepada pengunjung. Sambil meningkatkan pendapatan daerah dan membangun ekonomi lokal mereka tetap mempertahankan cara hidup dan budaya.

Beberapa hari sebelum tulisan ini dibuat saya baru saja pulang dari Bali. Saya menghadiri undangan Festival ogoh-Ogoh dari Mel Sanur (gabungan 5 Banjar di Sanur)  yang berpusat di Banjar Semawang – Sanur. Di sini saya menyaksikan sendiri gerak kehidupan ekowisata berbasis masyarakat yang sudah terbentuk dengan baik. Dengan berbagi kegiatan budaya dan cara hidup mereka melalui berbagai festival, homestay, dan produksi barang-barang seni, masyarakat Mel Sanur dapat berpartisipasi dalam ekonomi berkelanjutan dan masuk industri global modern dengan tetap mempertahankan citra diri mereka sebagai orang Bali. 

In frame : Dee
In frame : Dee

Berikut beberapa destinasi yang bisa dijadikan alasan membangkit ekowisata berbasis masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat :

  • Pantai Rantung

Destinasi wisata pertama yang kami kunjungi  adalah Pantai Rantung. Terletak  di Sekongkang Bawah. Jalan menuju Pantai Rantung  ini menurut saya agak ruwet dan berliku. Kami berangkat dari kawasan Batu Hijau, melintasi Jalan Raya Sekongkang yang penuh kelokan sebelum masuk ke Jalan Raya Rantung. Namun Sahabat JEI yang berangkat dari Mataram bisa menggunakan Bus DAMRI  dengan tujuan akhir terminal Maluk atau Sekongkang. Perlu sedikit kehati-hatian bila mengendarai kendaraan sendiri. Selain jalannya turun-naik dan berliku tidak tersedia petunjuk arah yang memadai. Jadi gunakan filosofi “Malu bertanya sesat di jalan “. Banyak-banyak lah bertanya sebab di Peta Google nama Pantai Rantung belum tertulis.

Sekalipun  berada di daerah  terpencil bukan berarti Pantai Rantung tak dikenal sama sekali. Setidaknya saya melihat satu cottages yang tampak  indah dari kejauhan. Begitu pun saat itu kami dibawa merapat ke sebuah resto atau café yang langsung menghadap ke Selat Alas. Beberapa wisatawan berkulit putih tampak bolak-balik dengan papan selancar mereka. Ya tempat ini dikenal sebagai salah satu area surfing yang banyak dikunjungi turis asing di Sumbawa. Tidak salah memang karena dengan ombak yang bergulung-gulung mirip Yoyo ideal sangat sebagai area surfing.

Namun bagi Sahabat JEI yang tidak menekuni olah raga air seperti surfing, pasir putih halus yang menghampar di sepanjang bibir pantai adalah tempat ideal menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Dan memang wisatawan lokal umumnya mengunjungi Pantai Rantung  untuk menikmati pasir putih dengan air laut biru cenderung ke hijau tosca ini. Dan yang paling menarik adalah sunset-nya. Sesaat matahari perlahan merambat  ke bawah laut semburat merah yang tertinggal membuat mata tak berkedip. Alunan pujian halus kepada Sang Pencipta pun membahana memenuhi jiwa. Dan tak heran pula bila banyak fotografer nongkrong di sini menuggu senja habis dan gelap perlahan merayap ke atas langit.

Pantai Rantung

Sunset di Pantai Rantung
Sunset di Pantai Rantung
Menjadi bagian dari cahaya
Menjadi bagian dari cahaya
  • Hutan Wisata Lawar

Masih di Kecamatan Sekongkang, destinasi wisata kedua yang bisa dijadikan asset ekowisata berbasis masyarakat adalah Hutan Wisata Lawar. Tempat ini dikelola oleh Yayasan Pengembangan Sumbawa Barat (YPSB) yang berada di bawah naungan CSR PT NNT. Di suatu siang yang terik kedatangan kami disambut oleh Pak Ifnanul Ma’wa dan Pak Taufik.

Yang menarik adalah wilayah seluas 13 Ha ini semula hendak dijadikan perumahan karyawan PT NNT. Karena satu dan lain hal tidak jadi maka pada tahun 2008 beralih konsep menjadi tempat wisata edukasi dengan menanam buah-buahan organik. Sayang  tidak pernah berhasil panen karena selalu kalah cepat  dengan para monyet. Lama-lama capek juga kan?! Akhirnya diputuskan mengembangkan potensi alam saja dengan menanam tanaman kayu dan menjadikan tempat ini sebagai hutan edukasi. Bibit pohon di datang dari Comunnty Development Center yang ada di Benete.

Terdapat lima jenis tanaman utama di Hutan Wisata Lawar ini seperti Mahoni, Jabon, Binong, Mindi yang dalam bahasa lokal disebut Kayu Dingin. Disebut kayu dingin karena mempunyai kandungan air yang tinggi. Kayunya dimanfaatkan penduduk untuk pagar pekarangan karena mudah dibelah dan hasil belahan lurus.

Sejak awal tahun 2015 Hutan Wisata Lawar membuka permainan outbound untuk umum. Sebagai penunjang terdapat permainan flying fox sepanjang 90 meter, spider net, jembatan gantung, spider bridge, dan jembatan keseimbangan. Saya menanyakan biaya masuk bagi umum. Namun menurut Pak Taufik kawasan ini belum dikomersilkan utuh karena masih bekerja sama dengan CSR PT NNT. Artinya  untuk biaya masuk masih disubsidi. Begitu pun pengunjung harus membuat perjanjian terlebih dahulu.

Tentu saja teman-teman peserta Bootcamp Batch 5 tak menyia-nyiakan kesempatan meluapkan  kegembiraan dengan mencoba semua fasilitas yang ada.  Apa lagi permainan flying fox paling hampir semuanya mencoba. Saya tentu saja tidak. Bukan takut ketinggian tapi sayang dengkul sebab saya lihat perlu kekuatan dengkul untuk menahan gerak saat  meluncur sampai ke ujung. Dari pada memberi benturan yang tak perlu mending saya ikut berbahagia saja saat mereka terpekik-pekik bergelantung pada seutas tali dan meluncur melewati lembah.

hutan wisata lawar
Hutan Wisata Lawar
Pak Taufik dan Pak Ifnanul
Pak Taufik dan Pak Ifnanul
Kak Davin happy banget ketemu jembatan gantung
Kak Davin happy banget ketemu jembatan gantung
Kak Arief lagi lihat apa?
Kak Arief lagi lihat apa?
  • Pantai Lawar

Destinasi berikutnya dan paling dekat dari Hutan Wisata Lawar adalah Pantai Lawar. Berbeda dengan Pantai Rantung, Pantai Lawar sepertinya belum banyak  terjamah tangan manusia. Sekalipun terlihat satu dua bangunan rumah, tapi tidak tersedia fasilitas apapun bagi wisatawan. Jalan masuk pun melalui kebun penduduk. Pantai begitu sunyi. Maka jangan berharap menemukan warung penjual minuman sekalipun sedang diserang dahaga karena panas yang luar biasa. Yang menyedihkan adalah sampah-sampah bikinan manusia yang terhanyut  ombak sampai  di pantai. Entah siapa yang harus membersihkan, pikir saya.

Namun jangan sangsikan kecantikan Pantai Lawar. Dengan dua buah tebing yang mengapit dataran landai berpasir putih nan lembut,  seluruh pesona dari air yang membiru terhampar  tanpa malu-malu.  Sebuah pesta bagi mata. Teman-teman  fotografer langsung naik ke atas tebing guna mendapatkan view yang lebih eksotis. Sementara yang ingin mengabadikan foto diri langsung berlari ke sebelah kanan. Di sana terdapat batu karang yang turun dari tebing dan terlihat seperti pilar. View di bawah pilar membuat foto jadi menakjubkan.

Saya berteduh di bawah pohon pandan berduri. Aksi mengambil foto terpaksa berhenti karena memory card sudah penuh namun malas mengambil cadangan yang tertinggal dalam bus. Panasnya benar-benar menggigit. Jadi memilih menikmati pemandangan saja sambil merasakan sapuan angin yang sesekali melebur udara panas di kulit. Dan saya pikir duduk hening tanpa camera di tangan di tempat indah seperti ini kadang juga diperlukan. Malah saat melamun itu terpikir andai saja pantai-pantai di Kabupaten Sumbawa Barat lebih banyak dipromosikan kemudian dibangun infrastruktur, pasti lebih banyak menambang manfaat bagi masyarakat ketimbang dibiarkan menganggur seperti ini. Apa lagi jika ekowisata berbasis masyarakat sudah berjalan maka melestarikan ekosistem alam dan budaya bukan sebuah keniscayaan. Roda ekonomi berputar dan  Pantai Lawar akan tetap indah seperti ini.

Pantai Lawar
Pantai Lawar
Fotografernya serius banget!
Fotografernya serius banget!
  • Pantai Benete

Begitu turun dari kapal Tenggara Satu yang berangkat dari Kayangan, di hari pertama ketibaan di kegiatan  Newmont Bootcamp Batch 5, saya sudah terpesona oleh Pelabuhan Benete. Tapi sejujurnya saya sudah terpesona mulai dari Pelabuhan Kayangan dan melintas Selat Alas untuk tiba di Benete. Dengan air dan langit biru, sesekali bertemu atoll, lalu mendarat di dermaga yang khusus ditujukan bagi keperluan NNT, shutter camera saya tak berhenti berbunyi.

Laut di sekitar pelabuhan dan pantai Benete dulunya kaya oleh berbagai jenis terumbu karang dan ikan. Namun karena salah pengelolaan dimana para penangkap ikan menggunakan bahan-bahan peledak, Laut Benete kehilangan kehidupan di dalamnya.

 Lalu apa hubungannya dengan NNT?

Nah untuk mengembalikan kehidupan di bawah laut Benete, sejak tahun 2004, Newmont membantu upaya pelestarian dengan membuat terumbu karang buatan yang disebut  reef ball. Terumbu karang   buatan ini berfungsi sebagai tulang penyangga bagi tumbuh kembangnya berbagai jenis larva karang (planula). Teman-teman yang mempunya lisensi menyelam dalam kegiatan Bootcamp Batch 5 ini dibawa melihat langsung perkembangan  karang-karang tersebut. Dari foto-foto yang mereka sharing di group saya tahu bahwa kegiatan membantu kelangsungan hidup nelayan yang bermukim disekitar pelabuhan Benete ini ternyata sukses. Itu juga alasan Laut Benete  hendak dikembangkan sebagai destinasi wisata selam kelak.

Tapi Benete tak hanya sebagai pesiar bawah laut atau menyelam. Pantainya sendiri berbalut semua keindahan yang dibutuhkan wisatawan yang menyukai laut. Dengan kapal-kapal nelayan yang bersandar di pasir dengan latar belakang laut biru menimbulkan rasa tentram. Sekalipun hari sedang terik, belaian angin yang ditingkahi suara anak-anak membuat perasaan jadi melayang.

Tidak seperti di Pantai Lawar, Pantai Benete yang memang terletak di Desa Benete sudah memiliki fasilitas wisata lengkap. Di sini kami berkesempatan menikmati hidangan makan siang seafood rasa aduhai.

Pelabuhan Benete dari jauh
Pelabuhan Benete dari jauh
Pantai Benete yang aduhai
Pantai Benete yang aduhai
Kak Ares Jonekson si fotografer keren  yang ketemu kawan-kawan baru
Kak Ares Jonekson si fotografer keren yang ketemu kawan-kawan baru
Bergembira bersama Putra dan kawan-kawan
Bergembira bersama Putra dan kawan-kawan
seafood pantai benete
Makan seafood di Pantai Benete yang aduhai
  • Pantai Maluk Dengan Tukik-Tukik Imut

 Pantai Maluk terletak di Desa Maluk, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Pantai ini dibangun oleh CSR NNT. Selain membenahi kawasan agar layak dikunjungi, berbagai fasilitas juga telah tersedia. Ada café dan rumah makan bertema daerah dan bangku-bangku yang disediakan untuk menikmati pandangan ke laut lepas. Di bibir pantai membentang tanggul pencegah agar ombak tidak menggerus daratan. Beberapa orang anak sedang asyik berenang di laut saat kami sampai. Tak peduli panas yang sedang membakar, suara mereka hilang timbul diantara desir gelombang dan angin yang datang dari samudera.

Selain sebagai  tempat plesiran di sini  juga sedang berlangsung sebuah upaya konservasi penyu  yang juga didukung oleh NNT. Seperti kita tahu jumlah  penyu di laut lepas saat ini sedang dalam masa kritis akibat predator alaminya atau ulah manusia yang suka mengkonsumsi telurnya. Jika Seobat JEI berkunjung ke Maluk dan ingin melihat konservasi ini, selepas gerbang bertuliskan Pantai Maluk, bergerak lah ke arah kiri. Di sana  bertemu sebuah bangunan dikelilingi kawat, di atasnya bertuliskan  Maluk Turtle Consevation Centre. Di bawah bangunan ini terdapat  empat bak kolam tukik (anak penyu) yang sedang berenang ria. Anak-anak penyu imut ini hasil penangkaran. Mereka akan dilepas  usia sekitar 3-4 bulan.

pantai maluk
Pantai Maluk
melepas tukik
Melepas tukik di Maluk
maluk dan tukik
Ramai-ramai mengucapkan selamat jalan kepada tukik-tukik lucu
Senja di Maluk
Senja di Maluk
  • Pantai Poto Batu

Pantai Poto Batu terletak  di Kecamatan Taliwang. Poto artinya ujung. Jadi Poto Batu maksudnya Ujung Batu.  Sekalipun penduduk setempat mengenal akrab tempat ini, bagi kami Newmont Boothcamp Batch 5 ini penemuan tak sengaja. Gara-gara hendak menuju Desa Labuan Kertasari bus melewati jalan yang mepet sangat ke tepi laut. Teman-teman  yang semuanya memegang camera tentu saja tak membiarkan kesempatan dapat foto lansekap bagus. Maka kasak-kusuk pun terjadi yang akhirnya membuat Pak Pengemudi menepikan busnya di sebuah perhentian.

Konon Pantai Poto Batu memiliki view sunset yang spektakuler. Karena kami datang di pagi hari tentu saja hanya melihat point of interest berupa seonggok batu karang besar menyerupai bukit dan  berlubang di tengah. Di puncak berkibar bendera merah-putih. Konon tempat ini dulunya dijadikan sebagai benteng pertahanan selama penjajahan itu lah mengapa Sang Saka Merah-Putih selalu terpancang di atasnya. Sesekali deburan ombak besar menghantam pinggangnya.

Nama Poto Batu berasal dari bongkahan batu-batu karang hitam yang tersebar di bawah kaki bukit.  Kalau diperhatikan seksama mereka tersusun seperti  lantai batu berwarna hitam dengan ujung-ujung runcing. Tak jauh dari hamparan batu itu, di sebelah kanan pantai, terlihat genangan air kehijauan seperti rawa. Ternyata itu merupakan muara dari sungai-sungai  yang mengalir dari Taliwang dan sekitarnya. Jadi tempat favorit bagi para penggemar memancing.

Sisi kanan Pantai Poto Batu
Sisi kanan Pantai Poto Batu
Bukit Batu Karang dengan Sang Saka Merah-Putih di atasnya
Bukit Batu Karang dengan Sang Saka Merah-Putih di atasnya
Poto Batu yang instagramable untuk foto narsis
Poto Batu yang instagramable untuk foto narsis
  •  Pantai Kertasari

Sebenarnya kunjungan kami ke Labuan Kertasari hendak menengok budidaya rumput laut yang merupakan mata pencarian utama penduduk desa ini. Mengenai ceritanya sendiri akan saya tulis di post lain. Sementara di sini saya hanya membahas bonusnya saja yakni jalan-jalan dan foto-foto cantik di Pantai Kertasari.

Untuk sampai di Kertasari memang butuh sedikit perjuangan. Untungnyanya sekalipun melewati jalan berliku sejauh  8 km dari kota Taliwang, jalannya sendiri  sudah beraspal mulus. Sepanjang perjalanan mata pun terpuaskan oleh pemandangan rumah-rumah asli Sumbawa yang terbuat dari kayu dan berpanggung. Sementara di dekat pantai  tanaman bakau berlatar  pasir putih, langit dan laut biru menghasilakan pemandangan yang asri. Mungkin karena jarang dilewati kendaraan tinggi, mendekati desa Labuan Kertasari, di sepanjang jalan juga melintang kabel listrik. Beberapa kali pak Arie dari Newmont harus turun untuk mengangkat kabel tersebut lebih tinggi dengan sebilah galah agar bus bisa lewat.

Tapi begitu sampai di mulut pantai segala kelelahan langsung terbayar tunai. Mata langsung disergap gradasi warna kehijauan air di tepi dan berganti biru tosca saat menjauh ke tengah. Di tepi para petani membangun pondok pelindung saat membersihkan rumput laut yang baru dipanen.

pantai kertasari
Mana yang lebih mempesona, Gerald atau Pantai Kertasari di belakangnya?
pantai kertasari
Rasanya ujung pantai langsung bertemu dengan kaki langit
berfoto di pantai kertasari
Byuuurrr…

Ketika suatu daerah mulai dikunjungi oleh wisatawan, pasti akan terjadi  beberapa dampak sosial pada masyarakat setempat. Dari sisi negatif,  mungkin terjadi peningkatan kemacetan,  kepadatan penduduk atau bahkan peningkatan kejahatan. Belum lagi masuknya nilai-nilai baru yang sebelumnya tak dikenal di Kabupaten Sumbawa Barat. Namun seperti di Bali,  ekowisata berbasis masyarakat bisa meminimalkan  dampak negatif tersebut dengan berfokus pada hal yang lebih positif. Seperti lebih mempromosikan budaya dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungannya. Kalau sudah begini tentu akan berefek pada kelestarian lingkungan dan tradisi lokal itu sendiri.

43 thoughts on “Membangkit Ekowisata Berbasis Masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat

  1. Rasanya terpana banget melihat pantainya. Indah, birunya kobalt halus sekali. Terus senjanya juga bikin iri banget soalnya spektakuler sangat. Provinsi NTB memang menyimpan banyak sekali mutiara pariwisata yang indahnya beribu-ribu kali lipat. Bikin iri Mbak, betulan deh, saya saja masih sebatas mimpi kapan diri ini bisa berkunjung ke sana… mak keren bangeeeet!!
    Mudah-mudahan kehadiran PT NNT bisa membawa kebaikan bagi pengembangan pariwisata di sana, juga sumber daya alam yang lebih terolah untuk kemaslahatan bersama yang lebih baik, ya. Saya rasa dampak negatif komersialisasi bisa ditekan kalau nilai-nilai agama dan budaya lebih dimantapkan lagi pertumbuhannya di masyarakat, sehingga ada filter alami yang menyaring nilai-nilai negatif dari luar.

    1. Gara, orang bilang tanah kita tanah surga. Bukan hanya karena tongkat bisa jadi tanaman tapi keindahan alamnya adalah potensi kekayaan yang menunggu diuraikan..Semoga kecantikan pantai-pantainya membawa maslahat bagi penduduk Kabupaten Sumbawa Barat ya..:)

  2. wahhh.. sumbawa emang bagus.. tp saya setuju sama pembangunan ekowisata berbasis masyarakat.. beberapa daerah katanya berbasis masyarakat tp ujung2nya cuma namanya aja..

    mampir ke Alas Purwo, pas musim pendaratan penyu mulai april besok 🙂

    1. Iya pasti ada penyebab mengapa pariwisata berbasis masyarakat tidak bisa jalan Mas Alan. Kalau persoalannya dari masyarakat, solusinya juga pasti ada di masyarakat.

      Duh, pengen juga ke Alas Purwo melihat penyu-penyu meletakan telurnya di ke dalam pasir 🙂

  3. Sumbawa punya semuanya ya Bu, bener-benar tanah surga memang. Semoga dengan mengembang ekowisata berbasis masyarakat ini warga setempat juga sepenuhnya sadar akan pariwisata, sayang kalau tempat2 cantik itu ada yang di biarkan nganggur.

  4. Wah, fotonya keren-keren… terutama pantainya. Wilayah timur Indonesia pemandangannya memang keren-keren. Jadi makin serius suatu saat nanti menjelajah Indonesia buat ngumpulin foto landscape nya…

  5. Indonesia bagian timur itu…. semakin ke Timur semakin keren aja, melihat foto-fotonya saja ya Allah itu langit masih tampak biru dan semua fotonya keren (selalu)

    1. Pantengin sosmednya Newmont tahun depan, Mel. Daftar kalau ada pembukaan Bootcamp. Siapa tahu terpilih terus diajak melihat Sumbawa 🙂

  6. Naksir sama makan sea food-nya NTB.
    Foto2 dan tulisan ini bikin kenyang pengunjung blog Kak Evi.

    Btw, ttg Donor Kalori itu, bisa pake aplikasi step counter yang didownload di HP, Kak. Jadi beraktivitasnya sambil kantongin HP. Kalo teman saya, dia beraktivitas sambil mengalungkan HPnya, sementara aplikasi step counter-nya on 🙂

    1. Makan seafood di NTB emang tempatnya Niar..Habis dikelilingi laut kan kawasannya.
      Thanks ya atas infonya mengenai step counter. Saya sudah download, masih mempelajari cara pemakaiannya 🙂

  7. Setuju. Inilah salah satu solusi yang akan banyak dibutuhkan. Ekowisata/ekoturisme berbasis masyarakat. Memberdayakan masyarakat di lingkar tempat wisata sebagai garda terdepan memajukan perekonomian setempat. Ramah wisatawan, ramah lingkungan 🙂

    Btw, jadi kangen Sumbawa Barat 🙁

    1. Semua pantainya Indah Mbak Ika, yang curam maupun yang landai, airnya biru tosca atau ijo tosca, pasirnya putih halus, nyaman di kaki nyaman di mata

    1. Iya Sumbawa memiliki garis pantai yang panjang dan mulut yang lebar. Bisa digunakan untuk main bola voli pantai dengan pasirnya yang lembut

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?