Melihat Bali Dari Dalam

Pesanggrahan Para Dewata ini tidak pernah membosankan saya. Tak masalah sudah berapa kali datang. Tak terpengaruh walau banyak  yang mengatakan bahwa Bali sudah terlalu main stream, terlalu turistik, dan terlalu komersil. Bagi saya tempat ini  terlalu eksotis untuk  dikenal hanya satu, dua, atau tiga kali kunjungan. Apa lagi tiap kunjungan cuma berbilang hari, paling lama 7 hari, jadi masih terlalu banyak hal yang ingin diketahui yang luput dari mata. Alhamdulillah cinta saya terhadap Bali tidak bertepuk sebelah tangan. Pada perayaan menyambut  Tahun Baru Caka 1938 saya termasuk salah satu tamu istimewa di sana. Sekalipun  peran saya ibarat  sebutir debu di Pantai Sanur yang luas, diundang merayakan hari penting ini tentu berbeda. Sebab selama ini saya seperti kebanyakan turis,menghindari Bali saat Nyepi.

Agar tidak terlalu panjang kesan saya selama mengikuti Hari Raya Nyepi 2016 akan di penggal dalam 4 seri tulisan. Di mulai dari Melihat Bali Dari Dalam, Upacara Meprani , Parade Ogoh-Ogoh, sampai melihat penduduk Mel Sanur melakukan Ngembak Geni yakni upacara sembahyangan satu hari setelah Nyepi yang diakkhiri mandi suci di laut.

melihat bali dari dalam
Salah satu adegan dalam Tari Barong

Rencana Reklamasi yang Menggelisahkan

Suasana internasional sudah terasa begitu kaki menjejak kaki di Bandara Ngurah Rai. Sekalipun mendarat di terminal kedatangan domestik, turis dengan berbagai warna kulit dan bentuk mata plus koper-koper besar bahkan dengan papan selancar, tak terhindarkan kesan bahwa Ngurai Rai Airport bercita rasa kampung internasional. Sementara Candi Bentar (gapura) penuh ukiran Bali di gerbang kedatangan menaikan kesadaran tentang budaya yang sebentar lagi kita masuki.

Sekalipun ini adalah pengalaman pertama terbang sendirian ke Bali tidak terbersit sedikitpun rasa kuatir. Saya sudah ditunggu Kenny Mimba, salah seorang panitia Festival Ogoh-Ogoh Banjar Semawang – Sanur yang mengundang saya ke tempat ini.

Dalam perjalanan menuju Sanur obrolan saya dan Kenny awalnya kaku dan penuh basa-basi. Maklum saya ibu-ibu sementara Kenny anak muda berpenampilan masa kini. Tapi sebentar saja kok, pengalaman saya dengan dua bujang di rumah bisa jadi modal. Seiring waktu obrolan kami berkembang dan mengalir ke berbagai hal. Mulai dari airport yang sekarang mulai terasa klaim internasionalnya. Padahal empat tahun lalu masih berlantai teraso putih. Apa lagi cuaca cerah dengan awan putih dan langit biru jernih membuat obrolan kami tambah banyak variasi. Sempat-sempatnya saya menyinggung tentang shock culture yang dialami saat pertama kali berkunjung ke Bali. Waktu itu dalam rangka bulan madu bersama suami. Bagaimana anehnya perasaan saya melihat patung-patung, ukiran, lukisan, dan bahkan berbagai bunga kamboja yang dikenakan penduduk di telinga. Suara dan aroma Bali dalam perjalanan bulan madu masih terasa sampai sekarang. Tak lupa saya juga menyinggung bahwa Hindu Bali adalah agama termahal di dunia. Mendengar itu Kenny mengiyakan dengan tertawa keras.

Memasuki Gerbang Tol Ngurah Rai, obrolan kami beralih ke  Tol Bali – Mandara yang megah. Tol pertama  di Bali sekaligus sebagai jalan Tol Terapung pertama  di Indonesia. Ruas tol yang membentang sepanjang 12,7 km diatas laut ini mengingatkan saya pada Penang Bridge di Malaysia. Uniknya ini lah satu-satunya jalan tol di Indonesia yang menyediakan  jalur sepeda motornya di ruas kiri dan kanannya.

Tol Ngurah Rai
Tol Ngurah Rai

Lalu tentang rencana reklamasi Teluk Benoa yang mendapat tantangan dari masyarakat Bali. Pada awalnya saya kurang mengerti mengapa mereka harus menolak reklamasi, bukan kah itu berarti pertambahan luas daratan Bali dan bisa membangun berbagai infrastruktur di atasnya? Coba saja lihat tol lintas laut yang sedang dilewati, telah mengurai macet menuju Denpasar dari Bandara. Sepertinya Kenny seorang guide yang baik. Dia memahami saya tidak mengerti sama sekali mengenai dampak reklamasi, apa lagi bencana ekologis yang ditakutkan orang Bali akan menimpa mereka. Ia menjelaskan lewat analogi tentang sebuah batu yang dimasukan ke dalam mangkuk. “Kemana perginya air yang terpindah akibat massa batu tersebut?”

Saya langsung dapat pencerahan: “Artinya sebagian daratan Bali malah akan tenggelam?”

“Sederhananya begitu” Lagi-lagi Kenny tertawa.

 Agar lebih paham saya mencari tahu di internet. Rupanya banyak alasan yang ditakut kan masyarakat Bali bila reklamasi jadi dilakukan. Salah satunya aktivitas itu akan akan memperburuk  terjadinya abrasi di sejumlah pantai di sekitar Teluk Benoa. Apa lagi lewat kajian Indonesia Maritime Institute (IMI) bahwa reklamasi di Teluk Benoa berpotensi merusak ekosistem terumbu karang. Padahal mereka telah menopang  kehidupan jutaan biota laut yang menjadi andalan wisata bahari Pulau Bali. Reklamasi pun akan menimbulkan sedimentasi yang akan membunuh semua terumbu karang berikut biota lainnya. Dan ini hanya sebagian kecil saja dari masalah yang berpotensi buruk terhadap alam Bali.

Ah pokonya ruwet! Semoga saja terjadi kesepakatan antara Pemerintah Pusat dengan masyarakat Bali lewat win-win solution.

Tekat Pemuda Bali dalam menolak reklamasi juga muncul saat Mel Ogoh-Ogoh
Tekat Pemuda Bali dalam menolak reklamasi juga muncul saat Mel Ogoh-Ogoh
Ngurah Rai Tol Gate
Ngurah Rai Tol Gate
Kiri Sanur - Kanan Jimbaran
Kiri Sanur – Kanan Jimbaran
Mengingatkan saya pada Penang Bridge
Mengingatkan saya pada Penang Bridge

Menikmati Nasi Campur di Warung Krishna

Selama ini kalau ke Bali saya hanya sebagai turis. Artinya melihat Bali dari luar. Jalan-jalan hanya di sekitaran area turis dan makan makanan yang diperuntukan bagi turis. Maka mumpung sedang jadi tamu orang Bali saya ingin melihat Bali dari dalam. Kalau makan menikmati makanan yang dinikmati orang Bali sehari-hari. Makanya begitu saya bertemu Tozan (kakaknya Kenny) dan ia bertanya saya mau makan apa,  langsung keinginan tersebut saya ungkapkan. “ Saya ingin makan di warung semacam warteg tapi khusus  masakan Bali. Ada kah di sekitar sini? ” Alhamdulillah ternyata ada!

Setelah menaruh koper dengan naik motor Tozan membawa saya  ke Warung Krishna. Lokasinya tak jauh dari Bali Sukun Cottages tempat kami menginap. Berbeda dengan warteg yang saya kenal di Serpong, Warung Krishna lapang, bersih, dengan pepohonan rindang mengelilingi halamannya. Tersedia dua ruang makan, di depan warung dengan meja kayu dan bangku panjang atau di belakang dengan meja dan kursi-kursi. Ruang belakang lebih nyaman karena menyerupai teras belakang rumah yang didominasi warna hijau pohon sekeliling.

Warung Krishna hanya menyediakan satu menu yakni Pecel Ayam Kuah yang disebut Tozan sebagai nasi campur. Isinya terdiri dari ayam suiran dimasak santan plus diberi irisan kelapa muda. Sekilas mirip opor. Menu tersebut dilengkapo  dengan kacang goreng, urap, taoge, telur, sambel matah khas Bali, sate ayam lilit. Yang unik Warung Krishna memberi pilihan apakah menu tersebut dinikmati bersama nasi, ketupat, atau bubur. Kebetulan siang itu ketupatnya sudah habis jadi saya memilih nasi.  Rasanya enak banget!

Alamat Warung Krishna
Jl. Kutat Lestari Nomor 4 Sanur, Denpasar, Bali.
Telepon (0361) 281661.

Warung Krishna
Warung Krishna
Pecel Ayam Kuah
Pecel Ayam Kuah
Ayam Kuah
Ayam Kuah
Sate Lilit Ayam
Sate Lilit Ayam

Menengok Persiapan Upacara Buta Yadnya di Rumah Odah Mangku

Tahun Baru Caka 1938 jatuh pada tangal 10 Maret 2016. Tiga atau dua hari sebelumnya, umat Hindu melakukan Upacara Penyucian yang disebut  Melasti atau Melis/Mekiyis. Foto-foto akitivitas ini paling banyak menghias media masa. Bagai mana tidak? Dengan berpakaian adat putih-putih pria wanita sampai anak-anak, para perempuan dengan Banten di kepala,  berbaris membawa segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) untuk diarak ke pantai,  danau, laut atau ke manapun yang terdapat  sumber air suci (tirta amerta). Mempesona! Foto-foto upacara simbol penyucian  atas segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam ini sudah memikat saya sejak kecil.

Odah Mangku. Perhatikan selendang putih yang melilit pinggangnya. Dikenakan setiap hari sebagai simbol beliau adalah orang suci
Odah Mangku. Perhatikan selendang putih yang melilit pinggangnya. Dikenakan setiap hari sebagai simbol beliau adalah orang suci

Sayangnya saya tiba di Bali tanggal 7 Maret. Sementara Melasti masyarakat Sanur sudah dilaksanakan tanggal 6. Tapi  tidak kecil hati juga karena setelah Melasti ada lagi upacara Buta Yadnya dan arak-arakan Ogoh-Ogoh. Ini kutipan dari Wikipedia mengenai upacara Buta Yadnya tersebut :

Pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya. Dilakasanakan di segala tingkatan masyarakat, mulai dari keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya. Membuat salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuan masing-masing. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Nah usai makan di Warung Krishna, Tozan bertanya, saya mau diantar kemana lagi? Langsung terpikir upacara Buta Yadnya ini. Saya ingin dibawa ke rumah penduduk yang tengah sibuk mempersiapkan berbagai keperluan upacaranya. Untung lah kami tidak perlu pergi jauh-jauh sebab Kakek si Dokter Gigi ini kebetulan seorang Pedande (pendeta) yang disebut Pemangku.  Di mana lagi tempat paling tepat melihat persiapannya kalau bukan di rumah beliau?

Simbok yang membantu Odah
Simbok yang membantu Odah

Memang lah saat kami tiba nenek dari Tozan yang dipanggil Odah Mangku, beliau sedang sibuk  di Bale Dauh (Salah satu bale di rumah tradisional yang berfungsi sebagai tempat kerja, pertemuan dan tempat tidur anak laki-laki). Tangannya sibuk membuat janur untuk hiasan caru. Sulit bagi saya membayangkan bahwa wanita lembut ini pada masa mudanya pernah menjunjung Banten setinggi satu meter dengan naik sepeda. Ia tergelak saat saya katakan betapa kuat tulang leher dan betapa bagus keseimbangan tubuh Odah. Sementara seorang wanita lebih muda yang dipanggil simbok sibuk menata canang sari (wadah terbuat dari daun kelapa) ke dalam besek. Di hadapan mereka bertebaran daun kelapa muda, canang sari berisi berbagai nasi berikut lauknya, beras, bunga, buah-buahan, air suci, kendi, dan besek-besek bambu. Sambil tetap bekarja mereka menjawab semua keingintahuan saya dengan ramah.

Banten (sesembahan)  sebanyak itu akan diletakan di Sanggah dan beberapa tempat suci lainnya di rumah Odah. Mengingat jumlahnya yang banyak saya pikir tadi akan dibawa ke Pura, tapi ternyata tidak. Banten-banten ini hanya untuk keperluan rumah.

Canang Sari berisi makanan yang berasal dari darat dan laut
Canang Sari berisi makanan yang berasal dari darat dan laut
Tebu, Sambal Matah, dan Bunga yang menunggu giliran penataan
Tebu, Sambal Matah, dan Bunga yang menunggu giliran penataan
Odah sedang menyiapkan Banten kecil yang berisi antara lain buah Kelapa Puan
Odah sedang menyiapkan Banten kecil yang berisi antara lain buah Kelapa Puan

Kemudian Tozan memperlihatkan kepada saya Sanggah (Pemerajan)  milik keluarganya. Sanggah Kemulan tepatnya. Ini adalah tempat suci di pekarangan rumah, tempat bertahta Sang Bhatara Hyang Guru, dan  tempat pemujaan atau pengayatan ajaran Tri Murti. Sanggah kemulan juga merupakan tempat suci untuk memuja Bhatara-Bhatari leluhur atau Dewa Pitara. Oh ya sebuah tempat baru bisa  dinamai Sanggah atau Pemerajan bila minimal terdapat Kemulan Rong Tiga sebagai Linggih Tri Murti atau Leluhur, Linggih Sedana Penglurah, dan Gedong Linggih Taksu.

Begitu lah fondasi tradisi budaya Bali yang kaya yang  berakar kuat pada tradisi Agama Hindu. Sejak dalam kandungan sampai kematian penuh oleh berbagai upacara. Di lakoni setiap hari maupun mengikuti penanggalan. Ini salah satu alasan mengapa mereka unik dan menumbuhkan turisme selain kondisi alam yang juga memikat. Beruntung saya dapat kesempatan melihat Bali dari dalam.

Sanggah di rumah Odah Mangku
Sanggah di rumah Odah Mangku
Persembahan di Pelataran Sanggah
Persembahan di Pelataran Sanggah

80 thoughts on “Melihat Bali Dari Dalam

  1. Aku dengar2, banyak yg menolak reklamasi karena di teluk Benoa itu ada beberapa titik sakral bagi masyarakat adat Bali, selain merusak ekosistem. Apa Kenny bahas itu juga?

    Jadi pingin nyoba juga ke Bali sendirian juga deh.., melihat Bali dari dalam. Terakhir bareng istri dan anak soalnya 😀

    1. Hahaha..Kenny tidak membahas ini Mas Yo. Mungkin dia lihat ibu-ibu di sampingnya kurang informasi. Belakangan saya baca memang begitu, reklamasi akan menengelam sebagian darat yang berarti jika ada tempat suci di sana juga akan lenyap..

      Ke Bali sendirian seru Mas Yo..Walau seru bersama mantan juga beda lagi wkwkwkwk…

  2. Pertama kali lewatin tol laut itu saya bilang kediri sendiri “duh ini keren!” Seorang kenalan pertama datang ke bali bilangnya juga terlalu turistik mirip disneyland saya bilangnya apapun yg kau sebutkan aku tetap cinta Bali 🙂

    1. Hahaha iyaMbak Ru..Bali tetap yg paling menyenangkan kalau sdh ngomong infrastruktur turis yang lengkap. Untuk menginap saja tiap jengkal ada hotel. Sesuaikan saja dengan isi kantong 🙂

  3. Canang sari nya kayak nasi campur gitu ya mba, penasaran dengan rasanya :D. Aku pernah ke Bali waktu Nyepi, tapi udah lamaaaaa banget, zaman masih sekolah dulu dalam rangka liburan bareng ortu. Yang aku inget, mau cari makan aja sampe nyerah karena pada tutup tempat makannya… hiks.

    1. Pas Nyepi semua usaha memang tutup sih. Biasanya hotel yg akan stock makanan. Maklum kita kan gak boleh keluar…

      Canang sari itu wadah untuk menyajikan sesajian Mbak, Molly. Isinya memang campur-campur 🙂

  4. Iya ya kak Evi,,, baru – baru ini Bali di sorot karena masalah reklamasi,,,,
    Sempat nggak mudeng juga sieh kak, kalau reklamasi itu benar terjadi berarti kan logikanya bertambah ya? tapi kok malah berkurang…
    Tapi aku pribadi kok malah setuju menolak ya? logikanya Bali kan menjunjung nilai religius yang tinggi,,,, konon katanya kalau benar akan di reklamasi malah ada sebagian tempat suci kayak pura yang hilang,,, ah mbohlah malah mumet memikirkannya,,,, Semoga bisa terpecahkan lah masalah ini, dapat win win solution,,,,,
    Bali dari dulu memang oke, mainstream nggak apa – apa, semoga tempatnya tetap terjaga 🙂

    1. Iya Mas Anis. Semoga pemerintah dan masyarakat Bali saling mendengarkan ya. Kalau sampai ada pura yg harus hilang demi kepentingan kemajuan ekonomi, tentunya akan sumbang yah…:)

  5. Saya yakin nuansa Nyepi di Bali akan sangat berbeda; karena sangat murni dan adat istiadat dijaga dengan begitu kukuhnya. Jujur saya belum pernah Nyepi-an di Bali dan saya belum bisa membayangkan seperti apa rasanya :hihi (nasib perantauan sejak lahir).
    Duh makanannya bikin ngiler… terima kasih rekomendasinya Mbak, saya kini bisa mengajak kawan-kawan di sini juga kalau ingin makan masakan Bali :)). Dan mendadak kangen dengan rumah kalau sudah lihat canang–biasanya saya di rumah yang mebanten–berkeliling dan meletakkan canang-canang itu di pelinggih dan tempat lainnya. Cuma bentuk canangnya beda–yang di foto itu khas Bali selatan, sementara canang di tempat asal saya, Buleleng (Bali utara), jauh lebih sederhana tanpa jangan ulam (kacang, ikan asin, dan telur), sebab canang di tempat saya isinya cuma bunga dan irisan daun pandan.
    Ah maaf kalau komentarnya kepanjangan.

    1. Wow..terima kasih sudah memberi informasi tambahan dalam pos ini, Gara. Jadi isi canang antara Bali Selatan dan Utara sedikit berbeda ya.

      Semoga suatu hari Gara bisa Nyepi di tanah leluhur. Amin 🙂

  6. Wah saya salut sama mbak Evi sampai peduli ke reklamasi teluk Benoa yang kadang sulit dipahami orang; apa sih salahnya reklamasi? Orang yang menolak reklamasi berpikir; Bali sudah begini adanya, gak perlu ditambah, gak perlu dikurangi.

    Lha kalau kita menambah daratan lagi, itu artinya kita siap-siap kehilangan daratan lainnya. Saya khawatir, jika teluk Benoa jadi diurug dengan tanah, abrasi akan menyerang pesisir selatan Bali, yang Jembrana ada pada jalur itu. Saya sebagai orang Jembrana pun merasa keberatan.

    Sorry komentarnya jadi panjang. Btw, fotonya bagus-bagus, saya lihat komposisinya maknyus, saya jadi curiga kalau mbak Evi ini fotografer. Salam.

    1. Ternyata masalah reklamasi di Bali memang ruwet ya Bli. Membaca beberapa alasan penolakan saya jadi paham mengapa masyarakat melakukannya. Semoga ada kearifan yang dilakukan pemerintah sebelum memutuskan menjalankan reklamasi.

      Ngomong2 tentang fotografer, hahahaha iya saya fotografer Bli. Tapi tambahkan ala-ala di belakang yah..Terima kasih atas pujiannya

  7. Reklamasi memang berdampak lumayan besar sama ekosistem laut, baca2 katanya reklamasi yang lumayan besar yang dilakukan di Manado sejak bertahun2 yang lalu itu adalah salah satu penyebab rusaknya terumbu karang di Bunaken 🙁

    Foto-fotonya indah2 sekali mbak Evi dan ceritanya juga bikin terhanyut..hehe…

    1. Iya sekarang pesona laut bunaken sudah tidak seperti dulu ya Jeng Lis. Semoga gak kejadian juga lah di Bali. Sayang banget kan kalau sampai pesona negeri dewata ini terkurangi..

      Thanks Jeng…:)

  8. bundaaa… aku blm perna ke bali pas ada acara2 begitu. kalo ke sana, pasti nyarinya yg low season.. jadi enak banget jalan2nya, trus di dompet ramah juga.. hahahha…

    oiya, di surabaya juga ada tol yg menyediakan ruas buat motor, jembatan suramadu itu, bunda 😀

    1. Kemarin itu, suami saya nyusul setelah kegiatan festival selesai Mbak Eda. Benar kata dirimu, Bali pas low season ini murah. Aku dapat hotel yang semalamnya 1 jutaan di diskon sampai 50 persen lebih. Terus di tempat lain dapat upgrade kamar. Duh senang banget 🙂

  9. Ah sudah lama saya tidak ke Bali …
    Jalan Toll sudah jadi …
    Seperti apa wajah Bali sekarang ya …

    as ussual … foto-fotonya … bagus !

    Salam saya

  10. Bali selalu mempesona. dari segala aspek, dan terima kasih sudah memberikan kita insight dari dalam. saya juga pernah tuh Bu, naik motor sambil selfie dan ngambil video di tol di atas laut itu. cakep hasilnya. hahaha

  11. Mbak, aku pengen banget experience Nyepi seperti ini, pasti lebih berkesan dan dapet spiritnya. Sebenernya gak harus Nyepi sih, tapi semua destinasi dengan perspektif lokal 🙂 #curhat

    1. Hahahaha. .Kapan2 kita traveling bareng yuk Kak Gio, kita cari orang tua angkat di destinasi. Pasti deh banyak banget nemu perpektif lokal

  12. memang beda rasanya kalau mengunjungi suatu tempat sebagai turis, dan sebagai warga biasa, feelnya bakal lebih dapet jika kita datang sebagai warga biasa, there’s a

  13. begitulah ya mbak, kemajuan dalam kehidupan sosial masyarakat terkadang harus mengorbankan alam yg entah kapan akan membawa masalah juga buat kita. sementara itu sih dinikmati dan dimanfaatkan aja dlu fasilitas yang ada apalagi sambil menikmati kuliner Bali yg maknyus. itu pecel ayam kuahnya serius bikin ngiler uni 😛

    1. Kalau melihat dari kacamata rakyat Bali memang sebaiknya begitu ya Mbak Muna. Jika reklamasi bisa menimbulkan bencana ekologi sebaiknya memang harus dipertimbangkan lagi 🙂

  14. menikmati sekali tulisan mbak evi, cerita dan foto2nya eh nggak kerasa udah sampai kolom comment. Reklamasi sekarang ini isu yang sangat meresahkan yaa, apalagi bagi nelayan dan aktivitivis lingkungan. Btw salam kenal mbak evi

  15. Beruntung banget mbak bisa melihat masyarakatnya dari dekat. Waktu aku ke Bali, drivernya pun ngobrol panjang lebar ttg reklamasi. Kok seperti ada yg nggak nyambung antara masyarakat & para pembuat kebijakan ya?

    1. Pemerintah melihatnya pada keuntungan ekonomi sajs. Dengan reklamasi mereka bisa membangun infrastruktur yang mendukung industri seperti pelabuhan misalnya. Mbak Lusi 🙂

  16. Mbak Eviii..keren fotonya. Ajarin dong bikin foto2 yang blur latar belakanganya kayak foto2 diatas. hehe.

    Ngomong2 reklamasi, jadi inget teluk Jakarta juga yang lagi rame masalah reklamasi untuk bikin 17 pulau buatan. Mungkin hampir mirip dengan analogi yang disampaikan di artikel atas ya Mbak? dampak ke lingkungannya. Syerem juga. Sedikit mengerti Mbak, walaupun saya masih ngga mengerti dengan kebijakan2 dan perpolitikan yang ada saat ini.

    Saya juga iri dengan Mbak Evi, bisa menyaksikan Bali dari dalam, Saya suka Mbak, travel2 seperti ini. Selama ini saya juga kebanyakan jalan sebagai turis, tapi saya pengen banget bisa mengetahui sampai dalam seperti ini. Kalaupun punya kesempatan ke Bali lagi, kayaknya sulit juga ya Mbak, kalau ngga punya kenalan di Bali yang mengerti adat istiadat Bali. Hiks…pengen. Keren Mbak, tulisannya.

    1. Hahahaha..Mbak Levina, gak susah kok membuat foto-foto bokeh. Yang penting setting cameranya manual, terus kecilin angka di Aperturenya…Kalau saya cuma gitu doang tipsnya…

      Iya aktivitas reklamasi selalu menimbulkan pro dan kontra. Karena masing-masing yang berkepentingan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Saya sih berharap reklamasi tidak merugikan siapapun 🙂

    1. Agama Hindu mahal, menurut saya, karena dari dalam perut sampai meninggal, terus tiap hari ada upacara Mas Cum. Alat-alat untuk upacara itu kan harus dibeli 🙂

  17. Saya sangat riang membaca tulisan ini. Saya merasakan begitu besar peluang bagi saya untuk menikmati Bali dengan sederhana, dari dalam. Menghindari titik-titik turisme, berbaur dengan warga setempat. Saya yakin masih banyak banget titik-titik tersembunyi yang lebih unik dan meluaskan cakrawala berpikir 🙂

    1. Setuju banget Mas Rifqy. Bali tidak hanya cantik di tourism spots tapi pesona sesungguhnya terletak di sebelah dalam. Semoga Mas Rifqy juga dapat kesempatan seperti saya. Amin 🙂

  18. Iya, saya setuju dengan “Bali tidak pernah membosankan”. Satu bulan penuh di Bali pun mungkin gak akan cukup untuk mengeksplore keseluruhan pulau ini. Apalagi kalau cuma datang 3-4 hari.

    1. Na setuju sepertinya sebulan juga tidak akan cukup untuk mengeksplorasi seluruh keunikan yang ada di Bali. Makanya datang berkali kesini pun tidak akan bosan 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?