Perjalanan Dari Kota Bima ke Desa Sangiang Wera

Keindahan yang Tak Kunjung Usai

perjalanan dari kota bima ke desa sangiang wera
Pantai Tololai Bima

All the above is, of course, a gross simplification. There are deeper reasons to travel – itches and tickles on the underbelly of the unconscious mind. We go where we need to go, and then try to figure out what we’re doing there.”   — Jeff Greenwald

Traveler garis keras
Traveler garis keras

Kehadiran saya dan teman-teman di Kota Bima relatif singkat. Oleh berbagai kendala rencana mengeksplorasi tempat-tempat yang semula direncanakan ternyata tak bisa dieksekusi. Taka apa, mungkin ini jalan agar kami kembali. Saya tetap saja bersyukur  sudah sempat menginjakan tanah dengan budaya dan kaya kearifan lokal ini. Kalau tak dapat undangan dari Makembo mungkin saat ini Bima masih di dalam buku bagi saya karena minimnya informasi wisatawan bisa ngapain saja di sana. Jadi saat melakukan perjalanan dari Kota Bima Desa Sangiang di  Wera, kota kecamatan  di Nusa Tenggara Barat, saya tidak punya ekspektasi apa-apa. Kecuali sudah tahu bahwa secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi. Dari atas pesawat saja sudah terlihat tanahnya bertekstur pegunungan dan hanya (30%) saja berupa dataran yang terbagi atas proporsi  14% areal persawahan. Artinya lagi 16 % sisanya merupakan  lahan kering. Apapun akan dilihat nanti saya sudah yakin duluan akan menemukan lansekap eksotis!

Aktivitas di tepi sawah
Aktivitas di tepi sawah

Perjalanan Dari Kota Bima ke Desa Sangiang Wera dengan Lansekap yang Menawan

Benar ternyata! Memang lah saat berada di dalam Kota Bima, seperti umumnya kota yang sedang berkembang di Pulau Jawa, sekilas sepertinya tak ada yang  istimewa. Rumah dan toko yang berciri mau pun tidak bangunan Bima berjejer di depan jalan. Angkot, cikomo, mobil pribadi, dan ojek berseliweran. Kadang parkir begitu saja seperti hanya mereka pengguna jalan. Pasar tradisional menjual hasil alam dan industri yang menggambarkan bagaimana masyarakat mengkonsumsi. Begitu pun sarana umum berupa tempat ibadah dan alun-alun bahwa hidup mengalir mengikuti kemajuan. Namun saya merekam aktivitas penduduk dalam perasaan bahwa setelah pulang saya pasti akan sangat merindukan tempat ini.

Mengawasi petani bekerja di sawah
Mengawasi petani bekerja di sawah

Berbeda begitu keluar dari gerbang kota. Afirmasi pada kerinduan tanah Nusa Tenggara Barat  suatu saat nanti semakin menguat. Bukan hanya karena lansekapnya sangat berbeda dari Pulau Jawa dan Sumatera  bahwa tempat ini kurang terekspos dari sisi pariwasat mungkin alasan utamanya. Di tempat-tempat yang sudah jadi destinasi wisata massal relatif sulit menemukan keunikan yang membuat mulut mengucapkan wow secara natural. Mungkin sudah terbiasa melihatnya dari majalah dan internet atau juga karena over komersil membentuk pandangan bahwa itu sudah biasa. Dan lansekap yang saya lalui kala  menuju Sangiang mengukir pandangan baru bagi saya akan arti keindahan sebuah perjalan.

Melintasi dusun, persawahan, dan pantai
Melintasi dusun, persawahan, dan pantai
Sawah dilihat dari atas bukit
Sawah dilihat dari atas bukit

Perjalanan itu tejadi di Agustus, puncak musim kering tanah air. Kecerahan mentari pagi seolah menelanjangi tanah Bima yang kerontang. Langit biru memayungi lahan keabuan bertabur beberapa pohon hijau. Bukit-bukit kapur dengan semak kering, kambing-kambing, dan sapi-sapi hening menghadap lautan lepas. Ombak kecil menghempas kemudian hilang. Mungkin karena masih pagi tak terlihat penduduk memandikan kuda, aktivitas biasa yang saya lihat di tepi pantai sepanjang sore kemarin di Kota Bima. Gulungan air yang diterbangkan angin, pecahan  kecilnya menyampaikan pesan bahwa laut yang membiru itu teramat dalam.

Melintasi jalan berliku
Melintasi jalan berliku
Gunung, lembah, dan jalan berkelok turun-naik
Gunung, lembah, dan jalan berkelok turun-naik

Dari kejauhan Gunung Sangiang Api berdiri kokoh. Abu vulkaniknya melambai-lambai menjangkau awan. Setelah melintasi jalan berliku, bekelok yang bersisian dengan tepi jurang terjal, kami masuk ke jalan di tepi laut.

Gunung Api Sangiang dari jauh
Gunung Api Sangiang dari jauh

Iya selain mengikuti lentur punggung perbukitan, perjalanan Kota Bima menuju Desa Sangiang Wera ini diteruskan menyusuri tepian Teluk Bima yang tersambung ke Laut Flores. Ini lah lintasan pelayaran modern, jalur kapal Benoa/Denpasar-Bitung atau Bima-Labuan Bajo. Mungkin juga ini lah lajur pelayaran nenek moyang bangsa Dana Mbojo beratus tahun lalu.  Pantainya penuh lekukan membentuk ratusan teluk mini.  Makjang! Kabupaten ini beruntung sekali. Dengan Gunung Sangiang Api yang masih aktif itu tak sulit bagi anak mudanya menemukan tempat selfie keren. Bahkan satu dua lekukan  pantainya berbentuk setengah lingkaran sempurna.

Sekalipun bisa bertanya pada Pak Alan yang menemani, selama perjalan saya membuka Google Mapas dan menghidupkan GPS ponsel. Tak enak  bertanya setiap saat hanya untuk mengetahui posisi saat itu. Sayangnya seperti juga banyak tempat di Bima, lansekap mereka di Google Maps masih banyak belum  bernama. Saya mencoba membuat erth tagging untuk foto di Instagram, setali tiga uang, yang keluar hanya titik GPS. Beberapa pantai sudah bernama seperti Pantai Radu, Pantai Oi Tui, Pantai Tololai, dan Pantai So Sanumbe. Selebihnya kosong.  Tapi tetap saya beri bintang guna  menandai bahwa saya pernah di sana. Akun Google saya akan menyimpan tagging ini untuk banyak keperluan di masa depan.

Lengkung laut hampir setengah lingkaran
Lengkung laut hampir setengah lingkaran
Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai
Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai
Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan
Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan

Aktivitas di Tepi Jalan

Namanya road trip, melintas dengan kendaraan bermotor kemudian meninggalkan jejak karbon semena-mena  di belakang. Selebihnya tak bisa melakukan apa-apa selain selang-seling memandang aktivitas penduduk dengan pemandangan alam. Artinya tak ada  yang bisa ditanyai berapa ekor ternak yang dimiliki gembala yang sedang mencari rumput di perbukitan. Atau kemana mereka yang melaju kencang mendahului mobil kami dengan sepeda motornya pergi?  Orang yang berjualan atau menunggu kendaraan umum duduk di pondok tepi jalan sudah berapa lama di sana?  Baliho-baliho kampanye para pemimpin daerah itu siapa nama mereka? Apa visi mereka untuk daerah cantik ini?  Sekelompok ibu-ibu membawa bingkisan yang hendak pergi ke pesta tetangga, apa buah tangan mereka? Bapak-bapak yang merokok sambil tercenung mengawasi kendaraan yang berlalu lalang, sedang memikirkan apa?

terminal wera
Terminal Wera yang sepi dari kendaraan

Jalan  lintas Kota Bima-Desa Sangiang Wera sudah beraspal mulus. Tidak demikian dengan rumah penduduknya, ada yang  bagus, banyak pula yang tidak. Rumah-rumah itu terbuat dari tembok dan papan. Menurut kawan diantara desa yang kami lintasi tersebut ada yang belum dimasuki jaringan PLN. Kalau pun ada kadang listriknya hanya menyala selam 6 jam perhari.

Rumah tradisional Bima berupa rumah panggung yang terbuat dari papan. Yang eksotis adalah terlihat banyak kaum ibu menenun di bawah maupun di kolong rumah. Warna-warna benang yang mencolok terlihat jelas di kejauhan.

Rumah lama di tepi jalan
Rumah lama di tepi jalan

Perjalanan Pulang

Setelah urusan dianggap selesai di Sangeang hari itu juga kami balik ke Kota Bima. Perjalanan pulang lebih dramatis view-nya. Saat perlahan matahari turun bias jingga dari laut dan darat membuat shutter camera saya tak berhenti bekerja.

Di sebuah tempat kami tak tak tahan untuk tak berhenti melihat sunset perlahan hadir di depan mata. “Yuk turun poto-potoan!” Semua sepakat. Jangan lupa pakai Kaca Mata Korea biar tambah keceh. Bang Alan Guteres, pimpinan Yayasan dan sekolah gratis Darul Ulum untuk anak-anak kurang mampu di Ambalawi Tololai,  pemenang Kick Andy Hero, dan tokoh inspiratif Dompet Dhuafa, tanggap terhadap kebutuhan penganut garis keras “gak sah berkunjung ke satu tempat kalau tak narsis!”  Matahari menjingga itu perlahan menghilang ke bawah laut.

Semoga di lain waktu bisa menulis profil Alan Guteres di sini. Sementara itu silahkan nikmati foto-foto sunset– nya dulu 🙂

Alan guteres
Alan Guteres, Donna Imelda, Gunung Api Sangiang, dan sore yang indah
sunset di Bima
Perlahan beranjak turun menuju peraduan. Tapi menurut sudut pandang saya sih..
sunset romantis di pantai bima
Kebesaran Sang Jago Pembuat
matahari mengintip dari balik bebatuan
Tak ada yang baru di bawah Sang Mentari

66 thoughts on “Perjalanan Dari Kota Bima ke Desa Sangiang Wera

    1. Terima kasih Mbak Nanik..
      Begitu lah yang saya rasakan, sekalipun menempuh perjalanan sekitar 3 jam, tak sejenak pun saya merasa ngantuk 🙂

  1. Kamu keren amat sih nulisnya, mbak. Foto2nya juga. Perjalanan Bima ini satu perjalanan terbaik aku dengan semua hal2 yang diluar dugaan kita bisa renjoy dan jadi kenangan yg manis kini.
    Ada foto aku juga, yeaaaayyyy

    1. Aish dapat pujian dari seseorang yang kalau nulis juga indah itu gimanaaaaa gitu rasanya. Terima kasih Mbak Don. Ini pengalaman seru yang tak mungkin terulang kayaknya hahaha….

  2. Mbak Evi, tulisannya menyentuh banget Mbak. Apalagi ditambah dengan pemandangan indah foto-fotonya. Membuat saya seolah merasa bisa menghirup harumnya rerumputan dan merasakan hangatnya matahari di sana. Terharuuu.

    1. Begitu kah Mas Dani? Terima kasih ya. Kadang menulis itu ngikutin ayunan mood kayaknya. Tadi aku menulisnya dalam keadaan super bahagia..Mungkin jadi tercermin pada tulisannya hehehe…

    1. Betul Mbak Ru..Di Bima yang nota bene jauh dari hiruk-pikuk kekotaan, seseorang bisa berkarya bagi lingkungannya. Saya pun gak habis pikir kok kepikiran beliau yang seorang sopir bus malam memikirkan kelanjutan pendidikan anak-anak yang kurang beruntung yah..:)

  3. Pernah punya pengalaman nggak enak di BIMA waktu tengah malam, tanpa permisi porter barang nyeret2 ransel saya turun dari mini bus, kemudian minta uang, uda saya kasih..eh, balik lagi minta uang lagi, maksa lagi. Untungnya, mereka kasihan setelah saya memasang wajah memelas. Hahaha

    1. Ish..Seram amat itu pengalaman Mas Inggit. amit-amit jangan sampai kejadian pada saya ya hahaha..
      Alhamdulillah selama di Bima saya dan teman-teman ketemu orang baik semua 🙂

    1. Tozz ah Mbak Terong. Aku juga suka banget melihat rumah-rumah desa itu. Pengen tinggal di rumah seperti itu.Tapi mesti lengkap fasilitasnya tapi…Ada air hangat, ac dan internet hehhe…

    1. Nah selama ini orang kalau ke Nusa Tenggara Barat, jalannya kan cuma ke Lombok ya Mbak. Coba deh masuk ke Bima, ditanggung termehek-mehek. Memang sih fasilitas wisata tak sebagus di Lombok..Tapi siapa peduli? Kalau liburannya cuma butuh hotel bagus, Bali banyak tuh 🙂

  4. Bagus sekali Mbak, saya yang lahir di NTB pun belum pernah bertandang ke sana. Kalian memang beruntung, beruntung sekali, bisa menyaksikan alam yang ada di puncak keindahannya ini. Agaknya memang sekali seumur hidup, seseorang mesti bertandang ke Bima, pucuk timur Pulau Sumbawa tempat keindahan NTB mencapai klimaksnya. Top banget!

    1. Iya nih Gara mesti datang kesana. Masuk deh ke pasar tradisionalnya, banyak banget yang khas Bima di sana. Makanannya itu lho, aku jatuh cinta pada sayur daun kelor 🙂

  5. Aku baca ini jadi kangen Lombok Mbak Evi,,, kenapa ya walaupun alamnya yang agak gersang tapi ngangenin. Hmmmm,,, kayaknya perlu nieh suatu saat nanti mengagendakan ke Pulau Sumbawa ini salah satunya Kota Bima ini 🙂

  6. Alan Guteres ini yang pernah diceritakan saat di Kota Agung lalu, pasti orangnya baik ya bu Evi.
    Melihat sekilas bentangan alamnya, Bima punya banyak spot bagus buat difoto. Kapan2 mau juga kemari.
    —————-
    Benar Mas Yo. Alan Guteres ini juga salah satu teman bagi traveler yang tersesat di Bima. Cari saja dia di terminal. Atau tanya saja orang-orang, pasti ditunjukin deh 🙂

    Nah foto Mas Yo di Bima gak bakalan aku ragukan deh

  7. Wah mbak Evi udah sampai Bima toh 😉 Lanjut dikit ke kabupaten sebelahnya, ketemu deh Dompu. Saya bapak dari Lombok, ibu dari Dompu mbak. Tapi sudah lama gak pulang ke Dompu hehehe

  8. wuih traveler garis keras naik mobil bak hehe.. keren ya sunrisenya, dan suasana pantainya juga asik masih asri.

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?