(Review) Museum Cokelat dan Kopi Penang

museum cokelat dan kopi penang
Petunjuk jalan

Museum Cokelat dan Kopi Penang – Travelog Indonesia ~ Tiap meninggalkan rumah sebatang coklat pasti nyelip dalam ransel saya. Berguna mencegah pening akibat gula darah turun kalau-kalau telat makan. Namanya juga diperjalanan situasi kadang tak menentu. Kadang mudah menemukan tempat makan kadang tidak.  Paling aman memang menyelipkan sepotong cokelat atau roti ke dalam ransel. Untuk jaga-jaga. Namun kebanyakan coklat yang dibawa itu berakhir bukan untuk maksud yang sebenarnya. Bukan untuk pertolongan darurat malainkan jadi makanan iseng. Seperti saat keliling kota Penang beberapa waktu lalu. Perjalanan dari barat ke timur menyusuri Pulau Penang sebenarnya menarik. Hanya saja karena perjalanannya cukup panjang membangkitkan perasaan lapar. Iseng tepatnya. Maka coklat simpanan itu pun keluar  dari ransel. Melihat itu si bungu  langsung berkata: “ Stop deh Mama..” Tanpa dosa ia mengambil coklat dari tangan saya. Mematahkan, membagi ke sepupunya, dan memakannya sendiri. “Aku sayang mama..” katanya menepuk-nepuk perut  tambun saya. Perasaan jadi campur aduk. Suka karena merasa di sayang. Sedih karena anak sendiri saja bisa melihat saya kelebihan berat badan. Duh! Maka saya pun ngelap air mata dalam hati.

museum cokelat dan kopi penang
Ruang selamat datang

Rupanya Joe – sahabat yang menemani kami—mengikuti pembicaraan tersebut. “Siapa yang suka cokelat?” Tanya dari balik kaca spion. Saya pun langsung tunjuk tangan. Si bungsu tertawa geli. Yang lain juga. “Okey…Kebetulan sekarang kita akan melewati Chocolate and Coffee Museum Penang.” Katanya. “Wah museum cokelat?” Saya bergumam. Bahkan seisi mobil pun naik suhunya. “Mau..Mau..” Kata mereka. Tak saya saja kiranya yang ingin melihat seperti apa rupa museum cokelat itu. Kalau pabrik cokelat sih pernah ke Monggo Chocolate di Yogyakarta.

Chocolate history
Chocolate history

Terbukti kemudian perkataan Joe separuh benar dan separuh tidak. Yang dimaksud sebagai Chocolate And Coffee Museum itu ternyata sebuah toko. Toko yang menjual cokelat dan kopi. Karena sudah kadung ya dinikmati saja. Apa lagi konsep museum ada benarnya walau teramat minim.  Maksud saya sebelum belanja ke dalam toko cokelat dan kopi  mereka menyediakan separuh ruangan dari satu bangunan untuk edukasi. Dengan gambar dan alat-alat sederhana kita dikenalkan pada sejarah, proses pembuatan, dan jenis-jenis cokelat.  Dinding juga penuh kutipan kata mutiara maupun filosofi tentang cokelat.

Who is eats the most chocolate? Indonesia tak ada di sini :)
Who eats the most chocolate? Indonesia tak ada di sini 🙂

Bagian dari Museum Cokelat dan Kopi Penang itu …

Masuk ke bagian tokonya baru terasa  bahwa ini surga bagi para penggemar cokelat.  Benar bahwa bisnis itu perlu dimodali kreativitas. Dan benar di dalam museum cokelat dan kopi Penang ini berbagai kreasi olahan otak kanan manusia tersaji cantik. Mulai dari penataan rak-rak, warna, desain kemasan, dan bagaimana mereka dikelompokan, jadi pesta untuk mata pengunjung.  Terutama desain kemasan yang akan mudah membuat pelanggan jatuh hati. Walau tak membeli masuk ke toko ini memberi inspirasi bagaimana bisnis seharusnya dikemas. Saya jadi ingat saat berkunjung ke Bulukumba dan masuk ke kebun cokelat. Bagaimana petani di sana terkadang membiarkan buah cokelatnya membusuk di pohon karena merasa tak mendapat keuntungan dari produk mereka. Ah kalau saja ada jembatan yang menghubungkan kreasi otak kanan seperti ini masuk ke kampung-kampung penghasil coklet tanah air, yang saya lihat di Bulukumba itu tak perlu terjadi.

Salah satu sudut yang menceritakan berbagai jenis cokelat
Salah satu sudut yang menceritakan berbagai jenis cokelat

Dari mengagumi kemasan saya mulai memilih-milih cokelat yang hendak di beli. Bertambah takjub bahwa mereka memadukan buah-buahan yang sudah saya kenal dengan cokelat dalam seksi Fruits Chocolate. Ada durian, strawberry, apel, kelapa, semangka, nanas, dan bahkan cabe. Iya di Museum Cokelat dan Kopi Penang ini ada coklat pedas. Saat diberi kesempatan mencicipi syaraf perasa saya langsung protes. Cabe biasanya di masakan bukan dalam permen. Karena rekaman rasa itu belum ada di memori pencecap maka dengan sembarangan saja ia mengatakan coklat pedas itu tak enak. Padahal kalau jejak sejarah cokelat manis itu disingkirkan sedikit pasti enak juga lah cokelat pedas itu.

Sambil melihat, mengagumi, dan terus menerus ditawarkan potongan cokelat kecil untuk dikulum dan minuman Hot Chocolate untuk dicicipi,  tidak bisa menghentikan saya berpikir. Bahwa toko ini dirancang untuk wisatawan. Sejatinya bukan untuk penggemar cokelat. Terutama penggemar yang sensitif harga seperti saya. Seperti kata peribahasa bahwa ada rupa ada harga terbukti di sini. Dari dua kotak cokelat yang saya beli karena tertarik kemasan terbukti bahwa saya membeli harapan sendiri. Cokelatnya sih biasa-biasa saja. Isinya juga sedikit. Lebih enak cokelat produk massal yang biasa saya konsumsi. Lantas ingat kutipan film Forest Gump yang dibintangi Tom Hanks di dinding mereka: Life is like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get”. Ok fine! Baik lah.

Beragam cokelat dengan kemasan menarik
Beragam cokelat dengan kemasan menarik
Cokelat dengan rasa kemiri
Cokelat dengan rasa kemiri

Keluar dari sana saya melanjutkan melamun. Mungkin di Indonesia sudah ada toko seperti ini. Dan saya berdoa semoga sudah ada. Semoga. Semoga. Tanah air kita begitu kaya. Tak susah membuat toko seperti itu.

39 thoughts on “(Review) Museum Cokelat dan Kopi Penang

  1. Di Indonesia sini ada chocomory mba, chocolate khasnya cimory. Saya senang kalau sudah kesana. Memang tidak ada tulisan-tulisan ala museum seperti diatas sana dan dari segi rasa pun tidak terlalu banyak jenisnya. Tapi saya suka dengan rasa cokelatnya yang memang katanya dibuat sendiri. Harganya pun bisa dibilang tidak murah tapi ada rasa ada harga 🙂

    1. Yes! Aku ingat sekarang pernah melihatnya di Cimory Riverside Mbak Sandrine. Syukur lah ya..Semoga cokelat kita mendapat nilai tambah di negeri sendiri. Gak melulu diekspor sebagai bahan baku 🙂

  2. Memang dibutuhkan kreativitas ya Mbak Evi untuk berbisnis dan rasanya sedih baca petani di Bulukumba sana memilih menbiarkan coklatnya busuk di pohon.. 🙁

    1. Kepikiran mungkin sudah banyak Mbak Muna. Setidaknya dari mencontek ke Penang ini saja idenya sudah ada. Cuman untuk mengujudkan emang kisahnya lain lagi..Kemampuan kita mengelola halangan untuk masuk lah yang membuat Malaysia maju duluan dibanding kita..:)

  3. Hm, bagus ya untuk wisatawan yang ingin tahu sejarah lokal perkembangan cokelat di suatu daerah. Memang bagus kalau museum seperti ini ada di Indonesia, namun menurut pendapat saya sebaiknya kehadirannya tidak menambah panjang rantai distribusi yang membuat meskipun harga jual akhirnya mahal tapi harga beli dari petaninya rendah banget. Tapi rasa cokelatnya memang kreatif banget sih :hihi, rasa kemiri itu macam mana ya Mbak? :haha.

    1. Iya. Memperpendek mata rantai perdagangan membuat harga di tingkat petani akan jauh lebih baik Gara. Sekalipun tetap saja harga terbaik tetap dinikmati mereka yang memberi nilai tambah pada produk tersebut. Dan kalau ngomongin masalahnya bahasannya akan panjang sekali hahaha..Yang paling baik memang adalah meningkatkan pendidikan warga negara agar mereka juga mudah mengakses informasi dan membangun jaringan..

  4. Pernah ke salah satu toko coklat juga di Penang, entah toko atau museum yang sama dengan ini atau nggak.Penjualnya pintar menjual banget hasilnya saudara borong banyak demi dapat tambahan bonus totebag ( saja ) hihihi. Sampai rumah dia juga nyesel kok rasanya enak coklat yang dibeli di Indonesia, tapi ya sudahlah, demi totebag ( saja ) 😀

  5. Yaw,,, yang nulis agak kecewa di ajak ke museum cokelat,,, lah yang baca juga agak kecewa, ternyata tempat yang dikunjungi bukanlah museum yang diharapkan oleh si penulis. Ew ngomong – ngomong, dapat souvernir dari toko cokelatnya nggak tuh mbak Evi? yaw secara cuma cuma aja?

    1. Sebetulnya bukan coklatnya sih Bun yang bisa menghadang pusing. Fungsinya cuman mencegah gula darah drop. Kalau gula darah rendak kan pusing kita hehehehe..

  6. Huadeuh itu ragam kemasan coklatnya…bikin ngiler saja nih Mbak,,,
    Saya juga selalu menyelipkan coklat dan roti di rangsel kalau bepergian jauh atau jalau nonton festival jazz. Benar2 berguna…

    Salam,

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?