Beningnya Air Pantai Tanjung Bira

Beningnya air Pantai Tanjung Bira
Beningnya air Pantai Tanjung Bira

Beningnya Air Pantai Tanjung Biri – Travelog Indonesia ~ Ada rasa membuncah kala menyadari bahwa saat itu saya sedang berdiri di atas tanah paling ujung dari Kabupaten Sulawesi Selatan. Ya ada kegembiraan. Ada sensasi aneh. Ada gelitik rasa. Tapi tentu saja tidak terlalu asing. Karena itu terjadi tiap kali kaki menginjak suatu tempat untuk pertama kali. Sekalipun secara geografis langkah belum terlalu jauh, masih di kawasan Nusantara, kawasan Bira pun tak seluruhnya terjelajahi, tetap saja merasa bahwa ini termasuk perjalanan epik bagi saya. Sudah lama membaca dan mendengar keindahan pantai yang terletak Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba ini, dan akhirnya bisa melihat sendiri. Alhamdulillah.

Perjalanan menuju Pantai Tanjung Bira kami mulai dari Kota Bulukumba. Menyisir lansekap perbukitan, sawah, dan sungai yang tatarannya sedikit berbeda dari Pulau Jawa yang saya kenal. Hamparan persawahan terkadang mirip savanna, terbuka luas dengan sisa batang padi, petani, kerbau, dan asap yang mengepul ke udara karena pembakaran jerami. Di beberapa sawah terlihat gelimpangan batu-batu granit besar. “Dari mana asal bebatuan tersebut?” Tanya saya pada kawan yang mengantar. “Mungkin muntahan Gunung Moncong Lompobatang yang meletus ratusan tahun lalu” Jawabnya.

Rumah berarsitektur tradisional Suku Bugis
Rumah berarsitektur tradisional Suku Bugis

Menyusuri Jalan Poros Bulukumba yang mulus mata juga dimanjakan oleh berbagai kekayaan budaya Bugis. Rumah panggung yang berteras dengan tangga lurus dari halaman dan kadang menyerong dari samping. Yang menarik adalah mengamati atap rumah yang berbentuk prisma. Karena saya berjalan dengan orang Bugis asli jadi dapat sedikit pengetahuan tentang arsitektur tradisional rumah mereka. Bahwa bangungan terbagi dua bagian, atas dan bawah.  Bagian atas (rakeang) yang menarik perhatian saya itu terdiri dari loteng dan atap. Atap menggunakan bahan dari seng dan sebagian asbes. Bentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut Timpak Laja.  Nah dari bentuk dari Timpak Laja ini kita bisa membedakan status sosial penghuninya.  Walau pun disainnya berbeda-beda, pada umumnya rumah-rumah yang saya lihat di tepi jalan itu dihuni oleh masyarakat Bugis di kelas menengah ke bawah. Dia juga berjanji akan membawa saya melihat Rumah Bugis bagi bangsawan. Sayang tidak jadi karena keterbatasan waktu.

pembuatan kapal pinisi
Kapal Pinisi di bengkelnya
Rumah Bugis
Rumah Bugis
Berani naik ngeri turunnya

Melihat Pembuatan Kapal Pinisi

Saya pertama kali mendengar tentang kapal Pinisi sewaktu masih duduk di Bangku SD. Dalam pelajaran tebak-tebakan IPS. Lalu tahun 1986  TVRI sempat heboh tentang pembangunan satu kapal untuk dibawa  berlayar ke Vancouver Kanada, Amerika Serikat.  Mungkin untuk  napak tilas para Pelaut Bugis kuno.Atau mungkin hanya sekedar membuktikan ketangguhan kapal.  Jadi mumpung sudah berada di jantung kebudayaan orang Bugis saya pun merasa perlu mampir di Tana Beru. Lokasi  ini sudah terkenal  seantero dunia. Setidaknya salah satu kapal yang sedang dibuat saat saya berkunjung merupakan  pesanan orang Amerika untuk dijadikan yacht pribadi.Harga kapal tersebut hampir 2 milyar rupiah.

Mengagumi sambunga
Mengagumi sambungan-sambungan kayu tanpa paku

Pembuatan kapal pinisi memang mahal. Menurut Bapak yang saya tanyai rata-rata di atas 1 milyar Rupiah. Lalu mata saya berkeliling ke rumah-rumah panggung penduduk. Bila bentuk rumah mewakili kesejahteraan penghuninya saya kira harga kapal-kapal pinisi  tak tercermin pada rumah-rumah penduduk sekitar. Ah mungkin karena membangun satu kapal membutuhkan waktu berbulan-bulan dan bahkan ada yang sampai satu tahun. Mungkin itu lah sebab sekalipun pesanan kapal terus bergulir namun rumah-rumah penduduknya tetap sederhana.

pembuatan kapal pinisi
Proses menata papan

Beningnya Air Pantai Tanjung Bira

Jika sobat JEI mencari pantai cantik, eksotis, dan belum terjamah mass tourism, Pantai Tanjung Bira bukan pilihan yang tepat. Pantai Tanjung Bira adalah pantai yang ramai. Namanya sudah melesat ke udara. Jadi bintang para turis yang sedang berkunjung ke Makassar atau Bulukumba. D sana sudah berdiri  berbagai warung souvenir, makanan, maupun bungalow, resort, hotel, dan penginapan. Dari yang murah sampai yang mahal. Mata kita akan terbiasa melihat turis kulit putih yang sudah tanning tapi masih berjemur santai di bawah sengatan matahari. Lalu turis lokal seperti saya yang tentu tak akan melewatkan kesempatan foto-foto di tiap sudut.

beningnya air tanjung bira
Yang mempesona dari tepi Sulawesi Selatan

Matahari sedang garang saat saya tiba. Agar tak lebih hitam lagi saya memilih berteduh di warung makan ketimbang bermain di atas pasir putih. Menghisap air kelapa mudah sambil memandangi kerlip kristal pasir yang dipantulkan matahari. Itu  saja sudah membuat telapak kaki saya merasa terbakar. Padahal rencanaya saya ingin membuat foto bawah air. Ingin menjajal sampai dimana kehebatan DSLR Waterproof Case punya teman. Tapi tidak jadi. Saya takut panas. Kadang iri pada para bule itu. Dengan berjemur beberapa hari saja mereka bisa membuktikan telah berkunjung ke negeri tropis dengan kulit yang terbakar. Lah andai kata saya main salju, bahkan sampai seumur hidup, apa mungkin bisa membuktikan diri telah berkunjung ke negeri 4 musim? Abaikan sajalah pertanyaan nyeleneh ini.

Teman melamun yang asyik
Teman melamun yang asyik

Dari tempat makan saya beranjak ke Bira View Inn. Bukan untuk menginap cuma meminjam beranda restonya yang menjorok ke laut. Kembali berteduh. Membiarkan angin yang datang dari laut membelai kulit dan melayangkan hayal. Memandang ke ikan-ikan kecil berenang berformasi di bawah. Tak hirau pada beberapa ekor burung laut yang terbang melingkar-lingkar di atas dan mengincar mereka. Sebetulnya saya tak rela juga para ikan unyu itu jadi santapan siang burung yang sedang lapar. Ingin menyambitnya dengan batu agar mereka menjauh. Tapi siapa lah saya? Apa hak saya ikut campur pada proses alam?

Pembuatan Kapal Pinisi di Pantai Panrangluhu
Pembuatan Kapal Pinisi di Pantai Panrangluhu

Dua jam kemudian air bening Pantai Tanjung Bira sudah berada di belakang. Sebelum melesat menuju Makassar kamipun mampir sejenak di Pantai Panrangluhu, kembali melihat pembuatan Kapal Pinisi. Kalau melihat dari ukuran kapal pinisi yang dibuat di Panrangluhu lebih besar dari yang di Tana Beru. Entah kalau saya salah…

34 thoughts on “Beningnya Air Pantai Tanjung Bira

  1. Tertarik dengan bentuk atap rumahnya yang unik, bentuk prisma. Menurutku cantik! Duh, kapan ya aku bisa sampai kesana mba Evi? Pingin banget tapi mikir ongkosnya kemahalan dari Medan. Huhuhuhu :(.

    1. Memang kalau dari Medan ke Tanjung Bira jaraknya lumayan jauh ya Pak molly. Tapi tetap mendoakan Mbak dan keluarga sampai ke sana. Amin 🙂

  2. ini kampung saya Mas…dan foto2 pembuatan perahu itu mas ambil di tanah beru, Indah kan mas pantainya..sebelahnya ada pulau kecil namanya pulau kambing…airnya bersiih…dikedalaman tertentu sktr pantai bira ada terowongan dengan air berputar yg entah unjung terowongannya dimana, karena ada penyelam pernah coba masuk terowongan itu dan hasilnya dia di temukan di kab,lain dlm wil lautan sulsel dlm keadan sdh meninggal…

    1. Mungkin karena jaman dulu belum ada paku gitu, Blih..Atau mungkin juga ada filosofi di belangnya. Hehehehe..Tauk aja. Itu memang gantian motretnya…

  3. Saya waktu ke Makassar cuma bisa lihat patungnya doang di dekat Losari,
    Belum pernah lihat yang ori,
    Hiks2
    Mudah2an bisa ke sana lagi suatu saat dan lihat pinisi beneran
    hoho

  4. Wah, aku juga belum kesampaian menjamah pantai idola ini. Sebagai pejalan mainstream, jadi wajib banget nih ke sini kalau ke Sulawesi 😀

    Betapa kayanya warisan budaya kita. Bagaimana caranya ya menyusun kayu-kayu itu tanpa paku..

    1. Terima kasih atas pujiannya Mas Yogi.
      Iya ke Bira memang banyak yang bisa dilihat. Pembuatan kapal dan buduya di belakangnya terus pantai-pantainya yang cantik 🙂

  5. Rumah kayu itu lebih hangat, juga tahan gempa.
    Pembuatan kapal pinisi ini semoga tidak punah, karena ongkos makin lama makin mahal tersebab kayu yang semakin susah didapat.

  6. Pantainya bagus dan bersih. Unik pula sebab kita bisa melihat proses pembuatan perahu pinisi, pendek kata melihat interaksi masyarakat Bugis dengan laut, hubungan antara manusia dan laut yang paling termashyur sejak dulu kala. Kejernihan laut di sana memang jempolan ya Mbak, semoga bertahan sampai nanti-nanti. Indonesia memang indah :)).

    1. Karena sebagian besar wilayah NKRI diliputi laut, memang intensitas hubungan manusia dengan laut tidak terhindarkan ya, Gara.
      Begitu harapan kita semua. Agar air laut Tanjung Bira tetap bening dan biru seperti ini selamanya. Amin

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?