Tangisan Dewi Anjarwati di Air Terjun Coban Rondo

air terjun coban rondo
Air Terjun Coban Rondo

Travelog Indonesia | Nenek saya seorang pendongeng hebat. Tak heran di masa kecil  saya kenyang oleh olah imajinasinya. Ia seperti buku sastra terbuka. Malam-malam menjelang tidur sambil memijat punggungnya dengan menginjak-injak, kepala saya akan sibuk membayangkan petualangan pemuda bernama  Rambun Pamenan, Anggun nan Tongga, Magek Manandin,  Malin Deman, dan lain-lain. Dan cerita favoritnya adalah Malin Kundang. Bagaimana kedurhakaan si Malin pada ibunya akhirnya  merubah anak itu  jadi seonggok batu penuh ratapan. Dan memang nenek saya ini tipikal masyarakat Indonesia lama yang menuntut  anak dan cucu agar selalu patuh kepadanya. Kalau tidak mau ya  tunggu saja  balasan. Entah lekatan dosa atau berbagai kesialan dalam hidup. Rasanya saya tak berlebihan. Para penyuka dongeng  akan menemukan benang merah pendapat saya  ini dalam banyak cerita rakyat atau  legenda Nusantara. Entah yang diturunkan dari mulut ke mulut atau digunakan menamai sebuah tempat.  Untuk menamai suatu tempat contohnya terlihat pada Air Terjun Coban Rondo di Malang.

air terjun coban rondo
Selfie-foto-selfie lagi

Dalam bahasa Jawa Coban Rondo artinya Air Terjun Janda. Penamaan yang berasal dari kisah sedih pasangan pengantin baru. Mereka adalah  Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Karena melanggar nasihat orang tua agar tak melakukan perjalanan sebelum hari selapanan hari pernikahan (36 hari)  hubungan asmara mereka  akhirnya menuai bencana. Dalam perjalanan dari Gunung Kawi menuju Gunung Anjasmoro (kediaman orang tua Raden Baron Kusuma) rombongan mereka di serang oleh Joko Lelono yang tergoda kecantikan Dewi Anjarwati. Dalam perkelahian itu Raden Baron Kusuma memerintahkan pengawalnya menyembunyikan Dewi Anjarwati  ke belakang sebuah air terjun. Kemalangan memang tak dapat di tolak. Raden Baron Kusuma tak pernah kembali menjemput istrinya dari  tempat persembunyian. Namun Dewi Anjarwati tetap menunggu Sang Suami, duduk di sebuah batu di belakang air terjun yang sekarang bernama Coban Rondo.

Dewi Anjarwati di masa tuanya
Dewi Anjarwati di masa tuanya – kusam

Memasuki kawasan area wisata Air Terjun Coban Rondo mata kita dimanjalan oleh kehijauan tajuk pepohonan dan aroma hujan. Dari pelataran parkir bunyi air terjun yang saya bayangkan sebagai tangisan duka Dewi Anjarwati sayup-sayup menyentuh pendengaran. Tidak sedih. Tak gembira. Mungkin hanya sepi.Ditenggelamkan tebing batu granit dan belantara di belakangnya. Sementara monyet-monyet berekor panjang (Macaca fascicularis)  berlompatan dari dahan ke dahan, berbunyi terkaing-kaing dan sesekali menggeraikan bulu. Sekalipun menyeringai dengan menegakan misai, mereka sopan,  tidak celamitan seperti monyet di tempat wisata lain.

Menyeberangi jembatan  Sungai kecil dengan aliran air bening di bawahnya membawa serta aroma daun lapuk  ke udara. Mereka datang dari  Gunung Kawi. Membawa serta energi purba yang tersimpan dari pegunungan. Tak heran gemericiknya saja mampu menenangkan perasaan.

Pak Sabar yang menemani kami menunjuk ke pelataran air terjun berlapis cone block. Lebar. Rapi jali. Cocok untuk duduk berlama-lama. Ia menunjuk pada seonggok batu besar di sebelah air kiri. “ Di sana ada yang menunggu. Kalau ibu hendak bertamu saya bisa mengawal.” Saya menatap onggokan batu padas besar itu. Tak terlihat siapa-siapa kecuali seorang anak muda tampan. Di belakangnya tergantung beberapa lukisan. Saya kira seorang seniman alih-alih “penunggu” yang dimaksud Pak Sabar. Sebelum otak saya gatal dan membayangkan novel misteri karya Pak Sabar, Pak Suami menarik tangan saya. Ia mengarahkan lensa kamera dan menyuruh saya berpose dengan latar belakang air terjun.

batu misteri di coban rondo
Tumpukan batu besar yang ditunjuk Pak Sabar dari Coban Rondo

Kunjungan kami ke sisa Tangisan Dewi Anjarwati Coba Rondo ini bukan di hari libur. Jadi hanya terlihat satu dua muda-mudi yang sedang berselfie, foto bersama, lalu selfie lagi. Sama seperti mereka saya hanya bisa menikmati tempat wisata dengan cara demikian. Selfie-foto bareng suami-selfie lagi. Sekalipun ingin menikmatinya seperti para sastrawan menikmati kecantikan alam, tampaknya otak saya terlalu sederhana. Seharusnya bisa berkontemplasi tapi malah terus-terusan melirik ke onggokan batu yang ada penghuninya seperti kata Pak sabar tadi. Akhirnya suami saya menyerngit “agak tak suka”  ketika Pak Sabar mengatakan bahwa penghuni batu itu sedang memandang kepada saya dan ingin berkomunikasi.

Aiih siapa kah dia yang memandangi saya di Air Terjun Coban Rondo? Sekalipun tak percaya tetap deg-degan membayangkan imajinasi Pak Sabar. Kalaupun benar memang ada saya berharap ia akan selalu jadi teman Dewi Anjarwati. Agar wanita cantik tak terlalu sedih dalam menanti kedatangan Raden Baron Kusuma menjemputnya.

47 thoughts on “Tangisan Dewi Anjarwati di Air Terjun Coban Rondo

  1. Waduh pas saya jalan ke sana, saya malah bersandar-sandar di batu yang besar itu, soalnya kala itu air terjun ini ramai dan debit airnya juga lagi deras-derasnya :hehe. Tidak tahu kalau batu ini ada penunggunya, eh tapi di sana memang banyak sih yang jaga. Saya ada menjumpai pelinggih Bali di sana, apa Mbak juga lihat? Sampai sekarang masih penasaran sih dengan: itu apa, dan bagaimana bisa ada di sana.

    But those are great shots! You look so pretty.

  2. Mbak Eviiiii….aku malah terpana sama foto Mbak Evi jeee….menurutku gak kusam justru kimpling selalu…. kimpling = chic, enerjik dan cantik

  3. Maaf mbak, kalau nggak salah coban itu artinya cobaan. Mungkin artinya cobaan janda. Kalau air terjun itu grojogan atau curug. Entah kalau bhs Jawatimuran, aku nggak menguasai. Waktu ke Malang aku nggak mampir kesitu. Kurang banget waktunya. Dewi Anjarwatinya kece 😀

    1. Mungkin bahasa Jawatimuran Mbak Lus..Sebab arti nama itu saya dapat dari plakat yang terdapat di sana…
      Ntar kalau ke Malang jangan lupa mampir lagi ya 🙂

  4. wah nyesel banget nggak mampir kesitu waktu itu, padahal udah 2 kali melewati air terjun ini ketika itu dari kediri ke Malang,,, hmmm kapan – kapan kalau lewat ini langsung eksekusi pokoknya

  5. Air Terjun sekaligus tempat wisata aling sering ku kunjungi. hehehe
    Dulu Kuliah di malang sering kesini sama teman dan Keluarga, juga mantan #eh

    Dulu itu Hijau banget mbat, lebat lebat pohon disekitar dan Debit airnya juga deras. Sekarang kelihatan lebih gersang. Mungkin dunia mulai panas, Jadi pengaruh.

    1. Duh, ternyata banyak yang punya kenangan bersama mantan di sini ya…
      Jadi dulu lebih lebat ya Mbak Zulfa. Mungkin memang alam berubah karena tuntutan kita terhadapnya 🙁

  6. Saya orang Surabaya, dan Malang dekat dengan Surabaya. Nama Coban Rondo udah sering saya dengar dimanapun itu, tetapi belom pernah saya datangi sama sekali. Payah sekali saya…. 😆 Hahahaha XD

  7. Saya juga lagi belajar mendonggeng ke anak saya. krn waktu kecil tante saya justru yg jago mendongeng. Air terjunnya enak tuh buat berendem tapi pulang2 bisa masuk angin heheheh

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?