Jelajah Malaysia : Tangerang, Batam, dan Johor Bahru

Jelajah Malaysia
Serakan Pulau di Sekitar Batam

Jelajah Malaysia :  Tangerang, Batam, dan Johor Bahru | Berkat rajin mencari tiket promo akhirnya lebaran  ini kami bersama keluarga kakak ipar bisa liburan ke Malaysia. Bagi saya ini kunjungan kedua sementara bagi anak saya yang pertama. Sama dengan pencarian tiket  yang serba budgeting rencana blusukan pun disusun ala backpacker. Mulai dari pesan tiket sampai memilih hotel riset sendiri. Internet, Google dan Mapsnya memang sangat membantu. Padahal saya pernah heboh soal penjebolan privacy yang mereka lakukan. Namun tanpa bantuan Google rasanya tak akan pede menyisir jalan darat  bagian Timur  negeri jiran ini. Begitu lah hubungan saya dengan Google. Komplek! Kadang merasa beruntung dan tak bisa hidup tanpa dia tapi kadang merasa dirugikan.

Perjalanan tujuh hari, total 6 orang,  dimulai dari Batam. Menyeberang ke Johor menggunakan ferry, naik bus ke Melaka dan Penang, kemudian turun lagi ke Ipoh-Perak, dan terakhir ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah dengan berbagai kesan, cerita, dan drama, perjalanan yang saya rasa sedikit ambisius itu berakhir baik dan menyenangkan.

Jelajah Malaysia
International Ferry Terminal Batam Center Point

Jelajah Malaysia Diawali Rental Mobil yang Bikin Deg-degan

Jadi tiket promo Liom Air itu harus dimulai dengan rencana keberangkatan sekitar pukul 4.00  pagi dari rumah. Pesawat take off pukul 6.10 WIB. Sekalipun rumah di Serpong alias tak jauh dari bandara, bayangkan deg2annya bila sampai pukul 4.20  mobil rental belum  kelihatan batang hidungnya. Padahal  kemarin mereka janji akan tiba tepat waktu. Saya sih sudah senewen dan nekat untuk membatalkan, beralih ke Grab Taxi yang aplikasinya sudah terpasang di smart phone. Cuma suami masih punya peri kasih sayang, ia memilih mempercayai bahwa mereka sudah sampai di gerbang perumahan.Ternyata benar, sekitar  5 menit kemudian jemputan tiba dengan permintaan maaf dan penjelasan.

Sampai di Bandara sudah  pukul 5 lebih sedikit. Rupanya deg-degan belum akan berakhir. Maklum lah besok akan lebaran. Manusia tumpah ruah, antrian menganak ular, suasana lebih heboh dari pasar malam. Saat seperti ini mudah sekali menemukan egoisme, sifat asli, yang disembunyikan dengan baik selama kehidupan normal. Contohnya seorang ibu memaksa maju ke muka barisan dengan mendorong orang menggunakan trollynya. Seolah kaki-kaki yang berbaris di depan itu rumput gajah, bukan anggota tubuh manusia. Bahkan saat ditegur oleh korban dengan cueknya ia menjawab: “Namanya juga sedang ramai Mas di maklum saja lah kalau kesenggol sedikit.” Nada suaranya yang dingin dan tanpa rasa bersalah membuat saya bergidik. “Ah sebegitu keras kah hidup ini? ” Tanya saya dalam hati.

Tak lama si ibu yang sama terdengar membodoh-bodohkan pengelola Bandara kepada teman di sebelahnya. “ Begok banget! Masak ya tidak bisa antisipasi kerumunan penumpang seperti ini? Lebaran kan tiap tahun?” Benar juga pikir saya sambil mengedar pandang pada kerumunan manusia yang saling berdesakan. Sepertinya terminal keberangkatan dalam negeri harus diperluas.

 Untung lah Lion Air memberi prioritas check in pada mereka yang waktunya sudah sangat mepet seperti rombongan kami. Dengan mengangkut semua bagasi ke dalam kabin, saya meninggalkan drama di antrian sambil berjanji dalam hati takan lagi menggunakan rental mobil yang sama.

di Bamtam center sebelum Jelajah Malaysia
Suasana Dalam Batam Center

Dermaga Batam Center

Menjelang mendarat di Batam saya mulai rileks. Mungkin karena sempat tidur dan dibangunkan oleh usapan sinar keemasan yang muncul dari jendela pesawat. Lembut. Hangatnya sampai ke hati. Cahaya itu juga  saya gunakan sebagai  mood booster selama tujuh hari ke depan. Juga berjanji dalam hati takan terpengaruh mood jelek orang lain. Apapun yang terjadi selama perjalan hanya akan melihat jelajah Malaysia ini dalam kerangka pikiran positif. Apa lagi saat memandang ke bawah, pada bayang-bayang serpihan pulau kecil, berserakan di sisi  kepulauan Riau membuat saya langsung melupakan insiden kecil tadi. Begitu pun saat sampai di darat cuaca hati saya sudah normal seratus persen.

Di Hang Nadim kami juga sempat melihat Menteri Perhubungan Jonan yang sedang melakukan  inpeksi mendadak. Ah bersyukur ada juga diantara pejabat kita yang patut dibanggakan.

Dari Airport kami menggunakan taksi menuju International Ferry Terminal di Batam Center Point. Ongkosnya Rp. 40.000/taksi. Tapi sekarang sudah tak grabak-grubuk lagi lagi karena tiap 45 menit tersedia kapal cepat untuk menyeberang ke Johor. Rupanya di sini orang tak lebaran. Suasananya jauh berbedara dari Bandara Soetta tadi. Dan Bahasa dengan logat melayu bercampur Mandarin dan Hokkian pun mulai akrab di telinga. Begitu pun saat memandang ke café dan resto yang menjajakan makanan ala Singaporean Hawker, seolah saya sedang berada negeri Paman Lee Kuan Yew..

Pemandangan singapura dari jauh
Singapura Dari Jauh
melintasi selat singapura
Salah satu view asyik selama penyeberangan

Naik Kapal Cepat dari Batam Center  ke Stulang Laut Johor

Untuk menyeberang ke  Johor kami menggunakan kapal cepat Mv.Indo Mas. Harga tiket Rp.255.000/orang. Selain itu ada pula biaya Pass Pelabuhan sebesar Rp.65.000/orang.  Jadi kalau teman  bermaksud hemat transportasi menuju Melaka, rute ini rasanya kurang pas. Lebih baik beli tiket pesawatnya langsung ke Melaka. Sementara yang mau menyeberang lewat laut, kapalnya lumayan nyaman. Laut pun tak berombak. Jadi perjalanan Batam Center International Ferry Terminal menuju Jetty JB Stulang Laut selama kurang lebih 3 jam cukup menyenangkan.

Dalam jelajah Malaysia ini Kami memang sengaja memilih rute Batam Johor alih-alih batam Singapura. Icak-icaknya cruise di Selat singapura dan Selat Johor sekaligus. Saat naik ke deck terbuka saya menyadari bahwa itu bukan pilihan yang salah. Menyusuri dua selat sambil memandangi dua sisi negara berbeda  jadi pengelaman unik untuk saya pribadi. Menengok ke sebelah kanan tampak Singapura dan di sebelah kiri terhampar Malaysia. Semilir angin laut yang bermain di wajah saya mendatangkan pertanyaan: Apa yang dirasakan masyarakat Malaysia ketika Singapura melepaskan diri dan memilih jadi negara merdeka pada 9 Agustus 1965 ya? Apakah berdarah-darah juga seperti Indonesia melepaskan Timor-Timur kepada Timor Leste?

berjaya water front
Berjaya Waterfront – Dermaga Stulang Laut

Tak lama ferry pun merapat ke dermaga Berjaya Water Front-Stulang. Karena ini perjalanan backpacker niatnya mencari bus menuju Larkin JB dengan tujuan Melaka. Sayangnya bawaan terlalu banyak, yah terpaksa cari taksi lagi. Ongkosnya 15 RM/taksi. Kebanyakan sopir taksinya sudah opa-opa.

Selamat datang di Malaysia.

Berjaya Water Front dari Immigration Clearance Check

39 thoughts on “Jelajah Malaysia : Tangerang, Batam, dan Johor Bahru

  1. Mba dari bandara Hang Nadim cari taksinya gimana?
    Saya ke Batam ngga pernah naik taksi soalnya wekeke soalnya kan ngga ada taksi resmi macam burung biru

    1. Di depan bandara ada taksi yg mangkal Mbak Shin. Warna biru juga tapi bukan si taksi burung. Tawar-tawaran saja langsung dengan mereka 🙂

  2. Pintu masuk ke Malaysia banyak ya Mbak, bisa lewat Singapura atau Johor via ferry atau naik pesawat langsung, dan kayaknya semua sudah dipersiapkan dengan apik bagi wisatawan :hehe. Salah satu pengelolaan yang patut dicontoh oleh petinggi negeri ini :)). Dan mungkin karena lokasinya yang sangat dekat dengan Singapura membuat Batam sepintas sudah berasa seperti negeri singa itu :hehe, agak beda dengan Jakarta :hihi.

    Pemandangan laut memang tak pernah menjemukan! Baik ketika di kiri kanan laut lepas, pulau tak berpenghuni atau kota modern seperti Singapura dan Malaysia, semuanya menurut saya keren sekali!

      1. Telinga langsung berdiri, pengiin, ayoo Uni Evi dan Jeng Mechta,,,,kapan jalan bareng yook.
        Wah bakalan menikmati sajian sensasional nih, moda transp darat, laut, udara berpadu. Salam

        1. Ayuk Mbak Prih. Jalan bareng Mbak Mechta juga… Seru pasti emak-emak kalo bisa jalan bateng. Gak usah jauh-jauh jelajah Jateng juga cukup 🙂

  3. Si ibu itu egois tetapi di sisi lain ada benarnya juga ya. Heran juga bahwa Lebaran kan setiap tahun tetapi kok setiap tahun selalu tumpah ruah begitu kejadiannya, hehehe…

    Wah, seru juga ya. Aku baru tahu bahwa ada pilihan untuk naik kapal ferry dari Batam ke Johor, hehehe 🙂

    1. Nah itu dia Zilko..Kayaknya Bandara kita emang perlu perbaikan menyeluruh deh. Bangun lagi yg lebih besar dan agak moderen gitu, biar gak malu-maluin 🙂

  4. Seruuuu, kebayang gimana serunya ‘mudik’ ala mbak Evi 😀
    Batam Centernya bersih ya, rapih lagi. Ngebayangin pelabuhan Bakauheni dan Merak yg agak berantakan bikin pengen jadinya ke Batam 😀

    1. Iya Batam Center kan pelabuhan international, Mel. Kalau Merak-Bakauheni mungkin dianggap tak perlu cantik-cantik karena untuk transportasi dalam negeri. Kali gitu jalan pikirannya 🙂

    1. Ganti suasana sedikit doang Pak Alris. Secara di Malaysia orang juga libur lebaran. Tempat-tempat wisata juga penuh gak puguh 🙂

  5. Trims sharingnya, Mbak Evi. Bisa jadi rujukan untuk backpecakeran nih. Dengan sedikit modifikasi tentunya.

    Dan…asyiknya yg baru pulang dari jalan-jalan. 🙂

  6. Waktu kami tinggal di Batam, suami juga smp Johor mbak, tapi utk nengok kantor TOA (jangan bilang2 pak JK hihiiii) di sebelah mana gitu. Rumahku dulu di Batam Center deket pelabuhan itu tp dulu blm jadi, masih tahap pembangunan.

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?