Bernostalgia dengan Es Krim Toko Oen Semarang

Eviindrawanto.com –  Es Krim Toko Oen Semarang – We  eat certain things in a particular way in order to remember who we are — Jeff Smith

es krim toko oen
Oen’s Symphony Ice Cream

Saya pernah bersekolah di Semarang, kelas 1-2 SMP. Jadi nama Toko Oen ini sudah biasa berseliweran di telinga. Toko Oen dulu juga jadi supplier bagi kantin Bude saya yang terletak di Airport Ahmad Yani. Terus saat anak-anak masih kecil, demi beberapa kenangan yang belum selesai, saya mendatangi tempat ini. Selain untuk menikmati  menu makanannya yang bergaya Eropa dan China, sekalian beli Ananas, cookies semacam nastar yang enak banget di lidah saya. Alasan mampir yang  amat sentimental kala itu. Soalnya ingat bahwa di masa kecil tak punya uang menikmati Ananas  sampai puas. Jadi begitu  bisa beli sendiri agaknya saya perlu sedikit balas dendam.

Bulan lalu kembali mampir. Tak membeli Ananas tapi cuma untuk mencicipi  Es Krim Toke Oen yang terkenal itu.  Apa lagi kala melintas hari masih terlalu pagi untuk makan siang sementara kami sudah dapat sarapan cukup mewah dari hotel. Lagi pula lewatnya juga tak sengaja, mau cari barang di mal Sri Ratu yang terletak di depannya. Tapi satu yang pasti niat mampir menikmati Es Krim Toko Oen  kali ini bukan untuk balas dendam. Tapi demi blog  tercinta ini, blog traveling ibu-ibu yang kalau nulis suka ngasal (kata anak saya). Maklum lah dulu kan belum kenal dunia blogging. Datang ke restoran atau pergi jalan kemana pun cuma sekedar  tamasya. Datang, lihat-lihat, makan, pulang, lalu lupakan.

Toko Oen Semarang
Toko Oen Semarang

Kalau sekarang berbeda. Agar blog tetap eksis ia perlu diempani secara berkala. Kadang saya pikir blog ini seperti vampire, butuh darah segar terus-menurus. Jadi kemana pun perginya, apapun makanannya saya mewajibkan diri mengambil satu atau dua gambar. Sudah sering terbukti bahwa ketekunan seperti itu akan terbayar tunai. Apa lagi blogger yang ingin punya ciri sendir, memiliki foto sendiri itu penting. Saya sering dibuat kesal oleh Google, beberapa kali minjam foto orang, terus tak dimunculkan dalam blog. Padahal sudah kasih kredit lho, gak mencuri, tetap saja bagian foto yang saya pinjam blank.

Jadi dengan foto sendiri saya bebas berkreasi. Biar lah jelek yang penting milik sendiri. Lagi pula untuk saya foto-foto itu sangat berguna dalam memancing  ide. Kalau sudah tak tahu lagi apa yang mau ditulis, biasanya saya melongok ke dalam folder, tak lama ide pun muncul.

pajangan cookies dalam toko oen semarang
Dalam Toko Oen Semarang

Menikmati Es Krim Toko Oen

Tidak banyak yang berubah dari Toko Oen Semarang ini. Kue-kue masih terpajang dalam stoples dan lemari kaca yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Mesin kasir tua dan lemari tua masih setia berdiri di pojokan. Kalau pun ada perbedaan adalah kursi kuno yang terletak di bagian muka. Kalau tak salah dulu dari anyaman rotan seluruhnya dengan bentuk bulat. Sekarang kursi kayu dengan dudukan rotan. Kursi sitje namanya kalau menurut nenek saya.  Banner Toko Oen di dinding juga mengalami perubahan. Sekarang terlihat lebih artistik, nuansa klasik tetap bertahan, dengan foto sepasang nyonya dan tuan di tepinya. Mungkin beliau adalah Nyonya dan Tuan Oen.

kursi antik di toko oen semarang
Nenek saya menyebutnya Kursi Sietje

Ciri yang menonjol dari Toko Oen tetap di sana, berbagai menu makanan dengan sentuhan kolonialnya. Dari barisan   cookies — disebut anak saya sebagai kue lebaran — berbaris berturutan Ananas,  Bokkepotjes, Soes Kering, Sprits Strawberry, Sprits Coklat, Savoye, dan lain-lain. Dari segmen appetizer tentu tak ketinggalan Bitterballen, Kroket, Loempia Toko Oend dan Poffertjes.

Seperti saya sebutkan tadi kami tidak memesan makanan di sini. Hanya ingin duduk sebentar sambil mencicipi Es Krim Toko Oen yang masuk kategori dessert. Saya memesan Oen’s Symphony, empat onggok eskrim berlainan warna, berhias dua potong kue lidah kucing, dan disajikan dalam gelas berkaki yang sudah berkabut saking lamanya di pakai. Si Sulung memesan Napolitaine, seperti irisan dari keju belanda yang bulat, ditengahnya diberi rasa coklat. Terus suami memesan, kalau tak salah, Tutti Frutti, namun polos.

 es krim di toko oen semarang
Oen’s Symphony, Napolitaine, dan Tutti Frutti

Sambil merencanakan beberapa hal,  ngobrol yang gak penting, kami bertiga menikmati Es Krim Toko Oen dengan suka cita. Pengunjung datang silih berganti.  Dan tak berapa lama datang rombongan keluarga lain.  Nah baru saja duduk seorang  ibu mulai mengeluarkan camera segede gaban. Motret sana-sani, persis seperti yang baru saja saya lakukan. Melihat itu Si Sulung tertawa geli, “Jangan-jangan doi blogger juga, Ma. Kenalan gih…” Usulnya…

Toko OEN
Jl. Pemuda 52 – Semarang 50138
Indonesia
Telp. 024 3541683

73 thoughts on “Bernostalgia dengan Es Krim Toko Oen Semarang

  1. Akhirnya apakah dirimu berkenalan dengan si ibu berkamera segede gaban itu, Mbak? :hehe.

    Toko yang bagus, klasik, dan sepertinya menyimpan banyak simfoni seperti signature dessert-nya! Kayaknya kalau saya tandang ke Semarang mesti datang dan menyesap suasana serta jejak-jejak yang ada di sini, nih :hehe. Thanks buat rekomendasinya ya, Mbak :)). Eh tapi itu kata Ko Arman kita juga bisa memesan menu “makanan berat”, kah? Mirip dengan Restoran Tip Top di Medan, kalau begitu yak… :hehe.

    1. Enggak Gara, cuma saling senyum-senyum aja dari jauh..Tahu sama tahu hahaha..

      Sebenarnya ini restoran Gara. Jadi memang tersedia menu makanan berat dengan gaya Eropa atau China 🙂

    1. Dulu sih mereka ada cabang di Malang, Bandung dan Jakarta, Mas Haris. Semuanya sudah dijual, kecuali yang di Semarang tetap dipertahankan 🙂

  2. Wah, dibuka dengan tulisan curhat nih ehehe. Aku juga kadang ambil foto orang, mbak. Tapi nggak pernah blank tuh. Baik yang dimassukkan dengan URL saja, atau yang fotonya aku download dulu terus diunggah di WordPress. Tapi bener, foto sendiri memang lebih memuaskan, meski hasilnya tak sempurna.

    Sayang pas aku ke Semarang awal tahun lalu nggak sempet ke Toko Oen. Semoga nanti ada kesempatan lagi saat mampir 🙂

    1. Foto yang aku pinjam itu mungkin sudah ngetop banget di Google, Mas Nugi. Secara aku sudah melakukan seperti dirimu lakukan , download dulu baru upload, ya tetap saja yang muncul foto blank…

      Emang sih foto sendiri lebih memuaskan. Namun kadang foto tak ada yang sesuai dengan foto yang dibutuhkan..:)

  3. Asosiasi orang baca toko pasti bukan tempat makan, hehe… Toko ini sudah terkenal banget, ya, dengan makanannya yang serba lezat itu. Kalo ke Semarang sempatin mampir ah…

  4. Bangunan dan perabotnya juga antik. Tentu menyenangkan makan es krim sambil bincang-bincang di tempat asri ini.
    Di Surabaya juga ada warung eskrim Zangrandi. Saya pertama kali melihat tahun 1968 ketika duduk di bangku STM. Sekarang juga masih seperti dulu, selalu ramai. Terus terang saya belum pernah mencobanya.
    Terima kasih reportasenya yang menarik.
    Salam hangat dari Jombang

  5. Suasananya juga kolonial banget ya..? Kapan kapan ke Semarang mampir ah. Kalo sempat ajak anak-anak jalan jalan jarang banget keliling kota. Ibue Ncip maunya yang adem kaya ke Bandungan apa Ambarawa…

    1. Yang suka suasana yang berbau-bau klasik, mau makan, di sini kayaknya boleh dicoba Mas Rawins…Emang sih di sini ademnya cuma dari AC hehehe

  6. saya mau nyoba ah kalo pas mudik ke Semarang. 😀 makasih infonya, Bu Evi. Tapi saya bacanya salah waktu, pas sejam mau buka puasa T____T untung nggak lupa kalo ini belum adzan. hiks

  7. Analogi Uni Evi…selalu mengempani blog agar eksis, juga ciri blogger eksis dengan kamera segede gaban…umpetin kamera hape ah…
    Bakalan mondar-mandir ya Uni selama kakak Sulung penempatan di Jateng.

    1. Kadang bawa camera segede gaban itu gak enak Mbak Prih. Gampang mengintimidasi orang. Tapi kalau mau ambil momen dari jauh, nah baru berasa enak. Tapi yang penting camera itu siapa yang memakai sih, Mbak. Camera hp pun hasilnya fotonya sekarang bagus-bagus..Jika blog Mbak Prih menggunakan camera HP, aku tabik deh pada kemampuannya 🙂

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb. mbak Evi…. melihat es krim di atas membuat saya ingin menikmatinya juga kerana saya penikmat es krim dan Air Batu Campur. Apa pun jenis masukan bahannya es krim tetap lazat dan mengasyikkan terutama waktu panas, ya mbak. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalakumsalam Mbak Fatimah,
      Air Batu Campur, maksudnya pasti Es Campur ya? Wah aku juga suka itu, segar…
      Iya Mbak mungkin karena creamnya yang gurih, mengapa es krim selalu disukai tua dan muda ya…
      Salam manis dari Serpong 🙂

    1. Yang gak ditampilin Google di sini itu kebanyakan foto boleh minjam Mbak Idah..Dan aku kalau minjam foto, emang sih yang ngetop2, mungkin itu sebabnya Google gak mau tampilin di sini 🙂

  9. Saya tidak begitu kenal dengan kota Semarang. Suasana dan bentuk bangunan tokonya seperti di Melbourne sini atau tempat lainnya di Eropa ya? Kue kering cantik dan rapi dipajang didalam stoples besar-besar seperti jaman dulu. Model es krimnya mirip-mirip Es Krim Tentrem di Solo 🙂

    1. Model bangunan Toko Oen ini sisa dari peninggalan jaman kolonial, Lois. Jadi memang berbau Eropa. Sementara menu makanannya, walau berbau kolonial Indonesia, menyesuaikan pada selera jaman 🙂

  10. DI Malang juga ada toko Oen mbak. Warnanya hijau didominasi putih.. saya kemarin sempat merasakan es krimnya. Namun lupa untuk menuliskan reportasenya di blog. Walau es krimnya agak mahal 🙂 untuk ukuran mahasiswa. Namun iya menjadi legenda.
    Salam kenal mbak dari blogger Malang

  11. Nah aku ternyata sama nih sama Arman, kalau ke sini pesennya Bistik Lidah, sedangkan es krim favorit sejak kecil sampai sekarang kalau pas mampir di Toko Oen adalah es krim soda 🙂

    1. Yang di Malang aku belum pernah berkunjung ke sana Mbak Atiqoh. Pastinya konsep mereka sama ya karena menyandang nama yang sama 🙂

  12. di setiap kota yg banyak warga belanda kaya semarang, bandung, jogja, ambarawa pasti ada aja tempat nongkrong nuansa jadul kayak gini, saya juga suka berlama2 disini, mencicipi segelas es sambil bernostalgia ala meneer belanda 🙂 salam kenal mbak evi, niat awal sih tadi mau komen di “about me” hehehe…

    1. Benar banget avant-garde bahwa di setiap kota yang pernah diduduki Belanda akan tersisa berbagai bangunan kolonial. Bahkan gaya hidup juga ada yang dipertahankan untuk bisnis seperti di toko Oen ini. Jadinya kuliner Kita jadi semakin kaya ya 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?