Pantai Merpati Bulukumba : Ketika Matahari Terbenam

senja di pantai merpati bulukumbaTravelog Indonesia – Bulukumba  September 2014 ~ Hari pertama pelatihan cara membuat gula semut aren sudah selesai. Sinar matahari mulai condong ke Barat. Saatnya kembali ke Hotel Agri untuk kembali besok pagi. Kami keluar dari Desa Bukit Harapan Kecamatan Gantarang dengan menyusuri perkebunan penduduk. Melewati tanjakan, turunan dan belokan di sela kebun cacao, aren, kelapa, dan kopi, yang memberi gambaran kasar terhadap usaha pertanian masyarakat setempat. Sepanjang jalan kami melihat rumah penduduk berarsitektur Bugis. Bentuknya khas sekali yaitu rumah panggung, terbuat dari kayu, dan beratap seng dengan logo khusus di atasnya. Tampaknya September adalah musim dimana kemarau dan panen padi datang beriringan.  Kesimpulan yang ditarik kala melintasi area persawahan yang terbuka. Jerami kering, kerbau yang merumput bersama burung pipit, dan perbukitan yang memagar di bekalakangnya membuat saya sering membuka kaca mobil untuk mengambil gambar.

anak-anak bulukumba mau pergi mengaji

Bermain diantara asap jerami sebelum pergi mengaji

Menyusuri lansekap Bukukumba yang unik serasa berada dalam film dimana kita dengan mudah pindah dari satu view ke view berikutnya. Masuk ke jalan raya, di muka alun-alun Bulukumba yang disebut Bulatan Pinisi –- ada replica kapal pinisi di tengahnya– meja dan kursi sudah tertata rapi. Sepanjang sore dan malam alun-alun itu akan berubah fungsi jadi cafe terbuka. Saat itu belum ada pengunjung namun sudah membuat susana pelesiran langsung mencuat. Karena itu Mas Awaludin dari Sulawesi Community Foundation (SCF), tuan rumah, menawarkan rehat sejenak menikmati sore. Bukan di alun-alun tapi ke Pantai Merpati. Penawaran yang tentu saja saya sambut dengan riang gembira.

perahu nelayan di pantai merpati

Antara sampah dan burung kecil tidak jelas perbedaannya

Pantai Merpati yang kami masuki sebenarnya pantai nelayan, ujung dari Pantai Merpati yang yang biasa digunakan anak muda Bulukumba hangout dari pagi sampai malam. Berhenti di muka pasar pelelangan ikan suasana sepi. Setelah minta ijin kepada seorang Bapak yang duduk tak jauh dari sana kami masuk lewat pintu pagar di samping pasar. Tepat di belakang tembok pasar mata langsung disuguhi ceruk laut dangkal yang bentuknya seperti kolam ikan–semacam teluk  mini — digunakan nelayan menyandarkan perahu.

Angin bertiup kencang sore itu. Permukaan teluk mini membias cahaya jingga dan berhenti di perahu nelayan. Saya merapatkan kerah baju lebih tinggi. Beberapa ekor camar terbang melingkar-lingkar tak berketentuan. Pasir pantai tampak kelabu dan buram. Selain karena mulai kekurangan cahaya, tebaran  sampah di atasnya  sungguh tak sedap dipandang. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini pantai nelayan, kawan. Sudah lah nikmati saja senja kemerahan di ufuk barat.

pantai merpati bulukumba

Untung lah Pantai Merpati yang kotor tak menghalangi keriangan bola merah sempurna. Ia bersapu gumpalan awan. Di Pantai Merpati Bulukumba rupanya sunset tidak turun di horizon, batas pandang laut dan langit, melainkan di belakang tembok pasar ikan dengan menara masjid dan pohon kelapa sebagai latar muka. Sayang saya tidak bisa membuat gambar lebih baik. Pemandangan yang membuat para pujangga di seluruh dunia akan melukis dengan kata-kata seperti ini :

Every night
The horizon lights up
Swirls of pink and orange
Fading to blue and purple –Jessica Millsaps

Usai mengambil beberapa gambar lagi kami pun beranjak, meninggalkan Pantai Merpati yang senyap ditelan kegelapan. Bapak nelayan yang masih asyik menyiangi rumput laut di depan pondok darurat tersenyum ramah dan mengangguk saat dipamiti.

sunset di atas menara masjid

@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

50 thoughts on “Pantai Merpati Bulukumba : Ketika Matahari Terbenam

    1. Aku sih pengen bikin puisi saat itu Mas Jum. Apa daya yang terlihat cuma tembok hitam di kepala saya, tak ada kalimatnya 🙂

  1. Memadukan pekerjaan dengan menikmati perjalanan, seni ala Uni Evi yang memikat. Sunsetnya menawan sekali Uni, pertanda alam untuk kita rehat memulihkan stamina.
    Salam

  2. Subhanallaah bagus sekali Mvak Evi. Beruntungnta njenengan mendapatkan kesempatan untuk menikmati keindahan alam Indonesia yang luar biasa ini.

    1. Alhamdulilah Mas Dani …Terima kasih ya. Semoga Allah terusmengijinkan saya menjelajah lebih banyak tempat lagi. Amin 🙂

  3. Assalaamu’alaikum wr,wb, mbak Evi…. benar sekali, apabila kita sampai ke satu-satu tempat pengembaraan, sikap ingin tahu menjadikan perjalanan kita semakin menarik. Pemandangan matahari terbenam di pantai dan kampung terlihat amat menyentuh hari. Di sana ada tanda bukti kekuasaan Allah SWT yang hendak diperlihatkan kepada hamba_NYA yang berakal. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam Mbak Fatimah..
      Rasa ingin tahu akan membawa kita ke banyak tempat dan nambah pengalaman ya Mbak .Dan kalau disertai perasaan bersyukur akan kita lihat kebesaran Allah dimana-mana 🙂

  4. Berbagi ilmu usaha berbonus travelling ….keren sekali sih Mbak dirimu …

    Mbak Evi foto2nya makin keren !

    Paling suka foto yang anak2 maen jerami…. 🙂

    1. Pengennya lebih keren dari ini Mbak Lies…Namun baru dapatnya begini ya harus dimaksimalkan kerennya ya hehehe..Thanks Mbak

  5. Sangat disayangkan pantainya kotor. Fotonya bagu-bagus uni.
    Melihat anak-anak bermain diantara asap dan jerami itu mengingatkan masa kecil. Cuma kalo kami bermain layang-layang.

    1. Emang sih bukan buat tujuan wisata kayaknya Pak Alris. Tapi kalau kita pubya budaya bersih, sekalipun pantai nelayan, mestinya bisa bersih dari sampah ya…

  6. Foto yang anak-anak bermain di antara asap jerami itu kuat banget Tante, keren.
    Trus kira-kira kapan bikin pelatihan cara membuat gula aren di Solo tan? 😀

    1. Hahahaha Kayaknya Solo gak punya bahan bakunya, Mbak Yusmei…Tapi bersedia kapan saja kok. Ayo undang saya ke sana 🙂

  7. duh uni jadi agak-agak mellow nih memandangi sunset dibalik menara mesjidnya. pikiran saya jadi melayang-layang ke kampung tempat enek saya dilahirkan…

    salam
    /kayka

    1. Begitu lah…Kita terbiasa di darat yg jarang melihat matahari meluncur ke bawah, jadinya begitu lihat di pantai jadi takjub..,

  8. Iya ya mbak, pantai nelayan cenderung kotor ya… Tapi meski kotor, keindahannya tetap kentara di foto2 mbak Evi

  9. Matahari yang bulat itu bagus sekali terlihatnya Mbak.
    Ya, ini pantai nelayan dengan semua gegap gempitanya. Saya belum pernah melihat pantai yang ada burung camarnya ya Mbak, seingat saya :)).
    Bagus sekali.

    1. Betul Gara, gegap gempita dengan segala permasalahan yang ada di sana. Realitas sore itu hanya romantisme matahari sore dan segerobak sampah 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?