Akhinya Jadi Menengok Fenomena Alam Danau Tarusan Kamang

Travelog Indonesia ! Tampaknya fenomena alam Danau Tarusan Kamang kian menarik untuk sambangi. Airnya yang kadang berlimpah dan kadang kering tanpa diketahui persis penyebabnya jadi alasan utama. Dan tentu pemandangannya juga cantik, tak jauh dari Bukittinggi, tak pelak jadi tempat favorit remaja sekitar berkumpul setiap sore. Ini juga salah satu destinasi wajib jika traveler sedang berada di Bukittinggi.

fenomena alam danau tarusan kamangCerita fenomena alam Danau Tarusan Kamang sudah terdengar sejak saya kecil. Lokasinya dekat dari dusun kelahiran, Magek. Anehnya saya belum pernah foto-foto di sana. Belakangan ia tambah ngetop, digossipin terus oleh media massa dan blogger. Belum lagi foto keren para fotografer, jadi alasan kuat pada suatu siang yang terik saya melangkahkan kaki ke Nagari Kamang Mudiak dimana telaga itu berada.

Sebetulnya ini kunjungan kedua. Yang pertama beberapa tahun lalu tapi cuma berhenti di tepi labuah (jalan), di atas jembatan, satu tepi dari fenomena alam Danau Tarusan. Pemandangan sambil lewat itu tidak membuat Danau Tarusan Kamang bisa memperlihatkan kecantikan utuhnya. Jadi saya pikir harus datang lagi. Kali ini sengaja piknik, agar hilang segala “prasangka buruk” bahwa negeri orang dijelajahi namun negeri sendiri dianggurin. Lagi pula entah kapan bisa pulang kampung lagi.

Sayangnya moda transportasi yang tersedia di rumah ibu cuma sepeda kumbang. Saya dan kakak sudah lama tidak mengendarainya. Tambah ngeri membayangkan dua emak-emak naik sepeda tinggi di jalan yang dilewati angkot lari seperti di jalan tol. Jadi yang paling mungkin cuma mencari ojek motor. Apa lagi niatnya juga akan ke Ngalau Terang, goa di kaki Bukit Barisan, digunakan sebagai tempat persembunyian semasa Perang Kamang. Saat itu baru tahu bahwa orang kampung kami tidak ada yang berprofesi tukang ojek. Mau minta bantuan ponakan juga tak mungkin karena mereka harus bersekolah dan bekerja. Akhirnya naik angkot jurusan Pakan Sianayan berhenti di Simpang Tarusan. Dari sana diteruskan berjalan kaki ke dalam Jorong Halalang. Untungnya jalanannya bagus, dikiri-kanan terdapat sawah hijau berpagar Bukit Barisan. Saat memasuki pedusunan mata pun dimanjakan rumah-rumah gadang tua. Berjumpa dengan penduduk ramah, tak segan menyapa, menghimbau singgah atau sekedar bertanya dari mana asal kita. Pernik perjalanan yang melibas rasa gerah di bawah panas terik tanpa tudung di kepala.

Danau tarusan kamang
Merumput di dasar danau

 

fenomena alam danau tarusan kamang
Sebagian air danau yang masih tersisa

Kurang lebih setengah jam kemudian kelelahan itu dibayar oleh Danau Tarusan Kamang yang sedang kering. Iya alih-alir air yang menggenang seperti dalam jepretan para fotografer di internet, wisatawan berperahu di atasnya, sekarang terhampar padang rumput, lapangan bola lengkap dengan gawang, dan induk kerbau yang sedang menyusukan anak. Awan bersih berlatar langit biru bergumpal-gumpal menaungungi perbukitan dengan rumah dan Masjib beratap seng di bawahnya. Saya menarik napas, menghembuskan kelelahan dan melap keringat sambil menikmati kibasan udara sejuk dari arah perbukitan. Ah kami memang tidak datang dalam kondisi danau terbaik. Namun apa hak saya untuk mengeluh? Sekalipun dalam kerontang begini Danau Tarusan Kamang tetap terlihat indah.

Setelah duduk sejenak di palanta warung dan membasahi kerongkongan, saya turun ke bawah, menapak tanah yang beberapa waktu lalu jadi dasar telaga. Sebagian sudah mengeras dan beralih fungsi jadi lapangan sepak bola. Mendekati tepi air, lumpur masih lengket malah saking asyik memotret saya tak sadar sebelah kaki mulai terbenam. Di seberang terlihat penduduk sedang memanen keramba. Saya tidak membawa lensa tele jadi hanya samar-samar melihat tubuh mereka bergerak berlatar muka air bening kehijauan. Dari belakang, dari arah Bukit Barisan, suara hiruk-pikuk dari orang hutan dan monyet-monyet menyadarkan keasrian Jorong Halalang ini. Menurut Bapak pemilik warung bunyi-bunyian seperti itu sebagai penanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Saya mencari kehadiran Padang Doto, pelataran kecil di tengah Danau Tarusan bila sedang berisi air, namun tak terlihat. mungkin sudah menyatu dengan daratan yang sekarang saya pijak.

Sebagian dasar danau berubah jadi lapangan bola
lapangan bola danau tarusan kamang
Goal! Bolanya langsung masuk air

Saya memandang ke atas. Langit masih cerah, tidak terlihat tanda-tanda kedatangan hujan. Namun udara memang bertambah sejuk. Beberapa ekor bangau putih melintas dengan kepak sayap anggun. Kadang mereka hinggap ke atas punggung kerbau, seolah menggoda saya agar mendekat. Sekalipun saya berusaha mengendap sehening mungkin tetap saja insting mereka lebih tajam, kabur begitu jarak kami menyingkat. Menyesal banget saat itu tidak membawa lensa panjang.

Puas memandang sekeliling saya kembali ke warung. Di sebelahnya tersedia ruang sempit yang bisa digunakan pengunjung untuk Shalat. Sambil menunggu gilaran saya mengajak Pak Sutan, pemilik warung, berbincang. Sama dengan cerita semua orang bahwa cuma Allah yang tahu mengapa tiba-tiba Danau Tarusan tergenang air dan mengapa pula tiba-tiba mengering. Padahal saat ini masih bulan Maret, masih musim penghujan, air danau sudah kering sejak sebulan lalu. Alasan lain yang membuat petani segera memanen ikan mereka, selain memang ikannya sudah siap panen, mencegah kerugian bila nanti air danau bertambah surut. Jika ada yang mengatakan bahwa kedatangan air Danau Tarusan Kamang ditandai dengan seperti bunyi letusan, menurut Pak Sutan, sekarang tanda-tanda itu pun sudah tidak terdengar lagi. Tahu-tahu air menggenang. Dan tahu-tahu pula air menghilang…

perahu untuk menyusuri danau tarusan kamang
Tak sengaja terdampar

Menurut Penelitian Ilmiah..

Beberapa penelitian ilmiah sudah dilakukan di tempat ini. Menurut Professor Handang, di Danau Tarusan Kamang terdapat zona patahan Sumatera bagian Timur di sertai sungai di bawahnya. Jadi ini salah satu penjelasan mengapa air datang dan pergi dengan mudah. Di bagian tepi danau terdapat bongkahan batu-batu gamping (kapur) berusia ratusan abad. Batu seperti ini biasanya hanya ditemukan di pantai.

Siang semakin merangkak naik. Sebelum turun hujan kami beranjak meninggalkan fenomena alam Danau Tarusan Kamang dengan harapan masyarakat memperlakukan aset ini dengan bijak. Tak membuat keramba ikan berlebihan atau menumbuhkan kesadaran pengunjung agar tak membuang sampah sembarangan. Sebab di beberapa tempat saya melihat plastik bekas bungkus makanan dan minuman berceceran di tepi danau.

Dalam perjalanan pulang
fenomena alam danau tarusan kamang
Rumah di tepi danau

@eviindrawanto

31 thoughts on “Akhinya Jadi Menengok Fenomena Alam Danau Tarusan Kamang

  1. hebat uni kuat jalan
    dari jalan besar ke Jorong Halalang itu cukup jauh kan uni..
    walau sebagian air danau sedang kering, danau tetap tampak cantik

  2. Subhanallah, Indonesia itu memang sesutau ya mbak, Banyak kejaiaban alam yang sulit dicerna oleh nalar. ditambah lagi dengan legenda legenda yang terjadi dimasa lampau. menambah daya tarik tempat tersebut.

    1. Pokoknya yang senang fotografi gak rugi datang ke Ranah Minang, Mbak Unik. Tempatnya photogenic banget deh 🙂

  3. Uni Evi berhasil kian memanaskan kompor penasaran. Postingan Uni, Uni Adel, Uda Vizon pun Mbak Monda tentang tarusan Kamang selalu memikat.
    Salam

  4. Wah iya, unik sekali ya mbak danaunya…bisa tiba2 kering gitu. Lucu banget liatnya ya, dasar danau bisa jadi tempat main bola gitu 😀

  5. Fenomena alam yang unik, Uni Evi. Saya belum pernah dengar ditempat lain ada danau yang seperti ini.

    Batua uni, kampuang urang awak eksplor kampuang sandiri indak. Ayo wak posting Ranah Bundo, ikuik memperkenalkan nagari sandiri.

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi… kampungnya masih nampak kedesaan dan asri dari pembangunan ya. Jarang sekali saya melihat pemandangan indah yang memaparkan hidup desa begini. Tambah segar dengan latar belakang gunung. pasti sejuk di awal pagi ya, mbak. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam Mbak Fatimah. Iya kampung saya masih banyak sawah, kebun dan tempat terbuka lainnya. Bikin betah untuk melewatkan hari tua.
      Salam manis juga dari Serpong, Mbak 🙂

  7. Danaunya unik. Saya membayangkan danau mengering, terus ada kerbau dan burung bangau, di tengah sore yang asyik dengan angin sepoi-sepoi, wah enak banget rasanya. Tak perlu pemandangan setara dengan foto-foto pembidik ternama, bisa ada di sana dan menikmati suasananya saja sudah membuat diri ini sangat bersyukur :hehe.
    Keren danaunya, Mbak…

    1. Terima kasih, Gara. Melihat langsung memang jauh lebih berharga metimbang memandang foto keren dari fotografer keren. Sebab foto tak menceritakan angin dan suara-suara hewan hutan seperti yg saya dengar waktu berada di sana 🙂

  8. interesting! aku juga suka dengan fenomena-fenomena alam kak, dan belum kesampaian ke sumatera barat nih… haha

    1. Nah kalau Mas Fahmi mah cuma nunggu waktu saja ke Sumbar. Monggo disegerakan Mas..Sumbar menunggumu dalam rindu hehehe…

  9. pemandangan khas bgt ya mba,, dengan kerbau2 yang merumput dipinggir danaunya..

    jd inget masa kecil, habis keringetan main bola ga perlu jauh2 basahin badan,,tinggal nyemplung 🙂

    1. Betul Mas Alan. Di sini saya lihat juga ada anak-anak yang loncat-loncat ke danau walau panas sedang terik. Kayaknya mereka main sambil bantu orang tua angkat ikan dari danau

  10. Pengalaman yang sangat menakjubkan, dari kecil saya selalu berangan berkunjung ke sumatera barat dan lombok saat membaca buku-buku bacaan SD. Begitu indah deskripsi pengarang buku, sehingga saya selalu terbayang-bayang sampai sekarang.

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?