Trip ke Pulau Kemaro Palembang

eviindrawanto.com| Palembang sudah masuk peta perjalanan dunia sejak abad ke 7 bersamaan bangkitnya jaman keemasan Kerajaan Sriwijaya. Pelabuhannya yang disinggahi kapal dagang dari seluruh dunia,  membuat ibu kota berdenyut, dan jadi wadah pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan. Itu lah mengapa para pendeta Budha dari Thailand, India dan China ramai-ramai datang ke sini memperdalam ilmu agama. Berabad kemudian saat kejayaan Sriwijaya surut, Palembang pun memudar dari destinasi para pengembara agung seperti I Tsing. Kerajaan-kerajaan melayu yang menguasai, dan NKRI sekarang, tak sanggup mengembalikan Palembang sebagai pusat peradaban.

Namun Palembang tetap lah sebuah pesona dan bernilai untuk dijelajahi. Terutama bila teman-teman menyukai sejarah. Aroma masa lalu sebagai bekas ibu kota Sriwijaya yang beragama Budha tetap terasa sampai sekarang. Tengok lah klenteng, wihara tua, dan kampung Kapitan yang tak jauh dari jembatan Ampera. Di sana kita akan berjumpa sisa-sisa keagungan masa lalu. Dan salah satu klenteng yang saya sambangi selama di Palembang berada di Pulau Kemaro.

trip pulau kemaro palembang
Pintu Masuk Klenteng Hok Tjing Rio

Menuju Pulau Kemaro

Setelah berada di Palembang ada dua cara untuk mencapai Pulu Kemaro. Yang pertama dari dermaga di dekat Jembatan Ampera. Namun dari sini letaknya relatif lebih jauh, sekitar 6 km,  berarti ongkos perahu juga lebih mahal. Keuntungan dengan cara ini kita bisa melihat berbagai aktivitas masyarakat di tepi Sungai Musi. Berpapasan dengan kapal pengangkut dari Pabrik Pupuk Sriwijaya, Pertamina Plaju atau mengamati lalu lintas ojek perahu dengan segala isinya. Cara kedua melalui kampung Dompu, dari dermaga penyeberangan milik PT. PUPUK Sriwijaya. Jaraknya pendek membuat Pulau Kemaro, wihara, dan sebuah pagoda yang muncul dari balik pepohonan tampak jelas di seberang. Dari sini ongkos tentu lebih murah.

Legenda Kisah Cinta di Pulau Kemaro

Delta kecil di tengah Sungai Musi ini tentu tak begitu menarik bila tak ada cerita di atasnya. Begitu pun kalau hanya klenteng sebagai tempat ibadah, dimana-mana juga ada. Daya tarik utama di Kemaro adalah cerita legenda mengenai asal-usul Pulau Kemaro. Tentang kisah cinta antara Putri Kerajaan Sriwijaya, Siti Fatimah dengan seorang pangeran dari Cina bernama Tan Bun Ann. Gimana jalan ceritanya bisa teman lihat di Wikipedia. Yang perlu digaris bawahi hanyalah  kisah ini saja sudah menggambarkan bagaimana kehidupan sosial berbaur di era Sriwijaya. Putri kerajaan pribumi menikah dengan pangeran asing, satu ide dari akulturasi budaya yang jadi akar terbentuknya NKRI.

Di Pulau Kemaro bahkan cerita legenda berusaha diwujudkan lewat miniatur pusara Siti Fatimah di pelataran Klenteng Hok Tjing Rio. Bagaimana sesajian ritual Budha terhampar di atasnya tak berhubungan dengan nama Sang Putri yang berbau Arab. Namun satu yang pasti, Pulau Kemaro dan cerita di atasnya adalah milik rakyat Indonesia. Kekayaan ini harus dikelola dengan baik oleh para pemangku kepentingan agar bisa diwariskan kepada anak-cucu kelak.

@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

44 thoughts on “Trip ke Pulau Kemaro Palembang

  1. Indahnya memang otentik betul. Jadi penasaran saya dengan setting-setting cerita yang nyata begini, kita bisa menerawang tentang bagaimana cerita itu terjadi di sana!
    Tadi saya juga baca tulisannya Om Nduut tentang P. Kemaro. Makin banyak baca info tentang pulau itu, makin penasaran! Hehehe.

  2. Kejayaan Nusantara, kewibawaan bangsa ditandai pengakuan bangsa lain belajar di swarnadwipa ya Uni. Cantiknya Pulau Kemaro, trim ya Uni Evi berbagi wisata Palembang.
    Eh cameramen sabar banget ada take dan retake hehe… nunggu oleh-oleh postingan berikutnya ah…

    1. Padahal Palembang gak cuma jembatan Ampera ya Mas Salman. Datang ramai-ramai bersama teman seide kayaknya tambah menarik 🙂

  3. Ini salah satu destinasi yang gagal saya kunjungi ketika ke Palembang beberapa waktu silam, Uni. Alasannya, karena padatnya kegiatan, sehingga waktu untuk plesiran menjadi terbatas. Insya Allah kalau ke Palembang lagi, saya akan sempatkan ke pulau tersebut.. 🙂

    1. Kan memang begitu kebiasaan kita, MM..Biasanya tempat tinggal kita jarang dieksplorasi. Tapi kalau judulnya plesiran semua tempat disigi hehehe..

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?