Rekreasi ke Monumen Khatulistiwa Pontianak

katulistiwa33

Sebentar lagi 21-23 Maret 2015, Monumen Khatulistiwa Pontianak akan ramai kembali oleh wisatawan. Mereka akan jadi saksi fenomena alam yaitu saat matahari kembali ke siklus nol derajat pada lintang garis khatulistiwa. Peristiwa ini disebut Titik Kulminasi. Saat matahari berada di Titik Kulminasi semua benda di Bumi kehilangan bayangan. Bahkan gaya gravitasinya sanggup membuat telur berdiri di porosnya. Peristiwa ini berlangsung dua kali dalam setahun. Yang satu lagi tanggal 21-23 September. Untuk menarik wisatawan bahkan Pemda membuat Festival Titik Kuliminasi yang biasanya berlangsung meriah. Even berlangsung di halaman Museum Tugu Khatulistiwa yang terletak sekitar 3 kilometer dari Ibu Kota Kalimantan Barat, di kota Siantan, arah Mempawah . 

rekreasi ke tugu khatulistiwa pontianak
Tugu Khatulistiwa Pontianak yang dibangun tahun 1928

Saya ingat pernah mengunjungi Tugu Khatulistiwa Pontianak tahun 2012. Hampir tiga tahun yang lalu. Namun kenangan rekreasi di sana masih membekas hingga saat ini. Soalnya ingat kedodolan sendiri. Ingat saat dalam mobil menuju monumen yang didirikan tahun 1928  itu saya minta penjelasan pada teman perjalanan . Apa sih garis khatulistiwa dan bagaimana cara mendefinisikannya. Malu-maluin ya? Iya! Apa boleh buat. Setelah sekian puluh tahun lulus SD nilai Geografi saya tidak menanjak. Untungnya tidak ada yang tertawa. Kalau pun ada saya sih sudah bersiap pasang muka tebal. Prinsipnya lebih baik malu ketimbang tak tahu menahu bakal objek yang akan dilihat nanti. Tanpa pengetahuan dasar mengenai garis ekuator itu saya pasti cuma akan plongk-plongok. Bertanya ke Akung Google juga tak mungkin karena sinyal sekarat.

Siang itu langit Siantan yang cerah menyambut saat kami memasuki area parkir. Gumpalan awan putih bertaburan berlatar belakang langit biru yang bersih. Menginjakan kaki di pelataran yang terbuka ke arah Sungai Kapuas membuat napas langsung terasa lega. Anak-anak berseragam sekolah keluar masuk dari pintu museum. Saya sebut tempat itu museum karena memang hal itu lah yang sebenarnya, gedung berasistektur bulat yang menyimpan tugu khatulistiwa di bawahnya. Saya tak langsung masuk ke gedung yang dibangun tahun tahun 1990  –untuk melindungi Tugu Khatulistiwa asli di bawahnya— melainkan beringsut dulu ke taman di sebelah kanan . Dari sini pemandangan lebih leluasa guna melihat replika tugu Khatulistiwa yang bertengger di atas kubah. Tugu duplikat  itu berukuran lima kali lebih besar dari tugu yang asli di bawahnya.

Guna menambah daya tarik bagi pengunjung pengelola museum memberi sehelai sertifikat bagi pengunjung Museum Khalutistiwa Pontianak. Sayangnya pas giliran kami sertifikat itu habis. Namun tanpa serfikat pun dengan senang hati kita akan menjelajah isi museum yang di tengah terletak Tugu Khatulistiwa asli, mulai dibangun tahun 1928 dan mengalami perombakan sebanyak 3 kali. Di bawah empat buah tonggak hitam menyangga bulatan bumi dengan garis-garis ekuator. Kayu penyangga yang kokoh itu itu terbuat dari kayu ulin, kayu besi dan keras yang tumbuh di tanah Borneo. Pada dinding sekeliling tergantung foto-foto lama, sejak tugu berdiri pertama kali sampai di renovasi. Rupanya sejak jaman Belanda tempat ini sudah dijadikan tempat rekreasi. Itu terlihat dari foto-foto orang Belanda yang juga ikut tergantung di sana. Dan tentu tak lupa pengetahuan tentang garis ekuator, matahari dan musim.

titik kulminasi tugu khatulistiwa pontianak
Titik Nol asli, 117 meter dari tugu yang sekarang ke arah Sungai Kapuas

Sesungguhnya tempat tugu yang sekarang berdiri bukan posisi 0 derajat, 0 menit dan, 0 detik atau yang disebut Titik Kulminasi. Maka puas bernarsis ria dalam museum kami beranjak ke tepi Sungai Kapuas, ke Titik Kulminasi sesungguhnya. Titik yang di reset ulang oleh tim dari BPPT pada tahun 2005. Melalui penghitungan ulang ternyata posisinya 117 meter ke arah Sungai Kapuas. Saat saya berkunjung Titik Kuliminasi ditandai oleh sebuah tembok segi empat kecil. Dimana kalau kita berdiri di atasnya saat itu lah posisi kita berada di dua dunia, Bumi Utara dan Selatan sekaligus.

@eviindrawanto

42 thoughts on “Rekreasi ke Monumen Khatulistiwa Pontianak

  1. Waaaakkk ini salah satu mimpi saya mak Eviiiiiiiiii,,,
    wiih tanggal 21 September yak,,, kok pas sama ulang tahun saya hehehee…
    btw di Equador juga titiknya salah,,, jaman makin canggih makanya beberapa titik yg dulu ditentukan bergeser beberapa meter 😀

  2. At the center of the world!
    Sebentar lagi, ya, Mbak, matahari akan lewat sekali lagi di khatulistiwa untuk menjelang musim semi 🙂

  3. hehe… nilai geografi saya juga selalu mepet 🙂
    Ini wajib dimasukkan agenda untuk dikunjungi, pasti bermanfaat buat anak-anak.
    *teringat semalam babang tanya “gerhana matahari itu apa?”

  4. Nah lho, titik kulminasi aslinya malah cuma lantai kayak gitu ya mbak :D. Asik banget tuh mbak, udah ke sana sampe dua kali 🙂

  5. Mbak Evi travellingnya selalu bikin ngiri ah,,,kapan ya aku bisa menginjakan kaki di 2 dunia…Utara sekaligus Selatan. Hiks !

    1. Walau menginjak kaki di bumi utara dan selatan sekaligus, rasanya ya sama saja sih Mbak Lies, berada di tepi Sungai Kapuas hahaha..

  6. Loh ada serifikatnya ya Uni Evi, saat kami kesana beberapa tahun lalu tidak kepikiran masuk menikmati tugu kecilnya. Malah asyiik menikmati lapangan hijau dan pinggir Kapuasnya.
    Asyiik dibuat event khusus di seputar masa titik kulminasi untuk daya tarik pengunjung dan pemaknaan khatulistiwa. Salam

    1. Mungkin waktu Mbak Prih ke sana, sertifikatnya juga habis..Mungkin juga sekarang tak diberikan lagi karena pengunjungnya kian ramai..Lagi pula apa sih artinya sertifikat, paling-paling sampai di rumah digelatakin tak terpakai, yang penting kan arti kunjungan ya Mbak 🙂

  7. Mbak Evi, jadi pas di titik 0 di khatulistiwa, ada perubahan gak dengan sinar matahari yang kita rasakan? Atau biasa aja? Aku gak pinter nih ttg matahari-mataharian. 😐

    1. Pas aku di sana tidak sedang di titik kulminasi sih Ranselijo..Jadi tak bisa menggambarkan gimana rasanya matahari saat itu. Tapi karena bisa membakar ujung benda lembut, mestinya panas banget kalau menimpa kepala kita hehehe…

  8. Beberapa tahun yg lalu saya datang ke sini, museum masih dalam renovasi.
    Tapi november 2014 saya datang lagi hanya mampir dan berhenti sejenak, tapi tdk masuk ke dalam 🙂

  9. Tahun 1999 sewaktu saya gawe di Pontianak, -orang sana menyebut kotanya Ponti- pernah berkunjung ke tugu khatulistiwa ini. Saat itu tugu ini gak sehebring yang sekarang.

    Saya juga baru tahu titik kulminasinya ternyata gak di tugu ini, hehe.. Menurut saya titik kulminasi ini perlu diamankan.

    Kalo pemdanya smart tugu ini bisa menjadi icon pariwisata dan sumber pad. Bangunlah pusat budaya dan kuliner disekelilingnya. Berikan servis yang memuaskan pengunjung. Semoga saran saya ini dibaca oleh pemda Pontianak, hehe…

    1. Dengan adanya Festival Titik Kulminasi, pemda sudah membuatnya jadi even wisata kok, Pak Alris..Menurut yang saya baca kunjungan ke sana tiap tahun terus meningkat 🙂

  10. Tahun1928 sudah teramat lama sekali disebut daerah khatulistiwa, (mluncur ke google siapa yg nemuin) saya sendiri suka takjub kenapa manusia bisa berpikir sedetail itu ya? Mau gitu capek2 mikir? Hehehe

    1. Sama. Aku juga pengagum mereka yang bepikir nyelimet, runut dan mudah diklasifikasi Ru…Itu kan yg kita semut kecerdasan ya…:)

  11. Mamah sama Bapak sama-sama lahiran Kalbar, almarhum bapak lahir di Pontianak, Mamah di Sintang, tp dua-dunya urang Sunda asli 🙂

    Masih ada sepupu yang tinggal di Pontianak … jadi pengen jalan2 ke tanah kelahiran orang tua..

  12. Whaa jadi pengen kesana, tapi mba evi? mau lihat foto yang telur melayang itu ada ga mba? emang hanya di bulan september aj ya mba?
    sebelumnya tks, infonya sangat bermanfaat 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?