Wisata Pelelangan Ikan Tanggamus

Yuk wisata pelelangan ikan Tanggamus!. “Ah yang benar atuh Bu Evi! Kalau ke Lampung kita mau wisata lho bukan mau beli ikan, becek-becekan apa lagi cari bau amis. Lagi pula apa yang mau dilihat di sana selain ikan, perahu dan nelayan?” Ah mungkin dialog itu memintas sejenak dalam pikiran sobat sekalian jika seseorang mengajak melancong ke pasar ikan. Benar juga sih. Sudah  tempatnya bau, becek, berantakan, kumuh lagi. Tapi begini (sambil betulin duduk dan letak kacamata), apa sih tujuan sebuah perjalanan? Apakah wisata artinya cuma melihat atraksi dari landscape nan cantik yang syukur-syukur kalau ada matahari terbit dan terbenamnya? Apakah mengenal budaya cukup dengan menonton taria-tarian atau bertemu penduduk mengenakan busana tradisional? Jawabnya pasti tidak lah ya. Terutama bila mengacu pada pemikiran bahwa tiap tempat punya kisah sendiri.Begitu pun bila bicara keindahan, relatif banget. The beauty is in the eye of the beholder kata orang.  Lagi pula saya percaya bahwa segala bentuk keindahan akan ditemukan di mana pun asal sedikit menggeser sudut pandang. Begitupun di Dermaga Kotaagung ini, tempat naiknya ikan-ikan dari Teluk Semaka, dipasok ke seluruh Lampung dan kota-kota di sekitarnya, terdapat keindahan. Setidaknya keindahan dari kerja keras saat masyarakat berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi.

pagi di dermaga kota agung
Pagi di Dermaga Kotaagung
pasar ikan dermaga kotaagung
Kesibukan pasar Dermaga Kotaagung

Itu lah mengapa senang sekali di pagi pertama saya di Kotaagung (31 Oktober) diajak kawan-kawan main ke dermaga. Kami berada di sini dalam rangka Festival Teluk Semaka ke 7.  Kebetulan dermaga Kotaagung atau Kota Agung letaknya tak jauh dari penginapan. Hanya berjalan kaki beberapa ratus meter sudah terlihat Teluk Semangka yang sedang berselimut kabut. Membuatnya tampak murung dan kelabu. Kontras betul suasananya dengan burung-burung walet yang terbang melingkar-lingkar di mulut dermaga.Dengan kepak sayap lembut keluar masuk melalui lubang segi empat diatas bangunan sarang mereka. Para nelayan, tukang angkut dan pembeli ikan bergerak mengikuti irama tugas masing-masing. Sejenak saya berhenti di pojokan warung kopi. Mengamati pedagang pengecer sambil membayangkan jika saya yang berdiri di belakang lapak-lapak itu . Apa yang akan muncul dari pikiran saya jika dalam rutinitas pagi seperti ini melihat seorang ibu-ibu menyelinap dengan cameranya, motret di sana-sini? Gak puguh? Orang kota yang tak punya pekerjaan lebih penting?  Ah mudah-mudahan saya tidak tampak aneh.

dermaga kota agung
Manaikan hasil tangkapan
wisata pelelangan ikan tanggamus
Keranjang dikumpulkan dulu di sini. Dihitung baru di bawa ke tempat pelelangan

Dari pojokan kedai kopi saya bergerak ke arah kanan menuju dermaga. Tempat perahu-perahu kecil bersandar, nelayan membongkar hasil tangkapan semalam, keranjang-keranjang bambu penuh ikan berjejer sebelum naik gerobak menuju tempat pelelangan. Dari jauh perahu jukung bermotor terapung sunyi setelah semua isi perutnya terbongkar. Saya mendekati satu perahu yang sedang menaikan puluhan ikan tongkol ke atas dermaga. Sesekali terdengar teriakan bapak-bapak nelayan dari bawah atau dari atas yang menyambut keranjang-keranjang itu. Ada yang menginstruksikan agar kerangjang-keranjang diletakan sedemikian rupa agar mudah dihitung oleh bapak lain yang berbadan tinggi besar. Saya tidak tahu perannya di sana, mungkin bos atau karyawan dari perusahaan pemilik perahu.

Ikan-ikan segar yang akan dibeli para ibu di pasar

Saya bergeser mendekati salah seorang Bapak yang sedang bertugas. Cukup dekat agar bisa bicara langsung dan cukup jauh agar tak mengganggu pekerjaannya. Menurut Pak Husin hasil tangkapan itu akan dibagi tiga yaitu untuk biaya operasi, pemilik perahu dan nelayan. Jika nelayan yang melaut 10 orang, berarti sepertiga dari hasil tangkapan akan dibagi rata 10. Menurut saya panen mereka amat banyak pagi itu. Menurut Pak Husin itu sedang-sedang saja. Di hari-hari lalu lebih banyak dari yang saya saksikan. Namun terkadang juga lebih sedikit.

suasana di tempat pelelangan ikan
Salah satu sudut ruang pelelangan
Petugas pelelangan

Kabut perlahan tersibak,  dermaga menghangat, dan cahaya keemasan lembut mulai menyentuh kulit. Saatnya saya kembali beranjak ke arah pasar, menuju tempat pelelangan. Pedagang, pembeli dan petugas lelang sudah berkumpul, melingkari berpuluh-puluh keranjang ikan segar. Darah menetes membuat lantai keramik merona merah. Dua petugas duduk di atas bangku tinggi di sebelah kanan. Yang satu menyebutkan harga, mulai dari Rp.230.000 sampai Rp.250.000/keranjang. Bila ada yang menunjuk Bapak di sebelah kirinya mencatat sesuatu ke bukunya dan ikan yang sudah terjual di ketepikan. Proses pelelangan tidak lama. Sebentar saja ikan-ikan tadi sudah berpindah ke dalam mobil-mobil atau kembali ke gerobak, kemudian tempat itu pun sunyi kembali. Yang tinggal hanya sisa-sisa darah ikan yang tak lama kemudian juga akan digelontorkan air saat dibersihkan.

Ada yang mau wisata ke pelelangan ikan Tanggamus?

@eviindrawanto
Yang belajar lebih baik akan jadi yang terbaik

48 thoughts on “Wisata Pelelangan Ikan Tanggamus

  1. baru tauu, selama ini cuma denger doang pelelangan ikan pelelangan ikan, tapi gak paham maksudnya bijimana…hihihihi….
    makasih ya mak evi, jadi rada pinter dikit abis mampir ke sini 😀

  2. Waah… ikaan, jd inget ikan seger2 itu. Pingin mborong rasanya. And, aku ngga ke pelelangan euy. Thanks foto2nya n cerita tentang TPI bun. Love it.

    1. Iya kalau dari nelayan masih murce Miss. Kalau dipasar kan sdh ada biaya tambahan, spread untuk pedagang dan biaya transportasi 🙂

  3. Ikan-ikannya menggiurkan sekali. Foto-fotonya bagus menangkap kegiatannya. Jadi bener-bener tahu seperti apa suasana dipelelangan dan ternyata murah bangettttt. Kasian juga jadinya melihat nelayan-nelayan itu.

    1. Terima kadih Mbak Sandrine. Kalau punya perahu sendiri kemungkinan nasib nelayan lebih baik kali ya. Namun mengingat maintenance dan biaya operasi juga besar, persoalan jadi nylimet 🙂

  4. Aku suka kepo berapa penghasilan para nelayan mbak Evi. Dengan hasil tangkapan mereka, kalau dibagi 10 jadinya per orang dapet berapa ya.

    Foto ikan dalam keranjang tjakep banget mbak Evi.

    1. Mestinya penghasilan mereka hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari2 Mbak Ika. Belum pernah dengar nelayan kaya kan? 🙂

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Wisata begini memberi kelainan dalam memaparkan sesuatu yang menarik dan mengesankan. Kita bisa mengambil pengalaman kehidupan orang lain dalam mencari sesuap nasi buat keluarga dan keteguhan jiwa mereka dalam melayari lautan untuk memberi makan orang di darat yang tidak bisa ke laut. Saya senang melihat kehidupan nelayan melalui lensa ketik mbak Evi. Salut ya mbak mahu menahan diri dari bau amis ikan-ikan segar itu.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam Mbak Fatimah. Setuju sangat dengan pendapatmu bahwa pengalaman orang lain akan memperkaya pengalaman kita sendiri.
      Salam manis akhir pekan dari Serpong 🙂

  6. Fotonya bagus2, menangkap momen yang pas dan memberikan informasi bagi yg belum pernah ke TPI macam saya 🙂 salam kenal, Mbak Evi.

  7. Cerita yang indah mbak Evi…
    Saya juga suka masuk ke pasar, ke pinggir pantai….
    Senangnya, di luar Jawa ikannya segar-segar…..

  8. Setuju sepenuhnya sama Mbak Evi. Dari dalam pasar kumuh atau pelelangan ikan seperti inipun banyak keindahan yang bisa diabadikan, tidak melulu harus pemandangan sawah, gunung, sungai, atau pantai saja

    1. Saat traveling semangat eksplorasinya mesti dibawa-bawa ya Mas Krish..Dengan begitu baru deh dapat roh jalan-jalannya…

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?