Memutar Kenangan di Air Terjun Way Lalaan

Saya pernah menulis tentang Pesona Air Terjun Way Lalaan di sini. Demi melengkapi catatan perjalanan mengikuti Festival Teluk Semaka 2014, yang mana jadi salah satu destinasi D’Semaka Tour, saya pikir perlu menuliskan sekali lagi. Sebab salah satu wisata alam di Tanggamus ini perlu dikenal lebih luas. Apa lagi bila Sahabat JEI traveling di Kotaagung – Lampung, tempat ini recomended banget untuk dikunjungi. Lagi pula untuk saya sendiri lumayan menambah jumlah posting. Mudah-mudahan pada tutup tahun nanti entri Jurnal Evi Indrawanto ( JEI ) mencapai 900 post. Berarti resolusi diam-diam saya di awal tahun akan tercapai. Insya Allah. Amin.

memutar kenangan di air terjun way lalaan
Pertemuan kedua dengan Air Terjun Way Lalaan
Berpose sejenak. Foto : Halim Santoso
Berpose sejenak. Foto : Halim Santoso

Setelah menjelajah lereng tanggamus yang membuat napas saya tinggal satu-satu itu, kami mendaratkan diri di beranda Way Lalaan. Hari sudah petang. Pelataran sunyi. Hanya terlihat beberapa orang dan penjual gado-gado di serambi kantor pengelola. Mungkin karena sudah latihan di Lereng Tanggamus, menuruni ratusan anak tangga ke lokasi Air Terjun Way Lalaan terasa lebih mudah. Apa lagi matahari perlahan merangkak ke balik Gunung Seminung, terasa benar udara sejuk dan bersih membelai kulit dan paru-paru. Saat menuruni anak tangga satu persatu, kenangan tahun 2012 bermunculan lagi seolah film yang diputar. “Aku menghitungnya dan jumlah anak tangga ini ada 265, Ma.” Teriak si bungsu menyerengai, memperlihatkan senyum manisnya. Anak tangga dan pegangan tangan masih sama. Hanya dibeberapa tangga beberapa batu sudah terkelupas. Dari bawah juga terdengar deru air terjun yang sama. Tidak sekeras dulu. Walau sudah masuk musim hujan namun rupanya arus Sungai Way Lalaan belum terlalu deras.

kenangan pada air terjun way lalaan
Batu-batu besar bergelimpangan

Sampai di bawah beberapa teman langsung menceburkan diri. Saya tergelak memandangi kegembiraan khas kanak-kanak ini. Memang siapa yang tak tergoda memandangi airΒ  bening Way Lalaan bernuansa hijau kebiruan itu. Saya pun kalau tak repot memikirkan after bath-nya mau juga lah ikut basahan, sedikitnya menceburkan kaki. Apa lagi kami baru turun dari Lereng Gunung Tanggamus, badan terasa lengket dari kepala sampai ujung kaki. Tapi biar lah kegembiraan itu jadi milik mereka yang lebih tahan fisiknya. Saya ngeri membayangkan berpakaian basah sebab tak satupun diantara kami yang membawa ganti. Cukup menghibur diri memandangi tiga orang bocah lelaki yang asyik bermain di arus lebih ke bawah. Memandangi Kepala mereka hilang timbul diantara air bening dan batu-batu besar membuat saya berpikir tentang kecebong.

Kegembiraan dalam air
Tertawa nonton Tante Donna mengintip cameranya

Tempat yang saya ceritakan ini adalah Air Terjun Way Lalaan satu. Yang kedua berada di atasnya. Tak lama setelah jebar-jebur, Mas Elvan (Mas Hanung super kw), host kami dari Dinas Pariwisata Tanggamus segera membawa membawa kawan-kawanΒ  menuju Air Terjun Way Lalaan 2. Konon jaraknya tak begitu jauh. Konon lagi treknya lebih ekstrim dari Lereng Tanggamus. Sebelum dikalahkan medan saya mundur duluan deh. Dan rupanya keputusan yang tepat. Mendengar cerita kawan-kawan yang kembali dari sana membuat jantung saya berdebar. Ada lho pelintasnya tebing dengan kemiringan 90 derajat. Naiknya menggunakan sebatang bambu yang dilubangi ditengah. “Kalah deh penyadap aren gue”, Pikir saya. Namun untuk mereka yang fisiknya segar bugar dan menyukai tantangan tentu saja Air Terjuan Way Lalaan dua jadi pilihan.

Ini foto-foto Air Terjun Way Lalaan dua yang saya pinjam dari kawan-kawan.

way laan dua
Air Terjun Way Lalaan dua. Foto credit Nurul Noe
Way Lalaan dua. Foto credit: Elzhivago Tabaqjaya
Makan duren

Menyusuri Lereng Tanggamus sudah. Turun ke Air Terjun Way Lalaan satu sudah. Dan naik ke Way Lalaan juga sudah. Hari pertama D’Semaka Tour berlangsung mulus. Dan di sore yang semanis kenangan yang saya simpan ditutup oleh Mas Hanung dengan yang manis-manis pula. Makan duren!

@eviindrawanto
Yang belajar lebih baik akan jadi yang terbaik

46 thoughts on “Memutar Kenangan di Air Terjun Way Lalaan

    1. Itu lah salah satu yang selalu bikin kangen tentang Lampung. Persahabatan dan tempat-tempat wisata, dan tak ketinggalan budayanya πŸ™‚

  1. Senangnya…pasti puas setelah sampai di air terjun …disuguhi pemandangan indah.

    Boleh mandi di air terjun ya? saya lihat banyak anak kecil berenang di air terjun, apa tidak berbahaya?
    Pas saya ke air terjun yang dinamakan “Curug Sawer” di lereng Gunung Gede, Sukabumi, dilarang mendekati ke kolam air terjun…apalagi mandi. Pernah ada yang terjatuh saat berfoto-foto…tak tertolong….

    1. Air terjunnya memang deras Mbak Enny. Namun kuala penampungan air di tepi-tepinya cetek dan arusnya juga tidak kencang. Jadi kalau mau mandi di sini aman. Hanya saja saya memang rada kurang setuju tempat ini dijadikan tempat mandi. Shampoo dan sabun akan merusak lingkungan soalnya πŸ™‚

  2. Pernah ke sini tahun 2010 dan sama gak berani ke air terjun yang satunya hehe. Mba itu dulu ada akar yang menjuntai di tebing sisi kiri air terjun waylalaan 1. Kita dulu manjat akar itu dan terjun dari atas tebing. Keren pokoknya hehe

    1. Duh kemarin aku luput memperhatikan akar itu. Namun kalau menilk dari foto saya, sepertinya akar itu sudah tak ada ya Sobat Ade πŸ™‚

    1. Sebenarnya Lampung punya banyak air terjun, Mbak Okti. Di Taman Nasional Bukit Barisan lebih eksotis lagi. Hanya saja belum terekspos πŸ™‚

    1. Melewati gunung-gunung yang belum banyak terjamah Mas Narno. Kalau di kota mah pasti sdh dijadikan tempat pembuangan sampah πŸ™‚

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Saya senang dengan foto air terjun yang kebiru-hijauan itu mbak. pasti suara airnya menderu-deru jatuh. Saya juga suka sama foto 3 anak bocah yang senangmandi antara batuan itu, mbak. kalau foto itu disertakan dalam lomba foto, pasti menang kerana gaya alami yang santai saat berfoto.

    salam semanis gula aren dari Sarikei, Saarwak.

    1. Waalaikumsalam Mbak Fatimah πŸ™‚

      Mereka adalah bocah-bocah yang tumbuh dekat dengan alam. Ceria, aktivitas tinggi dan mengetahui caranya berinteraksi dengan lingkungan.

      Salam semanis gula aren dari Serpong Mbak πŸ™‚

    1. Hahahaha semoga ke depan akan banyak acara seperti ini lagi, dan melibatkan blogger juga lebih banyak. Jadi kita ada kesempatan bertemu ya Mbak Muna

  4. Dureeeen…mas Hanung baik bgt ya mbak..hihi

    dan soal tangga bambu itu, aku korbannya. Untung bisa naik, klo gak..bakal lama temen2 naik keatasnya..haha
    tp seruuuu

    1. Pakai acara dorong2an biar naik ke atas ya, Mbak Mel. Duh mestinya saya belajar naik tangga sprt itu pd penyadap gula aren πŸ™‚

  5. Way Lalaan ini memang objek yang punya kenangan indah banget hehehe… Peserta yang turun ke Way Lalaan 2 mesti todong salonpas dan conterpain sama mas Hanung KW, tapi apa daya sogokan duren mampu membuat semua mabuk kepayang dan lupa komplain ttg jebakan betmen πŸ˜€ πŸ˜€

    1. Hahaha Mas Hanung pandai juga mengalihkan isu ya, membuat acara penutupan hari itu jadi pesta duren, Mas Halim

  6. Ikut menikmati keelokan air terjun Way Lalaan dan membayangkan kesegaran sungai beningnya Uni… Senangnya menikmati sajian jelajah alam Nusantara. Tarimo kasi Uni Evi.

    1. Terima kasih Mbak Prih. Memang lah nusantara kita keren sekali, mo jelajah alam gak usah jauh-jauh πŸ™‚

  7. Setelah berletih-letih dengan peluh dalam perjalanan, tentu kesejukan yang ditawarkan Air Terjun Way Lalaan ini benar-benar terasa dahsyat ya Uni.. Lengkap sekali reportasenya. Membuat saya seolah ikut dalam perjalanan tersebut.. Keren sangat Uni.. πŸ™‚

  8. Aku deja vu ke.masa kecil saat menginjakkan kaki di sini. Bokap di Jakarta sampai kirim message saat aku mengirim gambar. Donna kecil pernah bermain2 di tempat ini.
    Melambaikan tangan pada kamera untuk tidak ikut berpetualang di trek Way Lalaan 2 memberi kesempatan sensasi lain menikmati momen sendiri. Ahhh…
    Reportasi yang menarik, jempol mbak.
    Aku nampang deh di blog keren ini.
    *eh kenapa harus 900 artikel? #kepo

    1. Kalau ikut naik ke atas, gak bakalan dapat foto anak-anak yang bersalto di sungai ya Mbak Donna. Mengenai 900, yah cuma sekedar kejar tayang untuk memacu diri agar tak malas menulis πŸ™‚

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?