Suatu Petang di Kampung Saya

Foto-foto suatu petang di kampung saya ini diambil pakai camera ponsel jadul. Jadi mohon dimaklumi mutu gambarnya hancur. Tersimpan di time line facebook waktu pulang kampung sekitar tahun 2009. Mumpung mudah memindahkannya tak simpan juga di sini . Mayan buat update blog karena saya sedang macet ini.

image

Petang itu saya tak punya pekerjaan makanya duduk bermalasan sambil mengamati keadaan sekeliling. Objek pertamanya adalah seekor kerbau sedang mandi di kubangan. Selesai ngadem dia bergerak terseok cari makan di tengah sawah yang baru saja di sabit. Beberapa ekor bangau putih beterbangan mengikutinya dan asyik benar bermain di sekitarnya. Kadang-kadang mereka terbang ke punggung kerbau. Dan si badan besar itu tampak tidak tergangu sama sekali, dia terus saja merumput, tak peduli keadaan sekeliling.

image

Festival sore itu juga di meriahkan barisan bebek kembali pulang ke kandang. Barisan mereka mengingatkan saya pada satu pola dalam ukiran dinding rumah gadang: Itiak Pulang Patang atau bebek pulang petang. Sementara seorang bapak tengah khusuk di pematang sawahnya. Di kampung saya hal-hal seperti ini masih berlangsung sampai sekarang.

image

Sebuah pojokan di samping kanan – belakang rumah ibu saya. Sawah yang baru selesai dihaluskan lumpurnya dan akan segera di tanami. Bias cahaya matahari senja pada permukaannya membuat kangen pada kampung ini tak pernah usai.

image

Ini adalah sebagian pemandangan yang bisa dilihat dari beranda rumah ibu saya. Sekarang pohon pinang di latar muka sudah lebih tinggi, sedikit menyembunyikan pohon kelapa di belakangnya. Untungnya pohon kelapa itu masih baik-baik saja sampai sekarang.

image

Ini adalah Ambacang Magek tempat saya belajar mengaji. Pohon kelapa yang sudah amat tinggi dan sepertinya sudah tak berbuah lagi tetap dibiarkan di sana.

image

Seorang ibu membereskan gabah yang di jemur di Banto di halam tempat penggilingan padi. Waktunya lebih awal dari foto-foto di atas.

@eviindrawanto
Yang bekerja lebih baik akan jadi yang terbaik

37 thoughts on “Suatu Petang di Kampung Saya

  1. Sekarang memang musim panen. Saya juga hampir setiap sore ‘ngentasi gabah’ walau capek namun panen memang memberikan kebahagiaan tersendiri.

    Pemandangan di desa memang masih indah, begitu pula di desa saya. Namun sayang saya masih belum punya camera jadi belum bisa jepret sana jepret sini. Hehee 🙂

    1. Ini juga cuma pakai camera ponsel jelek kok, Mas Imam. Memanfaatkan apa yang ada saja, yang penting alatnya bisa merekam objek atau peristiwa yang sedang berlangsung di depan mata 🙂

    1. Betul Mbak MYr. Apa lagi kalau tak harus mikirin sumber pendapatan atau belanja tiap bulan, maka kampung juga pilihan saya untuk lenggah-lenggah hehehe..

  2. kampungnya masih sangat asri Mbak Evi… sangat menyenangkan rasanya tinggal di sana. pasti masih banyak burungnya ya? he he

  3. Mbak Eviii..apa kabar?
    Maaf saya lama tidak berkunjung kesini, ternyata ada foto kampung halaman yang indah…khas banget ya mbak, semua yang ada di Ranah Minang membuat saya jadi berpikir, kapan ya saya bisa kesana lagi?
    Maklum mbak, saudara-saudara dari bapak sudah ada di Jakarta dan sekitarnya 😀

    1. Hallo Mbak Irma, lama juga dirimu berhibernasi. Ayuk diniatin datang ke kampung ayah Mbak, insya Allh tercapai deh 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?