Rendang Jengkol Padang

rendang jengkol padang

Rendang Jengkol Padang – Dicari dan Dihindari.

Jengkol itu seperti istri simpanan. Didambakan tapi harus dihindari. Hahaha..analogi keterlaluan ya? Habis cuma itu yang terpikir oleh saya ketika seseorang “ingin” sesuatu tapi sekaligus merendahkan derajatnya.

Begitu lah! Ini lah makanan yang paling sering diolok-olok. Bahasa gaul ABG 80-an, prokem (preman), menjulukinya “jengki” atau “kancing lepis”. Untuk berbagai alasan ada kepuasan tersendiri orang merating rendah makanan ini. Entah karena bau atau jengkol berkonotasi makanan rakyat kecil atau  “orang susah”.

Terlepas dari itu penggemar jengkol pasti setuju bahwa buah polong-polongan ini bisa dimasak apa saja. Disemur atau di goreng balado sama enaknya. Namun yang paling menggiurkan bagi saya adalah rendang jengkol padang. Tambah kental santannya tambah menitik air liur. Terbayang  nasi panas dan rebusan pucuk ubi (daun singkong) menemani santap bersamanya. Tambah sempurna kalau membayangkan rendang jengkol padang  dinikmati sambil gelaran tikar di tengah sawah. Saya yakin tak bakalan ingat kesehatan apa lagi  hasil metabolism tubuh nanti bakal “mencemari lingkungan”.

Ohya foto di atas kurang tepat disebut rendang jengkol padang. Buah Archidendron pauciflorum berkuah santan seperti itu disebut orang Minang Kalio Jariang (jengkol) . Kalio adalah rendang setengah jadi, bahan tak  dimasak  kering seperti rendang umumnya. Namun rumah makan dimana jariang itu ditemukan menyebutnya sebagai rendang jengkol padang. Ya sudah saya ikuti saja apa maunya.

Rendang Jengkol Padang di Rumah Makan

Semua yang berada di kolong langit akan berubah. Masakan jengkol pun ikut berubah. Sekalipun olokan terhadapnya belum punah namun nasib jengkol  sekarang jauh lebih baik. Kalu dulu  tak tersedia di resto, seiring perkembangan kreativitas dan diversifika produk, beberapa rumah makan padang  meninggalkan stigma masa lalu yang tak jelas itu. Senang melihat rendang jengkol terpajang bersama menu lainnya. Tentu saja langkah seperti menggembirakan pecinta buah yang mengandung asam jengkolat ini.

Namun akhir-akhir ini kegembiraan saya berkurang terhadap rendang jengkol padang. Mulai snobbish, mulai malu mengaku penggemar jengkol. Mungkin karena sering dipelototin suami yang selalu datang dengan isu purin dan asam urat.  Ditambah lagi mobilitas dan pekerjaan tidak memungkinkan menyantap rendang jengkol padang sembarangan. Malu kalau harus meninggalkan jejak di toilet umum.

Rendang jengkol padang, anyone?

@eviindrawanto

 

24 thoughts on “Rendang Jengkol Padang

  1. Ahhh jengkol selalu menggiurkan buat saya. Kalau kata urang sunda itu “pikabitaeun” 🙂

    Kalau ada jengkol tersaji pasti mau, kecuali waktunya sedang kurang tepat, misalnya pas mau meeting, atau mau shalat berjamaah. Khawatir baunya akan membuat pingsan orang yang ada di dekat saya 🙂

  2. kalo saya mah, nggak mau karena rasanya membingungkan (buat saya) tapi suka banget nyium bau masakannya, perasaan wangi banget pas lagi diatas kompor.. 😀

    Dan keripiknya itu loh mbak, waktu kecil saya kok doyan banget yah

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi. Kerana saya orang Malaysia, maka maksud jengko itu tidak difahami mbak, jika ada foto buah yang masih belum dilauk/dimasak seperti di atas, mungkin bisa saya bayangkan dengan nama lain, jika ada di tempat saya. Apappun, makanan yang bersantan pekat memang enak. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 😀

  4. Mbak suamiku suka banget menu ini,,,tapi aku males bikin rendang jengkol…soale bikin kamar mandi bauuuu….hihihihi…

  5. Jangan sampai Istriku melihat ini …
    Bisa histeris dia …

    Rendang Jariang itu … kesukaannya bangeudh…
    kalo udah makan itu … suami dan anak-anaknya lewat … nggak akan direken …

    hahahaha

    Salam saya Bu Evi

  6. wwaah…kalau urang awak ndak lamak jo jariang, ndak urang awak doh namono yo ,Evi 😛

    banyak sebenarnya orang yg suka rendang jengkol,
    namun karena baunya jadi malas memakannya.
    dirumahku kalau bikin jariang, kami biasanya minum vit.B kompleks ,Evi ……….hehehee, bingung khan? 😀
    karena baunya langsung hilang, jadi orang sekitar dan kamar mandi tidak ikut tercemar baunya yang aduhai itu………
    jadi……..teuteup yuuk menikmati legitnya si jariang ………… hahaha 😀 😀

    salam

  7. Saya belum doyan Jengki, Bu. Ada yang bilang juga, si Jengki makanan makruh karena baunya ya, Bu. :mrgreen:

    BTW, kalau liat Jengki jadi ingat Om Belalang dan Bunda Lahfy. 😉

  8. nah.. ini makanan yang aku belum pernah coba, gara-gara berita yang kurang menyenangkan soal baunya. akhirnya belum pernah nyoba Mbak..sampai sekarang.

  9. hahaha, sambil baca posting ini, air liur ambo menitik uni, lamak bana. Kalau mudik, ini merupakan salah satu makanan yang ambo cari uni.

  10. Bagi saya jengkol dimasak apapun enak saja, tapi yang lamak bana itulah rendang jengkol padang. Mengenai penyakit “jengkoleun” (tersumbat kencing) akibat asam jengkolat, nampaknya tidak menimpa semua orang, mungkin setiap individu punya cara metabolisme sendiri. Soal polusi yang diakibatkannya siram toilet berkali-kali, beres tuh

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?