Hidup Hanya Sekali

Hidup Hanya Sekali – Nikmati lah!

Tidak biasanya suatu hari saya jalan sendiri ke mall.  Terpaksa karena “sopir pribadi” tak bisa mengantar. Sementara persediaan kebutuhan personal sudah lama habis. Biar tak ruwet saya pilih saja mall dekat rumah.

Usai belanja saya tak langsung pulang melainkan  mampir ke  food court. Niatnya mengawasi lalu lintas,  menikmati secangkir kopi, “nyamil”,  plus menghabiskan Prahara Asmara terbitan Akoer. Novel ini sudah lama “ngendon” di tas namun tak kunjung kelar. Padahal kutipan Zara Zettira di belangkannya sudah meyakin bahwa novel itu bagus. Coba saja : “Lelaki itu seperti hujan. Datang dan pergi tanpa permisi.”

Food court bukan tempat yang nyaman untuk membaca. Lagi pula aneh jika dikiri-kanan penuh  orang sibuk makan eh saya malah membaca. Emang perpustakaan? Sok intelek banget kesannya.

” Sa’bodoh ah! Setidaknya satu halama harus tuntas”, pikir saya. Paling tidak tahu apa kesimpulan Inneke dan Ijun yang sedang membahas masalah per-gay-an.

Hidup Hanya Sekali Jangan Dibikin Susah

“Hidup hanya sekali, ngapain dibikin susah! Gesek saja!”

hidup hanya sekali
Si Kepoh

Baru memulai satu halaman perhatian sudah beralih ke suara cempreng dari arah belakang. Di sana duduk sekelompok ibu muda. Mungkin sedang arisan. Si cempreng sedang kasih nasihat pada temannya. Terlihat teman lain manggut-manggut mendukung si cempreng.

Rasa ingin tahu mengalahkan sense of morality: Tak boleh guping pembicaraan orang. Sambil pura-pura terus membaca saya ikuti alur komunikasi mereka. Lagi pula siapa suruh bicara kencang-kencang.

Oh rupanya mereka sedang merencanakan wisata ke Bangkok. Salah seorang tidak dapat ijin dari suami. Sementara ia sendiri tak punya uang. Nah teman-temannya menyarankan menggunakan kartu kredit. Baik untuk membeli tiket , hotel, makan maupun shopping nanti.

” Lagian waktu ke Hong Kong tahun lalu, elu juga gak ikut. Patuh sama suami sih wajib, tapi gak segitu amat kaleee..Kalau laki loe miskin kita maklumi. Jangan terima nasib begitu saja, say., ayo berjuang!”

Saya ngakak dalam hati. Gossip tak selalu buruk. Merasa beruntung dapat pelajaran kehidupan walau dengan mencuri dengar. Jadi itu kah maksud dari hidup hanya sekali? Kalau tak dapat ijin jalan-jalan dari suami, yaberontak saja? Uang tak masalah karena bisamenggunakan kartu kredit? Life is so simple as that yah? Gak neko-neko..

Bilakah menggunakan hidup hanya sekali itu?

Saya tidak mengerti apa persoalan mereka. Tapi mendukung pernyataan bahwa hidup hanya sekali.  Hanya saja jika suami tak mengijinkan saya jalan bersama teman-teman sementara uang ada, apa perlu membelakanginya? Beberapa saat saya membayangkan situasinya. Ibu pasti bangkit dari pusaranya jika itu saya lakukan. Dan sebagian langit dari suami saya pasti runtuh kalau saya nekat.

Tangkapan pembicaraan yang sekilas itu tak memberi saya seluruh gambaran. Situasi apa yang sedang mereka hadapi pun tidak penting diketahui. Hanya dalam hati  saya berharap semoga mereka semua baik-baik saja. Kalau  akhirnya mereka jadi pergi, semoga sang suami belajar sesuatu dari istrinya.  Dan si istri mendapat seluruh kegembiraan dalam perjalan itu.

Saya tak melanjutkan membaca. Menghabiskan kopi dan camilan. Membereskan barang-barang dan menempel tag dijidat bahwa saya tak lebih baik dari mereka. Lalu berangkat pulang untuk mengurus diri sendiri. Kepohnya cukup hari ini!

@eviindrawanto

13 thoughts on “Hidup Hanya Sekali

  1. untungnya suami saya bukannya melarang, malah membebaskan jika saya mau pergi. TAPI kita sebetulnya tahu sendiri keputusan yang terbaik yang mana kan. Karena banyak faktor yang perlu dipikirkan, buka melulu masalah uang dan ijin. Apalagi kalau punya anak yang masih kecil. Daripada terjadi penyesalan kelak, saya memilih yang aman 🙂

    Mbak musti ke coffe shop di sini deh, tenang dan tidak terdengar orang bercakap-cakap. Kebanyakan baca buku atau dgn gadgetnya. Kalau mau ngerumpi di tempat lain selain coffe shop

  2. sy juga kadang2 suka ‘curi dengar’ kl lg di tempat umum, Mbak.hehe

    Setuju dgn cuma ‘curi dengar’ tdk bs memberi seluruh gambaran. Bs jd suaminya tdk mengizinkan bukan krn mslh uang, mungkin ada alasan lain yg masuk akal dan kita gak tau 🙂

  3. haiyaaaaaaaah… bingung mau komen apa Mba.
    Hihihi. Mba Evi enak banget cara ceritanya.
    Iya, sayah sendiri juga banyak yang perlu diperbaiki, mengamini saja semua doanya njenengan Mba Evi. 😀

  4. Wah.. aku juga ngga punya keberanian dan keinginan untuk membangkang suami ya kalau urusan begitu. Apalagi jika harus ngeluarin duit banyak. Nggak deh.
    Kalau suami taksetuju ya sudah. Biasanya aku manut saja. Syukurnya suamiku juga bukan tukang larang, sepanjang apa yang aku lakukan masuk akal. tapi akunya yang mesti ngerti-ngerti sendiri. jadinya aku pergi nggak pernah berwisata Mbak.. pasti karena tugas kantor. Kerja.

  5. Hmm …
    menurut saya … kehidupan merekalah yang sejatinya rumit … dan susah …
    sehingga mereka menghibur diri dengan berkata “hidup hanya sekali jangan dibikin susah”

    (tersenyum)

    Salam Saya

    1. atau jangan-jangan …
      kenikmatan mereka itu letaknya justru ada di sensasi “pembangkangan” nya itu …

      hhhmmm … menarik … kepo …
      penyelidikan berlanjut …
      (halah)

      Salam saya Bu Evi

  6. mba Eviiiii,…
    enatahlah yah…
    walopun kadang aku sering ngomel ngomel gak jelas sama Abah, tapi aku masih percaya kalo ridho suami itu bisa membawa berkah buat istri lho…

    Waktu itu kalau Abah gak ikhlas dan gak ngasih ijin aku untuk pergi sendiri ke Korea untuk pertama kalinya, mungkin aku gak akan dapet berkah gede berupa Korea Pass ituh lho mba…

    Sama juga dengan ridho istri sih menurutku 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?