Belajar Dari Lalat

belajar dari lalatBelajar dari Lalat : Jangan Panik Jika Terperangkap

Ikan asin itu makanan favorit di rumah saya. Cuma ada yang menyebalkan saat mengolahnya. Misalnya lupa menutup jendela dapur saat menggoreng. Tahu sendiri bagaimana aroma ikan asin kalau digoreng. Tak sekedar mengganggu penciuman tetangga tapi juga mengundang  kawanan lalat hijau  untuk mampir. Mereka berdengung dan terbang ke sana- ke mari seolah mengajak perang. Yang fatal ada yang berani hinggap di atas masakan yang baru matang.

Untuk mengusir mereka biasanya saya akan membuat keributan. Dengan berhush..hush.. atau mengibaskan sapu lidi agar mereka minggat keluar. Biasanya persoalan cepat selesai. Jendela ditutup kembali dan dengan penuh kemenangan saya meneruskan masak.

Tapi suatu hari keadaan berbeda. Seekor lalat hijau kembali singgah di dapur. Kali ini  lalat tunawicara, tunanetra,sekaligus tunarungu. Dalia, sang staf rumah tangga bertindak dengan membuka jendela dan mengibas menggunakan sapu untuk mengusirnya. Tapi lalat itu tetap saja terbang kian kemari. Menabrak tembok dan kaca jendela. Tampaknya panik diburu-buru seperti itu sehingga tak kunjung menemukan jalan ke luar.

Masalahnya sebelumnya saya tidak berpikir seperti itu. Saya menganggap si lalat sedang unjuk kekuatan. Dan pun  belajar dari lalat itu. Belajar tentang semangat pantang menyerah. Dengan naluri saya jawab tantangannya: “ Ente jual, ane beli…!” Saya ambil sapu dari tangan Dalia. Dengan kekuatan penuh memainkan juru angin duduk pembalik sukma. “ Plak!” sekali ayun serangga itu terhempas ke bumi.

Wah dahsyat! Pikir saya sambil memandangi geletar kaki hewan tersebut saat meregang nyawa.

Belajar dari Lalat

Pembunuhan itu dipicu rasa tertekan. Gara-gara  salah memasukan faktur tagihan ke dalam amplop. Yang seharusnya untuk pelanggan A tapi saya masukan ke amplop untuk pelanggan B. Untung berhasil menghentikan kurirnya lewat panggilan telepon. Kalau tidak coba bayangkan betapa malunya. “Emang berapa banyak sih pelangganmu sampai salah amplop seperti itu?” Gerutu saya berulang-ulang.

Berhubung si kurir  harus jalan ke tempat lain, dan mengingat kebijakan perusahaan A hanya tukar fakturnya tiap Jumat, artinya proses tukar faktur berikutnya harus menunggu seminggu lagi. Artinya lagi, gara-gara lupa menempatkan tagihan ke dalam agenda mental saya hari itu,saya telah sukses memperlambat cashflow perusahaan.

Semakin diingat semakin jengkel pada diri sendiri. Apa lagi setelah beberapa detik saya lihat Dalia tidak jua berhasil menyingkirkan si lalat. Maka terjadi lah pelampiasan yang sadis itu.

Puaskah saya? Enggak! Legakah saya? Enggak! Menyesalkah saya? Hm…

Tapi saya belajar dari lalat itu.  Nasib saya akan seperti itu jika terus membiarkan emosi negatif menguasai.  Seperti ketakutan, kepanikan dan kemalasan. Itu semua menghalangi pandangan saya terhadap kejernihan dari luar.

Pernah musuhan dengan lalat, temans?

@eviindrawanto

Repost 26 April 2008.

39 thoughts on “Belajar Dari Lalat

    1. Nah nyamuk itu emang serangga paling menjengkelkan sedunia, Pak Mars. Gak tahu apa kegunaannyadalam lorong evolusi. Dan tampaknyamanusia akan melihat kehadiran nya lebih lama

      1. tapi kita juga bisa berterima kasih terhadap nyamuk dengan rasa gatalnya, sebab dengan efek gatal kita bisa melakukan upaya-upaya mengurangi dan menghindari gigitannya agar darah yang tersedot nggak banyak jika seandainya gigitan nyamuk nggak gatal.
        Bahkan teman saya dulu justru tidur di luar kamar dengan tanpa selimut, tujuannya agar di tengah malam dikerubuti nyamuk yang pada akhirnya dia gampang bangun malam untuk menegakkan shalat tahajud

        1. Semua tergantung dari sudut pandang ya Pakies. Bahwa nyamuk tak selalu merugikan tapi bisa digunakan untuk kemanfaatan..yah Tuhan tak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Makasih atas pencerahannya Pak 🙂

  1. Terimakasih sharingnya mbak Evi. Saya kadang juga demikian, kalut karena pekerjaan yang sebenernya salah saya sendiri tp ujung-ujungnya malah orang lain yang kena getahnya. Harus tetep move on nih

  2. wkwkk.. aku tau rasa itu, un..
    lalat yang panik itu ujung2nya tewas di raket listrik.. dan dgn puas aku menyaksikannya bergetar tersengat listrik.

    marilah bersikap tenang, agar org sekeliling kita juga bisa membantu mencarikan solusi bagi kita.. makasi sharingnya, uni.. kaliandranya juga tjantik..!

    1. Emosi yg sedang membara itu kekuatannya emang dahsyat May. Andai saja kita manfaat kan utk hal2 berguna tentunya akan membuat banyak perubahan ya…

  3. He he he . . . hebat juga jurusnya itu Mbak. Belajar dari Eyang Sapujagad di puncak gunung ya? 😀
    Aku sih sementara ini sudah tandatangan perjanjian perdamaian sama lalat, Mbak karena lagi perang sama kucing, yang kalau sudah panik sama aja sama lalat main tabrak sana sini 🙁

    1. Kucing liar yang suka berantem atau mencuri makanan seperti musuh dalam selimut Mas Krish, Ditempatku suka tebalikin tempat sampah lalu mengacak2 isinya. Sebel banget kalau membersihkannya

  4. xixixi kalo makanan sampe di hinggapi lalat jangan sampe ya mbak 🙂 mending perang aja sekalian whahaha 😀 ga pake kampak aja sekalian mbak ?

  5. Musim panas lalat banyak sekali disini mbak. Klo masak kan pintu dapur dibuka ya supaya aroma masakan keluar, lah malah masuk lalat. Trus wadah makanan harus tertutup semua, klo lengah sedikit, lalat bisa ikutan menikmati 🙁 .

    Pernah dong malam-malam panasin semacam rendang, setengah piring sudah disantap ihhh ko ada lalatnya hikss, ga jadi lanjut makan, trus yg masih tersisa dipanci jadi terbuang, untung tinggal sedikit.

  6. Kalau dengan lalat biasanya pada musim buah tiba Mba, contohnya musim mangga. Biasanya lalat sering hadir ditempat yang lengket dan kotor. Apalagi kalau habis goreng ikan asin. Hm….. rebutan sama lalat deh tuh makanannya. Trekadang kesal juga dibuatnya. He,,, he,,, he,,,,

    Salam wisata

    1. Musim buah udara penuh aroma enak ya Pak Indra, maka lalat berkembang biak. Disamping tempat lengket dan kotor yang jadi syarat hidup lalat.

  7. paling sebel ama lalt yang masuk rumah ya. masalahnya lalat itu kan bawa penyakit…
    untungnya sih disini jarang banget ada lalat.

    1. Nah kita bisa belajar dari sana Mbak Myr..Semangat pantang menyerah. Biarpun tak disukai manusia tetap saja dia ngotot masuk ke rumah orang..

  8. belajar dari lalat yang pantang menyerah dari postingan Uni Evi, tarimo kasi. Kepekaan indera penciuman lalat sangat kuat ya meski Uni gambarkan tunaaneka. Salam

  9. belajar dari lalat, dari nyamuk, dari kupu-kupu, dari lebah…semua mahluk ciptaan Tuhan benar-benar bisa memberi pelajaran bagi kehidupan, bagi yang mau berpikir…

    Kalau waktu kecil sih saya malah “berteman” dengan lalat…malah nungguin lalat berdatangan, mendekat, lalu dipukul pakai sapu lidi…buat makan ayam-ayam negeri kecilku yang dibeli di abang tukang ayam…

    Salam kenal bu…nice web

  10. lalat memberi emosi negative ke dalam diri kita… namun juga sekaligus memberi pelajaran bahwa dalam hidup hendaknya kita jangan biarkan kepanikan, waktu dan rasa ketakutan menghalangi pikiran kita untuk berpikir jernih dan strategis guna mendapatkan solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi.

    Thanks untuk sharing pembelajarannya,Mbak Evi..

  11. lalat memberi emosi negative ke dalam diri kita… namun juga sekaligus memberi pelajaran bahwa dalam hidup hendaknya kita jangan biarkan kepanikan, waktu dan rasa ketakutan menghalangi pikiran kita untuk berpikir jernih dan strategis guna mendapatkan solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi.

    Thanks untuk sharing pembelajarannya,Mbak Evi..

    loh.. komentku kok ngga ada… kirim ulang..

  12. Wah, telingaku paling sensitif deh kalau masalah lalat. Belum sampai kelihatan, bunyinya yang nguing2 udah sampai duluan di telingaku. Akhirnya dengan segala cara kucoba menghalau lajunya agar tak sampai di depanku,hehehe

    1. Iya nih Mbak Prit..Bunyi sayap lalat yang bergetar sekian juta kali dalam satu detik, membuat syaraf2 parno kita bereaksi dari dalam hahaha..

  13. Di rumah yang musuh berbuyutan sama lalat dan nyamuk itu, istri saya uni alias bini 🙂
    Kalap klo sdg ketemu salah satu…!!!

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?