Resiko Pembuatan Gula Merah

Resiko Pembuatan Gula Merah – Sebuah Pertanyaan

Kita bertanya dengan banyak cara dan gaya. Sebagai yang paling tahu sejagad Google tak pernah cerewet pada bentuk pertanyaan kita.  Tak masalah betapa anehnya pertanyaan itu Google seperti nenek yang bijak selalu memuaskan rasa ingin tahu cucunya. Dia tidak menjawab saklek karena memberi  alternatif  untuk jawaban yang dianggap terbaik. Seperti pertanyaan “resiko pembuatan gula merah”  yang diketik seseorang di luar sana, disarankan Google agar menengok  posting saya berjudul Melihat Proses Pembuatan Kelapa.

resiko pembuatan gula merah
Gula merah bermutu terbuat dari nira bermutu

Saya tidak paham maksud pertanyaan resiko pembuatan gula merah yang dimaksud. Karena kalau topiknya resiko konotasi saya mengarah pada kehati-hatian atau ketakutan.Namun jika saya meluaskan wawasan bisa juga pertanyaan itu dalam rangka menankap peluang.

Resiko Pembuatan Gula Merah

Tapi apapun maksud pertanyaan tersebut, sebagai pengecimpung gula aren yang sering juga disebut gula merah dengan semena-mena, selalu ada resiko dalam pembuatannya. Resiko positif dan negatif datang silih berganti. Resiko negatif yang bisa saya petakan disini adalah:

1. Gagal Panen

Musim adalah resiko terbesar terhadap produksi gula merah. Musim panas yang terlalu panjang membuat bunga aren, kelapa dan siwalan kering kerontang. Jangankan untuk diambil air atau niranya, untuk menjaga kelangsungan hidup saja mereka perlu menghujamkan akar lebih dalam ke dalam tanah.

2. Gagal Jadi Gula.

Agar jadi gula merah yang baik nira harus dalam kualitas terbaik. Untuk gula aren PH-nya sekitar 7. Berkurang dari itu kemungkinan gagal sangat besar. Diantaranya gula tidak bisa mengkristal, aromanya tidak harum dan bentuknya tidak coklat kekuningan nan cantik itu. Di pasar gula seperti ini tidak dikelompokan sebagai Grade-1.

3. Gagal Jadi Produsen yang Jujur

Adalah rahasia umum bahwa nira pohon palem-paleman itu cepat rusak. Saat berubah jadi asam nira tak bisa digunakan membuat gula. Guna mencegah peragian nenek moyang kita menggunakan pengawet yang disediakan alam. Seperti akar kawao, kulit manggis, cacahan batang nangka, daun parengpeng dll. Namun oleh satu dan lain hal, seperti kemalasan dan perangai jorok peragian tetap terjadi. Jadi untuk mencegah kerugian lebih parah atau alasan mudah dan kepraktisan, produsen tak jujur beralih ke pengawet kimia sintetis. Bahkan ada yang menggunakan zat berbahaya seperti formalin. Masih mending kalau diakui bahwa gula merahnya berpengawet. Yang gak mending adalah diaku sebagai produk alami dan organik.

4. Gagal Memenangkan Pasar

Rahasia umum juga bahwa pasar gula merah itu sangat crowded. Apa lagi jika dalam produksi berlimpah sementara yang memakai cuma 4L (lu lagi lu lagi).  Persaingan terkadang head to head seperti saling menjatuhkan harga. Biasanya perusahaan yang punya sumber daya insani keren saja yang akan selamat dari prahara ini. Mata mereka yang keren itu akan menemukan celah dan memainkan kelebihan mereka disana.

Nah bagi yang tak punya sumber daya keren akan masuk pada seleksi alam. Gulung tikar atau kalau ngotot bertahan akan jalan termehek-mehek.

Masih banyak sebetulnya resiko pembuatan gula merah dari sisi negatif. Tapi ya cukup disini saja dulu.

Evi

47 thoughts on “Resiko Pembuatan Gula Merah

  1. pelik dan rumit rasanya bagi yang tak mengenal medannya para pengecimpung gula aren ini.. maka hanya yang teruji serta selalu berinovasi yang akan mampu bertahan dan maju ke depan.

    sukses selalu untuk diva arenga dan uni..!

    1. Pelik dan rumit itu kan hanya perkara kebiasaan, May. Seperti aku kalau disuruh periksa kesehatan gigi orang, bisa kacau dunia persilatan.

      Amin. Makasih ya May 🙂

  2. Gagal dapat duit juga Uni.. hehehe

    Menurut saya sih itulah harmonisasi dunia Uni.. ada sukses tapi kadang jatuh bahkan gagal. tujuane satu biar kita bisa lebih menikmati setiap kesuksesan kita sekecil apapun..

    1. Tuhan tidak menciptakan dunia dan kehidupannya secara statis ya Mas. Senang-sedih, positif-negatif, sukses-gagal adalah sebagai perwujudan konsep Allah bahwa manusia bisa menentukan nasibnya sendiri 🙂

  3. gak mudah juga ya ternyata…
    dah gitu harganya juga gak seberapa ya mba?
    pernah dengar cerita, katanya semua dibeli tengkulak dengan harga gak seberapa. Baru tengkulak itu yang jual ke luar.

    1. Ada tengkulak yg berpraktek seperti itu dan banyak pula yang lebih baik, Mas Ryan..Harganya yg tak seberapa itu dan terkadang tak sesuai dengan tenaga yg telah dikeluarkan, didasari banyak faktor, yang bisa bikin satu posting lagi ngejawabnya 🙂

  4. bu Ev saya selalu beranggapan resiko negatif itu akan sebanding dengan resiko positinya. menurut bu Ev bagaimana ?

    eh komenya kho gini ya, malah bertanya hehe…

    1. Emang begitu sih yang terjadi Kang Yaan..Dalam resiko besar itu juga menanti reward besar, kalau vibrasinya ketemu hehehe..Satu dari keuntungan memasuki resiko besar adalah tidak semua orang berani masuk ke dalamnya. Dengan begitu persaingan menurun 🙂

  5. ternyata membuat gula merah penuh dengan lika-liku ya bu …
    kalau bisnis gula merah ini juga banyak terimbas dari naik turunnya gula putih atau tidak bu Evi?

  6. Semua pekerjaan pasti ada resiko positif dan negatif ya Mba, asalkan kita bisa mengantisipasinya dengan proses pengalaman yang dapat dijadikan guru sebagai pembelajaran, baik itu pengalaman orang lain, mau pun diri sendiri.

    Salam wisata

    1. Kata orang pengalaman adalah guru terbaik. Oleh satu dan lain hal, terkadang kita gagal belajar darinya Pak Indra 🙂

    1. Sebenarnya bukan gula merahnya yg dicampur detergen. Tapi mereka memasukan detergen ke nira agar nira tidak basi..Nah itu yg gila dari produsen gula merah, Mbak Ika 🙂

  7. Sisi gagal dari misskelola yang sebanding dengan ‘manisnya’ bisnis gula aren nih Uni Evi. TFS menambah wawasan kami. Salam

    1. Betul Mbak Prih. Antara sukses dan gagal itu ada sebuah space yg wajib kita isi. Namnya harapan. Dengan harapan jauh lebih mudah menghadapi kegagalan 🙂

    1. Sebetulnya jalan pintas yg tak benar itu, memperparah kegagalan, Mbak Niken. Seperti kata pepatah, orang mungkin bisa tertipu satu atau dua kali, tapi tidak selamanya 🙂

  8. semua usaha juga mengalami kendala. Tapi, bagaimana kita bisa menghadapinya dengan tekad serta kerja keras, untuk terus survive, itu yg terpenting 🙂

    1. Betul Mas Andy. Mencamkan dalam hati dan tindakan bahwa kegagalan tidak bersifat permanen, membantu mata hati kita melihat peluang sukses 🙂

  9. tulisan ini untuk menjawab kata kunci yg masuk ya uni?
    semua sisi usaha ada untung ruginya ya, tapi kurasa kalau mau jujur pasti usaha akan bertahan

    1. Iya Mbak Mon, lagi mati gaya mau nulis apa, eh tahu2 masuk kata kunci ini. Jadi deh sebagai pemantik ide…

      Dalam semua usaha sepertinya mantra paling utama adalah kegigihan Mbak 😉

  10. Apapun usaha yang kita lakukan, selalu ada resiko yang menyertainya. Dan jawaban atas pertanyaan dari kiwot, sebagai bukti pengalaman Bu Evi dalam menekuni bisnis gula.
    Saya kok merasa ngeri dengan jalan pintas yang dilakukan sebagian orang untuk mengurangi resiko kegagalan dengan memberikan aditif berbahaya

    1. Nah itu lah Pakies..Berdasarkan kelakukan segelintir orang ini, bisnis gula merah pernah memasuki era gelap. Yakni saat heboh2nya isu gula merah berformalin dulu..

      Saya juga gak habis pikir, yg melakukan seperti ini kurang panjang mikirnya. Tak hanya menyangkut konsumen dan kepercayaan mereka, tapi gimana rasanya jika yang makan gula beracun itu adalah anak cucu mereka?

  11. Dengan memahami risiko yang mungkin bisa terjadi, maka langkah jadi lebih tertata untuk menuju keberhasilan nggih, Bu Evi.

  12. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi….

    Semua pekerjaan ada risiko yang harus dihadapi. maka, pembuat gula merah (kalau di Malaysia namanya gula apong atau gula Melaka) harus bersedia mental dan emosi saat bertembung dalam situasi begini.

    Kalau saya, mbak. Tidak pula memilih gred dalam membeli gula merah ini. Asal ada dan dapat menyedapkan makanan, itu sudah cukup untuk saya. Maka, orang seperti saya tentu dapat mengurangkan risiko tidak lakunya gula merah di pasaran. 😀

    Salam manis selalu dari Sarikei, Sarawak. 😀

    1. Waalaikumsalam,

      Heheh..Iya Mbak Fatimah..Asal tak mengandung bahan berbahaya bisa saja kita mengkonsumsui gula apong kualitas apa saja ya. Toh rasanya sama manis semua..Make sure saja Mbak, kandungannya gak aneh-aneh..:)

    1. Ada tuh Mbak..Rupanya tadi dirimu lupa memasukan nama dan email..Jadi dianggap spamming oleh Askimet. Makasih sudah mampir di sore yg cantik. Salam manis dari Serpong 🙂

    1. wah..rupanya aku tadi salah ketik alamatku.. jadinya kok aku tercatat memposting sesuatu yang tidak pernah kuposting..

  13. Trima kasih informasinya mbak Evi, kalau tidak membaca posting ini, wawasan saya tentang pernak-pernik pembuatan gula merah pasti tidak bertambah…

  14. Ping-balik: Kastuba Merah - Jurnal Evi Indrawanto

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?