Ikan Tuna Potong yang Mencurigakan

Beberapa hari lalu belanja bahan shabu-shabu untuk anak-anak. Salah satu daging yang ingin saya tambahkan adalah ikan  tuna potong. Kebetulan tukang ikan langganan di pasar punya yang beku. Dan memang kebanyakan ikan tuna potong dijual dalam keadaan beku dan dikemas dalam plastik transparan. Dengan warna pink kemerahan itu saya asumsikan sebagai daging segar yang jadi memantapkan saya untuk membawanya pulang.

tuna potong
Yang pucat dan merah, mencurigakan gak sih?

Nah sampai dirumah bungkusannya langsung dibuka untuk dipotong tipis-tipis. Tapi pikiran buruk lantas saja melintas. Lah ini kok warna merah jambunya cerah sekali?  Tidak menandakan sama sekali bahwa ikan ini dibawa dari laut dalam. Artinya butuh waktu beberapa lama untuk sampai di darat dan kemudian didistribusikan ke pasar-pasar. Selain itu lewat pengalaman yang dulu-dulu dagingnya agak pucat. Tapi pikiran buruk itu saya tepis, menganggap diri terlalu panaroid. (Setelah bergaul cukup rapat dengan para aktivis pertanian organik, cara pandang saya terhadap sumber bahan makanan banyak berubah, banyak parnonya 🙂 )

Usai dipotong saya bawa ke tempat cuci. Bilasan pertama airnya merah, seperti layaknya air cucian ikan yang baru dipotong. Bilasan ke-2 masih merah seperti bilasan pertama. Masa iya sih darahnya segitu banyak? Jadinya pikiran buruk yang tadi saya tepis datang lagi dan sekarang tambah kencang. Untuk memastikan saya bilas lagi. Eh warna merahnya masih ada walau sudah berkurang. Dan itu tepian daging mulai  pucat pasi karena saya cemek-cemek. Sampai bilasan ke-5 baru kepikiran untuk memotret daging tersebut beserta sedikit air cuciannya. Masih ada semu merahnya seperti terlihat di foto.

tuna potong
Yang ikut dibuang

Setelah diabadikan daging ikan tersebut saya bungkus dan buang ke tempat sampah, berikut satu bungkus lagi yang tersimpan di freezer. Apa boleh buat. Daging ikan tuna itu terlalu mencurigakan untuk dimakan..

Hati-hati memilih ikan untuk anak-anakmu yah teman. Di luar sana banyak banget orang tak peduli terhadap kesehatan orang lain. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana dagangannya laris  🙂

@eviindrawanto

50 thoughts on “Ikan Tuna Potong yang Mencurigakan

  1. haduuhhh.. kami yang di kampung juga serba salah, uni.. pedagang licik itu gak hanya di jakarta, di sini juga sama.. memang harus tingkatkan kewaspadaan, lebih bijaksana dalam mencermati bahan makanan.

    Rasulullah pun berpesan, agar kita selalu memperhatikan apa yang dimakan.

    1. Kegiatan memilih bahan makanan emang memusingkan banget sekarang May. Aku mengikuti beberapa kegiatan seorang teman sebagai aktivis hidup organik. Kita tuhsekarang dikepung bahan makanan yg gak hanya kaya pestisida dan pupuk kimia, tapi juga pengawet sintetis, dan sejenisnya. Belum lagi bahan makanan yg datang dakri bibit dan pertanian genetic modified organism (GMO).waduh pusing deh lihatnya…

  2. Waktu pertama kali tinggal di Jogja, kami sama sekali tidak mau membeli ayam di pasar. Sebab, biasanya kalau di kampung, beli ayam itu di pasar yang masih hidup kemudian dipotong, sehingga jelas sekali asal muasalnya. Melihat ayam yang sudah dipotong-potong seperti di pasar-pasar di Jogja, kami jadi amat sangat ragu. Sampai kemudian kami menemukan langganan yang kami kenal benar siapa orangnya. Kalau tidak ada langganan tersebut, belinya ya di supermarket. Biasanya kalau di supermarket agak bisa dipercaya kesegaran daging yang dijual.

    Memang benar, Uni. Kita harus super waspada dalam memilih bahan makanan, ayam dan daging. Dan sebagai muslim, tentu pula harus kita pastikan kehalalannya..

    1. Nah ayam potong di pasar itu salah satu sumber paranoid aku juga Nyiak. Dan sekarang meningkat, gak cuma ayam potong tapi juga ayam dari jenis broiler. Gara2 pernah main ke kandangnya dan melihat apa saja yg diberikan pada mereka. Suntikan hormon pertumbuhannya dan makanan penggemuknya menimbulkan perasaan jijik..

      Hahaha…benaran deh Nyiak, tambah lama tambah sedikit bahan makanan yg bisa kami konsumsi. Mudah2an paranoidnya aku gak berubah jadi sakit jiwa ya…

  3. bukan sy gak berpihak sm pedagang kecil tp untuk daging (sapi, kambing, ikan laut, ayam), sy lebih milih beli di supermarket mbak.. Alasannya krn suka ada kejadian kyk gitu.. Kecuali ikan yg masih hidup, spt ikan mas, gurame, lele, dll baru sy mau beli di pasar..

    1. Iya sekarang mesti ekstra hati2 banget memilih bahan makananMbak Myr. Dan sependek pengetahuanku supermarket juga gak imun dari makanan berpengawet berlebihan. Kita sebagai konsumen emang dituntut ekstra hati2 banget sekarang 🙂

  4. Wah mbak, trima ksih buat sharing pengalamannya.
    Bahan makanan sekarang, sekalipun dijual di super market atau pasar tradisional, sering bikin saya curiga juga…ada yang lebih pucat dari aslinya, eh, ada juga yang warna cerahnya berlebihan…duh, saya juga jadi lebih paranoid sekarang, mbak Evi 🙁

    1. pasar sendiri yg bikin kita paranoid mbak ir. awalnya mereka memberi nilai tambah produk, tapi lama2 kebablasan gak memperhitungkan lagi aspek kesehatannya 🙂

  5. salut, Bu Evi benar-benar jeli dalam memperhatikan bahan makanan. Ini patut ditiru, mengingat saat ini banyak orang pinter dan semakin sedikit orang yang ngerti. Pinter melakukan ini dan itu tanpa memikirkan keselamatan dan kenyamanan orang lain. Saya kadang merasa ngeri dengan tayangan di salah satu TV yang menyuguhkan bagaimana pinternya orang ‘mengakali’ aneka jenis makanan menjadi produk yang sangat menguntungkan dengan modal sedikit. Berbagai cara tidak sehat dilakukan, demi keuntungan sesaat. Astaghfirulloh

    1. Itu gara-gara usia makin uzur Pakies..Kalau diperturutkan pola makan seperti dulu, serba boleh dan serba telan tanpa memperhatikan asal-usulnya, saya kuatir beranjak tua dikit akan merepotkan anak-anak. Niatnya kalau tua saya pengen jadi orang tua sehat..Jadi kalau harus wafat yah wafat saja karena usia tua, gak usah pakai sakit-sakitan. Jadi yg bisa dilakukan yah memperhatikan apa yg dimakan. Tapi ini cuma sekedar usaha, gimana hasilnya nanti tersarah Tuhan saja 🙂

  6. Saya kalo beli ikan di dekat rumah Bu
    Masih seger2 walau lebih mahal dari pasar
    Bener2 ya kondisi sekarang buat kita2 pada ketakutan 🙁

    Bu Evi ikut yang True Story utk buku WB yuk 🙂

    1. Kalau ikannya di jual dekat dari laut relatif cukup aman lah Mbak Esti. Sekarang yang memakai formalin untuk mengawetkan ikan gak bohong2an tapi sungguh2an 🙂 Yang gunanya buat mengawetkan mayat terus kita makan gituh, wk…jijik banget membayangkannya 🙂

    1. Aku curiga itu perwarna buatan Ko 🙂 Ya memang mengerikan. Kalau pewarna makanan masih mending, tapi kalau textil apa kagak berabe untuk saya nantinya?

  7. Karena Kendal lokasinya dekat dengan laut, maka saya tidak begitu khawatir dengan ikan laut yg dibeli istri saya. Kesegarannya terlihat jelas dari tampilan. Dan lagi rasanya juga beda ketika kita makan ikan olahan yg masih segar.
    Pernah juga sich, dapat ikan yg meragukan, tapi itu karena beli di penjual yg bukan langganan rutin.

    1. asyik tuh pak mars makan ikan segar tiap hari. daging ikan segar memang lebih manis. digoreng saja pakai garam sdh terasa nikmat 🙂

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Saya juga mempunyai pengalaman demikian apabila membeli ikan beku. Sejak itu saya tidak lagi membelinya. Lebih senang membeli ikan segar di pasar basah, mbak.

    Bener mbak, harus peka dan ambil berat kepada setiap makanan yang mahu kita hidangkan kepada ahli keluarga agar semuanya kekal sihat dan cergas.

    Terima kasih mengingati lagi.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. 😀

    1. waalaikumsalam mbak fatimah,
      jadi mengakali produk makanan agar laku di mata konsumen di Sarikei juga ada ya? yah kalau begitu kitanya sebagai konsumen yg mesti selalu waspada ya 🙂

  9. waduh, emang harus mesti ati2 ‘n jeli ya.. Org kok makin aneh2 aja sih, dpt untungnya ga seberapa tp pake bohongin pelanggan sgala 🙁

    1. treatmen ikannya aku rasa gak dari pedagangnya Mbak, tapi dari perusahaan distributor. itu berarti omzet gede dengan untung gede 🙂

  10. saya kalau beli ikan selalu satu ekor… tidak suka yang terpotong potong begitu. Kalau dipasar basah saya sering membeli yang terpotong potong, tapi biasanya langsung dari potongan utuhnya. Kalau sudah di fillet gitu saya hindari walaupun itu di mall besar.

    Ikan seperti tuna, tidak terlalu baik kalau tidak segar.

    1. Iya kalau sudah dipotong begini kemungkinan advance treatmentnya lebih besar ya Bro..Saya juga jadi kapok nih, mending kapan2 beli ikan kembung saja ya hehehe..

  11. Ngeri ya Mbak, harus lebih hati hati dalam memilih ikan nih. Oya kenapa ikannya harus langsung dibuang, mbak, kan bisa ditunjukkan kepada penjualnya dulu, supaya dia tau bahwa yang dijual bukan daging asli

    1. Waktu itu gak kepikiran juga sih untuk membawanya ke tukang ikan Mbak Yuni..Habis sudah apatis duluan, paling2 jawabnya mereka juga gak tahu karena beli dari penyalur. Tapi kemarin waktu ke pasar lagi, aku ngomong sama dia..Dan jawabannya emang sih akan memperhatikan, tapi hambar saja gitu. Mungkin diantara pelanggannya cuma aku yg paranoid hehehe..

  12. duh..jadinya serba salah ya mbak…. tapi memang kita harus tetap waspada demi kesehatan kita sekeluarga… trims sharingnya mbak, jadi bahan pembelajaran buat kami.. 🙂

    1. Yang kepengen sehat dengan makan ikan, menghindari daging merah karena bahaya kolesterol, yah kadang terperangkap oleh pengawet ikan Mbak Mechta 🙂

    1. Kalau baju sih masih mending Mas Andi, walau warna tak sesuai tapi masih bisa di pakai..Lah kalau makanan, bisa berabe urusannya..

  13. mungkin sekarang harus hati-hati membeli makanan. bila perlu kalau mau membeli ikan laut harus ke TPI ( Tempat pelelangan ikan ) biar nggak ragu-ragu. terimakasih infonya.

    1. Asyiknya kalau rumah dekat laut atau dekat dari tempat pelelangan ikan. Yang masalah kalau rumahnya jauh, mau gak mau deh beli di pasar yg mata rantai distribusinya sudah nyambung dengan beberapa mata 🙂

  14. whoaaaa…
    serem juga yah mba Eviiiii…

    tapi memang kalo merasa ragu mendingan cari aman aja deh mbaaa…

    aku udah wanti2 ama tukang sayur langganan supaya ngasih barang yang bagus aja…biarin mahal sedikit juga mah…

    jaman sekarang emang suka jadi parno an yah mba 🙁

    1. Selama ini aman2 aja dong Bi..Syukurlah..kalau saja pakai marah segala karena dibohongi tukang ikan, kasihan atuh kulkas di dapur

  15. Saya juga sering kepikiran begitu Mbak Evi..karena pernah mengalami hal yang sama. Sedikit yang saya tahu tentang daging ikan tuna, sebenarnya daging ikan yang segar itu aslinya berwarna merah kecoklatan karena myoglobin yang ada pada otot-otot ikan saat kontak dengan udara sekitar saat ikan dipotong akan bereaksi membentuk oxymyoglobin yang warnanya segar kemerahan (setahu saya nggak merah banget tapi agak kecoklatan). Tapi jika kelamaan disimpan, akhirnya lama-lama warnanya pasti akan berubah, entah tambah coklat ataukah tambah pucat pasi, tergantung kadar dan perubahan kimiawi oxymyoglobin yang tersisa.

    Jika membeli tuna beku, saya juga pernah ngalami warna merah yang spt itu. Saya jadi curiga ikan itu barangkali ditreatment dengan gas Carbon monoxida untuk memperpanjang warna merah alami otot ikan atau bahkan memulihkan kembali warna merah ikan yang mulai mencoklat. Karena jika ditretament dengan gas CO, pigment pada otot ikan akan membentuk carboxymyoglobin yang stabil, sehingga warna merah bisa dipertahankan lebih lama. Saya nggak tahu apakah itu berbahaya atau tidak, tapi menurut saya juga kadang warna merahnya agak ‘over’ gitu sih Mbak Evi.. jadi saya nggak pede juga. Yang jelas itu pasti upaya untuk memperpanjang usia jual daging ikan itu.

    Jadi mendingan beli yang kurang merah atau bahkan sedikit kecoklatan tapi nggak ditreatment apa-apa. Tapi saya suka ciumin juga baunya dan perhatikan tekstur dagingnya. Setuju dg Mbak Evi..itu kayanya bukan perbuatan pedagangnya deh.. tapi mungkin perusahaan pemasoknya.

    1. Wowww..Makasih atas ilmunya Mbak Dani…Jadi treatment mempertahankan warna ikan asli harus dengan tehnik lumayan juga yah..Makanya saya gak percaya kalau treatmen kayak dini dilakukan oleh pedagang pengecer…

      Tapi kalau warnanya terus meluntur seperti yg aku alami mengapa ya Mbak? Mestinya kalau cuma mempertahankan warna, kan gak perlu meluntur terus kalau di cuci, metinya warna segarnya tetap melekat pada otot ikan?

      Ah jadi tambah putus asa pada ikan potong..Paling baik emang gak usah beli lagi deh ya..

      1. ya kalau luntur terus ikannya jadi pucat pasi gitu jadi makin curiga sih mbak.. saya nggak tahu persis dikasih apa..walaupun kalau merah karena darah/hemoglobin jika dicuci juga terbawa air dan sedikit meluntur juga, tapi mungkin nggak separah itu kali tingkat kepucatannya..
        Sementara saya juga sama.. mendingan beli dari ikan yang kita lihat sendiri dipotong dari ikan utuh..

        1. Terima kasih Mbak Dani..Biasanya darah cepat hilang kalau dicuci, nah ini terus2an luntur. Makasih telah mencerahkan Mbak 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?