Situs Purbakala Sangiran

Situs Purbakala Sangiran menyimpan begitu banyak peninggalan budaya manusia purba. Fakta yang membuat  saya bangga pada tanah air Indonesia. Pastinya teman sering mendengar nama Situs Purbakala Sangiran, bukan? Setidak  saat sekolah dulu? Saat guru sejarah bercerita  tentang sisa kehidupan kuno yang ditemukan dalam lembah. Nah tempat itu bernama Situs Purbakala Sangiran.

Sangiran memang menakjubkan. Terutama bagi peminat bentuk kehidupan di masa lampau.Alam Sangiran yang berupa pegunungan telah mengawetkan bermacam benda yang bisa kita pelajari sekarang. Mulai dari tulang belulang hewan raksasa, manusia serta peralatan budaya pernah digunakan.  Gak aneh jika Sangiran jadi tujuan para  ahli dari seluruh dunia dalam meneliti kehidupan purba.

Situs purbakala sangiran
Homo Erectus yang pernah hidup di Sangiran

Letak Situs Purbakala Sangiran

Sangiran modern terletak di dua pedukuhan (kembar) di Jawa Tengah. Satu pedukuhan terletak di Kabuparen Sragen dan satu lagi di Karang Anyar. Di tengahnya mengalir  Kali Cemoro berhulu dari kaki Gunung Merapi dan bermuara di Bengawan Solo. Sungai ini sekaligus  jadi pembatas administrasi politik antara Kabupaten Sragen dengan Kabupaten Karang Anyar.

Disebelah Utara terdapat Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, masuk wilayah Kabupaten Sragen. Di sisi Selatan ada Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, masuk Kabupaten Karang Anyar. Karena persoalan geografis ini pengelolaan Situs Purbakala Sangiran  langsung di bawah pemerintahan Propinsi melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Kantornya terletak di Prambanan.

Dokter Eugene Dubois dan Situs Purbakala Sangiran

Bidang keilmuan Arkeologi yang pertama kali mencuatkan nama Sangiran ke jagad  ilmu pengetahuan. Diawali kedatangan  Eugene Dubois tahun 1893, dokter militer  Belanda yang tertarik pada benda-benda kuno. Dokter pendukung teori Evolusi Darwin ini datang ke Sangiran dalam rangka mencari  mata rantai yang hilang (missing-link ) dari jejak nenek moyang umat  manusia. Sayang dia tak menemukannya dan melanjutkan perjalanan ke Trinil, Ngawi, Jawa Timur.

Seperti yang diceritakan dalam buku sejarah, di Trinil  lah Dubois menemukan tengkorak dan  dan tulang paha manusia. Sebuah penemuan besar  yang dia anggap sebagai mata rantai yang hilang itu. Makhluk itu diberi nama Pithecanthropus Erectus.

Situs purbakala sangiran
Memotong daging hewan buruan dengan batu

Penemuan di Sangiran

Terbukti kemudian bahwa derajat Sangiran tak “serendah”  sangkaan Dubois semula. Penelitian intensif yang dilakukan oleh J.C. van Es lalu disusul GHR von Koenigwald menyingkap ribuan peralatan yang pernah digunakan manusia. Batu kalsedon peninggalan  manusia  yang pernah hidup disana.   Benda budaya purba itu muncul ke permukaan berkat transformasi tanah. Patah, runtuh dan bergeser. Batu-batu tersebut dibuat dengan dipecah untuk mendapat sisi tajamnya. Digunakan untuk memotong, menyerut atau melancipkan ujung tombak.

Situs purbakala sangiran
Homo Erectus Arkaik

Homo Erectus Arkaik

Penemuan alat disusul penemuan tulang belulang. Berturut-turut antara 1937-1937, bersama masyarakat Sangiran, von Koenigswald mengumpulkan tulang rahang atas manusia purba yang  diberi nama Meganthropus paleojavanicus.

Meganthropus paleojavanicus  sekarang disebut Homo Erectus Arkaik. Patung selamat datang di halaman Museum Sangiran adalah gambaran tampilan fisiknya. Berotot kekar, dengan tengkuk yang kuat, wajah lebar dengan rahang kuat. Mereka pemakan tumbuh-tumbuhan. Penemuan selanjut disusul oleh Phitecanthropus erectus II, manusia tegak seperti penemuan Dubois di Trinil.

Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia

Berbagai penemuan di Situs Sangiran mengundang para ahli dari seluruh dunia mengadakan penelitian lanjutan. Ada Helmut de Terra, Movius, P.Marks, R.W. van Bemmelen, H.R. van Heekeren, Gert Jan Bartstra, Francois Semah, Anne Marie Semah, dan lain-lain. Sementara nama peneliti kondang Indonesia yang pernah berkerja disini adalah R.P. Soejono, Teuku Yacob, S. Sartono, Hari Widianto dll. Di tambah llembaga-lembaga peneliti dalam dan luar negeri.

Keberlimpahan bukti kehidupan kuno ini, pentingnya bukti peninggalan itu dalam sejarah penelitian, serta sumbangannya pada ilmu pengetahuan maka perlu di lindungi. Karena itu UNESCO menetapkan Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia. Tercatat dalam Word Heritage List dengan nama Sangiran Early Man Site.

Situs ini disebut juga Dome Sangiran. Mengikuti letaknya ditengah daerah perbukitan yang bentuknya mirip kubah.

Butuh komitmet tinggi dari rakyat dan pemerintah Indonesia untuk menempat Sangiran sebagai aset bangsa. Semoga kepedulian kita terus ditingkatkan dalam merawat dan menjaganya. Amin

@eviindrawanto

 

50 thoughts on “Situs Purbakala Sangiran

    1. Iya May..Sebetulnya kalau pengen terkenal dengan kekayaannya Indonesia punya semua modalnya. Belum di gali maksimal dan di promosikan saja masalahnya May..:)

  1. jadi inget pelajaran sejarah Mba..
    banyak peningggalan2 bersejarah di Indonesia..
    ya salah satunya di sangiran ini 😀

    1. Betul Mas, badan kepurbakalaan kita sih gak bakal ngangur. Cuma masalah klasik disini selalu soal keterbatasan dana pengelolaan..:)

    1. Hahahaha…semua patung dalam museum sangiran telanjang, memperlihatkan fisik mereka secara apa adanya. Jaman itu kan orang belum berpakaian. Lagi pula tujuannya kan untuk ilmu pengetahuan. Semoga gak ada otak kotor yang masuk sini, yang dikit2 ingatnya pornografi, bisa2 disuruh tutup nih museum..

  2. kekayaan budaya warisan leluhur yang tak ternilai Uni, pengakuan badan dunia mengandung konsekuense pemeliharaan kepercayaan publik. Salam

  3. Meski sering melewati tempat ini ketika ke Jogja, saya belum punya kesempatan mampir di museum ini. Karena umumnya saya melakukan perjalanan Blitar jogja pada malam hari. Mudah-mudahan suatu saat bisa masuk ke dalam.
    Sepakat Bu, bahwa peran serta masyarakat dan dukungngan pemerintah sangat dibutuhkan untuk kelestarian museum. Karena beberapa kali saya mendengar perilaku-perilaku tidak bertanggung jawab yang dilakukan seseorang dengan mencoret-coret peninggalan bersejarah serta pencurian.

    1. Yang membesarkan hati, berbagai penemuan masih berlangsung hingga saat ini Pakies. Penduduk masih sering menemukan balung buto yang tergali dari kebun mereka yang akan diserahkan kepada pihak museum. Berarti Sangiran masih menyimpan banyak cerita yg diperlukan ilmu pengetahuan untuk memahami kehidupan kita Pak.

      .Semoga lain kali Pakies lewat siang hari disini sehingga bisa mampir 🙂

  4. kmarin sempat mbahas” tentang apa sih fungsi pengetahuan tentang situs purbakala? apa berguna untuk kehidupan sehari-hari? mungkin harus buka buku lagi karena aku yakin sesuatu diciptakan pasti ada gunanya 😀

  5. Kalo baca nama “Sangiran” saya selalu ingatnya Sangir Talaud di SUlawesi Utara, kak. Padahal Sangiran yang ini di Jawa Tengah ya.

    Masukin di http://log.viva.co.id ini kak. Tulisan2 kak Evi banyak yang kayaknya bakal lolos kalo dimasukin di VIva

    1. Namanya mirip dengan yg Sulawesi..eh tapi homo erectus ada juga dari sana kayaknya Niar, mereka kan makhluk penjelajah nusantara.

      Mengenai viva Log, iya tiap kali lupa mulu submit artikel kesana. Artikelku ada juga kok yg gak dilolosin disana Niar 🙂

  6. Aku kalo baca soal manusia purba ini, selalu berada di antara dua rasa, mbak. Antara kagum dan tak percaya, hehe…

  7. wah keren mbak evi sudah sampai sana…..tfs , kemarin lihat dari liputan tv tentang sangiran ini…eh tapi banyak yang katanya di jual keluar negeri yah “artefak” atau penginggalan yang kadang masih suka dicari atau digali secara liar oleh pemburu…semoga pemerintah memberikan perhatian yang lebih untuk pelestarian situs purbakala seperti sangiran ini

    1. artifik2 kuno itu begitu banyak disini Mbak. Tiap hujan, tiap tanah terkuak ada saja tulang belulang atau alat2 batu yang terangkat keatas. Jika ada yang menjanjikan penduduk untuk membayarnya tentu ada juga yang tergoda ya..

  8. Nah…akhirnya bisa komen kembali… Yihuiii!!!.

    Wah,Mbak Evi sudah ke sana ya.. Aku pengen banget..belum kesampaian. Membaca ini, jadi semakin pengen pergi ke sana nih..

  9. wah,,sangiran kan dkt rumah mertua hehe.. Klo lg lebaran kita smua ksana.anak2 yg ngajakin krn mrk pengen tau yg mereka baca dr buku sekolah.kalau kesana sore2 kan gratis krn penduduk sendiri haha..sekarang tambah bagus n lebìh lengkap koleksinya.smg slalu terjaga dan menjadi kebanggaan kita semua.

    1. Wah senangnya bertempat tinggal di bekas kediaman manusia purba..Kalau pulang kampung pasti mampir ke museum ya Anti..:)

  10. nama tempat yg sangat familier di kupungku, saya orang magetan tapi tinggal di denpasar, baca ini jd inget pelajaran sejarah dan pengen banget berkunjung ke trinil.sebuah peninggalan sejarah yg mesti dijaga dan diuri-uri. hilangkan pikiran kotor ttg peninggalan2 itu krn gak semua tempat punya peninggalan spt di trinil. suwun mbak evi yg udah me-remind ttg trinil

  11. Sangiran sangat tak asing di telinga saya walau saya belum pernah berkunjung soalnya selalu ada dalam pelajaran SMP – SMA saya dulu, pasti sekarang juga tetap ada. Semoga saja saya nanti bisa ke sana untuk melihat artefak2 zaman purbakala secara langsung 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?