Filosofi Dalam Semangkuk Soto

Filosofi semangkuk soto?

Filosofi dalam semangkuk soto? Aiiihh..gejeh banget soto saja pakai pilosopi-pilosopian. Wkwkwk…Tapi baiklah apa yang teman pikirkan kala memandang semangkuk soto? Entah soto ayam, soto daging atau beragam soto lain yang menyebar di bumi Nusantara. Sejarahnya kah, asal soto, cara membuat,  cita rasa, penampilan atau harganya?

Kalau saya, walau sepintas, suka memikirkan ada apa dibelakang filosofi dalam semangkuk soto? Mengapa soto diciptakan hingga dikenal di seluruh Indonesia?

Soalnya sudah lama curiga menu soto ini merupakan cara nenek moyang kita berhemat daging atau bahan protein lainnyanya.Perhatikan soto ayam yang saya nikmati seperti foto diatas. Untuk semangkuk soto dengan kuah berlimpah itu dagingnya cuma beberapa iris saja. Yang membuat mangkok penuh selain air adalah campura berupa bihun, sayuran, perkedel dan bahkan sambel.

Itu berkaca pada sistem budaya Indonesia yang berbasis keluarga besar. Yang disebut satu keluarga bukan hanya terdiri dari bapak-ibu dan anak-anaknya melainkan seluruh kerabat yang berhubungan dua tingkat keatas dan kesamping dimana kakek-nenek sebagai pusatnya. Dulu mereka tinggal dalam satu rumah. Di tambah lagi Nusantara dibuat miskin selama tiga ratus lima puluh tahun dalam penjajahan Belanda. Kondisi itu memaksa penanggung jawab menu keluarga harus pandai mengelola sumber makanan yang terbatas agar seluruh anggota keluarga kebagian. Jadi kalau cuma punya seekor ayam sementara mulut harus diberi makan 15 orang, misalnya, menu apa lagi yang pantas diketengahkan kalau bukan soto? Dan masuk akal bila soto pun dihidangkan pada acara keramain seperti pesta adat, acara keluarga dll.

Jadi kalau ada yang bertanya apa filosofi dalam semangkuk soto? Bagi saya kekeluargaan! Bagi roto bagi roso..

Pendapatmu temans?

65 thoughts on “Filosofi Dalam Semangkuk Soto

  1. Setelah saya pikir-pikir …
    hhmmm … benar juga ya …
    suwiran-suwiran daging ayam ini … membuat daging ayam bisa dinikmati bersama-sama …

    I never thought about it …

    Thanks bu

    salam saya Bu Evi

  2. Memang sip tuh jeng.
    Kalau punya hajat di kampung saya dengan gaya makan “piringan”, bukan prasmanan. maka menunya adalah nasi soto, atau rawon atau nasi campur. Sejak dulu hingga kini ya 3 itu saja jenisnya.
    Sotonya bisa daging atau ayam. Kalau daging sapi mahal ya daging ayam saja
    Ngirit.com ya.

    Salam hangat dari Surabaya

    1. Pakde aku pernah ikut makan ala hajatan seperti kampungnya Pakde itu di Semarang..Suka sekali Pakde..Pada keakraban dan kesederhanaannya..Soto itu memang Indonesia banget lah..Kreativitas dalam keterbatasan hehehe…

  3. Iya, iaya Uni baru ngeh, ternyata si Uni begitu jeli mempelajari sampai sedetil itu. Setuju saya juga mengira seperti itu……
    Kekeluargaan…. 🙂

    1. Cuma kepikiran asal muasalnya saja Pak Ded..Kok ya nenek moyang bisa2nya menciptakan soto. Bikinnya kan agak ribet..Kenapa mereka gak ngikutin cara belanda mengolah ayam saja yang biasanya disajikan utuh seluruh dagingnya..Lah kok ya ini perlu di iris2 halus..Pasti ada sesuatu yg melatar belakanginya..:)

  4. spesialisasi Uni Evi untuk memperhatikan makna sama rasa sama rata dalam semangkok soto. Rasanya juga universal ya Uni memenuhi selera bersama. Salam

    1. Betul sekali Mbak Prih..Gak ada perbedaan ekstrim antara soto satu satu dan yang lainnya.Cirinya juga hampir sama daging sedikit, air berlimpah, cabe dan bawang goreng..

  5. Sebuah pesan dalam sebuah karya pasti akan menemukan suatu jawaban bila dapat diuraikan dalam pemikiran jernih dan melihat hal yang lebih mengarah ke arah positif. Sebuah judul yang cerdas dalam memilih dan menjabarkannya dengan bahasa sederhana.
    He….x9

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    1. Terima kasih Pak Indra..Berusaha terus memperbaiki mutu tulisan Pak, ringan tanpa mengurangi makna yang hendal disampaikan.
      Salam wisata Pak 🙂

    1. Hm, yah baru kepikiran..hidangan soto jadi merakyat banget yah Bli..Karena kita gak perlu daging banyak2 jadi ongkos buatnya juga lebih sedikit..

  6. #pagi2 ngacai suracai #gangguin orang lg puasa aja deh uni..

    bener uni, klo daging sedikit dimasak rendang, belum tentu semua kebagian sepotong.. tapi jika dibikin kuah soto lalu daging diris tipis2.. maka serumah bisa menikmati sampai kenyang.. Alhamdulillah.

    1. Nah sekarang gak ngacai lagi kan May, sudah buka wkwkwk..
      Iya menu rendang itu pemborosan daging..Sudah matang susutnya banyak pulak..gak ekonomis untuk menu keluarga besar hehehe..Nah untung akhirnya kepikiran juga nenek moyang Minangakabau menciptakan soto.Bahkan rendang yg sdh lama yang sdh keras bisa dijadikan soto kayaknya 🙂

  7. Mbak, yang foto diatas itu kayaknya soto padang ya?
    Idih, itu salah satu jenis soto favorit saya tuh…
    😀
    Filosofi dibalik semangkuk soto kayaknya buat kepraktisan juga, karena dengan satu jenis makanan, kandungan gizinya sudah lumayan lengkap. Iya kan, mbak?

    1. Mbak Irma, mirip soto padang ya…padahal bukan itu soto ayam biasa 🙂
      Sama dunk Mbak, soto padang juga favorite nya akuh..
      Benar Mbak Ir..dalam semangkuk soto gizinya lengkap dari protein sampai vitamin..Hidangan sepinggan kan yah namanya kalau begini 🙂

  8. buatku soto merupakan makanan yang paling universal
    dimana mana ada dan istilahnya pun sama, soto…
    paling di makasar saja yang rada beda, coto…

  9. Memang sih ya, kalo mau hemat mesti dikasih kuah 😀
    Kalo di Makassar ada coto Makassar, itu malah biasa pake jeroan kak ^_^

    1. Selian Konro, coto makassar itu favoriteku Niar..Tapi aku suka pada Coto yg masih segar yang baru dimasak pagi..Kalau masaknya pagi, terus dimakannya malam, coto kelihatan sudah kelelahan hahaha..bikin ill feel makannya

  10. Makanan fav saya! Saya suka soto yang di depan FX, Mbak. Di trotoar, di sebelah Diknas, cobain deh kalo lewat.

    Hehe, bagi roto, bahkan semangkuk pun masih bisa dinikmati berdua. Tinggal minta banyakin kuahnya aja, hahaha…

  11. kalau saya lebih ke multikultur, bhinneka tunggal ika dan persatuan..
    komponen yang berada didalam soto itu banyak sekali, seperti yang bunda katakan, ada daging yang cuma beberapa iris, perkedel, bihun, daun seledri, sambal, kecap mungkin..
    semuanya dipadukan dengan porsi yang sedikit-sedikit kemudian disiram kuah.
    Layaknya persatuan, komponen-komponen di atas adalah budaya, sistem adat, dan komponen budaya dll yang disebut keanekaragaman bangsa indonesia.
    Karena beragam, bangsa kita susah disatukan. Ada etnosentrisme, sekulerisme, dan isme-isme yang lain. Kalau tidak diprsatukan dengan suatu hal yang megikat, maka tidak akan tercapai cita-cita bangsa ini. Kuah adalah pemerstunya, sedngkan kenikmatan yang diberikan si soto adalah hasil dari persatuan. Kalau bangsa ini bisa bersatu padu seperti soto, psti akan menyajikan kenikmatan hidup yang luar biasa 😀

    itu sih bun… hehehe

    1. Ayeeee…Suka sekali pada wawasanya Tina..Konten berbeda-beda tapi bersatu dalam satu mangkok hahahaha..Soto itu emang Indonesia banget ya Tin..

    1. Sop kayaknya bumbunya lebih sederhana deh Mas Aqomadin..Cuma bawang merah-bawang putih lada terus ditumis..Terus kebanyakan sop warnanya bening. Tapi sop dikasih macam2 warna hehehe…

  12. masak soto buat ngirit daging.. bisa jadi ya.. karena kuahnya banyak dan enak kalau di campur nasi, sehingga tidak perlu banyak banyak makan daging ya..

  13. Hehe… yang jelas, soto itu lebih hemat (asalkan gak pake ayam kampung yang harganya mahal 😀 )
    Kalo mau hajatan kecil, paling cuma perlu ayam beberapa ekor dan telur beberapa puluh butir saja 😀

    1. Nah untung ya nenek moyang kita menemukan resep soto..Banyak keluarga yang akan hajatan terbantu olehnya..Gak perlu menyediakan daging banyak-banyak…Mbak Akin

  14. Ping-balik: Soto Minang d’Sotoy « LJ.returns

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?