Cara UKM Menaklukan Konsumen Matang

Konsumen matang punya kebutuhan khusus

Dari statistik beberapa kali dapat inquiry  “ cara ukm menaklukan konsumen matang“.  Setelah saya search ternyata tak ada artikel spesifik yang bisa digunaka sebagai refrensi. Agar tak mencecewakan pengelana maya selanjutnya saya tulis tips cara ukm menaklukan konsumen matang. Kebetulan punya file dari  seminar marketing beberapa tahun lalu.

Dalam segmentasi pasar memang dikenal konsep niche market/ ceruk pasar, suatu upaya memilih kelompok konsumen yang sebetulnya bukan target terbesar dalam market share. Penggolongannya bermacam. Ada yang menurut jenis kelamin, umur, kesamaan geografis, pendidikan dan sebagainya. Sedangkan golongan konsumen matang adalah kelompok eksklusif, jumlahnya terbatas namun punya daya beli tinggi. Konsumen matang ini punya kebutuhan khusus terhadap suatu barang. Misalnya takan menggunakan gula pasir sebagai pemanis jika ada gula semut organik yang jelas lebih sehat.

Dari sini terlihat bahwa kebutuhan tersebut tak melulu harus dipasok oleh perusahaan besar. Perusahaan UKM sangat bisa memproduksi produk premium untuk masuk ke pasar ini.

Agar jualan lebih smooth coba kenali ciri-ciri Konsumen Matang kita:

1. Sangat jernih pada realitas. Maksudnya mereka jeli dalam menilai klaim-klaim pemasaran. Jadi berhati-hatilah menyusun kalimat promosi. Misalnya tanpa dukungan bukti ilmiah, jangan posisikan produk herbal kita sebagai obat dewa alias bisa mengobati segala jenis penyakit. Anda tidak akan dilirik!

2. Penerimaan mereka terhadap diri sendiri biasanya besar. Begitu pula kepada alam dan sesama manusia. Jadi gak perlu repot-repot menakuti-nakuti mereka atau membuat mereka merasa rendah diri.

3.Sekalipun punya rasa humor yang kuat hindari menggunakan istilah-istilah asing yang kita sendiri gagap mengutarakannya. UKM tampak lebih elegan jika menggunakan istilah-istilah sederhana tapi konsepnya dikuasai.

4. Mereka spontan dan menikmati hidup sepanjang hari. Jadi kembangkan citra kebahagian ( impetuous) pada produk. Ini akan menarik perhatian mereka.

5. Lebih personal, kurang suka terhadap sesuatu yang sifatnya “berjemaah“. Lupakan tawaran kesenangan gotong royong. Promosi harus menekankan pesan individuality ( kepribadian).Berusaha lah masuk masuk kedalam pikiran dengan menowel hati mereka.

6. Ada keterpautan yang tulus untuk membantu orang lain. Iklan yang menunjukan wajah2 welas asih akan diterima dengan baik.

7. Hubungan pribadi yang lebih baik dan kurang mementingkan diri sendiri. Jangan repot-repot mengumpulkan nomor telepon teman-teman atau kenalan dari masa lalu kalau maksudnya cuma jualan. Mereka lebih suka mengejar persahabatan demi persahabatan itu sendiri.

8. Lebih demokratis, menjunjung rasa keadilan dan kejujuran.

9. Lebih kreatif. Alamat kan pesan pemasaran ke otak kanan. Lebih puitis adalah kodrat dari seorang konsumen matang.

10. Bergeser dalam pandangan nilai. Tatanan kepentingan selalu mengalami pergeseran. Konsumen matang tidak berarti juga berumur matang, jadi amat penting menimbang nilai-nilai yang mereka emban. Seperti iklan-iklan yang ditujukan kepada kaum muda tentu berbeda untuk kaum tuanya.

Semoga yang mencari kata kunci ini terbantu sedikit ya 🙂

Salam,

18 thoughts on “Cara UKM Menaklukan Konsumen Matang

  1. jadi teringat kata dosen saya dulu bu, jika konsumen itu semakin punya uang, dia akan semakin rewel alias tuntutannya banyak. Rasanya konsumen matang juga masuk kategori ini, karena daya belinya tinggi … terima kasih ulasannya bu Evi, semakin menambah wawasan saya …

    1. Katanya emang gitu Mbak Myr..Mungkin karena usaha kecil ini relatif lebih cepat gerakannya, lebih mudah mutar arah ketimbang perusahaan mapan kelas atas Mbak Myr yg diberati birokrasi dan berbagai macam aturan..

  2. Sebagai pedagang pasar tradisional, share ini memberi kemanfaatan untuk saya pribadi. Perilaku konsumen dalam kurun 5 tahun terakhir saya lihat sudah mulai ada pergeseran. Kalo jaman dulu harga menjadi salah satu tolok ukur dalam menentukan keputusan berbelanja, sekrang justru lebih dari itu. Pelayanan, kemudahan, kebersihan, ketersediaan barang dan penataan menjadi fokus pilihan konsumen. Maka saya yang masih tergolong pedagang tradisional nggak boleh berpangku tangan menerima keadaan dengan menggelontornya kemudahan swalayan berjaringan nasional. Kita orang tradisional sudah waktunya berbenah diri menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Usaha , ikhtiar + tawakkal. Dan walo tergolong tradisiona, salah satu yang saya lakukan adalah dengan melakukan komputerisasi kasir dan meningkatkan pelayanan, juga pada bagian struk saya tulis ‘Semoga jual – beli ini bermanfaat dan barokah

    1. Iya Pakies..Salah satu yang bikin malas belanja di pasar tradisional selain becek dan bau adalah harganya yang tak menentu alias tak standar. Pelanggan yang satu bisa beda harganya dengan pelanggan yang lain..Tergantung kepandaian menawar. Makanya minimarket2 kecil muncul bak cendawan di musim hujan di seantero pelosok..Masuk kesana selain belanja orang juga merasa rekreasi. Sudah begitu karena chain management di minimarket itu sangat baik, barang-barang sangat beragam, butuh apa juga ada..Makin ketinggalan lah pedagang tradisional..Yah dalam jaman yg serba cepat berubah ini, kita memang harus cepat berubah juga Pak, kalau tak mau terlindas 🙂

  3. Mengemas produk memang harus melihat sasaran konsumen ya mbak. Sekarang ini makin banyak kelas menengah yang menjadi konsumen sangat kritis dalam membeli suatu produk 🙂

    1. Betul Bandit, kenaikan pendidikan dan penghasilan konsumen, memaksa produsen jgn harus berubah. Kemasan jadi penting setelah mutu di dalamnya 🙂

  4. Setuju banget dengan poin tanpa adanya bukti ilmia jangan klaim produk sebagai obat dewa yang mujarab untuk berbagai penyakit. Malahan kalau dilakukan akan membuat konsumen lari Mba Evi..

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?