Piknik di Jalan Dusun

Saya sudah seminggu bolak-balik dan tinggal di desanya Wulan. Namun baru sore ini punya kesempatan jalan-jalan menikmati suasana sekitar sambil melatih lutut tua saya. Tidak masuk ke kantong desa, hanya menyusuri jalan yang menjulur di sepanjang lereng bukit, penghubung antar beberapa kampung di jejeran Pegunungan Halimun.

Rasanya bukan seperti piknik di jalan dusun. Melainkan sedang mengitari kaki gunung dan menyusuri tepi jurang. Benar! Itu adalah ungkapan yang tepat untuk menyebut pengalaman ini. Sebab jalan ini secara harfiah memang dibangun dengan mengerok lereng bukit. Lalu  dikeraskan sedikit dengan membenamkan batu kali. Turun naik mengikuti kontur bukit, berdebu saat musim panas seperti sekarang dan amat licin bila hujan tiba. Karena desa ini hanya bisa disatroni dengan sepeda motor, yang perlu jantung kuat, ada yang bertanya ” kita sudah berapa kali ganti presiden  ya? Atau kampung ini bukan bagian dari Indonesia? ”

Sekarang lupakan ironinya. Yuk kita lihat beberapa aktivitas penduduk sore tadi..

Ibu pulang dari ladang
Ibu pulang dari ladang

Ibu ini baru pulang dari ladang. Saya berani ngambil foto mereka cuma dari belakang. Padahal tadi mereka menyapa dengan ramah lho. Cuma saya sungkan kalau mereka tahu di foto. Padahal yakin gak masalah. Cuma dengan wajah kelelahan begitu saya merasa aneh sendiri jika menyorongkan lensa pada mereka 🙂

Satu rombongan keluarga yang baru pulang hajatan. Jadi ingat waktu kecil dulu, saya juga pernah di gendong diatas pundak Bapak. Terus kambing juga perlu naik motor agar mudah dipindahkan.

Sejunjung batang dan daun kapulaga untuk santapan kambing sore tadi. Dan saya juga bertemu dengan anak muda pemikul kayu yang baru saja digergaji untuk dijemur. Itu pasti berat. Apa lagi jalan diatas tanah berbat dan turun naik. But that’s life kan ya?

Suka kah engkau piknik di desa temans?

Salam,

45 thoughts on “Piknik di Jalan Dusun

  1. Suka banget kalo ke desa Mba Evi. Apalagi ketemu rumah dengan halaman luas. Pager dari bata pendek. Hamparan padi kuning di sawah. Mimpi kalo nanti tua hidup di desa. 😀

  2. Suka sekali bunda, kebetulan saya sering ke desa suami saya di garut, udaranya masih bersih dan segar, pemandangan hijaunya sawah selalu dapat menyejukkan mata, dan yg nggak kalah asyik, tidak jauh dari rumah ada banyak ikan air tawar yang berenang2 di kolam, tentunya mereka sangat lezzat untuk dinikmati, hehehehe…

    1. Apa yg sajikan dipiring jg lezat Mbak. Mungkin karena bahan yg disajikan jg datang dr lingkungan ygbaik ya.. ikan dr kolam biasanya kan juga gak dikasih makanan dr pelet..:)

  3. saya suka sekali piknik ke desa… kalau balik ke tempat mertua selalu ke desa… seneng melihat pemandangan yang ada difoto mba evi ini… kalau kebetulan papas dengan mereka rasanya kagum…

    1. Satu ciri kalau kita masuk ke desa orang lain, kehidupan mereka tampak unik oleh kita. Padahal sih bagi mereka biasa2 saja ya Bro 😉

  4. aku juga lebih suka jalan jalan ke kampung yang masih asri daripada ke obyek wisata terkenal. kayaknya lebih cocok untuk pembelajaran anak-anak mengenal lingkungan sekitar

    1. Desa banyak kekurangan dr segi infrastuktur tp desa adalah sumber kaya atas pembelajaran hidup yg dekat dng alam mas eko . Jd mari kenalkan kehidupan pedesaan pd anak2 kita 🙂

  5. hebat ya orang2 desa itu. fisiknya pasti kuat2 banget…
    saya inget tuh pernah pas jalan turun ke kawahnya tangkuban perahu, pas naik sampe ngos2an. eh ada ketemu penduduk sana, gile dah jalannya cepet banget. hahaha.

    1. Ko Arman, mereka bekerja lebih keras dengan mutu makanan umumnya lebih alami..Jadi menurut logika mereka lebih sehat dari kita. Hanya saja kalau saya perhatikan, umur mereka juga tidak lebih tua dari rata-rata orang kota..Sebab akses mereka terhadap kesehatan relatif minim..Ironis ya Ko …

  6. Jadi ingat kalo pas nonton acara tv “jika aku menjadi”. Ada rasa sedih kala melihat kehidupan yang sepertinya berat banget…

    1. Kehidupan orang desa memang lebih berat Mbak Akin..Kerja fisik sih sebetulnya..Tapi itu tak mengurangi bahwa simpati kita pada mereka yah..:)

    1. Udara bersih, pemandangan hijau, tututan sosial tak terlalu banyak, atmosfir relijius lebih kental..Emang gak ada alasan untuk tak suka berada di desa sejanak Mb Lia..:)

  7. kampung halaman saya di lereng gunung semeru saya kira sudah sangat udik, ternyata masih ada desa yang akses jalannya kurang memadai.
    namun demikian kondisi seperti itu justru memiliki nilai tersendiri, indah dan alami

    1. Saya juga sangat heran Pak Ies..Sudah puluhan tahun merdeka, sudah gonta-ganti presiden, ternyata masih banyak jalan desa yg masih primitif..Kondisinya persis seperti jaman Si Buta dari Gua hantu 🙂

  8. Suka sekali, mbak!
    Piknik yang paling saya suka adalah jalan-jalan di desa.
    Selain pemandangannya indah, udaranya segar, saya juga suka dengan kehangatan penduduk desa yang tanpa beban…
    🙂

  9. udara di desa memang masih asri yaa.. enak deh klo ada disitu .. !
    pagi2 lari pagi waaaa pasti bikin sehat tuh enak bnget deh poko nya 😀

    1. Kalau di desa ini gak perlu lari-lari untuk berkeringat deh Dea..Jalan biasa saja jantung sudah berpacu dan menderu..Habis jalannya berliku, turun-naik, curam dan berbatu dan berlubang hehehe..Lengkap deh syarat berakrobat…

  10. tentang jalan setapak yang mengitari kaki bukit, mengingatkan masa SD dulu.. seperti itulah selama 6 tahun melewati jalan menanjak di lereng bukit untuk menuju ke sekolah dengan berjalan kaki…..

    saya juga lebih menyukai piknik ke desa bu…

    1. Andai jalan ini diaspal, kemungjinann memang akan lbh bising. Tp masyarakat akan lbh mobile dan ekonomi mungkin akan berkembang 🙂

  11. Sukaaa banget kalau piknik ke desa, apalagi kalau pulang ke kampung halaman sendiri.. Benar-benar bisa merehatkan segala kepenatan badan dan pikiran.. 🙂

  12. mba Eviiiii,
    maap baru nongol lagih *cium tangan*,
    met lebaran yang telat yah mba…hihihi…mohon maap lahir batin 🙂

    Sepertinya kapan kapan Kayla dan Fathir harus dibawa jalan jalan ke pedesaan nih mba…biar seru…dan jangan cuman tahunya ‘berenang bola’ terus di mall…hihihi…

  13. diajak jalan jalan oleh Evi ke pedesaan seperti ini,
    jadi kembali ingat kampung halaman…
    yang alhamdulillah masih baanyak tempat2 yg asri dan hijau 🙂

    ( jadi kangen pingin pulkam) 🙂
    salam

  14. pulang desa, lumayan sering bund….
    suasananya…. masih ijo dan adem bund…
    klo malam, masih banyak suara jangkring..
    tenang rasanya
    hehehe

    1. Malam-malam mendengar suara jangkrik. Kalau hujan mendengar suara kodok. Dan mendekati subuh terdengar ayam berkokok..Pokoknya kita terseret ke alam banget deh Mbak Irma 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?