Menjadi Konsumen Organik yang Cerdas

Menjadi konsumen organik yang cerdas merupakan satu kebutuhan dewasa ini. Sebab makanan dan kesehatan saling terkait. Makanan yang baik membuat tubuh lebih sehat.

Peningkatan perhatian terhadap  kesehatan membuat orang semakin banyak bertanya tentang makanan yang dikonsumsi. Apakah makanan menunjang kesehatan tubuh atau malah mencelakakannya? Ini karena pemakaian pupuk dan pembasmi hama berbahan kimia sintetis sudah sedemikian meluas saat ini. Bila orang menyebut pertanian konvensional berarti sawah atau kebun dan tanaman yang tumbuh diatasnya memerlukan bantuan zat kimia sintetis. Begitu pula dengan peternakan hewan, unggas dan ikan yang memberlukan pakan dan perawatan yang bisa ditangani oleh zat2 kimia sintetis, termasuk hormon pertumbuhan.

kebun sayur konvensional

Apakah pupuk, pakan ternak dan pembasmi hama dan gulma baik bagi kesehatan manusia? Saya pernah menulis Mereka yang Hidup dengan Racun disini bahwa semua jenis pestisida adalah racun bagi tubuh manusia. Sudah banyak studi menunjukan penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh penumpukan racun pestisida dalam tubuh. Mulai dari gejala ringan seperti alergi sampai penyakit berat seperti kanker, adalah beberapa gangguan kesehatan yang dipicu oleh penumpukan pestisida menahun dalam tubuh.

Jadi mereka yang mengetahui bahaya mengkonsumsi makanan yang tercemar pestisida saat ini mencari alternatif lain, memilih belanja hasil pertanian organik ketimbang konvensional.

Seiring bangkitnya keasadaran konsumen terhadap bahan makanan sehat tersebut, efeknya adalah permintaan terhadap produk organik pun meningkat.Dan hukum ekonomi berlaku, ada permintaan pasti ada suplai.

Sekarang tak sulit menemukan produk organik di toko maupun di berbagai supermarket di kota-kota besar. Tersedia sayur, buah, herbal,gula, daging dan berbagai produk olahan. Mereka mencantumkan label organik sebagai tanda produk mereka ditanam, ditumbuhkan dan diolah sesuai prinsip-prinsip organis.

Pertanyaannya sekarang benarkah produk tersebut benaran organik? Betulkah produk yang akan kita beli diproses sesuai prinsip2 organik? Saya yakin pertanyaan ini pasti timbul dalam semua benak konsumen organik. Benarkah produk yang kita beli yang harganya lebih mahal dari produk konvensional menghindarkan kita dari berbagai cemaran bahan kimia berbahaya?

Kebun kol konvensional

Menjadi Konsumen Organik yang Cerdas

Produk organik memang lebih mahal dari produk konvensional. Akan saya bahas dalam artikel lain mengapa itu terjadi. Namun dalam kesempatan ini kita persempit saja bahasannya bahwa peluang ini cukup menggiurkan bagi para pengusaha. Nah untuk melindungi konsumen dari pengusaha yang cuma memanfaatkan situasi, menjual produk organik abal-abal,  pemerintah telah menetapkan bahwa semua produk yang MENGAKU ORGANIK harus membuktikannya dengan sehelai sertifikat. Sertifikat organik ini dikeluarkan oleh suatu badan yang telah terakreditasi, baik secara nasional maupun internasional.

Contonya gula aren Arenga yang mengaku organik, bila ditanyakan oleh konsumennya apakah benaran organik akan merujuk  pada  sertifikat organik yang dikeluarkan  oleh Institute Marketecology (IMO) yang berkedudukan di Swiss. Di Indonesia sendiri ada beberapa lembaga sertifikasi organik yang telah diakreditasi oleh pemerintah. Boicert dan Sucofindo adalah dua contoh lembaga yang berhak mengeluarkan serfikat untuk produk-produk yang diproses sesuai prinsip-prinsip organis.

logo IMO

Mengapa sehelai sertifikat bisa melindungi konsumen organik?

Untuk bisa disebut organik produk makanan tidak hanya terbebas dari cemaran zat kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya. Ada proses panjang yang mesti dilalui sebelum sertifikat organik dikeluarkan.Berikut beberapa langkah yang selayaknya perlu juga diketahui oleh konsumen organik.

1. Lingkungan Tempat Tumbuh. Penelisikan dimulai dari tanah atau lingkungan menumbuhkan atau membesarkan produk. Apakah sedang dalam masa transisi dari lahan konvensional atau memang sudah organik dari sananya. Setelah itu bibitnya apakah berasal dari pertanian GMO (genetic modified organism) atau transgenik. Dalam pertanian organik  bibit yang berasal dari pertanian GMO/transgenik diharamkan.

2. Perawatan. Setelah tanah dan bibit kemudian perawatannya. Apakah menggunakan pupuk kimia sintetis atau organis. Apakah disemprot dengan pestisida atau menggunakan predator alami untuk menghalau musuh-musuh tanaman.

3. Handling. Produk organik tidak boleh berbaur dengan yang non-organis.

4. Dokumen. Produk organik memiliki dokumen yang mencatat seluruh proses dari produksi sampai di tiba di pasar. Jadi jika sewaktu-waktu terjadi komplain produk mudah ditelusuri.

Demikian sedikit pengetahuan tentang produk organik. Mudah-mudahan bisa melindungi diri teman-teman dari produk organik abal-abalan.

Salam,

35 thoughts on “Menjadi Konsumen Organik yang Cerdas

  1. Pada hakekatnya semua orang ingin hidup sehat. Sayangnya keinginan itu tidak didukung dengan sikap dan perilakunya ya jeng. Pola makan yang tak bagus dan olahraga yang tak teratur.
    Makanan organik mungkin perlu lebih dimasyarakatkan agar lebih banyak yang mengetahuinya. Saya kira orang2 kampung saya juga belum tentu mengetahui apa yang dimaksud dengan makanan organik. Bahkan pembasmi hama ya masih tetap digunakan, demikian pula hanya dengan pupuk tanaman.

    Sayapun juga belum tahu dengan npasti apakah makanan yang saya konsumsi bebas racun.

    Terima kasih atas pencerahannya.

    Salam hangat dari surabaya

    1. Kayaknya organik emang temuan orang kota deh Pakde, untuk membedakan pertanian biasa yg menggunakan bahan2 kimia sintetis utk penunjang dng pertanian yg dianggap lbh ramah lingkungan. Setelah suksesnya kampanye revolusi hijau yakni peningkatan produksi pertanian, orang meninggalkan gaya pertanian lama yg dulu segala sesuatunya diserahkan kepada alam. Kebutuhan akan efisiensi jg meninggalkan gaya pertanian yg bersandar pada kearifan lokal. Maka ketika kebutuhan bahan pangan yg tetbebas pestisida meningkat, kepada petani diperkenalkan kembali cara bertanam kembali ke alam. Itu dinamai pertanian organik 🙂

  2. ini saatnya konsumen organik perlu dilindungi, karena sekarang banyak yang mencoba mencari keuntungan dengan hanya mengaku-ngaku sebagai produk organik..padahal dalam kenyataannya tidak sama sekali 🙂

    1. Betul P Hari. Saat ini konsumen organik kebanyakan memang masih di level middle up, jadi gak begitu masalah soal harga. Itu yg mendorong pengusaha melabeli produknya dng organik yg terkadang tak memenuhi prinsip2 organis sama sekali. Sertifikasi adalah perlindugan terhadap konsumen

  3. Ini artikel yang cerdas dan mencerdaskan.
    terkadang saya miris melihat berbagai praktek kecurangan-kecurangan di media televisi, rasanya seperti tidak ada celah lagi untuk mengkonsumsi makanan yang benar-benar terbebas dari zat2 racun, mulai dari industri yang besar sampai pedagang asongan. akhirnya hanya bisa berdoa semoga dihindarkan dari penyakit yang dahsyat dari kecurangan-kecurangan tersebut.

    tapi membaca artikel ini seperti ada harapan kembali…
    makasih ya mbak Evi..artikel ini sangat baik untuk referensi

    1. Sekarang apapun yg ditawarkan pasar perlu diterapkan prinsip kehati2an Mas Insan. Soalnya banyak pedagang makanasn yg gak peduli kesehatan. Alasannya bermacam, mulai dari tidak tahu sampai egoisme. Makanya sebagai konsumen kita perlu terus menerus meningkatkan pengetahuan, asal usul makanan sampai bahan dan cara membuatnya. Pengetahuan ini tak hanya melindungi kesehatan diri kita tp juga generasi yg akan datang. Jangan sampai mutu dna kita dirusak oleh berbagai racun, yg nantinya akan merugikan keturunan kita, seperti cacat musalnys.

      Terima kasih atas apresiasinya Mas Insan 🙂

  4. lebih aman nanem sendiri, mba… 🙂
    melihat realitanya, agak sulit cari yg 100% tanpa bahan kimia mengingat lingkungan sudah tercemar. belum lagi aspek harga, pasti jd beban tersendiri
    tapi semuanya kembali tergantung pilihan konsumen

    saya sih yakin masih makan makanan beracun, dan hidup di lingkungan beracun, hehe..

    TFS, mba..

    1. Idealnya emang begitu Mb Hilsya, nanam sendiri. Namun masyarakat sdh kelanjur berkembang jd masyarakat terspesialusasi. Petani dan pedagang menuntut keahlian yg berbeda. Sementara kebutuhan kita beraneka ragam. Ini yg mendorong kita mencari pemenuhan kebutuhan tsb di pasar. Nah sampai dipasar nasib kita terpaksa diserahkan pada orang lain. Dan pasar itu amat efisien, menjual apa yg laku, yg bagus terlihat oleh mata dng garapan transaksi berjalan seimbang. Tapi faktanya tidak. Tidak semua infornasi yg dibutuhkan konsumen akan dibuka di pasar. Untuk perlindungan, Mau tak mau konsumenlah yg perly mencerdaskan dirinya sendiri.

      Ya faktor pencemaran udara dan lingkungan dimasukan sbg salah satu indikator dalam menentukan keorganisan sebuah produk pertanian Mbak Hilsya 🙂

      1. nah itu dia yang jadi kendala
        kalopun dibebankan ke petani, juga akan menambah biaya produksi. kenapa pemerintah ga mau kasih subsidi sih biar petani organik makin berkembang..?
        apa karena pemerintah ada deal dengan produsen pupuk atau pestisida..?
        kayaknya lebih tepat kalo subsidi bbm dialihkan kemari. wong bbm orang kecil paling 2 liter seminggu buat motor. yang punya mobil bisa 20 liter sehari…

        1. Mas Eko pertanian organik saat ini masih dianggap sebagai pilihan, bukan kewajiban. Maka dlm waktu dekat kayaknya belum ada subsidi di bidang ini. Tp para penggiat pertanian organik berharap bs mandiri. Tanpa bantuan subsidipun mereka bisa survive. Bantuan yg paling effisien pada pwrtanian organik adl dukungan konsumen, Mas 🙂

          1. itu yang aku maksud dalam buruk sangka ada deal antara pemegang regulasi dengan pihak industri. tanpa campur tangan pemerintah rasanya berat banget kan bu. terutama pada masa transisi dari pertanian konvensional sekarang ke organik, yang pernah aku dengar butuh waktu beberapa lama dengan hasil panen yang turun drastis sebelum kembali normal.
            tapi sudahlah…
            tar malah mumet mikirin birokrasi kita yang memang sudah bikin puyeng

          2. Iya Mas Eko, dalam masa transisi ini yg paling berat, panen akan menurun..Tapi yah, ngomongin kelakuan penguasa kita cuma bikin sakit kepala..:)

  5. tapi kalau kita hanya mengandalkan makanan organik saat ini , bisa bisa kita ga makan loh. Begitu kata temanku yang berkerja di sektor pertanian. Karena produksi organik masih sangat sedikit. Tapi memang organik lebih sehat dibandingkan yang konventional.

    1. Memang betul sekali Bro…Awalnya revolusi hijau kan memang untuk mengengenjot produksi, untuk mengimbangi pertumbuhan umat manusia yang harus diberi makan itu. Untuk menjawab teori Malthus bahwa pertumbuhan penduduk menurut deret ukur dan pertumbuhan ekonomi menurut deret hitung. Gojlak gitu lho..Sementara produk pertanian organik mirip pertumbuhan ekonomi, menurut deret hitung. Kalau kita mengandalkan ke pertanian organik seluruhnya, yah bakal kelaparan lah kita. Tapi alasan seperti ini tidak bisa juga dibenarkan..Jika pertanian organik terus digalakan, akan ketemu juga dengan efisiensinya…

  6. Kalo mau organik terus-menerus konsisten kok biayanya mahal banget ya Mba Evi?
    Kalo tanah masih luas sih bakalan nanem sendiri deh biar ketahuan gimana-gimananya.

    Terimakasih artikelnya Mba Evi, menambah pengetahuan dan kesadaran untuk hidup lebih sehat. 😀

    1. Memang begitu Mas Dani. Salah satu kelemahan dr produk organik emang mahalnya ini. Saya juga gak konsisten menggunakan produk organik. Namun diusahakan yg sebisanya saja, kalau ada sayur organik dan harganya gak terlalu nyekek ya beli. Kalau gak ya diusahakan membeli sayur yg tak terlalu banyak peminatnya, seperti jatuk atau pucuk labu. Mudah2an saja sayur mayur seperti tidak datang dr perkebunan besar yg menerapkan skala efisiensi dlm perawatannya 🙂

  7. Sayang ya,padahal dulunya saat teknology belum berkembang, manusia memang bertani secara organik. Lalu karena ingin meningkatkan produksi dengan cepat dan murah, bahan-bahan kimiawi pun banyak digunakan untuk mem’boost’ panen. Tanpa memikirkan efek jangka panjangnya bagi kesehatan manusia dan lingkungan ya? Syukurlah mulai banyak lagi yang sekarang beralih ke pertanian organik. Saya kadang-kadang beli juga produk organik,tapi nggak setiap saat. Soalnya lebih sering belanja di tukang sayur yang lewat depan rumah …he he.

    Salut buat Arenga, Mbak Evi!

    1. Jadi tambah tampak yah Mbak Dani bahwa segala sesuatu hrs ada harga yg dibayar. Namun saya yakin yg membayar bukanlah para pelopor revolusi hijau, maupun para pemilik perusahaan yg menggelontorkan jutaan ton pupuk kimia dan pestisida ke pasar. Yg membayar adalah petani, tanah yg rusak dan kesehatan umat manusia secara umum. Penggagas revolusi hijau hanya memikirkan kenaikan produksi dan tidak dampaknya terhadap kehidupan. Yah kita hidup dlm masyarakat seperti, pakai kaca mata kuda, mb Dani 🙂

  8. Hal yang sama pernah ditanyakan ke suami kepada temannya yang menawarkan beras yang “katanya’ organik.

    Bagaimana bisa memberi cap organik? Bagaimana sawah sekitarnya, apakah juga organik, jika tidak bukankah padi yang di tanam secara organik juga terkena ‘racun’ dari tetangga sebelhnya?

    Well, teman suami cuma bisa diam 🙂

    1. Sebaiknya memang kritis begitu Mb Esti. Buat apa kita membeli lbh mahal kalau sebetulnya nilainya tidak seperti yg diklaim oleh pedagang 🙂

    1. Kita sdh sangat tergila2 dng kepraktisan Pak Mars, makanya gak ada waktu untuk cari makanan yg menunjang kesehatan maupun lingkungan. Jadinya ya pasrah saja deh Pak Mars…hehe…

  9. krn harganya lebih mahal, sayangnya yg organin kl di tempat sy hanya ada di supermarket.. Pdhl kl utk sayur mayur, sy lebih suka belanja di pasar tradisional. Dan sy gak paham itu organik atau tdk

    1. Walau di pasar tradisional, biasanya sayur oganik menempati seksi tersendiri Mb Myr.. Lagi pula kalo emang organik mana mau pedagangnya menjualnya sebagai sayur biasa 🙂

    1. Malah tahun depan, Kementrian Pertanian akan mengeluarkan peraturan bahwa produk yg asal nyatut lebal organik bisa dikenai sangsi pidana Mas..Sekarang draftanya masih mereka bahas 🙂

  10. tulisan yg sangat bermanfaat, dan mencerdaskan pembacanya ini Vi:)
    terimakasih banyak utk share nya ….

    utk sekarang ,walaupun makanan organik makin gencar dan cukup mudah utk didapatkan, utamaya di kota2 besar, yg jadi kendala bagi konsumen adalah harga yg jauh lebih mahal drpd harga produk non organik.

    memang benar, kesehatan lebih mahal drpd hanya sekedar keluar uang lebih utk membeli makanan sehat ya Vi.
    tapi, sebagian besar masyarakat kit msh lebih memilih yang murah , toh masih baik utk dimakan, apalgi dgn tingkat kemakmuran ekonomi yg masih jauuuh …….

    sampai sekarang, bunda juga gak tau dgn pasti, apakah masih memasukkan racun ke dalam tubuh sendiri setiap hari ?
    ( kayaknya sih masih tuh ….) 😛
    paling hanya mengucapkan bismillah saja, berharap apapun yg dimakan itu menyehatkan tubuh dan pikiran 🙂
    salam

  11. jaman dulu orang bertani secara organik. Jaman sekarang orang kembali bertani organik tapi dengan harga produk lebih mahal dari pertanian biasa

    1. Memang tidak bisa seluruhnya balik ke pertanian organik Mas..karena kita juga perlu surplus dan efisiensi untuk memberi makan mulut yang jumlahnya jutaan. Namun dari pertanian organik yg digagas ini bisa jadi sebuah alternetif bagi konsumen

  12. Ping-balik: Kebun Organik Sadaya Farm - Jurnal Transformasi

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?