Food for Thought : Jelajah Rasa Sepiring Gado-Gado

 

sepiring gado-gado untuk dipikirkan

Sepiring gado-gado awalnya adalah obrolan sederhana dua sahabat yang menunggu boarding di Bandara Adi Sumarmo – Solo. Soal rasa enak dan tak enak. Namun saat beranjak ke pertanyaan soal sehat dan tak sehat, keduanya jadi sama-sama terusik. Dan kerumitan pun dimulai.

Dari mana sayurnya yang tampak hijau dan menyehatkan itu berasal? Dimana dia ditumbuhkan?  Apakah memanfaatkan sepengkolan tanah kosong di tepi jalan? Ataukah dari pekarangan yang tak jauh dari rumah?  Atau kah  dikehijauan pegunungan? Apakah dikebun yang menerapkan prinsip2 organis ataukah mereka perlu disiram dengan bergentong-gentong pestisida agar ulat tak sudi menyentuh daunnya?

Obrolan tentang sepiring gado-gado itu mestinya sederhana. Tentang betapa enaknya bila siraman kuah kacang tanah saat di blending dengan kacang mete. Tektur kental dan rasa gurihnya asli. Kalau tidak mengapa tidak dilihat  saja dia sebagai santapan yang akan  mengenyangkan perut dan  memanjakan lidah?  Aromanya yang bercampur bawang goreng sungguh mencumbui imajinasi. Yang sebelum menyentuh mulut pun selera sudah mengerang, terangsang nikmat yang menggugah  air ludah.

Jadi saat menikmati kesederhanaan itu relevankah memikirkan  ketika tanah masih dianggap sebagai ibu yang harus disayang dan dihormati? Ketika lingkungan dijaga demi kesejahteraan sang bunda pertiwi untuk menumbuhkan sayur-sayur hijau yang mensejahterakan manusia yang akan mengkonsumsinya?

Ataukah cukup sampai disini bahwa kehijauan itu hanya sebatas pesona mata?

Berhentilah berpikir, kawan. Mari kita sederhanakan sepiring gado-gado ini, mengganjal lapar kala menunggu…

Salam,

Posted from WordPress Android
eviindrawanto.com

42 thoughts on “Food for Thought : Jelajah Rasa Sepiring Gado-Gado

    1. Gak ada Mbak Hilsya. Gak tahu nih, wordpress suka sentimen pada self-hosted blog, mereka gak kasih semua kemudahan yang ada di worpress.com 🙂

  1. Panjang juga pemikiran mengikuti sepiring gado-gado ya Mba Evi. Jadi mikir lagi soal gado-gado yang saya makan hampir tiap siang.

    Btw potonya itu gado-gado siram jawa timur. Saya sukaaa.. 😀

  2. Saya termasuk orang yang terlalu menganggap enteng terhadap makanan yang dikonsumsi.
    tapi membaca berbagai artikel disini akhirnya saya mulai berpikir dan membuka mata atas kecerobohan dlm hal makanan bersih dan sehat.

    Sepertinya saya harus sering2 berkunjung disini mbak Evi…

    1. Hehe..Makasih Mas Insan. Makanan kita disamping halal kan harus toyyib ya..Langkah memilih makanan yg toyyiban adalah mengetahui asal-usul serta bahan2nya 🙂

  3. Aku suka banget sama gado gado..
    kalo di sunda mah Lotek ato karedox..
    Pecel dsb berbau bumbu kacang..
    batagor, baso tahu..loh jadi kuliner..
    Laperrrr….
    Masih adakah gado gadonya Mba..

    1. Cik, kalau makanan sdh disiram bumbu kacang, sepanjang bumbunya pas, gak ada yg gak enak yah..Sayang Cik, gado2nya sdh habis. Kemarin lapar sekali akuh 🙂

    1. Sang bayang, hijaunya indah dimata, sedap di lidah dan sehat di tubuh, baru deh terkatakan sempurnanya sepiring gado-gado. Dia seperti puisi dengan pujangganya hehe..

    1. Hehe..Mesti punya keyakinan seperti itu ya Mas Lozz..Kalau saja kita haqul yaqin pasti bisa. Tp terkadang baca bismillahnya cuma sambil lalu, makanya kita jadinya kita harus tetap waspada thd cemaran bahan berbahaya dlm makanan kita 🙂

    1. Kayaknya seperti juga hidup Mas Hindri, yang sederhana juga bisa dibikin rumit hehehe..Yah..mari kita nikmati sepiring gado2..jangan diperumit..

  4. Sepakat Mbak, jika kita memegang prinsip halalan toyyiban, maka apappun yang ada dihadapan kita akan memasuki proses ‘penyeleksian diri’, apakah makanan yang ada itu sudah benar-benar layak kita konsumsi ato tidak. Krena terkadang baik menurut selera belum tentu baik menurut sel tubuh. Kadang baik menurut pandangan mata (dengan sayuran yang seger), belum tentu baik menurut kesehatan.

    1. Habis gimana ya Pak Ies, selama ini secara umum makanan hanya diapresiasi antara enak dan gak enak, antara halal dan tidak halal. Secara umum kesadaran mengapresiasi makanan sehat dan tak sehat masih rendah. Semoga dengan makin banyaknya informasi yang tersedia pelan-pelan kita akan beralih pada perilaku makanan yang sehat, yang memenuhi prinsip halalan toyyiban 🙂

  5. Sesuai dengan namanya, kelihatannya gado-gado memang berasal dari berbagai jenis bentuk dan rupa bahan makanan, dari berbagai cara pengolahan, dari berbagai sumber dan daerah, dan dari berbagai cara pengolahan serta berbagai macam berbagai lagi he he he..

    Karena itulah barangkali ia disebut gado-gado, Mbak Evi. Karena jika terbuat dari bahan yang homogen, cara pembuatan dan asal muasal yang juga homogen, tentu namanya bukan gado-gado lagi he he..

    1. Hahaha..Iya Mbak Dani, nama gado2 kan karena banyak hal dicampur jadi satu ya..Blog saya juga tepat disebut sebagai blog gado-gado..Hidup gado-gado! 🙂

    1. Nasi goreng emang gak ada iho royo-royo Pak Mars..Tapi biasanya penuh gemerlap MSG..Iyah, apapun makanannya, gado-gado atau nasi goreng yang penting sarapan. Gak surupin atau saripun hahaha..

  6. he..he.. iya uni…dulu suka banget beli selada dari peladang yang nanam di lahan kosong ibu kota…
    tapi, lama2 jadi khawatir dengan polutan dan pestisida, dan berhenti beli ..tapi di sisi lain kasihan juga dengan para petani itu

    1. Iya ini jadi dilema Mbak Mon. Di satu sisi kita ingin membeli produk petani kecil, yg mengusahakan lahan sempit dan memanfaatkan tanah negara. Di lain sisi sayuran yg ditanam di tepi jalan itu sangat tak bagus untuk kesehatan, kandungan timbalnya bisa bikin kita sakit dalam waktu yang lama. Dilema itu yg kadang bikin hati sakit Mbak hehehe..

  7. Gado-gado merupakan makanan tradisional yang kaya akan protrin dan vitamin. Dan rupanya gado-gado banyak jenisnya Bu, seperti yang ibu sajikan dalam artikel ini. Sungguh luar biasa inovasi kuliner Indonesia. Sukses selalu.

    Salam Wisata

    1. Itu yg sangat hebat dari Indobesia, P Indra, keaneka ragaman budaya pasti diikuti juga oleh keragaman makanannya. Sesuatu yg kalau mampu kita manfaatkan akan mengeluarkan Indonesia sbg bangsa yg miskin tingkat ekonominya 🙂

  8. sepiring gado2 yg awalnya sangat menerbitkan selera, bisa tiba2 menjadi menakutkan kalau dipikirkan ulang sumber bahan2 pembuatnya ya… 🙁

    1. Iya Mbak Mechta. Gado2 ini bisa dijadikan analogi juga untuk kehidupan kita. Yang sederhana bisa sangat menakutkan kalau diperlakukan berbeda hehehe..

  9. Salah satu makanan asli Indonesia yang sangat saya suka.
    Benar, kadang-kadang saya berfikir dibalik warna hijau yang cerah ini, dari mana sayur ini berasal ?

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?