Mencari Jalan Kebenaran

Bulan Ramadhan, sesekali postingan renungan ya teman-teman. Agak jumawa karena saya beri judul Mencari Jalan Kebenaran. Hehehe..Mohon dimaafkan

Diantara kelahiran dan kematian ada  celah, suatu masa  dimana kita semua berkumpul dan mencoba meminjam logika Tuhan. Masa itu bernama hidup. Contohnya sebelum kelahiran tak seorangpun berpengalaman tentang hidup.  Tapi  menerka seolah saya tahu apa yang terjadi. Hanya karena bayi punya nol informasi dan membutuhkan pertolongan, saya sebut mereka makhluk tanpa dosa. Saya mengembangkan kepercayaan bahwa dosa terjadi saat dewasa, setelah orang mampu memisahkan benar dan salah.Benarkah bayi adalah makhluk tanpa dosa? Saya tak punya kebenaran utuh tentangnya.

Saya belum pernah mati namun merasa tahu tentang  hidup setelahnya. Saya tafsirkan apa yang tersirat dalam kitab suci dengan persepsi yang pernah masuk ke dalam pengalaman. Jelas persepsi tentang akhirat saya ambil  dari pengalaman dunia yang diajarkan oleh lingkungan. Tapi benarkah realita akhirat seperti yang saya tafsirkan selama ini?

Begitu lah saya kisruh tapi  tidak tahu sedang berada dalam pusaran. Namun tak bisa ditolak  saya  terobsesi oleh ketenangan. Saya mendambakan keheningan seperti di dunia roh dari mana  wujud saya bermula. Saya selalu ingin kembali ke sana, ingin pulang. Tapi dunia menahan saya. Missi disini belum terselesaikan. Akhirnya saya gelisah.  Untuk meredakan kegelisahan itu saya mulai mencari dan bertanya tentang kebenaran. Kebenaran pasti berada disuatu tempat seperti yang dijelaskan dalam kebijaksanaan kitab suci. Entah bagaimana, sesuatu dari dalam menuntut kebenaran itu harus ditemukan. Sebab saya percaya bahwa kebenaran lah yang akan mengembalikan saya ke dunia yang terenggut itu.

Perjalanan panjang mencari kebenaran sebagai jalan pulang pun di mulai. Berkunjung ke makam-makam, ke tempat sakral, dan ke rumah Tuhan. Saya melaksanakan ritual agama. Berpuasa, bersedekah dan menyantuni fakir miskin. Pamrih benar saya. Dengan berbuat seperti itu Tuhan pasti memberi saya pahala. Begitu yakinnya saya bahwa kebenaran itu akan ditemukan dengan tidak mengijinkan siapapun mengintervensi di tengah jalan. Bahkan keyakinan bahwa saya sudah punya satu kavling di surga pun meningkat. Maka saya tak segan berkelahi dan berperang dengan mereka yang tak sesuai dengan keyakinan kebenaran saya.

Begitu lah pengalaman saya mencari kebenaran dari  luar. Menerimanya dari para suhu, dari mereka dengan maqam yang lebih tinggi, dari buku, ilmu pengetahuan dan dari keimanan seseorang. Saya hadirkan kebenaran dengan menerima bermacam risalah. Tapi betulkah itu adalah kebenaran yang sesungguhnya?

Bagaimana kalau sekarang saya mencari ke dalam?

Disini saya menemukan sedikit kejernihan. Di dalam sini, di ruang ini yang bicara adalah cermin dan atas dirinya sendiri. Rasanya Tuhan  meletakan kebenaran paling pas disini. Disini juga saya dapat jawaban bahwa  missi saya bukan untuk menemukan kebenaran utuh. Kebenaran absolute itu hak prerogatif Tuhan. walau saya capek dan takan henti mencari tugas saya hanya mengumpulkan potongan kebenaran. Memungut puzzle yang terserak lalu merangkainya satu-satu. Bila potongan puzzles saya bertambah terbentuk sebuah makna.Horizon saya semakin luas.  Namun bila tidak, bukan tugas saya untuk kecewa. Tugas saya hanya terus mencari. Perjalanan mencari kebenaran hanya berhenti seiring putusnya nafas. 

Happy journey untuk saya

Allahu’alam bishawab

20 thoughts on “Mencari Jalan Kebenaran

  1. Saya belum pernah mencari kebenaran ke makam-makam karena memang tidak begitu suka jeng.
    Kebenaran itu sebenarnya sudah ada petunjuknya, tinggal kita mengaplikasikannya.
    Bagus artikelnya.
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Haha..kayaknya konyol gitu ya Pakdhe, nyari kebenaran di makam. Ya setuju kebenaran itu pasti sdh ada, menunggu ditemukan, sesuai kemampuan yg mencarinya. Salam hangat Pakdhe 🙂

  2. Aku senang mendengar cerita perjalananmu, bu Evi. Dalam diri kita, ada kebenaran yang kita sebut nurani, dan aku rasa kita bisa mengikuti suaranya.

    1. Ya Mas, ada yg mengatakan suara nurani adalah suara Tuhan. Mungkin karena dia hanya bs bicara yg benar dan tak pernah berdusta kali ya.

  3. Sama dengan pendapat Pakde, tulisan ini saya suka..entah kenapa, banyak kalimat yang mbak Evi tulis begitu mengena di hati saya. Terutama tenting bercermin ke dalam dan bahwa kebenaran itu memang hak prerogatif Tuhan..

  4. Mbak, maaf baru berkunjung lagi ya, kemarin-kemarin itu lagi hilang mood buat jalan-jalan…hehe, cuman bikin tulisan galau aja… 😀

    1. Take it easy Mb Irma. Aku jg sering begitu kok, kehilangan mood nulis dan jalan2. Kita kan manusia biasa selain blogger hehe…

  5. Dalam agama Islam sudah jelas aturan yang ditetapkan, semua ada pada Al-Qur’an dan Hadist. barang siapa mengikuti aturan didalamnya, pasti akan menemukan sebuah kebahagiaan didunia sampai diakhirat 🙂

  6. mencari kebenaran di makam-makam itu bagaimana maksudnya ya,Bu..?
    maaf,soalnya saya takut salah persepsi dengan tulisan ibu ini..

  7. perjalanan mencari kebenaran akan terus berlanjut dan berlangsung hingga tiba masa ketika kita menghentikan langkah kala maut menjemput …salam Ramadhan 🙂

    1. Insya Allah Pak Hariyanto. Mari kita saling mendoakan agar selalu meningkat kesadarannya dlm hal ini. Selamat puasa Pak 🙂

  8. setiap kita melakukan perjalanan itu dan mendapatkan hasil sesuai upaya yg telah ditempuhnya…dan kebenaran hakiki memang hanya milik-NYA, namun kita tetap bisa belajar dari ‘buku besar’ ciptaan-NYA, hidup dan alam sekitar kita… mungkin demikian ya mbak…

    1. Pendapatku juga begitu Mb Mechta. Alam sekitar adalah ladang kebenaran, tinggal dipilih kebenaran sepwrti apa yg kitta butuhkan 🙂

  9. wow kali ini berat nih…. perjalanan hidup selama masih hidup harus dijalani dengan baik dan diisi dengan perbuatan baik,….. selamat berpuasa ya….

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?