Prosesi Aqiqah di Minangkabau

Prosesi aqiqah di Minangkabau mengikuti ajaran agama Islam. Dalam kepercayaan Islam anak yang baru lahir itu tergadai (terhambat) pada aqiqahnya. Maka pada hari ke-7 sejak  kelahiran keluarga akan menebusnya dengan mengadakan  aqiqah. Bila kondisi keuangan tak memungkin bisa dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21. Jika masih tak mampu, aqiqah boleh dilakukan kapan saja.

prosesi aqiqah di minangkabau
Aqiqah artinya memotong
prosesi aqiqah di minangkabau
Diayun-ayun mengungkapkan rasa sayang

Prosesi aqiqah di Minangkabau mulai dengan memberi tahu kerabat dan handai tolan bahwa satu keluarga bermaksud mengakikahkan anak atau cucu mereka. Jaman dulu dilakukan dengan menghantar sirih atau rokok namun sekarang cukup diwakili sehelai kertas undangan. Atau lebih moderen lagi dengan telepon dan SMS. Sehari sebelum acara diadakan pemotongan kambing atau domba. Jumlah kambing yang disembelih 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 ekor untuk anak perempuan.

Unsur budaya dalam prosesi aqiqah di Minangkabau

Syariat aqiqahnya sendiri dilangsungkan menurut agama. Namun tata laksana banyak dipengaruhi unsur budaya. Seperti memasak daging kambing pasti mengikuti tradisi  daerah dimana aqiqah dilaksanakan. Dalam prosesi aqiqah di  Minangkabau daging kambing dimasak tanpa meninggalkan santan, cabe merah dan bumbu-bumbu lainnya. Proses memasak kambing akikah sekarang kebanyakan diserahkan kepada restoran atau mereka yang spesial memasakan daging akikah. Setelah masak gulai kambing yang berkuah kental dan lezat itu disedekahkan. Tapi keluarga yang punya hajat juga boleh menikmatinya.

prosesi Aqiqah di  Minangkabau
Pembacaan doa yang khusuk

Nah tepat di hari-7 seluruh keluarga berkumpul. Dipimpin Ustadz atau guru mengaji prosesi di mulai dengan membaca ayat-ayat Al Quran. Diikuti oleh  doa-doa  keselamatan bagi sang anak. Harapannya,  Insya Allah anak akan tumbuh jadi pribadi sholeh, terhindar dari gangguan setan dan binatang buas. Juga agar dijaga dirinya dari segala pandangan yang akan merusak kehidupannya kelak.

prosesi aqiqah di minangkabau
Siap-siap memotong rambut

Dalam literatur, aqiqah maksudnya adalah pemotongan. Menyembelih kambing atau domba. Namun ada pula yang mengatakan aqiqah adalah pemotongan rambut atau mencukur rambut lahir. Yaitu rambut yang dibawa bayi dari dalam kandungan ibunya. Pada hari ke tujuh ini si bayi juga diberi nama. Pak Ustadz mengumumkan nama tersebut pada hadirin. Dalam wejangan beliau mengatakan bahwa nama yang melekat pada tiap anak adalah doa, maka berilah mereka nama yang baik. Dan bila kelak sang anak berbuat kesalahan agar bapak-ibu yang hadir  tak segan menegur sebab anak itu adalah anak mereka semua.

prosesi aqiqah di minangkabau
Memotong Rambut

Tidak ada ketentuan apakah rambut harus digundul atau tidak. Yang jelas rambut harus di potong secara rata. Tidak boleh hanya pada satu sisi dan meninggalkan sisi lain. Rambut yang terkumpul ditimbang. Misalnya dapat 10 gram. Maka orang tua si bayi yang saya ikuti upacara  ini membeli emas seberat rambut tersebut dan menyedekahkan pada fakir miskin. Jadi semakin banyak rambutnya semakin banyak sedekahnya, Insya Allah semakin banyak pula rezkinya kelak.

kelapa mudah dalam prosesi aqiqah di minangkabau
Rambutnya dimasukan ke dalam Kelapa

Saya tidak tahu apakah di tempat lain  ada, tapi di Minangkabau prosesi aqiqah tampak ada unsur budaya Hindunya. Terlihat dari kelapa muda berhias bunga-bunga, madu, gula, garam dan cabe. Kegunaan kelapa berair ini untuk merendam potongan rambut sang anak. Pelan Pak Ustad memasukan tiap rambut yang di potongnya ke dalam kelapa. Harapannya agar kelak jika menghadapi masalah anak tetap berkepala dingin.

makan cabe dalam prosesi aqiqah di minangkabau
Memipil cabe

Selesai memotong rambut, sekarang Pak Ustad memipil cabe dan bumbu-bumbu yang terdapat disitu ke bibir sayang bayi. Ini adalah simbolisasi dari kehidupan yang akan dijalaninya kelak. Bahwa hidup tak selalu manis. Ada yang pahit, asin dan pedas.

Memoleskan cabe, garam, dan madu ke bibir

Dengan telaten satu persatu bumbu penyedap itu ditorehkan di bibir sang anak. Setelah semua upacara selesai, terlihat betapa leganya wajah ke-2 orang tua anak ini. Sekarang anak mereka sudah resmi bernama dan didoakan banyak orang.  Dan saya kut berharap agar Allah mendengar semua harapan itu. Amin

We love you all Aisya!

Salam,

57 thoughts on “Prosesi Aqiqah di Minangkabau

  1. Aqiqah yang masih sarat unsur sunnahnya ya Uni, tapi juga didomplengi budaya nusantara yang berbau hindu 🙂

    Aku pernah lihat tradisi serupa, mirip banget di Way Kanan, Lampung dan juga di Palembang ^^

    1. Jiwa dr Aqiqahnya mengikuti sunnah tapi pelaksanaan mengikutkan unsur budaya lokal. Saya kira ini sebual akulturasi Mb Keke, kepercayaan jadi tambah dekat 🙂

    1. Iya Mb Prih, sebuah tradisi yg bangkit dari kepercayaan. Sudah lama pengen nulis ini baru terlaksana sekarang. Tks atas apresiasinya Mbak 🙂

  2. aih cantiknya baby Aisha.. peluk cium,
    hmm, wangiii.. 😀

    prosesi aqiqah secara adat di rumah aur terakhir kali diadakan tahun 1994, untuk ponakanku Ryan.. sedangkan cucu mama yang lain hanya formalitas saja, gulai kambing dibagikan tanpa acara adat… sekarang juga ada ahli masak yang melayani memasak daging aqiqah sekalian mengirimkannya ke tempat yg kita inginkan, biasanya ke panti.

        1. iya Uni, aku tau kok.. memang itu hanya simbol saja..
          agar jadi gadih minang kudu berani seperti merahnya cabe itu… spt aku dan uni.. #halagh. 😛

    1. Waktu aqiqahnya Aisya, yg masakin gulai kambing juga restorant May. Papanta Aisya cuma menyembelih kambingnya, selanjutnya di urus oleh pihak resto. Sementara gulainya baru pihak ke luarga yg antar ke panti asuhan. Dan gulai kambing itu kok enak ya May? Hehe..

  3. setelah baca ini jadi tau nih prosesi aqiqah di minangkabau
    tapii….itu diolesi cabe bayinya gak nangis krn kepedesan…?

      1. pertanyaanku sudah terjawab di sini.
        Berarti pertanyaan Misstitisari dan dr.Vicky juga udah terjawab.
        Lega deh.. Kalau dikasih cabe beneran kan kasihan. Hiks…

  4. kalau disini potongan rambut si bayi hanya di masukan ke air kembang dalam baskom tanpa ada kelapa, kalau masalah rambutnya yg di timbang sama. dan tidak juga bibirnya di olesi cabe dan bumbu bumbu..

    1. Kurang lebih prosesinya sama ya Kang, memasukan potongan rambut ke dalam air yang bermakna agar anaknya kelak berkepala dingin, alias sabar..

    1. Jawab Aisya Gini : Gak bisa pegagan Tante, tangan Aisya kan terkungkung, jadi berharap pada nasib baek deh biar gak jatooohhh..

  5. hidup tidak selalu manis, tapi ada pahit , asin dan pedas.. semoga kita semua sadar akan itu ya….. karena dari kecil sudah diajari hal itu.. ‘:) sebuah budaya yang patut dilestarikan..

    kalau saya tidak pake begitu begituan.. ga tahu caranya… hehehehe

  6. Pengetahuan yang sungguh indah….kok saya fokus ke fotonya mbak…itu gelas aquanya berbaris rapi sekali heee

  7. Makasih bang atas informasi aqiqah yang ada di Minangkabau, jadi sedikit tau tetang budaya disana. Tulisan yang bener bener bagus ! 🙂

  8. maaf bu evi, aku fokus ke fotonya hihihi, cantik banget babynya *jawiljawil*
    itu dikasih bubuk cabe apa ga nangis bu? ga kepedesan gitu?

    1. Masih mending kalo cuma nangis kepedesan, Bu. Saya malah lebih kuatir kalo bayinya diare. Usus bayi umur segitu kan belum siap menerima cabe biarpun cabenya cuma sedikit..

  9. Salah satu sunnah Rosululloh Saw.
    Ada yang namabhi dengan acara lain misalnya seni hadrah, dll./
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Iya Pakde, sunnahnya tak berubah namun upacara aqiqahnya sendiri diberi warna budaya lokal..Di Cimanggis sering saya lihat ada hadrahnya. Terus ada lagi pembacaan barzanzi..

  10. Filosfi buat mengoleskan aneka bumbu ke bibir bayi itu dalem banget mbak Evi. Mudah-mudahan apa yang diharapkan orang tua terhadap anaknya akan menjadi kenyataan…trima kasih buat ilmu baru ini, saya tidak tahu kalau adat minangkabau juga memiliki kebiasaan aqiqah yang unik 🙂

  11. Di Palembang juga tradisinya hampir sama keknya mbak, termasuk yang masukin rambut ke dalam kelapa dan jumlah kambing untuk anak laki dan perempuan itu, tapi kalo yang naro cabe garam gula ke bibir bayi keknya gak ada di sini, e tapi gak tau pasti juga soalnya saya hanya pernah beberapa kali aja menghadiri aqiqah-an dan itupun gak duduk di dalam..

    Aisya ini siapanya mbak Evi? *malah kepo hihih*

  12. Kemarin ikut aqiqahan anak temen yang lahiran di sini. Setelah dipotong rambut oleh Pak Ustad-nya, semua hadirin juga ikut motong rambutnya. Bahkan Tt yg datang telat put ikut motong. Hihi… Makin berat rambutnya, makin banyak sedekahnya kan Dik… 🙂

  13. Sarat perlambang yg penuh makna ya mbak… Terima kasih sudah share aqiqah ala minang ini.. 🙂
    eh iya…seperti Nchie, saya takjub dengan cara ustadnya memegang baby aisya itu..mamanya apa gak deg deg plas itu ya? hehe…

  14. wkt anak2 sy aqiqah sy cuma pengajian, potong kambing & potong rambut.. Itu aja mbak.. Gak ada unsur budayanya..

  15. tiap tempat kadang tambahannya lain2 ya mbak.. setahu saya sih ya pengajian biasa, terus bagi2 masakannya kadang gak cuma daging yang udah dimasak aja tapi juga ada banyak pelengkapnya..

  16. Beda tempat beda pula acaranya ya bu, yang pasti semua sarat dengan makna dan simbolisasi kehidupan sang bayi kelak di masa yang akan datang.
    Hemm, jadi tahu adat aqiqah bayi ala Minang. Thanks sharingnya.. 🙂

  17. inilah salah satu yang membedakan indonesia dari negera2 lain didunia,adanya budaya unik tapi tetap menyusukuri segala nikmat yg diberikan Tuhan

  18. Aqiqah bagi sebagian besar masyarakat di indonesia bukan lagi sekedar sebagai kewajiban, namun telah menjadi budaya yg banyak mengandung nilai-nilai bijak. Semoga anak yg di aqiqah-nya, kelak menjadi org yg soleh …

  19. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Majlis aqiqah dalam syariat Islam adalah sama kecuali acara pelaksanannya banyak berbeda mengikut tempat. Kalau di kampung saya, penggunaan buah kelapa muda untuk meletakkan rambut yang sudah digunting sama seperti di atas. Kemudian bayi itu di tepung tawar untuk kesejahteraannya seperti juga dalam budaya hindu. Cuma tidak ada bunga-bungaannya dan perasa seperti cabe, garam dan madu.

    Setelah itu diadakan majlis berzikir dan bersalawat untuk memeriahkan acara tersebut. Saya lihat acara di atas, sudah siap dengan hidangan makanan, ya mbak. Kalau tempat saya, makanan adalah hidangan terakhir setelah semua majlis aqiqah disempurnakan.

    Semoga anaknya nanti menjadi anak soleh dan diberkati Allah di dunia dan akhirat. Aamiin.

    Terima kasih mbak Evi untuk informasi yang menarik ini.
    Salam manis dan hangat selalu dari Sarikei, Sarawak. 😀

  20. itu mungkin yang dinamakan akulturasi mba, A+B=AB
    Indonesia yang kaya budaya, dari zaman kerajaan hindu-budha masih terbawa sampai sekarang. Kebudayaan dulu masih ditambah kebudayaan yang baru menghasilkan pertemuan yang harmonis sehingga tidak menghasilkan kebudayaan baru (asimilasi) tetapi kedua budaya itu disajikan bersamaan. Dan itulah indahnya akulturasi 🙂

  21. Bu Evi …
    yang sering saya lihat …
    biasanya aqiqah itu acaranya hanya mendoa … lalu dilanjutkan dengan makan santapan berupa daging olahan dari kambing aqiqahnya …

    Setelah menyimak upacara adat ini … banyak juga ya … hikmahnya

    salam saya Bu Evi

  22. Dalam pelaksanaan upacara keagamaan, dalam Islam, unsur budaya memang sangat terbuka untuk bisa diikutsertakan. Hanya saja, jangan sampai unsur budaya itu mendominasi dan bahkan menjadi yang diutamakan, sehingga berakibat tersingkirnya prinsip dasar ibadah yang terkandung dalam ritual tersebut.

    Sebagai contoh, kelapa yang dipakai haruslah yang berasal dari daerah tertentu dan harus didoakan (dijampi2) terlebih dahulu. Jika tidak, maka aqiqahnya tidak sah… Hal tersebut tentu sangat bertentangan dengan prinsip syariah… Oleh karenanya, kita harus bijak menjalankan budaya dan paham dengan prinsip-prinsip ibadah dalam Islam..

    Info yang sangat menarik, Uni.. 🙂
    Btw, Aisya itu siapanya Uni?

    1. Terima kasih atas pencerahannya Inyiak. Kalau kelapa pake dijampe-jampein dulu terus kalo gak di jampe aqiqahnya gak sah, itu mah sdh keluar jauh dari jalur..Itu bukan agamanya yg mengedepan tapi budayanya..Dan hal itu juga pasti jauh dari semangat adat bersandi syarak dan syarak bersandi kitabullah 🙂

      Aisya itu cucu pertama dari Uni saya, Inyiak..Papanya Aisya juga cucu pertama di keluarga kami…Jadinya serba heboh deh menyambut mereka…:)

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?