Festival Cisadane 2012: Pestanya Rakyat Tangerang

Lomba petahu naga
Lomba Perahu Naga

Bila teman-teman dekat ke Tangerang, senggang dan berniat mengisi liburan pendek, coba datang ke Festival Cisadane 2012 yang berlangsung 20-24 Juni ini. Apa lagi yang berminat hunting photo budaya, pasti tak kecewa. Lingkungan dan dan materi acara akan memanjakan lensa kita.

Festival Cisadane disebut pula festival Peh Cun yaitu festival mendayung perahu yang dilakukan para pendayung se-jabodetabek. Menurut saya untuk saat ini lebih tepat disebut festival seni dan budaya rakyat Tangerang. Sebabnya disamping tiap hari ada lomba perahu naga, dilakukan pula pentas kesenian tradisional serta pameran budaya. Tangerang kental dengan budaya peranakan Tionghoa-Betawi-Jawa maupun dari etnis lainnya. Inilah yang coba di tampilkan dalam festival ini. Ada pentas tarian cokek dengan musik gambang kromongnya. Dangdut tentu saja tak ketinggalan. Terus kita akan dapat gambaran mikro dari Kabupaten Tangerang karena semua instansi, sekolah dan industri kecilnya turut di pamerkan. Dinas Budaya dan Pariwisata Tangerang tampaknya serius menggarap agenda tahunan ini.

Kang dan Nong Tangerang

Peh Cun dan Pesta Akulturasi Budaya

Seperti saya katakan tadi Festival Cisadane berawal dari perayaan Peh Cun. Di gagas pertama tahun 1993 oleh tokoh-tokoh Tionghoa dari Wihara Boen Tek Bio. Perayaan rasa syukur yang dibawa dari Tiongkok ini sudah berumur 2300 tahun. Di Cina sendiri perayaan ini sudah tak ada, namun bertahan pada warga Tionghoa Indonesia.Warga Cibeng (cina Benteng) yang tinggal dekat sungai Cisadane, mungkin, awalnya berniat memperkenalkan bagaimana bentuk budaya mereka telah berakulturasi dengan budaya Indonesia. Namun seiring perkembangan animo masyarakat, festival peh cun berganti jadi festival cisadane.Saya perhatikan pada festival cisadane 2012 ini budaya Tionghoa tidak kental lagi. Kalau dulu pembukaan ditandai pelepasan bebek ke sungai yang berasal dari tradisi Fang Sheng, tahun ini dengan memukul beduk, tradisi Islam. Mungkin ini maksud dari akulturasi sesungguhnya, berbauran budaya membentuk identitas baru.

Pernik-pernik barongsay

Wartawan Gadungan

Langkah kanan untuk saya karena datang sore guna menghindari panas yang menyengat siang harinya. Eh tahunya upacara pembukaan memang dilangsungkan sore. Ya lah kalau begitu. Sampai di lokasi saya bergegas membaurkan diri ke dalam gerombolan orang-orang memegang camera. Seperti wartawan saja gayanya. Jepret sana-jepret sini. Panitia sepertinya juga menganggap saya dari media. Buktinya ketika penonton dan orang-orang yg gak berkepentingan berdiri dekat panggung di usir dari situ, saya dibiarkan saja. Hahaha..Ini lah salah keajaiban memegang DSLR.

Gak dapat saat mereka menari, dapat saat berbaris menuju panggung

Tapi saya tak bermaksud menipu. Beneran! Itu murni pengen dapat foto-foto cantik agar bisa pamer di blog ini. Tapi emang dasar wartawan gadungan, sebentar saja sudah gak tahan kegencet sana-sini. Cepat keluar dan kembali pada suami yang menunggu di kursi penonton. Akibatnya gak kebagian menjepret wali kota Tangerang Wahidin Halim saat melakukan rampak bedug sebagai simbol dibukanya Festival Cisadane 2012. Begitu pula saat tarian Lenggang Cisadane (cokek) berlangsung, walau sudah pakai acara naik bangku, yang kelihatan cuma kepala para penarinya. Hilang timbul diantara kepala-kepala lain yang sama ingin tahunya dengan saya. Tentu saja membosan nonton kepala jadi lebih baik mengelilingi arena saja.

Wisata, Bisnis dan Pertumbuhan Ekonomi

Saya pikir festival cisadane tahun lalu tak semeriah ini. Mungkin ini persepsi tak berdasar. Tapi tahun ini rasanya emang beda. Ratusan orang menyebut di pelataran Sungai. Selain pengisi acara, wartawan, pebisnis yang ikut pameran dagang, instansi pemerintah, pengunjung dan pedagang kaki lima bertemu membentuk pasar di bibir sungai.

Bapak ini jualan mainan anak-anak dari jeli yang dibanting-banting

Warna-warniKagum juga pada pemerintahan Kabupaten Tangerang. Bantaran Cisadane resik dan hijau. Airnya bersih. Jadi wajar bila suasana itu mengundang orang bergembira. Ada keluarga yang tampak niat banget wisatanya. Dengan menggelar tikar di bawah pohon seri tampak bahagia menikmati makanan yang dibeli dari para pedagang terdekat. Untunglah di Festival Cisadane ini pengunjung dan pedagang tak berebut tempat. Semua tertata rapi.

Festival Cisadane adalah pesta rakyat. Pesta rakyat yang jujur menurut saya mah! Untuk pengunjung acara ini adalah tempat bergembira, keluar sejenak dari rutinitas sambil mengenal tradisi Tangerang. Bagi pedagang kecil ini juga kesempatan mengais rejeki. Mengumpulan ribuan demi ribuan rupiah untuk dibawa pulang. Jika sehari-hari mereka keliling kampung dengan pikulan, di festival ini tinggal duduk menunggu pelanggan.

Minyak Bulus, Penumbuh Bulu dan Abon Kelelawar.

Sejak tinggal di Serpong saya teralienasi dengan isi pasar tradisional sesungguhnya. Disini pasar basahpun menyandang kata moderen. Atau mungkin saya emang kurang gaul? Festival cisadabe membuka kenangan pada pasar-pasar di kampung saya dulu. Jadi surprise menemukan masih ada yang jualan minyak bulus. Saya kira minyak dari kura-kura berpunggung lunak yang didiklaim berkhasiat membesarkan penis dan payudara ini sudah punah. Eh tak tahunya masih banyak. Tertata rapi dalam kemasan botol-botol plastik, si Bapak yang menawarkan penuh canda. Untung si bapak tak memakai pengeras suara dalam menceritakan manfaatnya. Tapi tanpa pengeras suarapun pengunjung ramai kok mengelilingi dagangannya. Entah benaran mau beli atau sekedar menonton saja, saya tak tahu.

Minyak bulus satu hal. Hal yang lain, padagang lain menjajakan minyak pemanjang bulu. Dalam satu botol ramuan itu berkhasiat memanjangkan kumis, jambang dan jenggot. Yang mau sedikit ekstrim juga ada, abon biawak atau kelelawar untuk mengobati asma.

Kuliner

Tangerang daerah akulturasi dan letaknya sangat berdekatan dengan ibu kota. Maka tak aneh bila dari sisi kuliner tak terlihat istimewa. Semua makanan ciri khas nusantara ada disini. Bakso dan Bakmi ayam yang paling standar. Pempek, kerak telor, cireng, tahu gejrot, bahkan bubur kampiun saya temukan kemarin.

Sebetulnya Tangerang punya kue khas yang datang dari budaya Tionghoa peranakan. Seperti roti bakso berukuran besar. Isi roti ini daging babi cincang dengan Tang Kwe (labu manis). Ada lagi kue Doko, seperti kue pisang tapi tanpa pisang. Terus kue Buras Kelapa, semacam lontong tanpa isi yang dimakan dengan cara mencocolkan dalam kelapa parut yang dimasak dengan gula merah. Kemarin kue-kue tersebut tak kelihatan.

Gimana sahabat? Berniat berkunjung tahun depan?

Salam,

Diikutkan pada lomba blog Paling Indonesia oleh komunitas blogger Anging Mammiri dan Telkomsel Area Sulampapua (Sulawesi – Maluku – Papua)

50 thoughts on “Festival Cisadane 2012: Pestanya Rakyat Tangerang

  1. wah saya akan segera kesana ah, liputan wartawan gadungan ini cukup lengkap juga mba tinggal di serpong toh wah gak pernah ketemu yah hemm

  2. ihiiyyy wartawan gadungan..
    ngabisin bakmi ayam berapa mangkok tuh..? wkwkk

    keren laporannya, uni.. berikut foto2nya.
    sukses kontesnya yaa.

    1. Gak banyak kok May, cuma nambah dua kali. Gak nutup sebetulnya haha..
      Makasih ya doanya. Tolong doakan semoga peserta lain tulisannya gak ada yg bagus ..

  3. hihiihi…wartawan gadungan..
    Komplit banget report nya..

    Kalo aku sama Olive ke sana, pasti menyerbu tukang Bando tuh Mbaaa…

    Sukses ya Ngontesnya..

  4. Jika diseputaran kota besar sering sekali diadakan festifal, seperti Festifal Budaya di Jogja…
    Kalau di kota kecil macam Kendal, adanya cuma pasar tradisional 😀
    Selamat berakhir pekan untuk Bu Evi sekeluarga

    1. Kota kecil, mestinya diikutkan festival di kota besar ya Pak Mars..Tapi kayaknya emang sering, semacam pameran antar propinsi gitu..Itu kan memicuk pertumbuhan ekonomi daerah..

  5. hasil jepretanya keren keren bu…
    saya dulu pernah pula tinggal di tangerang, malah sering mancing di pintu air 12.
    semoga acaranya sukses dan sukses pula dalam lombanya..

  6. hasil jepretanya keren keren bu.
    saya dulu pernah juga tinggal di tangerang, malah suka mancing di pintu air 12.
    semoga sukses acaranya dan sukses juga dalam lombanya..

  7. Trima kasih sudah berbagi banyak cerita, mbak Evi…dan tentang tang kwe, saya jadi inget waktu masih di Medan, saya suka banget pia isi tang kwe…
    😀

    1. Sama-sama Mbak Irma..Iya..Medan emang kaya kuliner peranakan juga ya..Tang Kwe itu juga enak dimasukan ke bubur ayam, atau kwe tiaw goreng Mbak..:)

  8. Itu yg jualan minyak bulus bener manjur gak ya, jangan-jangan cuma otak bulus aja 🙂 . Jadi kasian bulusnya, lagian ini satwa yg dilindungi ?

    1. Mas Noer, aku pikir ini lbh banyak akal bulusnya ketimbang benaran. Apa lagu Kalau bulus hewan yg dilindungi, nyari bahan baku pasti susah

    1. Semoga Pemda Sumbar juga keingatan mengkaryakan sungai sekaligus menjaganya ya Pakded. Di kampung kita banyak sungai yg dahsyat 🙂

  9. Keren Uni, trim bisa menikmati festival cisadane melalui perjuangan Uni yang wartawati blog. Sungai cisadanenya berdandan cantik, bisa jadi cisadane river cruise nih. Selamat ngontes ya Uni, Salam

  10. Saya selalu suka dengan pesta rakyat semacam ini, Uni. Sedapat mungkin saya hadiri kalau sedang bertepatan berada di daerah tersebut.

    Tapi, ada satu pesta yang sangat dekat dengan saya, namun belum pernah saya hadiri sama sekali, yakni Tabuik di Pariaman atau Tabot di Bengkulu. Selalu saja tidak pas waktunya dengan keberadaan saya di daerah-daerah tersebut..

    Sukses ngontesnya ya Uni..
    (saya kok tergoda untuk ikutan ya..? haha… 😀 )

    1. Inyiak, saya jg belum pernah nonton tabuik. Semoga kita diijinkan Allah suatu ketika ya. Nonton keramaian rakyat begini memberi kita satu insigh ttg kehidupan berbangsa. Ayo ikutan jg lombanya Nyiak 🙂

  11. harusnya kegiatan seperti ini ada dikali ciliwung juga,supaya bisa menumbuhkan industri kecil untuk ikut serta tumbuh & berkembang.Tapi sayangnya dari pihak terkait,tidak ada keyakinan untuk merealisasikan hal tsb
    Wah mba ikut lomba,pasti menang kaya’a 😀

    1. Mas Andy, tiap tahun jg ada festival ciliwung kok. Tp bentuk acaranya sprt apa itu yg saya gak tahu. Amin. Trims atas doanya Mas Andy 🙂

  12. akhirnya saya juga berhasil datang kesana…, setelah sekian lama tinggal di tangerang… makasih loh infonya… semoga menang kontesnya ya…

  13. wow …. foto fotonya cantik mbak, cerah sekali warna warnanya , hidup sekali fotonya, serasa melihat langsung festivalnya

    semoga menang ya mbak lombanya

  14. Festivalnya hanya sampai tanggal 24 Juni y? Belum rejeki deh utk bisa melihat, karena baru akhir Juni saya ke Tangerang. Yang parade perahu naga tuh asyik kelihatannya…

    SUkses utk kontesnya ya Mbak:)

    1. Iya Mbak Rie, cuma berlangsung 5 hari saja..Tapi kota Tangerang enak untuk dieksplorasi kok, tanpa festival cisadanepun masih banyak yg bisa dilihat kan? 🙂

  15. Banyak juga mainan dari jelly yang dibanting-banting itu. Nanti balik ke bentuk asalnya kan ya, Mbak? Kira-kira bahannya aman buat anak kecil nggak sih?

    Sukses ya, Mbak. 😉

    1. Begitu begitu Mbak Nunik, walaupun ngelepek setelah dibanting, bentuknya jellynya akan kembali seperti semula. Saya gak tahu apakah maianan ini aman bagi anak-anak. Warna-warninya emang terang benderang dan sepertinya ada minyak resin juga..Tapi untuk melatih kegiatan motorik kasar anak, main banting2an ini pasti membantu..:)

  16. Mbak Evi memang paling Indonesia. 🙂
    Suka banget dengan tulisannya. Menyaksikan festival ini belum pernah, tapi sudah cukup terwakili dengan postingan ini. 🙂

  17. Trims lho mbak..sudah membantu saya mengintip festival ini dg liputan lengkapnya… Semoga sukses juga di kontes yg ini ya..

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?