Copas, Etika dan Rasa Malu

Salah satu foto saya yang digunakan tanpa ijin. Watermark saya tambahkan belakangan

Agak terkejut  mendapati bahwa artikel dan foto-foto gula aren karya saya di blogspot di copas  orang lain begitu saja. Mending oleh satu website, beberapa blog melakukannya. Saya tidak meminta bayaran walaupun artikel dan foto2 tersebut digunakan untuk jualan. Saya  cukup terhibur dan mengijinkan jika mereka memintanya baik-baik. Atau minimal mencantumkan sumber artikel tersebut ke jurnal gula aren milik saya. Namun mereka tak melakukannya. Lebih suka mengambil diam-diam, lebih suka mencuri!

Awal-awal muncul di internet saya memang lugu. Bersuka ria upload foto  palm sugar yang saya anggap bagus tanpa bermaksud bahwa suatu hari akan digunakan orang lain. Bukan berarti saya tak menduga adanya kompetitor di bisnis ini. Hanya benaran gak kepikiran bahwa ada orang kurang etika tanpa malu-malu mengambil karya orang lain untuk menunjang kelancaran bisnis sendiri.

Foto masa lalu tanpa watermark telah saya relakan di copas disana-sini. Biarlah mereka gunakan, toh telah terlanjur, semoga jualan mereka sukses. Saya juga tak pernah melayangkan email protes. Cuma yang menyebalkan saat menemukan foto yang telah diberi watermark masih dicuri juga. Entah fotonya dipotong agar tanda air tak kelihatan atau di hapus. Yang geli saat watermark dipasang melintang, foto tersebut masih diambil juga. Itu saya temukan tercetak pada sehelai brosur. Tentu dengan membersihkan watermark-nya.

Hayaaaah…

Saya kira membuat artikel  pendek tentang gula aren tidak susah. Mereka yang berkecimpung dalam bisnis ini pasti punya sesuatu untuk diceritakan. Kok tak menggunakan cerita milik sendiri sih? Begitu pula foto, dengan camera ponsel saja sudah bisa menghasilkan foto bagus. Lah ngapain mengambil bilik saya tanpa ijin? Yah pasti  akan digerendengi  lah.

Rupanya bagi sebagian orang etika adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan. Kalau sudah begitu apa lagi yang bisa dilakukan selain memberi maaf? Ya sudah saya maafkan kalian yang telah mencuri artikel dan foto milikku. Semoga segera insaf. Tak masalah bagaimana sederhananya tulisan di blog adalah kekayaan intelektual pemiliknya. Semoga kelakuan seperti itu tak terbawa ke bisnis 🙂

Bagaimana dengan dirimu kawans, pernah kah tulisan atau hasil karyamu di copas dan diaku orang tanpa ijin?

 

 

38 thoughts on “Copas, Etika dan Rasa Malu

    1. Hehehe..Aku sudah baca..Tapi Mas Danis kan menyertakan sumbernya. Dituliskan pula bahwa itu hasil copas..Nah kasusnya Mas Danis itu beda dari yang aku tuliskan ini 🙂

      1. hehehe …tetep aja not original ya…taste-nya beda…kalau mau follow blog mbak evi gimana caranya ya? nggak ada tulisan follow nya…atau mohon izin saja sekalian mau naro link mbak evi di blogroll ku gmn? boleh nggak?

        1. Mas Danis, kayaknya WP emang gak masang button follow utk blog hosting sendiri. Tapi ada bebera cara sih Mas, bisa langganan RSS dari halaman WP yg terdapat di akunnya Mas Danis. Atau bisa juga melalui email. Kalau dipasang di blognya Mas Danis lebih bagus lagi hehehe…Thanks ya Mas sebelumnya

  1. Kalau ane yang di copas adalah tulisan-tulisan hasil eksperimen ane sih sob. Memang ada sebagian yang minta ijin, dan menyertakan sumbernya. Tapi ada juga yang copas tanpa minta ijin. Nggak menyertakan sumbernya bahkan mengakui hasil eksperimen mereka.
    Ane sih memakluminya, karena ane sendiri awal ngeblog juga tukang copas. Sekarang sudah bosan copas-copasa. Lebih asyik dengan tulisan sendiri. Blog hasil copasan sudah saya tutup dari publik sob.

  2. aku sih belum tahu apa ada yg pernah mencuri fotoku mbak, tapi kalau lihat di blog tiap hari ada juga beberapa foto yg di klik yg menandakan foto itu dicopy entah oleh siapa, memang yg bisa dilakukan adalah mengikhlaskannya ya mbak, walau andai aku jadi mbak Evi akan mencak mencak 😀 … apa sih salahny aminta ijin ? pasti dikasih kok, bukan begitu mbak ? mungkin mereka nyuri karena mikir nggak akan tahu, padahal khan ada yg maha tahu ya mbak

    1. Kalau mencari hasil tulisan kita di copas orang relatif lebih mudah ya Mbak El, karena google bermain dengan kata-kata. Tapi kalau gambar kayaknya emang rada susah. Kadang foto kita mejeng di tulisan, yang tak disangka kata-katanya 🙂

      1. Uni, sekarang Google kan bisa cari dgn gambar, dicoba aja, mana tau ada hasilnya

        orang itu rajin menghapus watermark, itu kan lebih susah daripada moto sendiri

        1. Nah itu die Mbak Mon. Tapi aku pikir, mereka bukan gak mau motret sendiri, tapi emang gak ada yang akan dipotret hehehe..Pedagang gitu lho…

  3. Salu, Mbak Evi terlalu baik untuk mbiarin prilaku kurang terpuji. Kalo seandainya, dia gak ngerti apa konsekuensi yang dilakukannya sih mungkin bisa kita maklumi. Tapi kalo ngambilnya dgn kesadaran, kayaknya mesti ditegur deh mbak…

    1. Terima kasih atas simpatinya Mas Noer. Aku pikir tulisan di blog ini sdh merupakan teguran yang keras, karena yakin suatu saat mereka akan menemukan tulisan ini, dengan kata kuncil gula aren. Tapi kalaupun mereka tak baca biarlah, biar angin yang membisikan kepada mereka hehehe..

  4. Banyak orang yang pakai jalan pintas Mbak. Meski mudah dan bisa bikin sendiri, tapi kebanyakan ambil jalan pintas dengan main copas…
    Tapi percayalah, yg original pasti lebih baik daripada yg niru

    1. Jalan pintas usahanya dikit ya Pak Mars, makanya lebih menarik. Padahal mikir dikit gak susah amat.Kebiasaan suka yg instant kaliy ya Pak 🙂

  5. Saya ngerti dan bisa memahami perasaan Ibu Evi dengan apa yang di alami.
    Tapi ijinkan saya mengajak Ibu Evi untuk lihat dari sisi yang lain. Bahwa lihatlah apa yang Ibu hasilkan (all your copy rights) berdampak besar – driving orang2 untuk jadi nekat “copas” 🙂 Karena kalo sesuatu yang biasa2 aja, pasti orang gak tertarik untuk “copas”. Berikutnya, belajar untuk kehilangan hak…let it go, don’t keep it. Karena kalo kita keep, kita akan terasa sakit…

    Terus berkarya tanpa takut kehilangan. Karena siapa yang takut kehilangan dari padanya akan di ambil – tapi siapa yang gak takut kehilangan dari padanya justru akan di beri….

    1. Pak Nano yang baik, terima kasih sudah mengajak saya masuk ke sudut pandang seperti ini. Seperti melihat bunga tumbuh dijalan beraspal lho pak, tak terduga..Saya berhasil menangkap energi bapak dari sudut pandang seperti ini. Menyenangkan sekali. Yah selama ini rupanya saya membiarkan diri diperangkap ketakutan yang jelas datang dari pikiran saya sendiri. Saya akan belajar Pak, berkarya tanpa takut kehilangan. Terima kasih sekali lagi 🙂

  6. Kalo copasnya hanya untuk kebutuhan pribadi alias non-komersil mungkin masih bisa ditolerir ya mbak, tapi kalo pakenya untuk urusan komersil, wah itu dia yang memang sangat tak beretika, tapi mbak Evi termasuk sabar. Kiranya Tuhan semakin memberkati bisnis mbak Evi 🙂

    Btw mbak mo nanya, produk Arenga ini udah masuk ke Palembang belum yah?

    1. Amin. Terima kasih atas doanya ya Jeng. Arenga belum ada di Palembang..Dari dulu masih terbentur alasan klasik, mahal diongkos kirim Jeng hehehe

  7. Tulisan dan gambar bisa di-copas, namun ada hal paling fundamental yg tdk bisa di-copas, yakni “passion”, “idea” & “spirit” mbak Evi dlm mengelola bisnis gula aren.
    Hal fundamental yg membuat bisnis gula aren (palm sugar) “ARENGA” semakin berkibar.
    Tetap semangat mbak. Salam wirausaha sejati.
    (ps : bbrp artikel dan gambar tenda dekorasi saya juga sering di-copas & tanpa ijin.. hehehe..)

    1. Betul juga Mas Bams..Dan bersyukur bahwa tiga hal tersebut tidak bisa dicuri oleh siapapun. Kita senasib rupanya Mas hehehe..Biarkanlah ya..Yang penting kita terus cari ide baru. Salam wirausaha sejati juga Mas..Selamat menikmati libur panjang bersama Mb Tatik dan anak-anak 🙂

  8. Saya juga sering mencari foto dari google namun dengan url sumber dengan jelas. Malah kadang saya cuma nempel url dari foto aslinya, pas fotonya dihapus hilang sudah foto background nya 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  9. aku suka pakai gambar orang lain bu evi, cuma aku nyantumin url nya kok
    mudahmudahan ngga dicolong lagi ya bu evi gambar2 dan tulsannya, atau paling tidk yg pakai gambar dn tulisannya kasih link ke blog bu evi

  10. Uni, berbagai cara ditempuh untuk meminimalkan plagiasi, namun belum dan mungkin tak akan pernah teratasi. Kasihan lho Uni yang mengcopy, akan ketinggalan kebaruan ide. Terus berkarya kreatif Uni Evi. Salam

  11. Selama ini saya sering copas foto dari google, meskipun berusaha tetap mencantumkan sumber asli nya. Tapi tetap saja ya mbak…kalau karya sendiri akan lebih puas… Semoga mbak Evi tetap semangat berkarya…

    1. Saya dulu juga suka ngambil foto dari Google Mbak..Namun mencamtumkan sumbernya..Habis kadang2 kalau pengen memberi ilustrasi pada tulisan namun tak punya fotonya 🙂

  12. waduh mbak evi aku kena nih, tulisanku kadang aku ambilkan gambar dari google. karena saran dari teman biar tulisanku terasa hidup. padahal sejatinya aku lebih suka polosan, tulisan tanpa gambar. nah aku baru minta diajari anakku buat menautkan gambar. senangkan untuk buat linknya belum he he maafkan saya ya mbak.

    1. Hehehe..Maafkan juga aku ya Mbak..Yang penting sekarang kan sdh menyadari bahwa mencantumkan link hasil karya orang lain yg kita pinjamkan itu termasuk aturan main yang fair dalam berinternet..:)

  13. saya juga termasuk yang suka copas.gambar dan artikel yang di edit. dalam katagori jabar di blog saya, saya tahu sedikit tentang apa yang saya tulis di katagori itu untuk melengkapi ahirnya mencari sumber. sumbernya juga di tulis.

    dalam hati saya ingin ikut mengenalkan jawa barat dengan cara saya. “ini lho jawa barat” ingin jawa barat lebih di kenal. harapanya kalau banyak yang secara langsung atau tidak langsung ikut mempromosikan akan semakin membuat jawa barat khususnya, indon umumnya akan semakin mendunia hehe…

    jujur saya gak tahu apa tindakan saya itu benar atau tidak, beretika atau tidak ?

    1. Iya Kang Yayan. Dengan semakin banyak di tulis, jawa barat kian bergema. Jadi orang gak hanya kenal Bandung. Padahal Ciamis juga pnya tempat2 asyik untuk di eksplorasi. Selamat berjuang Kang 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?