Burung Dalam Sangkar

burung dalam sangkat
Mata Lepas Badan Terkurung

Bersimpat pada burung dalam sangkar ini. Cantik tapi bernasib tragis.

Masalahnya kita senang memelihara burung cantik. Budaya kepemilikan terhadap hewan memungkinkan untuk itu. Walaupun dibatasi undang-undang seperti tak boleh memelihara burung langka, namun tak semua orang patuh terhadap peraturan tersebut. Maka sekali lagi sangat bersimpati pada burung cantik dalam sangkar ini. Benar-benar perwujutan dari peribahasa lama “Seperti burung dalam sangkar, mata lepas badan terkurung”

Mata lepas badan terkurung juga analogi terhadap nasib sebagian manusia. Ayo siapa?

16 thoughts on “Burung Dalam Sangkar

  1. Sama2 tersiksa, kuda delman paling diperas tenaganya Mbak…
    Kadang nggak tega, apalagi jika kurus dan badannya penuh luka.
    Sementara beban yang harus ditarik sangat tak seimbang

    1. Pak Mars, budaya kepemilikan thd hewan melanggar hak2 mereka untuk hidup secara wajar. Mungkin kalau hewan2 bisa bicara dng bahasaa yg kita mengerti simpati manusia br meningkat thd mereka

  2. aduhh jangan sampai ya mengalami nasib seperti burung itu, kasihan
    makanya saya ngga suka melihara binatangbinatang begitu bu ev, kasihan, takutnya sebenarnya binatang itu terkungkung dan ingin bebas

    1. Miss akhir2 ini aku suka motret hewan2 yg kutemui. Setelah memperhatikan foto2 mereka, aku lihat muka mereka jg mengandung ekspresi lho miss. Jd salah besar kalau kita mengaangap bahwa hewan gak punya perasaan ya?

  3. menatap jauh ke depan, tapi apa daya tidak dapat melakukan apa-apa..
    nasib seekor burung malang di daam sangkar..

  4. deudeuh manuk na jero kurung, matak karunya ku nasibna, hanteu aya nu mirosea, najan anjeun nyorang tunggara dst.

    pas baca judul di atas, lagu itu yang teringat.. terpenjara pasti tersiksa lahir dan bathin…

  5. Burung dalam sangkar memang bersuara merdu. Tapi tahukah sobat, sebenernya dibalik suara merdu itu sang burung berteriak ingin bebas. Tapi kita nggak tahu bahasanya. Mereka merintih tapi kalian malah tertawa. burungpun ingin bebas seperti kalian.

  6. Tapi kalau udah kita pelihara lalu kita lepas ke alam bebas malah bingung dia mbak yach..terutama untuk makannya heeee

  7. Hehe…makanya, aku berasa aneh juga kalo ada yang mengaku pencinta burung tapi demen mengurung burung dalam sangkar, kan kasian, hehe

    1. Jeng Lissa, karena kita kadung punya persepsi bahwa mencintai harus memiliki. Dalam halnya hewan yg disayang, harus dikurung dan dipelihara menurut standar kita 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?