Dewandaru disebut juga Ciremai Belanda karena buahnya memang mirip Ciremai atau Cereme. Saat memotretnya di Puncak Cisarua, saya tak tahu namanya. Hanya karena buahnya yang hijau saat muda, orange mendekati matang dan merah cerah saat masak, serta bentuknya bergerigi pula, sungguh unik tumbuh sebagai pagar di perkebunan teh. Tentu saja itu objek foto yang sangat tak mungkin dilewatkan. Om Google pasti punya cerita yang patut disimak, pikir saya.
Setelah dapat nama dan membaca beberapa artikel tentangnya merasa beruntung pada kegatalan tangan sendiri dengan camera. Dewandaru selain dibuat herbal karena memiliki anti oksidan yang tinggi, saat ini sedang diteliti untuk mengobatai penyakit kanker. Itu dari sisi ilmiahnya
Untuk saya yang lebih menarik adalah kenyataan Dewandaru mengikuti jejak bambu kuning, dinobatkan sebagai kayu bertuah. Saya baca dalam artikel ini, daun dan buah Dewandaru yang tumbuh di Gunung Kawi dijadikan orang sebagai pemancing rejeki. Saya kutipkan sedikit dari paragrafnya : ” Pohon yang oleh sebagian orang diyakini adalah tongkat dari Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo yang ditancapkan dan berubah menjadi pohon. Ada pula yang meyakini pohon ini ditanam oleh kedua tokoh sebagai penanda bila daerah Gunung Kawi subur, tentram dan wilayah yang aman “.
Sementara dalam artikel lain dikatakan bahwa Dewandaru adalah pohon langka. Walau berasal dari Amerika Utara, di Indonesia banyak ditemukan di pulau Karimunjawa. Kayunya dipakai sebagai jimat penolak hewan buas dan ular, menyembuhkan gigitan ular berbisa dan menjaga keselamatan. Kayu ini tidak disarankan dibawa selama melakukan perjalan di laut karena dikuatirkan akan mendatangkan topan.
Mitos Dewandaru sebagai jelmaan tongkat tokoh sakti masih berlanjut. Kalau yang di Gunung Kawi bekas dari tongkat Raden Mas Imam, yang tumbuh didesa Nyamplung,Jepara Utara, adalah bekas tongkat, Sunan Kudus, seorang wali Kerajaan Demak.
Pulau Jawa adalah negeri seribu mitos. Dalam artikel yang ditulis lebih ilmiah masih pula disinggung sisi kegaibanya. Bahwa tanaman ini disukai kalangan habib (garis keturunan Nabi Muhammad saw) untuk pengobatan berbagai penyakit. Dewandaru ini konon dibawa pertama kali oleh Sunan Nyamplungan, putra Sunan Muria, berasal dari sang ibunda yang beradarah Cina yang dia peroleh dari tanah leluhur.
Terus mengapa pula diatas disebut sebagai jelmaan tongkat Sunan Kudus? Itu salah satu alasan mengapa cerita-cerita bernuansa seperti itu disebut mitos, harus diletakan pada kerangka berpikir tertentu: Memahami tanpa menghakimi ![]()
Pernah bersua dengan Dewandaru, temans?
Salam,
– Evi









pohon ini tumbuh lebat di halaman rumah kami, buahnya begitu banyak sampai matang dan jatuh. kami pernah mencobanya rasanya manis agak asam tuk yang berwarna merah. awalnya sempat aneh liat buahnya cari tau di google ternyata dewandaru. karena kami biarkan buahnya jatuh ke tanah al hasil banyak tumbuh tunas baru
Jadi aslinya buah ini tak dimakan seperti Ceremai ya Kidz? Padahal buahnya cantik dan kalau matang merah tampak amat menggiurkan. Sepertinya termasuk pohon langka. Sayang yah..kalau sdh bertunas dari biji akhirnya terbuang percuma
waah…cantik ya mbak… ini to yg namanya Dewandaru… saya sering dengar namanya disebut alm eyang -yg mendalami aliran kebatinan- tapi baru tahu lewat hasil kegiatan tangan mbak ini
terima kasih…
@Mb Mechta: Sebelum menemukan pohon ini, aku sama sekali belum pernah mendengar kalau dewandaru adalah pohon bertuah Mbak. Kalau sudah mendengar terus mengetahui mungkin aku gak kegenitan motret-motret dia segala hehehe…
Aduh saya lupa sempat memetik buah Dewandaru ini, kalau enggak salah ketika masih di Padang dulu..
@Mas Gie, iya kalau buah kan mesti dipetik Mas..Asal enggak dibuang2 percuma kan gak napa2. Memenuhi rasa ingin tahu tak termasuk memubazirkan buah yg dipetik
oooh jadi buah ini namanya Dewandaru …

hihihi….sering lihat tapi gak tau namanya
terimakasih ya Evi krn telah berbagi
salam
Awalnya aku juga gak tahu @Bunda Lily..Tapi karena sudah dipotret, jadi harus dicari ke kakek paling tahu dunia sejagad, Google
@Pak Ded..Karena Islam tidak masuk dengan kekerasan, melalui asimilasi, tak terhindarkan kalau kebiasaan lokal masuk ke dalam ritual maupun kepercayaan. Orang mengatakan perbuatan seperti itu musyrik. Saya gak tahu apakah benar demikian. Kalau saya mah cinta saja pada seluruh keaneka ragaman budaya, sepanjang tak ada yg dipaksakan kepada saya agar diterima
@Mb Monda: Gk tahu rasanya Mbak Mon, apakah asam juga seperti ceremai. Walau yang matang merah dan menggoda sangat, gak berani mencoba. Ingat peringatan disuatu buku bahwa hewan yg paling menarik warnanya adalah yg paling berbisa. Waktu kemarin aku juga berpikir bahwa Dewandaru seperti itu
Ooh namanya Buah Dewandaru atau Ceremai Belanda ya Uni, sering saya temukan tapi tidak tau namanya.
Kita sadari bahwa jaman dahulu Islam di sebarkan dengan menyesuai pada keadaan masyarakat saat itu (Hindu). Tapi kebiasaan tsb keterusan, sehingga menkeramatkan sesuatu menjadi kebiasaan.
mirip betul dengan cermai ya, tapi lebih besar ya
saya belum pernah lihat uni, tfs
apapun mitos yang menyertainya, saya suka dengan penampilannya yang aneka warna.
@MasGy. Begitu pula dng saya, suka melihat buahnya cantik
Aku pernah melihatnya beberapa kali di beberapa tempat, Mbak Evi. Yang terakhir adalah di sebuah rumah makan (lupa namanya) di jalur antara Bogor – Sukabumi. Tapi saya belum pernah menanamnya.
@Mb Dani: Sepertinya walau dikatakan tanaman langka, kayaknya gak begitu langka juta. Buktinya Mbak Dani pernah melihat di depan rumah makan..Yang saya pelajari penemuan ini, ternyata kalau kita beri perhatian, lingkungan sekitar ternyata gudangnya ilmu. Jadi ingat benar pada peribahasa nenek moyang kami: Alam terkembang jadi guru